
Wajahnya terlihat tenang. Bicaranya juga tenang. Namun d balik semua itu, sebenarnya hati Pendekar Tanpa Nama sedikit bergetar. Bagaimanapun juga, dirinya belum mencapai puncak kesempurnaan.
Dia baru mau mencapai tahap tersebut, bukan sudah berada di tahap tersebut. Untuk mencapai tahapan itu, dia harus mendapatkan ginseng seribu tahun lebih dulu. Sedangkan sekarang, pemuda itu belum mendapatkan pusaka yang dimaksud.
Kalau saja Pendekar Tanpa Nama sudah berada di tahapan puncak kesempurnaan, dia tidak perlu takut menghadapi delapan orang tersebut. Sayangnya untuk sekarang, kenyataannya berbeda.
Ketujuh tokoh yang ikut bersama Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi itu merupakan tokoh pilih tanding yang kelihaiannya hampir sama dengan Pendekar Tanpa Nama sendiri. Mungkin mereka hanya terpaut dua atau tiga tingkat saja.
Di lihat dari segi tingkatan saja, siapapun sudah dapat memperkirakan bahwa mereka bukan lawan yang bisa dianggap enteng.
"Hahaha, kenapa? Kau takut menghadapi mereka?" tanya Tian Hoa sambil tertawa penuh kemenangan.
Pendekar Tanpa Nama tersenyum dingin. Sekalipun dirinya berada di posisi yang tidak menguntungkan, namun dia tidak mau memperlihatkan hal tersebut.
Dia sudah dianggap tokoh besar. Dirinya juga disebut-sebut sebagai pendekar pilih tanding. Sebagai orang yang mempunyai kedudukan dalam dunia persilatan, sudah pasti gengsinya sangat tinggi.
Siapapun orangnya, jika kedudukannya setara dengan Cakra Buana, pasti orang tersebut mempunyai gengsi tinggi.
"Aku harus takut melawan mereka? Kau jangan bermimpi. Pendekar Tanpa Nama tidak mengenal kata takut dalam hidupnya," jawabnya dengan nada dingin.
"Hahaha … bagus, bagus, aku tahu kau tidak akan membuatmu kecewa. Tidak sia-sia selama ini aku mengikuti dirimu,"
"Aku memang tidak pernah membuat orang lain kecewa. Hanya saja kau telah membuatku kecewa,"
"Kenapa?"
"Karena kau telah membawa orang lain dalam masalah kita berdua. Bahkan yang lebih parahnya lagi, kau telah berani menyinggung Huang Pangcu,"
"Maksudmu?" tanya Tian Hoa pura-pura tidak mengerti.
"Kau jangan pura-pura bodoh. Kau kira aku tidak tahu siapa yang telah menyuruh manusia kerdil itu untuk memberikan arak dan teh hijau berisikan Racun Penghancur Tubuh?" sepasang mata Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba menatap lebih tajam lagi kepada tokoh tua itu.
Hawa kematian langsung terpancar keluar dari seluruh tubuhnya. Siapapun dapat merasakan hawa tersebut. Siapapun juga pasti bakal mengetahui bahwa pemuda itu telah marah besar kepada Tian Hoa.
"Ternyata kau sangat cerdas,"
"Aku tidak butuh pujianmu. Aku hanya ingin nyawamu,"
"Kau belum cukup mampu untuk mencabut nyawaku," kata kakek tua itu sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Mampu atau belum mampu, suatu saat aku akan membunuhmu,"
"Aku akan menunggu saat itu,"
Suasana hening kembali. Keadaan di sana mendadak menegangkan. Hawa kematian bertambah pekat. Tekanan di tempat itu semakin lama semakin menekan.
Tujuh tokoh sudah siap siaga. Pendekar Tanpa Nama juga sudah siap. Kedua belah pihak siap melangsungkan pertarungan hebat yang sebentar lagi akan segera terjadi.
"Silahkan," kata Pendekar Tanpa Nama dengan perlahan.
Pertarungan tokoh kelas atas memang berbeda dengan pertarungan tokoh kelas atas. Kalau tokoh kelas bawah begitu bertemu musuh langsung bertarung, maka tokoh kelas atas kebalikannya.
Mereka akan bicara basa-basi lebih dulu, sekilas memang terlihat tidak penting. Tapi sebenarnya hal itu amat penting. Karena pada saat itu, masing-masing pihak sedang mengukur dan melihat kekurangan maupun kelebihan lawannya.
Wushh!!! Wushh!!!
Tujuh bayangan melesat dari segala penjuru. Mereka merupakan pendekar yang pandai menggunakan senjata. Karena itu, kelebatan sosok manusia tadi disertai kelebatan sinar dari masing-masing senjata pusaka.
Begitu melihat ketujuh lawannya bergerak, Pendekar Tanpa Nama juga mengambil langkah yang sama. Dia tahu pertarungan ini akan berlangsung sengit. Bahkan dia sendiri tidak yakin akan memenangkan pertarungan tersebut.
Oleh sebab itulah pemuda Tanah Pasundan tersebut langsung mencabut Pedang Naga dan Harimau.
Wushh!!!
Meskipun cahaya merah hanya satu. Meskipun pemiliknya hanya satu, tapi saat ini malah nampak seperti ada tujuh.
Cahaya merah itu menangkis ketujuh serangan yang datang secara bwrsamana tadi. Benturan pertama terdengar sangat keras. Saking kerasnya benturan itu sampai-sampai membuat dahan pohon yang ada di sekitar arena bergetar hebat. Dedaunan kering berjatuhan ke tanah. Sebagian dahan yang lebih kecil mendadak patah.
Krakk!!! Krakk!!! Brugg!!!
Delapan bayangan manusia terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Begitu mendapatkan posisi, mereka segera melancarkan serangan kembali.
Dua orang tokoh bersenjatakan tongkat dan seruling menyerang daru arah depan. Keduanya menyerang dengan ganas dan telengas.
Tongkat itu meliuk-liuk seperti ular kobra yang sedang marah. Seruling itu melesat cepat seperti ular yang mematuk mangsa.
Dua serangan maut datang secara bersamaan.
Pendekar Tanpa Nama memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan lawan. Tubuhnya bergerak cepat. Caranya menghindar begitu tepat dan penuh perhitungan.
__ADS_1
Dua senjata pusaka yang membawa maut lewat beberapa jari di depan matanya.
Begitu serangan lawan berhasil dia gagalkan, Pendekar Tanpa Nama memutuskan untuk langsung melancarkan serangan hebat.
Pedang Naga dan Harimau berkelebat. Pusaka itu memberikan sebuah tebasan dahsyat. Arah serangannya ke bagian leher tokoh yang bersenjata seruling.
Trangg!!!
Dua pusaka kelas atas bergetar hebat di tengah udara. Sebelum Pedang Naga dan Harimau mengenai sasarannya, satu senjata lainnya tiba-tiba muncul di tengah jalan.
Sebuah trisula menahan pedang tersebut. Trisula itu berwarna hitam legam. Asap hitam tipis selalu mengepul dari senjata tersebut.
Pemiliknya seorang pria tua berumur sekitar enam puluhan tahun. Wajahnya bengis. Matanya sangat tajam. Dia tersenyum menyeringai saat berhasil menahan laju pedang milik Pendekar Tanpa Nama.
"Kau ingin membunuh rekanku? Hemm, tidak semudah itu," kata orang tua tersebut.
Wushh!!!
Trisula itu tiba-tiba meluncur ke depan. Satu tusukan yang sangat hebat disertai kekuatan dahsyat dikeluarkan oleh tokoh tua itu.
Suara mendengung seperti ribuan lebah terdengar. Kecepatan senjata itu sulit untuk dilukiskan. Pemiliknya tokoh pilih tanding, jadi serangannya jangan ditanyakan lagi.
Trangg!!!
Serangan orang tersebut sangat cepat. Tapi cara Pendekar Tanpa Nama dalam menangkis serangannya jauh lebih cepat lagi.
Gayanya dalam menangkis serangan sangat simpel. Tidak banyak variasi. Tidak banyak kembangan. Hanya saja memang sangat cepat sekali. Tahu-tahu pedang pusakanya telah berbenturan dengan senjata lawan.
"Kau ingin membunuhku? Hemm, tidak semudah itu," ucap Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum dingin. Dia sengaja membalas ucapan tokoh itu agar amarahnya lebih mencuat lagi.
Bukk!!!
Tokoh dua itu mendadak terlempar beberapa langkah ke belakang. Orang tersebut jatuh bergulingan hingga pakaiannya kotor. Pendekar Tanpa Nama telah melayangkan satu buah tendangan keras kepadanya. Tendangan itu tidak dapat diduga sehingga si tokoh tua tidak menyangka sama sekali.
Duarr!!!
Tiba-tiba ledakan terjadi. Debu mengepul tinggi dan tujuh tokoh itu terlempar beberapa langkah.
Satu sosok lainnya telah berdiri tepat di tengah orang-orang tersebut.
__ADS_1