Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kedai Makan Menyeramkan


__ADS_3

"Perduli nyawamu dalam bahaya atau tidak, yang jelas aku tidak akan membiarkanmu sendirian," kata Sian-li Bwee Hua dengan suaranya yang merdu.


Cakra Buana tidak menjawab. Dia hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman hangat. Senyuman yang selalu menggetarkan jiwa gadis itu.


Pemuda Tanah Pasundan itu bangkit berdiri. Dia langsung menghampiri Ling Ling.


"Sejak kapan kau mahir bahasa kami?" tanya Cakra Buana dengan kening sedikit berkerut.


Seorang asing, tentunya tidak mungkin bukan kalau dia langsung bisa bahasa luar. Pasti orang itu memerlukan waktu untuk belajar bahasa tersebut. Yang jadi pertanyaan Cakra Buana sekarang adalah kapan Ling Ling belajar bahasanya?


"Sejak, sejak … sejak aku mempunyai perasaan lain terhadapmu. Sejak itulah aku mulai belajar bahasa negerimu," jawabnya sambil gugup.


Dia menganggukkan kepalanya. Sekarang Cakra Buana paham kenapa gadis itu bisa bahasa negerinya, ternyata dia sudah belajar sejak lama.


"Pantas saja kau sudah cukup mahir,"


Ling Ling tersenyum simpul. Dia tidak tahu apakah dirinya harus merasa malu ataukah merasa bahagia. Yang jelas saat ini adalah jantungnya berdetak lebih kencang.


"Tapi aku heran, kalau kau sudah belajar cukup lama, itu artinya kau pun sudah tahu bahwa aku akan kembali lagi ke negeriku sendiri?"


"Tentu saja. Bahkan akupun tahu kau akan berapa lama berada di Tiongkok," jawabnya dengan bangga.


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Jangan lupa, aku ini bekas anggota Organisasi Naga Terbang. Keahlianku dalam mencari informasi seseorang tidak diragukan lagi. Selain itu dalam beberapa hal yang biasa digunakan oleh orang-orang sesat, sedikit banyak aku sudah mengerti dan bisa melakukannya pula,"


Pendekar Tanpa Nama seperti diingatkan sesuatu, bagaikan bunga layu yang tersiram oleh air hujan. Wajahnya berseri kembali. Wajah itu cerah seperti sinar mentari di pagi hari.


Selain teringat kembali dengan latar belakang Sian-li Bwee Hua, ada juga hal lain yang membuatnya seperti itu. Namun untuk saat ini, Cakra Buana memilih untuk tidak mengutarakannya dulu.


"Aii, aku lupa. Sekarang aku jadi ingat kembali, kau adalah pemimpin ketiga di Organisasi Naga Terbang,"

__ADS_1


"Tepat sekali," jawab Ling Ling dengan cepat.


"Haishh, benar-benar suatu organisasi yang sangat berbahaya sehingga bisa mengetahui setiap informasi tentang seseorang. Untung saja kita berhasil membinasakannya, coba kalau tidak, bisa-bisa aku sudah mampus sejak lama," kata Cakra Buana sambil menghela nafas.


"Hahaha …" Ling Ling tertawa merdu. Pada saat tertawa, waktu seolah berhenti. Daun-daun pohon ikut gugur karena saking merdunya suara tawa itu.


"Memang benar, organisasi itu sungguh mematikan. Aii, sayangnya mereka berada di jalan yang salah," ucapnya menyayangkan.


Keduanya bicara sambil terus berjalan ke depan ke dekat kuda mereka.


Sekarang kedua ekor kuda jempolan itu sudah segar kembali. Tenaganya telah pulih. Nafasnya pun sudah membaik.


Kalau tunggangan sudah kembali seperti sedia kala, maka sekarang giliran yang menungganginya. Perut mereka mulai terasa lapar.


"Kita lanjutkan perjalanan. Kalau nanti ada kedai makan, kita istirahat kembali untuk mengisi perut," kata Cakra Buana.


Ling Ling mengangguk setuju. Mereka segera nail ke atas kudanya masing-masing. Kuda meringkik seperti sangat bersemangat, sepasang pendekar muda mudi itu langsung melajukan kudanya dengan kencang.


###


Cakra Buana dan Ling Ling sudah berada di dalam kedai. Namun dari semua kedai yang pernah mereka kunjungi, kedai ini bisa disebut sebagai kedai teraneh dan terseram.


Kedai tersebut berdiri di sisi sebuah rawa. Rawa yang berair hitam serta banyak sekali tumbuhan liar di atas airnya. Kedai itu pun terletak di pinggir hutan. Hutan belantara yang banyak sekali dihuni oleh pepohonan tinggi dan binatang buas.


Keduanya terpaksa memilih kedai tersebut karena entah kenapa, sepanjang melanjutkan perjalanan tadi, mereka tidak menemukan satu kedai pun. Jangankan begitu, bahkan rumah warga pun sangat jarang sekali ditemui.


Kalau pun ada, maka jarak dari satu rumah ke rumah lainnya cukup jauh. Mungkin sampai sekitar lima puluhan tombak.


Suasana di dalam kedai juga apa adanya. Beberapa barang yang sudah lapuk dan tua tampak berserakan. Bilik kedai makan itu sudah bolong di sana sini. Sarang laba-laba tumbuh di setiap sudut.


Kecoa dan tikus tampak beberapa kali berjalan lewat di bawah kaki keduanya.

__ADS_1


Bahkan beberapa meja lainnya juga terlihat sudah berdebu. Meja sudah bobrok. Bangku tempat duduk malah ada yang sudah rusak.


Tapi sepertinya si pemilik kedai tidak ada niat untuk merenovasi atau hanya sekedar membetulkan yang sudah rusak itu. Dia membiarkannya begitu saja. Entah apa alasannya, sebab Cakra Buana sendiri tidak tahu secara pasti.


Di dalam kedai itu ada delapan orang pengunjung lainnya. Penampilan mereka seperti para petani di desa sekitar. Ada yang membawa cangkul, golok, bahkan ada pula yang membwa kapak.


Lima orang di antara mereka memakai caping dari bambu. Wajah kedelapan hampir dibilang cukup perkasa. Mungkin hal itu disebabkan karena setiap harinya mereka hanya bercokol dengan sawah ladang.


Si pemilik kedai seorang wanita tua yang sudah berumur sekitar tujuh puluh tahunan. Tubuhnya bungkuk, dia pun suka membawa sebatang tongkat kayu yang mempunyai tiga liukan. Wajahnya penuh keriput. Selain itu, diapun suka menyepah sirih sehingga terlihat mulutnya berwarna merah pekat dan giginya putih.


Delapan orang pengunjung kedai sedang menikmati makanan mereka masing-masing. Mereka makan dengan lahap, meskipun begitu, orang-orang tersebut kadang terdengar bercanda di sela-sela mengunyah santapannya.


Cakra Buana dan Ling Ling baru saja menerima pesanannya. Hidangan favorit keduanya, nasi liwet ayam bakar.


Hidangan itu masih hangat. Asap putih tampak mengepul ke atas, bau harum tercium sangat menggugah selera.


"Mari kita makan, peroutkus sudah merasa lapar sekali," kata Ling Ling sambil tersenyum.


Cakra Buana mengangguk, pemuda itupun merasakan hal yang sama. Mereka mencuci tangannya lebih dulu, setelah itu mulai menikmati menu kesukaannya tersebut.


Waktu menunjukkan sore hari, sebentar lagi malam akan tiba. Obor di kedai makan itu sudah dinyalakan di empat penjuru. Di luar juga dinyalakan obor sebanyak dua buah.


Para pengunjung yang berjumlah delapan orang belum pulang. Mereka masih asyik bercerita dengan rekan-rekannya.


Cakra Buana dan Ling Ling baru saja menyelesaikan makan mereka.


Belum habis ai yang diminum oleh Sian-li Bwee Hua, tiba-tiba cangkir dari bambu itu jatuh. Tubuhnya segera ambruk ke meja makanan sehingga tidak sadarkan diri.


Hal yang sama juga terjadi kepada Cakra Buana. Malah dia ambruk ke meja sebelum meminum air dalam cangkir tersebut.


Kedua pendekar muda mudi itu berada dalam posisi tidak sadarkan diri. Air dalam cangkir masih jatuh mengucur ke bawah bahkan membasahi sedikit lengan bajunya. Tapi mereka berdua tetap diam tak bergeming.

__ADS_1


Pada saat demikian, tba-tiba sebuah suara tawa yang lantang terdengar menggema di sekitar kedai makan tersebut.


__ADS_2