Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tewasnya si Tongkat Tua


__ADS_3

"Oh, jadi kalian yang terkenal sebagai ahli dalam Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala?" tanya Pendekar Tanpa Nama memastikan.


"Benar, memang kami orangnya," jawab seorang di antara mereka sambil tersenyum sinis.


Orang itu masih muda. Mungkin di antara delapan orang lainnya, dia merupakan yang termuda. Usianya paling banter baru sekitar empat puluhan dua tahunan.


Di pinggangnya ada sebilah golok. Golok hitam legam yang sangat tajam. Matanya pun setajam golok tersebut.


"Bagus, akhirnya aku bisa bertemu dengan kalian," jawab Cakra Buana tidak kalah sinis.


Meskipun di dalam hatinya dia sedikit jeri, namun sebisa mungkin Cakra Buana tidak mau memperlihatkan hal tersebut. Dia harus terlihat tenang di mata musuh-musuhnya tersebut.


"Aku tanya sekali lagi, sebenarnya tujuanmu kemari untuk apa?"


"Sudah aku katakan sebelumnya, apapun tujuanku, hal itu bukan urusan kalian. Dipaksa bagaimanapun, aku tetap tidak akan memberitahukan hal itu,"


Cakra Buana tetap teguh kepada pendiriannya. Apa yang dia ucapkan, sudah pasti berani dia lakukan.


Seperti juga saat ini, meskipun nyawanya terancam, dia tetap tidak akan memberitahukan apa tujuannya ke pemakaman kuno itu.


Kalau kau di posisi Pendekar Tanpa Nama, benarkah kau akan memberitahukan apa tujuanmu? Tentu saja tidak bukan? Memangnua manusia mana yang akan memberitahukan sesuatu rahasia kepada musuhnya?


Apa yang ingin dilakukan oleh Cakra Buana adalah sesuatu yang sangat rahasia. Jangankan musuh-musuhnya, bahkan sahabat-sahabatnya pun tidak ada yang tahu.


"Kau memang pemuda yang keras kepala,"


"Aku memang keras kepala,"


"Sepertinya kau ingin mampus," jengek si Tongkat Tua. Dia langsung maju satu langkah ke depan. Meskipun terlihat santai, namun orang tua itu sudah siap kalau harus turun tangan kapan saja.


"Kalau memang kau sanggup, boleh saja," tantang Pendekar Tanpa Nama penuh percaya diri.


Si Tongkat Tua merasa darahnya langsung mendidih. Tongkat hitam yang digenggam erat, sekarang digenggam lebih erat lagi. Tenaga dalamnya segera dia salurkan sehingga membuat lantai yang dipijak mengalami retakan.


Asap putih keluar dari tongkat tersebut. Sepertinya dia sedang pamer tenaga dalam untuk menggertak agar nyali pemuda itu ciut.

__ADS_1


Sayang, saat ini dia sedang sial. Karena pemuda yang ada di hadapannya kali ini adalah pemuda yang berbeda dari pemuda lainnya.


"Kalian jangan ada yang turun tangan. Menghadapi pemuda keras kepala sepertinya, kedua tanganku dan tongkat hitamku masih sangat sanggup untuk menghabisi nyawanya," kata si Tongkat Tua kepada semua anggota Sembilan Harimau Pengepung.


"Kau yakin sanggup menghadapinya?" tanya seorang di antara mereka memastikan.


"Kau masih meragukan kemampuanku?" tanya balik kakek tua itu.


"Baiklah. Silahkan mulai," kata anggota tersebut tidak mau banyak bicara lagi.


Si Tongkat Tua tidak membalas ucapan orang tersebut. Wajahnya langsung menatap kembali ke arah Pendekar Tanpa Nama. Orang tua itu sudah konsentrasi.


Kalau ada dua orang tokoh kelas atas akan melangsungkan sebuah pertarungan dahsyat, maka otomatis keduanya bakal berkonsentrasi semaksimal mungkin.


Hal ini sangat penting. Bahkan paling penting dari syarat yang terpenting. Saat dua tokoh kelas atas akan bertarung, yang paling utama bukanlah sampai mana kuatnya jurus mereka masing-masing, melainkan sampai di mana cepatnya gerak serangan yang dapat dilancarkan.


Wushh!!!


Si Tongkat Tua tiba-tiba melesat dengan penuh keyakinan yang mantap. Gerakannya amat cekatan. Setiap langkah sudah dia perhitungkan dengan matang. Serangan yang dia layangkan kali ini bukanlah serangan abal-abal.


Tongkat hitam itu berkilat ditempa sinar rembulan yang masuk lewat celah-celah jendela bangunan tua tersebut. Tongkatnya seperti seekor ular kobra yang meluncur deras mematuk mangsa.


Dia sangat yakin serangannya tidak akan gagal. Sembilan Harimau Pengepung juga yakin bahwa kakek tua tersebut pasti berhasil. Setidaknya, dalam dua puluhan jurus, dia pasti akan keluar sebagai pemenang.


Tepat pada saat serangan lawan hampir mengenai tubuhnya, Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba bergerak cepat. Kakinya menjejak tanah sekali, tubuh itu kemudian melayang di udara.


Dia bersalto beberapa kali lalu turun sambil memberikan sebuah tusukan dahsyat yang mematikan. Tanpa tanggung, sasarannya adalah batok kepala si Tongkat Tua.


Trangg!!!


Benturan antar dua senjata pusaka terjadi. Keduanya mengadu tenaga dalam beberapa saat. Tubuh si Tongkat Tua bergetar, begitu juga dengan tubuh Pendekar Tanpa Nama.


Bukk!!!


Satu tendangan berhasil dia layangkan tepat mengenai dada orang tua tersebut. Dia terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya sedikit limbung karena tidak kuasa menahan kuatnya tendangan tersebut.

__ADS_1


Cakra Buana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, dia langsung meluncurkan sebuah serangan hebat. Satu tusukan pedang dia layangkan dengan cepat.


Cahaya merah berkelebat. Sinar hitam juga nampak.


Dua pusaka bertemu kembali. Keduanya mulai bertarung dengan sengit. Suasana yang tadinya hening, sekarang telah berubah riuh karena pertarungan dua tokoh tersebut.


Pendekar Tanpa Nama sengaja tidak mau mengeluarkan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Dia harus menyimpan jurus tersebut untuk beberapa saat. Jurus itu akan dikeluarkan jika dia menghadapi Sembilan Harimau Pengepung.


Meskipun dirinya belum pernah bertarung dengan mereka, namun pemuda itu bahwa sembilan orang tersebut bukanlah lawan mudah.


Oleh sebab itulah sebagian besar tenaga dalamnya sengaja disimpan untuk pertarungan nanti.


Untuk menghadapi Tongkat Tua, dia yakin hanya dengan jurus Hujan Pedang Sejuta Kilat, dirinya pasti dapat mengalahkan orang tua itu.


Dan sekarang jurus hebat itu telah keluar. Jutaan cahaya pedang menyelimuti ruangan yang tidak terlalu besar itu. Suara ledakan kilat dan suara dentingan nyaring terdengar keras di telinga lawan.


Percikan api tampak mewarnai arena pertarungan mereka.


Belasan jurus telah berlalu kembali. Si Tongkat Tua sudah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia miliki. Sayangnya hingga detik ini, dia belum sanggup untuk melukai lawan.


Yang terjadi malah sebaliknya, perlahan tapi pasti, Pendekar Tanpa Nama mulai menguasai pertarungan.


Srett!!! Srett!!! Crashh!!!


Dua kali suara robekan terdengar. Detik berikutnya, suara tubuh terpotong ikut terdengar pula.


Pertarungan selesai saat itu juga. Darah merah yang masih hangat telah menyembur ke seisi ruangan. Suara erangan kematian terdengar. Hanya sebentar suara itu langsung lenyap.


Si Tongkat Tua ambruk ke tanah. Tubuhnya hampir terpotong menjadi dua bagian. Darahnya seketika menggenang di lantai bangunan kuno.


Pertarungan mereka adalah pertarungan kelas atas. Jika dua tokoh bertempur serius, maka jurus yang dikeluarkan pun tidak perlu banyak.


Namun meskipun hanya berjalan sesaat, tapi sesungguhnya jurus yang mereka keluarkan adalah jurus kelas atas. Jurus yang jarang terlihat di medan pertarungan biasanya.


Sehingga pertarungan itu sangat dahsyat dan sulit untuk dibayangkan oleh siapapun.

__ADS_1


Sembilan Harimau Pengepung terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka masih tidak percaya bahwa pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama ternyata sanggup membunuh si Tongkat Tua yang merupakan tokoh angkatan tua.


__ADS_2