Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tersesat


__ADS_3

Selesai berkata demikian, dia berniat untuk melesat menerjang si pemimpin tersebut. Namun sayangnya sebelum dia bergerak, sebuah bayangan biru tua telah lebih dahulu melesat ke depan.


Kecepatannya bahkan melebihi Pendekar Tanpa Nama sendiri.


Semua orang terpana melihat bayangan biru tua tersebut. Hanya Nyai Tangan Racun Hati Suci saja yang terlihat biasa-biasa.


Alasannya karena dia tahu siapa bayangan biru tua itu.


Raja Tombak Emas dari Utara.


Kakek tua tersebut saat ini sudah tiba di hadapan si pemimpin. Tombak pusaka yang selalu dia banggakan telah menempel di tenggorokan orang itu.


Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya pucat pasi seperti seseorang yang tidak ada darahnya. Lututnya tampak bergetar.


Seumur hidupnya, dia baru merasakan ketakutan yang seperti ini. Bahkan rasanya melihat orang yang mempunyai ilmu meringankan tubuh setinggi itu saja, baru pertama kali ini.


"Ternyata tua bangka itu sudah tidak sabar. Hemm, peningkatan beberapa waktu belakang ini ternyata lumayan juga," gumam Nyai Tangan Racun Hati Suci.


Wanita tua itu tahu bahwa datuk rimba hijau dari Timur tersebut telah mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya. Kalau sudah seperti itu, siapa yang mampu menahannya?


Walaupun dia bisa mengalahkan kakek tua tersebut, tetapi dirinya yakin tidak bisa meraih kemenangan dalam waktu singkat.


"Katakan di mana para pemimpinmu berada. Katakan sekarang atau tombak ini akan menembus lehermu," kata Raja Tombak Emas dari Utara mengancam pemimpin tersebut.


"A-aku, a-aku tidak tahu. Su-sungguh," jawabnya ketakutan.


"Bangsat. Sekali lagi kau berbohong, aku tidak segan-segan membunuhmu," katanya bertambah geram.


Tombak pusakanya langsung dia tekankan. Hanya sedikit menempel lebih dalam saja, setitik noda merah keluar.


Darah.


Padahal dia hanya menekan tombaknya sedikit. Tapi sudah mampu melukai lawan. Bisa dibayangkan bagaimana tajamnya pusaka tersebut.


Orang tersebut semakin ketakutan. Dia merasakan perih di bagian lehernya.


"Ba-baiklah. Aku akan mengantarkan kalian ke sana," ujarnya dengan tubuh gemetar.

__ADS_1


Raja Tombak Emas dari Utara kemudian melepaskan cengkramannya. Tombak emas miliknya dia turunkan.


"Cepat tunjukkan ke mana arahnya," ujar kakek tua yang mempunyai sifat tidak jelas tersebut.


Si pemimpin tersebut semakin ketakutan saat mendengar bentakan dari salah satu datuk rimba hijau itu. Dia menganggukkan kepalanya lalu mulai berjalan perlahan ke depan.


Lima tokoh utama beserta Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap mengikuti pemimpin itu dari belakang.


Mereka di bawa semakin masuk ke dalam hutan. Rombongan orang-orang itu di bawa ke tempat yang sangat membingungkan. Di sana justru terlihat tidak ada kehidupan manusia.


Di kanan kiri hanya rumput ilalang yang tinggi beserta semak belukar lainnya. Pohon-pohon asem dan beringin tumbuh subur. Daunnya menutupi seisi hutan sehingga terlihat lebih menyeramkan.


Di saat seperti itu, tiba-tiba si pemimpin tadi melarikan diri ke sebelah Selatan. Untungnya Raja Tombak Emas dari Utara menyadari hal tersebut. Orang tua itu secara refleks langsung mengejarnya.


Karena saking kesalnya, dia segera mengayunkan tombak emas sakti miliknya ke arah si pemimpin pendekar kelas atas tadi.


"Wushh …"


Sambaran angin dari tombak pusaka miliknya menerbangkan dedaunan. Ada hawa panas dalam serangan tersebut.


Si pemimpin sebenarnya ingin menghindar, namun sayangnya dia telah terlambat karena kecepatan serangan kakek tua itu sangat cepat sekali.


Al hasil karena tidak keburu menghindar, perutnya kini telah menjadi sasaran yang sangat empuk. Ada luka robekan yang cukup lebar di sana. Darah segar segera mengucur deras membasahi dedaunan kering.


"Bangsat!!! Ternyata kau membawa kami ke tempat asing. Kalau begitu kau harus mampus sekarang juga," bentak Raja Tombak Emas dari Utara.


Begitu ucapannya selesai, tombak saktinya kembali dia gerakan.


Sebuah serangan yang cepat dan ganas keluar. Kelebatan cahaya emas terlihat terang dan nampak indah. Cahaya emas memanjang itu hanya terlihat satu kali berkelebat membelah kegelapan hutan.


Hanya satu gerakan. Tak ada lagi gerakan lain.


Setelah itu, berbarengan dengan hilangnya cahaya emas, terdengar sebuah jeritan yang memilukan. Suara menahan sakit terdengar pula lalu lenyap tanpa bekas.


Ternyata si pemimpin tadi, kini telah tewas. Lehernya hampir putus dibabat habis oleh tombak emas sakti milik datuk rimba hijau.


Dia tewas dengan sorot mata penuh amarah. Mulutnya terbuka lebar dan tangannya memegangi leher yang hampir putus tadi.

__ADS_1


"Berani sekali dia mempermainkan aku. Hemm, sekarang dia baru tahu bahwa aku tidak pernah membual atas segala ucapanku," kata kakek tua itu bersungut-sungut.


Sementara itu para tokoh yang lain justru merasa kebingungan. Mereka tidak ingat mana arah jalan keluar sebab sebelumnya si pemimpin membawanya berputar terlebih lebih dahulu.


Yang lain justru menyayangkan sikap Raja Tombak Emas dari Utara yang teramat ceroboh dan tidak penuh perhitungan. Yang tahu jalan keluar dari tempat mereka berada saat ini justru si pemimpin tadi.


Dia yang membawa, tentu saja dia yang tahu.


Sayangnya, orang tersebut kini malah sudah menjadi mayat penasaran.


Ekspresi wajah semua orang terlihat nampak muram. Mereka sedang memikirkan dan mengingat-ingat bagaimana bisa masuk ke sana.


"Tua bangka, apa kau tahu ke mana arah jalan keluar dari tempat ini?" tanya Nyai Tangan Racun Hati Suci dengan nada sedikit tidak senang.


Yang ditanya tidak langsung menjawab. Dia celingak-celinguk ke sana kemari. Baru sekarang dirinya ingat bahwa dia sendiri tidak mengetahui arah jalan keluarnya.


"Hehe, tidak tahu Nyai," jawabnya sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar bodoh. Kalau tidak tahu kenapa kau langsung membunuh orang itu?"


"Karena aku kesal. Salah dia sendiri ingin melarikan diri. Daripada kabur, lebih baik aku bunuh sekalian," jawabnya tidak mau disalahkan.


"Hemm, sudahlah. Tak ada gunanya bertengkar. Toh orangnya sudah mampus. Lebih baik kita cari jalan keluar dari sini," ujar Kakek Sakti Alis Tebal menengahi kedua datuk yang bertengkar tersebut.


Ucapannya mendapatkan persetujuan dari yang lain. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba mencari jalan keluar.


Rombongan tersebut berpencar ke segala penjuru sambil mencari jalan keluar. Ada yang menyusuri hutan ke dalam lagi, ada juga yang melihat dari atas pohon.


Sayangnya usaha mereka nihil. Setidaknya untuk saat ini.


Sebab semua keadaan di sana terlihat sama persis. Sangat rimbun dan penuh dengan pohon yang tumbuh tinggi serta banyaknya rumput ilalang.


Mereka benar-benar tersesat.


Keadaan di sana perlahan mulai terasa berbeda. Seperti ada aura sesat yang kental di sekitar orang-orang itu.


"Hemm, sepertinya ada yang tidak beres," batin Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


Setelah itu, dia langsung duduk bersila lalu berusaha untuk konsentrasi. Entah apa yang sedang dilakukan pendekar muda itu. Hanya saja tidak ada yang berani mengganggunya.


__ADS_2