Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Puluhan Murid Perguruan Rajawali Sakti


__ADS_3

Dia tersentak kaget. Sebisa mungkin kakinya menjejak udara lalu melompat ke belakang. Murid itu berjumpalitan dua kali sebelum akhirnya mendarat dengan mulus.


Wajahnya sedikit pucat pasi. Dia menatap Cakra Buana dengan tatapan tidak percaya. Usia murid tersebut masih terbilang muda. Paling tidak usianya baru sekitar dua puluh dua tahunan. Wajahnya cukup tampan, sepasang matanya hitam bening. Pertanda bahwa pemuda itu setidaknya mempunyai bekal yang cukup lumayan.


Keduanya masih terdiam. Belum ada yang bicara si antara mereka.


"Siapa kau?" tanya pemuda tersebut memberanikan diri setelah beberapa saat terdiam.


"Kau belum pantas untuk mengetahui siapa aku," jawab Cakra Buana dengan tenang.


"Sombong. Apa tujuanmu kemari?"


"Apapun tujuanku, itu bukan urusanmu,"


Pemuda itu dibuat geram. Tapi untuk menyerang Cakra Buana kembali, dia belum mempunyai keberanian yang cukup. Bagaimanapun juga, dirinya sudah mempunyai pengalaman yang cukup lumayan.


Biasanya, hanya mereka yang berilmu tinggi yang mempunyai ketenangan seperti pemuda itu.


"Memang bukan urusanku. Tapi hal itu merupakan urusan perguruan. Kau berani datang kemari, sama saja dengan mengantarkan nyawa,"


"Aku sudah tahu dan aku juga sudah memperhitungkan semuanya,"


"Bagus. Kalau begitu, apa pesan terakhirmu?"


"Aku belum tentu akan mati. Untuk apa memberikan pesan terakhir?"


"Kau yakin?"


"Sangat yakin,"


"Coba lihat ke sekelilingmu, apakah kau masih mempunyai keyakinan tidak akan mati malam ini?"


Cakra Buana langsung memandang ke sekeliling. Dia sedikit terkejut saat melihat puluhan murid Perguruan Rajawali Sakti sudah mengelilingi dirinya. Mereka berpakaian putih bersih. Ada juga yang berpakaian merah. Setiap murid dengan kedudukan tertentu, pasti memakai pakaian yang berbeda dari murid pada umumnya.


Puluhan pasang mata menatapnya dengan tajam. Selapis hawa pembunuhan pekat merembes keluar dari masing-masing tubuh mereka.


"Bagaimana? Kau masih mempunyai keyakinan sekarang?"


"Tentu saja. Kenapa tidak?"


"Apakah kau pikir bisa menandingi puluhan murid pilihan ini?"


"Kau sendiri, apakah pernah berpikir bahwa mereka sudah mampu untuk membunuhku? Jika seseorang berani memasuki kandang harimau seorang diri, setidaknya orang itu pasti mempunyai bekal yang lebih dari cukup," ucap Cakra Buana penuh rasa percaya diri.

__ADS_1


Mendengar jawaban Pendekar Tanpa Nama barusan, murid Perguruan Rajawali Sakti itu terkejut. Bagaimanapun juga, apa yang dikatakan oleh orang asing itu ada benarnya.


Siapa yang sudi masuk kandang harimau tanpa bekal cukup? Jika bukan orang gila, sudah pasti orang yang bosan hidup.


Dan menurutnya, orang asing itu tidak termasuk ke dalam daftar keduanya.


"Sepertinya kau sudah memakan nyali harimau,"


"Aku tidak perlu memakannya. Karena aku sendiri harimau itu,"


Angin berhembus lirih mengibarkan puluhan pakaian para murid Perguruan Rajawali Sakti. Rembulan semakin menggeswrke arah barat. Lolongan anjing dan lolongan serigala terdengar di kejauhan sana.


Terdengar membawa rasa seram. Dan terdengar membawa rasa tegang.


"Jangan banyak bicara. Buktikan saja ucapanmu itu,"


Wushh!!! Wushh!!!


Belum selesai perkataannya, puluhan murid Perguruan Rajawali Sakti langsung melesat ke arah Pendekar Tanpa Nama secara bersamaan. Puluhan macam senjata tajam sudah diacungkan di tangan mereka masing-masing.


Puluhan pisau terbang turut melesat bersama dengan para murid itu. Semua orang menyerangnya secara serempak.


Pendekar Tanpa Nama dibuat terkejut atas situasi seperti sekarang. Hal ini benar-benar diluar dugaannya sendiri. Jika harus menghadapi puluhan murid secara bersamaan, maka dia akan merasa kesulitan.


Lantas jika situasinya seperti sekarang, apakah dia bisa menjalankan rencana awalnya?


Setiap hal, jika tidak dicoba lebih dulu, maka siapapun tidak akan bisa tahu hasilnya seperti apa.


Cakra Buana bergerak. Kedua tangannya segera menangkis puluhan pisau terbang yang melesat ke arahnya. Segulung tenaga dahsyat dia kerahkan saat itu juga.


Puluhan pisau terbang rontok seperti menabrak dinding tak kasat mata. Bahkan sebagian dari pisau itu patah menjadi beberapa bagian. Puluhan murid Perguruan Rajawali Sakti terlempar beberapa langkah ke belakang.


Sedangkan Pendekar Tanpa Nama masih diam tanpa bergeming sedikitpun. Tubuhnya tetap tegak seperti bukit nun jauh di sana.


Puluhan murid Perguruan Rajawali Sakti terbengong. Mereka tidak pernah menyangka bahwa orang asing itu ternyata mempunyai kekuatan yang sangat tinggi.


Hal itu benar-benar diluar dugaan semua murid.


Wushh!!!


Segulung angin dahsyat melaju dengan cepat ke arah Cakra Buana. Pemuda itu mengibaskan tangan kanannya untuk menolak serangan tersebut.


Blarr!!!

__ADS_1


Ledakan terjadi akibat beradunya jurus dahsyat tersebut.


Baru saja hilang efeknya, puluhan murid kembali melancarkan serangan ganas ke arah Cakra Buana. Puluhan senjata tajam diayunkan dengan segera.


Kilatan cahaya perak memenuhi jagat raya, bentakan nyaring terdengar menggema seperti raungan setan. Pendekar Tanpa Nama melompat ke belakang untuk menghindari puluhan serangan tersebut.


Pendekar Tanpa Nama kembali melancarkan hawa sakti untuk menangkis semua serangan lawannya.


Gelegar!!!


Suara ledakan terdengar kembali. Puluhan murid Perguruan Rajawali Sakti terlempar kembali sejauh lima langkah. Semua murid itu terkapar tak bertenaga. Seluruh tubuhnya terasa sangat lemas seperti tidak mempunyai tenaga sama sekali.


Puluhan senjata tajam dibuat patah oleh Pendekar Tanpa Nama. Entah jurus apa yang dia gunakan untuk melumpuhkan puluhan lawannya. Hanya saja, semua murid yang ikut menyerang mengakui kehebatan orang asing tersebut.


Perlahan tapi pasti, mereka berusaha untuk bisa bangun kembali. Setelah berusaha mati-matian, akhirnya usaha para murid membuahkan hasil.


Meskipun masih terasa sedikit lemas, namun sekatang mereka sudah bisa berdiri. Tapi kali ini tidak ada yang menyerang. Melainkan hanya mengepung saja.


Karena mereka tidak menyerang, maka Cakra Buana sama sekali tidak bergerak. Pemuda Tanah Pasundan itu hanya berdiri menanti apa yang akan dilakukan oleh para murid tersebut.


Cakra Buana melangkah secara perlahan. Dia tidak menengok lagi ke belakang.


Puluhan pasang mata memandangi kepergiannya dengan wajah marah bercampur ngeri. Mereka baru menemukan penyusup sehebat orang tersebut.


Angin lirih berhembus. Rembulan tertutup oleh awan kelabu.


"Berhenti!!!" tiba-tiba sebuah suara menyuruh Cakra Buana untuk menghentikan langkahnya.


Pendekar Tanpa Nama langsung menghentikan langkahnya saat itu juga. Dia membalikkan badannya.


Cakra Buana terkejut saat melihat siapa yang menyuruhnya untuk berhenti. Dia sangat kenal kepada orang tersebut. Bahkan beberapa saat lalu bertemu dengannya.


Nenek Tua Bungkuk.


Wanita tua itu berdiri dengan sorot mata setajam silet. Tongkat yang meliuk-liuk di tangan kirinya terlihat mengeluarkan sebuah kilatan hitam. Hawa pembunuhan merembes keluar dari tubuhnya.


Nenek Tua Bungkuk tersenyum sinis ke arah Cakra Buana.


"Siapa kau?" tanyanya dengan tatapan mata penuh selidik.


Cakra Buana berdehem beberapa kali untuk mengubah suaranya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan santai.

__ADS_1


"Hemm, sungguh sombong sekali, apakah kesombonganmu sesuai dengan buktinya?" tanya Nenek Tua Bungkuk sambil tersenyum mengejek.


__ADS_2