
Maling Sakti Seribu Wajah sudah memperhitungkan tentang hal seperti ini. Malah memang merupakan bagian dari rencananya. Itulah salah satu alasan kenapa dirinya mengeluarkan tenaga dalam dengan kemampuan tinggi.
Tujuan utamanya tak lain adalah untuk memancing Pendekar Tanpa Nama agar dirinya bisa mendapatkan celah untuk menyerang.
Sebab kalau tidak seperti itu, dia sendiri tidak yakin bisa membunuhnya. Walaupun Maling Sakti belum pernah bertarung secara langsung dengan Pendekar Tanpa Nama, tapi dirinya percaya kalau berita yang beredar di dunia persilatan bukanlah isapan jempol belaka.
Melainkan memang nyata.
Belum lama ini, dunia persilatan Tanah Pasundan memang ramai memperbincangkan Pendekar Tanpa Nama. Di mana dia digambarkan sebagai seorang pendekar muda yang mempunyai kemampuan dan tenaga dalam yang tidak terukur lagi.
Banyak orang-orang rimba hijau yang percaya akan hal seperti ini. Tapi tidak sedikit pula yang tidak mempercayainya.
Terlepas percaya atau tidak percaya, Pendekar Tanpa Nama tetap tidak mau ambil pusing. Karena sejatinya dia tidak pernah menggubris persoalan tak penting semacam itu.
Bukk!!! Bukk!!! Bukk!!!
Karena saking cepat dan tidak pernah disangka-sangka, pada akhirnya serangan si Maling Sakti Seribu wajah membuahkan hasil baik juga.
Tiga pukulannya dengan telak berhasil memukul tubuh Pendekar Tanpa Nama. Dua di bagian dada kanan dan kiri, sedangkan satu lagi di bagian perut.
Tubuh pemuda itu terdorong mundur dua langkah ke belakang. Hampir saja dirinya jatuh tersungkur. Untunglah pada saat itu, Cakra Buana sudah berhasil menguasai kembali posisi dirinya sendiri.
Melihat usaha kerasnya membuahkan hasil yang sesuai dengan harapannya, si Maling Sakti Seribu Wajah tersenyum simpul. Senyuman yang sangat menggambarkan seseorang sedang bahagia.
Alasan kenapa dia tertawa adalah karena dirinya semakin yakin bahwa lawannya tidak bisa bertarung dengan maksimal lagi.
Dalam tiga pukulan tadi, diam-diam si Maling Sakti menyelipkan tiga batang jarum sehalus benang sutera. Jarum-jarum itu selain berfungsi untuk menghilangkan tenaga dalam, juga berfungsi untuk melumpuhkan kekuatan musuh.
Siapapun yang terkena jarum tersebut, pasti tidak akan selamat.
Ini adalah cara rahasia yang dia ciptakan sendiri. Entah sudah berapa banyak pendekar yang menjadi korban karena perbuatannya ini.
__ADS_1
Lalu apakah Pendekar Tanpa Nama bakal menjadi korban selanjutnya? Benarkah dia telah terkena tiga jarum sehalus benang sutera itu?
Wutt!!!
Tanpa memberikan aba-aba, Maling Sakti sudah menyerang lagi. Kali ini jurus pamungkas yang paling dia andalkan segera dikeluarkan dengan segenap kemampuan.
Dia tahu, kesempatan sebaik ini tidak akan pernah datang dua kali. Karena itulah dirinya memilih langkah terakhir. Jurus pamungkas menjadi jalan keluar.
"Burung Garuda Memindahkan Gunung …"
Wushh!!!
Tubuhnya melesat secepat dan selincah burung garuda yang gagah perkasa. Hanya satu helaan nafas, dia sudah tiba di hadapan Pendekar Tanpa Nama. Kedua tangannya ibarat sepasang sayap yang kuat dan bisa menimbulkan hembusan angin badai.
Pusaran debu menggulung. Ranting pohon jatuh silih berganti. Tubuh Pendekar Tanpa Nama tergulung dalam pusaran itu. Begitu juga dengan di Maling Sakti sendiri. Tiada seorangpun tahu apa yang sedang terjadi di dalam pusaran tersebut.
Wushh!!! Wushh!!!
Angin terus berhembus. Semakin lama semakin dahsyat. Suara menggelegar yang berasal dari balik pusaran itu terdengar nyaring. Seperti dua buah batu yang saling berbenturan.
Bukk!!!
Brugg!!!
Satu batang pohon beringin sebesar tiga pelukan orang dewasa dibuat bergetar hebat. Beberapa dahan pohon yang cukup besar patah lalu jatuh ke bawah menimpa dahan-dahan pohon lainnya.
Satu sosok manusia telah terkulai lemas tak berdaya. Mulutnya dipenuhi oleh darah segar. Seluruh tubuhnya mengalami luka-luka yang tidak ringan.
Sepertinya orang itu mengalami patah tulang di beberapa tempat. Kalau di perhatikan, tulang dadanya seperti remuk. Dan empat buah tulang rusuk sebelah kanannya juga patah.
Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah si Maling Sakti Seribu Wajah. Ya, memang dialah yang mengalami luka-luka itu.
__ADS_1
Kondisinya sungguh membuat siapapun prihatin. Seperti orang yang sangat tersiksa. Hidup tidak, matipun tidak.
Bukankah kondisi seperti itu jauh memprihatinkan daripada kematian itu sendiri?
Pendekar Tanpa Nama berjalan dengan santai. Tangan kanannya terbuka. Telapaknya menghadap ke langit. Kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya pada telapak tangan itu terdapat sesuatu yang teramat halus. Mungkin lebih halus daripada sehelai rambut.
Jika tertimpa sinar matahari, sesuatu tersebut akan kemilau. Tampak indah, tapi juga tampak amat mengerikan.
Sebab sesuatu itu bukan lain adalah tiga jarum yang lebih lembut dari benang sutera. Senjata rahasia yang sebelumnya amat dibanggakan oleh si Maling Sakti.
Setelah berjalan beberapa saat dengan tenang dan santai, akhirnya Pendekar Tanpa Nama berhenti begitu jaraknya tinggal satu tombak dengan Maling Sakti.
"Apakah ini milikmu?" tanyanya sambil memperlihatkan tiga jarum tersebut.
Seketika sepasang mata si Maling Sakti langsung melotot seperti hendak keluar. Seumur hidupnya, dari dulu hingga sekarang, belum pernah dia merasa sekaget ini. Sesuatu yang membuatnya terkejut memang tidak terhitung lagi jumlahnya, tapi kalau yang semengejutkan saat ini, rasanya dia belum pernah mengalami walau hanya satu kali.
"Harus aku akui, tiga pukulanmu yang terakhir tadi memang sangat keras bertenaga. Kalau korbannya orang lain, pasti orang itu bakal mampus. Atau setidaknya dia bakal terluka sangat parah. Tapi sayang sekali, aku bukanlah orang lain. Aku adalah aku. Namun meskipun begitu, aku juga harus mengakui kalau kau adalah salah satu musuh paling tangguh yang pernah aku hadapi di Tanah Pasundan ini," katanya dengan wajah yang sangat serius.
Si Maling Sakti diam saja. Hakikatnya dia memang tidak bisa bicara. Bagaimana mau bicara kalau mulutnya selalu mengeluarkan segumpal darah segar?
Tapi meskipun begitu, sepasang matanya tampak bersinar pada saat telinganya mendengar ucapan terakhir Pendekar Tanpa Nama. Sepasang mata itu bercahaya terang, seterang sinar matahari saat ini.
Bagi mereka para pendekar, mendapatkan pujian dari seorang tokoh yang lebih hebat darinya memang merupakan kebanggaan tersendiri.
Malah sebagian orang rela mempertaruhkan nyawanya hanya demi mendapatkan beberapa patah kata pujian itu.
Bagi mereka yang awam pasti bakal bicara bahwa orang itu bodoh. Tapi bagi mereka yang mengerti, justru tidak bodoh. Dipuji hebat oleh orang yang lebih hebat, adalah suatu kebanggan yang paling bangga.
"Sekarang permasalahan di antara kita sudah selesai. Kembalilah dengan tenang, aku akan menguburkan jasadmu dengan layak," lanjut Cakra Buana.
Akhirnya seulas senyuman terukir pada mulut si Maling Sakti. Senyuman paling bahagia, senyuman yang dapat dilihat untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Sepasang mata yang cemerlang itu, sekarang sudah tertutup. Seulas senyuman yang hangat tadi juga telah sirna. Tubuh si Maling Sakti terkulai lemas tak berdaya.
Dia telah tewas. Tewas dengan membawa perasaan bangga.