Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Memulai Rencana


__ADS_3

Dewi Bercadar Merah tidak langsung menjawab pertanyaan Nenek Sakti. Gadis itu berpaling memandang Ratu Ayu lalu menghela nafas beberapa kali. Siapapun dapat melihat kalau pada saat ini dirinya sedang mengalami semacam tekanan batin.


Memangnya wanita mana yang tidak merasa tertekan batinnya jika melihat sesamanya berada dalam posisi Ratu Ayu yang sangat menyedihkan itu?


"Aku ingin mengobati Ratu Ayu,"


"Apa? Apakah kau gila? Tabib yang sangat terkenal di Tanah Pasundan saja tidak sanggup mengobatinya, bahkan tabib yang lebih terkenal di seluruh jagad juga sama. Kalau mereka saja tidak sanggup, masa kau sanggup?" tanya Nenek Sakti setengah berteriak karena saking kagetnya setelah mendengar ide Dewi Bercadar Merah.


Ling Ling tidak menghiraukan ocehan Nenek Sakti. Dia sudah menduga kalau orang lain tidak akan percaya kepadanya. Alasannya bukan lain karena mereka belum mengetahui siapakah gadis itu sebenarnya.


"Tapi kali ini aku serius. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyembuhkan Ratu Ayu. Oleh sebab itulah aku ingin kalian mau bekerja sama,"


"Kalau kau memang mengerti dalam ilmu pengobatan, coba sebutkan penyakit apa yang diderita oleh Ratu Ayu?"


Dewi Bercadar Merah menghela nafas lebih dulu, setelah itu dia segera menjelaskan penyakit tadi kepada Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Ling Ling menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dia menyebutkan kalau ada seseorang yang sudah menaruh racun ganas dan sangat langka dalam makanan ataupun minuman Ratu Ayu, kebetulan beliau juga mengkonsumsinya pula.


Selain hal tersebut, dia juga memberitahukan kalau jalan darah serta seluruh tenaga dalamnya telah dilumpuhkan oleh seseorang yang sangat berilmu tinggi sehingga keadaannya begitu mengenaskan seperti sekarang ini.


Ling Ling tidak berhenti sampai di situ saja, dia pun menjelaskan juga beberapa hal lainnya.


Mendengar semua penjelasan gadis cantik itu, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti terbelalak kaget. Ternyata apa yang dia sebutkan tidak berbeda dengan apa yang telah dikatakan oleh para tabib.


Semua tabib yang sudah memeriksa keadaannya pun mengatakan hal yang sama seperti barusan.


Baru sekarang saja dua orang tua itu merasa yakin kalau Dewi Bercadar Merah ternyata benar-benar menguasai ilmu pengobatan. Kalau saja mereka tidak mendengarkannya sendiri, pasti keduanya tidak akan percaya.


"Ternyata kau sungguh menguasai ilmu pertabiban," ucap Nenek Sakti dengan suara mendalam.


Ada kekaguman tersendiri dalam ucapannya itu.


"Terimakasih atas pujian Nenek. Jadi sekarang bagaimana, apakah kalian sudi membantuku?"


"Katakan dulu apa rencanamu," kali ini Kakek Sakti juga ikut nimbrung.


Keduanya mulai merasa bahwa persoalan ini menarik. Seperti pada umumnya, sesuatu yang menarik terkadang sangat mudah untuk memancing seseorang agar ikut ambil bagian di dalamnya.


"Aku akan berusaha mengobati Ratu Ayu. Cara satu-satunya adalah mencari orang yang telah mempunyai tenaga dalam sempurna, lalu orang itu disuruh untuk menyalurkan tenaga dalamnya kepada Ratu Ayu selama tiga hari tiga malam berturut-turut,"


"Kau sudah menemukan orang yang tepat itu?"

__ADS_1


"Sudah,"


"Siapa dia?"


"Kakang Cakra Buana …"


Kedua orang tua tersebut saling pandang. Kemudian mereka tersenyum penuh arti.


"Bagus sekali, aku sudah menduga kalau orang yang tepat itu memang dirinya,"


"Selain Kakang, rasanya tidak ada orang yang pantas lagi. Tapi di samping menyusul Kakek Penyaru kemari, aku juga meminta tolong hal lain kepada kalian berdua,"


"Hal apa yang kau maksudkan?"


"Aku ingin Nenek Sakti menjadi Ratu Ayu selama tiga hari tiga malam atau selama pengobatan berlangsung. Lalu aku juga meminta agar Kakek Sakti menjadi diriku. Apakah kalian sanggup meluluskannya?"


"Kami sanggup," jawab Nenek Sakti dengan tepat.


Demi menyembuhkan Ratu Ayu, keduanya siap untuk melakukan apapun. Jangankan untuk menyaru beberapa hari, bahkan jika disuruh menyaru selama satu tahun pun keduanya siap.


Demi junjungannya yang menjadi panutan karena terkenal akan kebaikannya ini, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti siap melakukan apapun.


"Baik. Sekarang juga kami akan pergi," jawan cepat Kakek Sakti.


Begitu selesai berkata, keduanya segera keluar dari kamar Ratu Ayu yang megah itu. Mereka kemudian keluar kerajaan untuk langsung mencari di mana kah Kakek Penyaru berada.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan putih melesat menembus gelapnya malam. Gerakan mereka secepat angin dan seringan kapas. Hanya sesaat saja keduanya sudah tidak tampak lagi.


###


Pagi hari itu amat cerah. Udara segar terasa memasuki setiap jiwa yang bernyawa. Burung-burung berdecit riang menyambut hari yang baru. Semua warga telah memulai aktivitas mereka masing-masing.


Suasana ramai seperti biasanya.


Sinar mentari pagi ini sangat cerah menyinari alam mayapada. Hawa yang tadinya agak dingin, sekarang mendadak berubah menjadi hangat.


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti saat ini sedang berada di sebuah kedai makan. Kedai makan ini terletak di tengah-tengah Kotaraja Tanah Pasundan. Posisinya sangat strategis. Sehingga tidak heran kalau setiap waktu kedai makan itu selalu ramai dan dipenuhi oleh pelanggan.


Ukuran kedai itu tidak terlalu besar. Namun juga tidak terlalu kecil. Di dalamnya ada dua belas meja makan. Hampir semua meja sudah diisi oleh satu atau dua orang pengunjung. Mereka sedang melakukan sarapan pagi dengan lahapnya.

__ADS_1


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti bukan tanpa sengaja singgah di sini, keduanya malah sudah berniat sejak awal.


"Kau yakin kalau dia bakal datang lagi ke sini?" tanya Nenek Sakti sambil menunggu makanan yang mereka pesan.


"Aku yakin. Sebab setiap harinya si Kakek Penyaru selalu sarapan di sini sebelum memulai segalanya,"


"Tapi buktinya sampai sekarang dia belum datang,"


"Siapa bilang?"


"Apakah dia sudah datang?" tanya Nenek Sakti keheranan sambil mengerutkan keningnya.


"Kau lihat pemuda tampan berpakaian hijau itu?" Kakek Sakti menunjuk ke arah pemuda yang dimaksud.


"Apakah pemuda itu adalah orang yang kita cari?"


"Tidak salah,"


Baru saja ucapannya selesai, orangnya malah sudah tiba di hadapan pemuda tampan berpakaian hijau yang tadi dimaksudkan.


"Apa kabar sobat?" tanya Kakek Sakti sambil menepuk pundaknya.


'Pemuda tampan' itu sedikit kaget, tapi begitu melihat siapa yang baru saja menepuk pundaknya, dia lantas tersenyum hangat.


"Aih, aku kira siapa, ternyata kau. Pantas saja kau bisa mengenali aku," katanya pelan sambil tertawa.


"Sahabat mana yang tidak mengenali sahabatnya sendiri? Hahaha …, apakah kau sedang menganggur?" tanya Kakek Sakti.


"Kebetulan iya. Memangnya ada apa?"


"Nanti saja bicaranya. Siang hari kita bertemu di kedai arak pojok pasar itu," kata Kakek Sakti.


"Baiklah kalau begitu,"


Setelah mereka bercakap-cakap sebentar, dua orang tua tersebut langsung acuh tak acuh seolah tidak saling mengenal. Hal ini memang sengaja dilakukan agar tidak ada orang yang menaruh curiga terhadap mereka.


Kakek Sakti segera kembali ke tempat duduknya semula.


"Bagaimana?" tanya Nenek Sakti antusias.


"Semuanya berjalan lancar," jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2