
Werr!!!
Saat Cakra Buana memundurkan diri beberapa langkah ke belakang, dia memilih sambil melepaskan satu serangan dengan hawa sakti.
Segulung angin datang menerjang lawan dengan cepat sehingga membuat keduanya terdorong beberapa dua langkah karena saking terkejutnya.
Melihat kesempatan baik tersebut, Pendekar Tanpa Nama tentunya tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja.
Jurus Tapak Dewa Naga keluar.
Tangan kanannya menyongsong ke depan dengan gerakan yang sangat cepat sekali. Pemuda itu mengirimkan satu hantaman yang dahsyat menggunakan telapak tangan kanan.
Bukk!!! Bukk!!!
Suara hantaman yang dihasilkan terdengar sangat keras. Dua sosok tersebut terlempar jauh ke belakang tanpa sempat melakukan perlawanan. Keduanya tidak sempat memberikan balasan apapun karena serangan itu amat sangat mendadak dan tidak pernah disangka sebelumnya.
Sekarang mereka tidak akan lagi bisa balas menyerang sebab nyawanya sudah melayang.
Hanya dengan sekali serangan, dua lawan Pendekar Tanpa Nama dibuat mampus. Darah segar memenuhi mulut keduanya. Mata mereka masih melotot seakan tidak percaya bahwa dirinya akan tewas secepat dan semudah itu.
Siapapun tidak akan menyangka bahwa Pendekar Tanpa Nama mampu membunuh dua tokoh kelas atas hanya dalam beberapa jelas jurus saja.
Namun bagi mereka yang tahu, sudah pasti akan percaya. Kalau Pendekar Tanpa Nama sudah mengerahkan delapan bagian tenaga dalam, benarkah ada seorang tokoh kelas atas yang mampu menahan serangannya?
Malam kembali hening. Semilir angin musim semi kembali terasa membelai tubuh dengan mesra.
Pendekar Tanpa Nama masih berdiri di tempatnya semula. Benaknya masih bertanya-tanya terkait siapakah mereka berdua itu? Kenapa mereka bisa mengetahui di mana dirinya beristirahat?
Cakra Buana ingin mendekati dua soosk itu untuk sekedar memastikan. Hanya saja sebelum niatnya terwujud, tiba-tiba saja Huang Pangcu telah tiba dan sekarang berdiri tepat di hadapannya.
Kakek tua itu lebih dulu mendekat ke arah dua mayat tersebut dari pada Pendekar Tanpa Nama. Dia berjongkok lalu kemudian mulai memeriksa.
"Hemm …" kata Huang Pangcu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.
__ADS_1
Cakra Buana yang berada di belakangnya tampak kebingungan. Dia belum mengetahui siapa dua sosok tersebut. Karena itulah dirinya merasa heran.
"Kau kenal mereka?" tanya Pendekar Tanpa Nama tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"Apakah kau percaya kalau mereka adalah ketua dan wakil ketua Kay Pang Pek?" tanya balik Huang Pangcu sebelum menjawab pertanyaan Cakra Buana.
"Tentu saja tidak. Hanya saja, aku juga bingung. Siapa mereka sebenarnya? Kenapa mereka bisa memakai pakaian seorang ketua dan wakil kepala tetua Kay Pang Pek?"
"Mereka memang menggunakan pakaian ketua dan wakil ketua, namun mereka bukan orang yang sebenarnya," ucap Huang Pangcu dengan tenang.
"Maksudmu?"
"Mereka palsu,"
"Mereka palsu?" tanya Cakra Buana mengulangi perkataan kakek tua itu karena merasa belum percaya sepenuhnya.
"Benar. Mereka palsu, aku sangat kenal wajah ketua dan wakil ketua Kay Pang Pek di tempat ini. Oleh sebab itulah aku berani menjamin bahwa mereka ini palsu,"
Pendekar Tanpa Nama tidak ragu lagi setelah si kakek tua berkata demikian. Sebagai pemimpin suatu perkumpulan, sudah pasti dirinya sangat mengenal dan sangat tahu siapa saja bawahannya.
"Di mana lagi? Mereka pasti sudah tewas. Kau pikir orang-orangku bisa disogok dengan harta? Apapun yang terjadi, setiap orang yang termasuk bagian dari Kay Pang Pek, telah bersumpah lebih baik mati dari pada mengkhianati perkumpulan," tegas Huang Pangcu.
Apa yang dia katakan memang sesuai dengan kenyataannya. Orang-orang Kay Pang Pek sangat terkenal dengan kesetiaannya kepada perkumpulan. Mereka lebih memilih mati dari pada melakukan pengkhianatan.
Apapun yang terjadi, mereka tetap tidak akan berkhianat.
Kesetiaan orang-orang Kay Pang Pek patut diacungi jempol. Andaikan semua orang di muka bumi memiliki kesetiaan seperti mereka. Mungkin di duna ini tidak akan ada yang namanya pengkhianatan.
Baik itu pengkhianatan pejabat kepada rakyat. Ataupun pengkhianatan kepada sesama.
"Aku percaya kepadamu. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?"
Huang Pangcu masih terdiam. Dia tidak menyangka bahwa musuh ternyata sudah berani menyusup ke dalam perkumpulannya. Selama Kay Pang Pek berdiri, kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi.
__ADS_1
"Kau tidak perlu memikirkan apapun. Ini menjadi tanggungjawabku. Lakukan apa yang harus kau kerjakan, sedangkan aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan,"
"Baik. Aku mengerti,"
Cakra Buana tkdak mau bicara panjang lebar lagi. Sekalipun Huang Pangcu adalah sahabatnya, namun jika orang tua itu berkata serius, dia tidak mau membantah. Bagaimanapun juga, pemuda itu harus memandang status Huang Pangcu sebagai seorang ketua perkumpulan.
"Pergilah. Sebentar lagi akan terang tanah, kau harus bersiap-siap sebelum mengembara dengan cucuku," perintah Huang Pangcu dengan serius
Cakra Buana mengangguk. Dia langsung pergi meninggalkan kakek tua itu seorang diri.
"Siapapun kalian, kalian tidak akan bisa lepas dari kemarahan Kakek Tua Tongkat Hijau," gumam Huang Pangcu geram.
Sepasang tangan yang mengepal itu mendadak mengepulkan asap putih tipis.
###
Pendekar Tanpa Nama dan Huang Mei Lan sudah berdiri di pintu masuk markas cabang. Keduanya sudah siap untuk melakukan pengembaraan bersama. Mereka telah menyiapkan segalanya. Terlebih lagi Mei Lan, dia sudah memantapkan tekad dan niatnya. Gadis cantik itu tidak mau mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan sang kakek kepadanya.
"Mei Lan, kau jangan nakal. Jangan manja juga. Sekarang kau harus belajar mandiri, kau harus belajar menjadi wanita yang tangguh seperti ibumu dulu. Kepandaian yang dulu dimiliki oleh ibumu, kini sudah kau miliki juga. Kau harus membuat mereka bangga, buktikan kepadanya bahwa kau bisa menjadi anak yang hebat," kata Huang Pangcu serius kepada cucunya tersebut.
Mei Lan merasa terharu. Dia memeluk kakek kesayangannya dengan erat.
"Aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian. Mei Lan berjanji akan membuat Yaya bangga. Tapi kalau Yaya tidak ada, siapa yang akan menemaniku kalau mau tidur?" ucap Mei Lan.
Tawa Cakra Buana hampir tumpah saat mendengar bahwa gadis sebesar itu masih minta ditemani tidur. Namun karena situasi tidak mendukung, dia berusaha menahan rasa geli itu sebisa mungkin.
"Karena itulah kau harus belajar tidur sendiri. Kau harus ingat umurmu yang sudah dewasa ini, kalau nanti calon suamimu tahu, dia pasti akan mentertawakanmu," bisik Huang Pangcu.
"Yaya …" teriak Mei Lan gemas.
"Sudah, sudah, berangkatlah sekarang. Dia sudah menunggumu," ujar Huang Pangcu sambil melirik Cakra Buana.
Mei Lan mengangguk. Setelah berpelukan, gadis itu langsung menghampiri Cakra Buana.
__ADS_1
"Aku menitipkan cucuku kepadamu. Kalau saat pulang nanti ada yang hilang dari dirinya, tanganmu akan aku potong," ucap kakek tua itu sambil bercanda.
"Kau tenang saja. Semuanya tidak akan ada yang hilang. Mungkin yang hilang hanya …" Cakra Buana tidak meneruskan bicaranya karena pada saat itu Huang Pangcu melotot kesal.