
Blarr!!!
Ledakan besar pertama terjadi. Dua pendekar pedang itu terpental ke belakang.
Pendekar Tanpa Nama tidak mau menyia-nyiakan kesempatan terbaik ini.
Jurus tertinggi dari jurus pedang yang dia miliki langsung dikeluarkan saat itu juga.
"Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk …"
Cahaya perak memancarkan kekuatan hebat. Pedang di tangan Pendekar Tanpa Nama lenyap dari pandangan mata lawan. Yang terasa hanyalah desiran angin tajam merobek kulit. Yang terlihat hanyalah bayangan kematian.
Si Tubuh Pedang menggertak gigi dengan kuat. Pedangnya juga digenggam lebih erat lagi. Dia menggeram keras lalu melompat menerjang ke depan.
Tebasan pedang beruntun dan tusukan pedang tiqda henti langsung dia layangkan.
Srett!!! Srett!!!
Dua kali suara yang sama terdengar. Pertarungan berhenti sebentar. Kedua pendekar itu melompat mundur ke belakang. Keduanya sama sekali tidak menyangka.
Masing-masing dari bagian tubuh mereka ada yang mengalami luka. Pundak Cakra Buana robek sedikit. Ini adalah pertama kalinya dia mengalami luka setelah sekian lama bertarung dengan pedang.
Si Tubuh Pedang juga sama. Dia mengalami luka di bagian paha kanan. Ini adalah pengalaman pertamanya ada seorang lawan yang berhasil melukai dirinya.
Seumur hidup, dia tidak akan pernah melupakan kejadian seperti ini. Mulut yang selalu tertutup, wajah yang selalu dingin itu, kini memperlihatkan ekspresi kesakitan.
Dia belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dia juga baru merasakan ternyata ada pedang yang mampu memberikan rasa sakit seperti ini.
"Pedang yang luar biasa," puji si Tubuh Pedang.
"Seperti juga pedangmu," jawab Cakra Buana jujur.
Keduanya saling memuji satu sama lain. Masing-masing dari mereka mengakui kehebatan lawannya.
Wuttt!!!
Pendekar Tanpa Nama bergerak lebih dulu. Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk masih dia berikan untuk menyerang lawan. Bedanya, kekuatan yang terkandung kali ini jauh lebih besar lagi.
Keganasan, kecepatan dan ketepatannya jauh lebih mengerikan dari pada sebelumnya.
__ADS_1
Si Tubuh Pedang menguatkan tekadnya. Dia menerjang untuk menyambut serangan lawan.
Srett!!! Slebb!!!
Darah menyembur. Suara serak parau terdengar memecah keheningan.
Debu mengepul tinggi. Angin lirih kembali bertiup.
Pedang Naga dan Harimau sudah menusuk tepat di tengah tenggorokan si Tubuh Pedang. Orang itu menatap lawannya dengan tatapan tidak percaya.
Darah segar memenuhi mulutnya. Si Tubuh Pedang batuk darah. Wajahnya perlahan mulai memucat.
"Jurus yang sangat bagus," katanya sambil tersenyum simpul.
Cakra Buana tidak menjawab.
Sebaliknya, pemuda itu langsung mencabut pedang dari tenggorokan lawan lalu melompat mundur sejauh mungkin.
Duarr!!!
Ledakan yang memekakkan telinga terdengar. Mendadak puluhan senjata rahasia terbang dengan cepat ke arah Cakra Buana.
Pendekar Tanpa Nama memainkan pedangnya dengan cepat. Puluhan atau bahkan mungkin ratusan senjata rahasia itu berhasil ditangkis semuanya.
Setelah beberapa jurus menangkis serangan hujan senjata rahasia itu, mendadak suasana menjadi hening. Hening sekali.
Si Tubuh Pedang lenyap. Ternyata dia meledakkan dirinya dengan alat tertentu. Seluruh tubuhnya hancur. Potongan-potongan tubuh berceceran di tanah dengan darah yang masih saja terus mengucur.
Cakra Buana hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.
Dia sudah biasa melangsungkan pertarungan. Dirinya juga biasa menyaksikan lawannya bunuh diri.
Hanya saja, baru kali ini dia melihat ada orang yang benar-benar nekad meledakkan tubuhnya sendiri.
Pemuda itu melangkah perlahan. Dia menghampiri jasad si Walet Putih. Tubuhnya segera di bopong lalu melangkah pergi dari sana.
Cakra Buana berniat untuk menguburkan lebih dahulu jasad rekannya. Setelah menemukan tempat yang cocok, pemuda itu segera menggali tanah lalu memasukan tubuh sahabatnya yang mulai kaku tersebut.
Angin malam berhembus membawa serta kesedihan. Pendekar Tanpa Nama memandangi gundukkan tanah yang baru tersebut.
__ADS_1
"Beristirahatlah dengan tenang. Aku berjanji, nama si Tuan tanah tidak akan terdengar lagi di muka bumi ini. Tubuhmu boleh mati, tapi semangatmu tidak akan pernah mati. Sekarang juga aku akan pergi mencari orang itu. Aku akan bertarung menghabisi semua orang yang ada di sana. Aku bertarung dengan tubuhku, dengan pedangku, dan dengan semangatmu," gumam Cakra Buana.
Suaranya serak parau. Kemarahan masih tergambar jelas dalam suara itu.
Dia benar-benar pergi kembali. Hanya beberapa saat, tubuhnya sudah menghilang dari sana.
Pemuda itu telah tiba di tempat pertarungan sebelumnya. Namun yang dia lihat saat ini benar-benar jauh berbeda dari pada tadi. Belasan mayat sudah lenyap. Puluhan jasad lainnya menghilang.
Halaman itu telah bersih. Tanpa ada noda darah, tanpa ada potongan tubuh yang bececeran.
Siapa yang menyangka bahwa dalam waktu singkat, tempat yang tadinya porak poranda, sekarang justru tampak rapi sekali. Tidak terlihat adanya bekas pertarungan. Yang terlihat justru puluhan manusia hidup bersergaam hitam.
Di tangan mereka tergenggam berbagai macam senjata. Puluhan orang sudah mengepung Pendekar Tanpa Nama.
Hatinya tergetar. Sekarang dia baru menyadari bahwa dirinya sudah jatuh dalam perangkap musuh. Tidak ada jalan keluar lagi. Jika dia tidak bertekad lalu mengeluarkan seluruh kekuatannya, maka harapan untuk membalas dendam tidak akan ada lagi. Bahkan mungkin dirinya juga tidak akan bisa hidup lebih lama.
Tanpa banyak berkata lagi, Pendekar Tanpa Nama mendadak mencabut kembali Pedang Naga dan Harimau. Dia langsung menerjang semua lawannya dengan amarah yang sudah berkobar.
Walaupun bertarung seorang diri, tapi semangat dalam dirinya tidak sendiri. Dia membawa semangat si Walet Putih. Sepak terjangnya jauh lebih hebat lagi.
Pedang pusaka yang pernah menggetarkan dunia persilatan itu bergerak secepat kilat. Menebas kepala semua lawan, mencabut nyawa mereka dengan waktu yang sangat singkat. Menebas perut, menusuk jantung, menendang kepala.
Semua gerakan tersebut dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Hanya dalam waktu sesaat saja, belasan nyawa manusia sudah melayang.
Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti. Dia terus bergerak sambil melancarkan berbagai macam serangan beruntun. Tebasan dan tusukan pedang menerjang lawan tiada henti.
Tubuhnya seperti bayangan sukma yang dapat melayang bebas tanpa kendala. Dia benar-benar seperti seekor harimau yang sangat marah.
Jika seekor harimau sedang marah besar, maka sesuatu apapun tidak akan bisa menahannya.
Lima nyawa melayang kembali. Kepala manusia menggelinding seperti roda kereta yang lepas dari engselnya.
Darah menyembur mengenai pakaian merahnya. Jeritan kematian terdengar silih berganti. Teriakan menahan rasa sakit terdengar terus menerus tanpa henti.
Sepuluh nyawa kembali melayang. Keadaan di sana jauh lebih mengerikan dari pada sebelumnya.
Selama ini, Cakra Buana menggunakan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Dia membunuh semua lawan hanya dalam dua tiga kali serangan saja.
Tubuhnya mencelat ke atas. Pedangnya masih tetap bergerak melancarkan tebasan dahsyat. Nyawa manusia melayang kembali.
__ADS_1
Pertarungannya baru berjalan sekitar lima belas menit. Tapi jumlah korban yang tewas di ujung pedangnya jauh dari perkiraan siapapun. Tak kurang dari tiga puluh nyawa melayang. Mereka tewas membawa rasa ketakutan tersendiri.