Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Desa Kebon Jati


__ADS_3

Kentongan ketiga sudah lewat beberapa saat yang lalu. Kegelapan masih menyelimuti bumi, tapi nyatanya Pendekar Tanpa Nama sudah pergi dari Istana Kerajaan.


Hal ini memang sengaja dia lakukan. Sebab untuk keluar dari sana, waktu seperti ini adalah saat-saat yang paling tepat. Di mana pada saat ini rasa kantuk pasti menyerang siapa saja.


Setiap manusia yang hidup di alam mayapada, sekuat dan sesakti apapun, kalau rasa kantuk sudah benar-benar datang, dapat dipastikan kalau orang itu tidak akan bisa melawannya.


Rasa kantuk tidak berbeda jauh dengan rasa lapar. Kedua-duanya adalah sesuatu mutlak yang sudah diberikan oleh Sang Hyang Widhi kepada setiap makhluknya.


Kalau sebuah hal sudah ditentukan langsung olehNya, memangnya ada manusia yang bisa melawan?


Pohon beringin itu sangat besar. Lebarnya mungkin seukuran dua pelukan orang dewasa. Ranting pohon amat kokoh dan banyak cabangnya. Pendekar Tanpa Nama memutuskan untuk naik ke sana sambil menunggu hari terang tanah.


Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya sudah melambung tinggi ke atas. Pemuda itu langsung hinggap di salah satu dahan pohon yang menurutnya cocok dan nyaman.


Dengan santainya Cakra Buana merebahkan diri. Di tangan kanan ada arak yang sengaja di bawa dari Istana Kerajaan. Setelah mendapatkan posisi terbaik, arak pun langsung dituangkan langsung ke mulutnya.


Meskipun seorang diri, tapi kalau arak ada di tangannya, maka dia tidak akan pernah merasa kesepian. Arak bisa jadi apa saja. Baik itu teman, musuh, atau bahkan sahabat sekalipun.


Sebelumnya, Pendekar Tanpa Nama telah melakukan perjanjian bersama rekan-rekannya, mereka akan bertemu kembali setelah tiga atau empat bulan kemudian.


Pada saat itu, semua orang yang terlibat dalam rencana besar ini diwajibkan untuk menyelesaikan tugasnya masing-masing. Baik itu tugas di dalam Istana Kerajaan, maupun dilapangan.


Tiada seorangpun yang menolak perjanjian ini. Semuanya justru langsung setuju tanpa perlu diragukan lagi.


Tiga sampai empat bulan bukanlah waktu sebentar. Selama itu, menurut mereka sudah lebih dari cukup untuk membongkar misteri yang masih tertutup oleh kabut hitam ini.


Mereka yang terlibat adalah orang-orang ahli di bidang penyelidikan. Terutama sekali Sian-li Bwee Hua dan Pendekar Tanpa Nama. Pengalamannya menyelidiki berbagai macam hal di Tionggoan telah menjadikan dirinya matang untuk menjadi seorang detektif.


Di sisi lain, mereka pun sudah membekali sesuatu. Sesuatu yang sangat penting dalam menyibak tabir ini.


Sesuatu itu bukan lain adalah keyakinan dan rasa percaya diri.


###


Fajar sudah menyingsir. Sinar keemasan muncul di ujung langit bagian timur. Suara kokok ayam jago terdengar silih berganti tanpa berhenti.

__ADS_1


Kabut yang gelap sudah lenyap. Sekarang giliran hari terang yang muncul.


Kesepian pergi entah ke mana. Keramaian segera datang kembali.


Setelah beristirahat semalaman suntuk, para warga mulai melaksanakan aktivitas mereka kembai. Petani, pedagang, tukang jual arak, pemilik kedai makan dan sebagainya memulai hari baru ini dengan penuh semangat.


Seperti juga Pendekar Tanpa Nama.


Pemuda itu diliputi oleh perasaan semangat yang berkobar. Sekarang dirinya sedang melangkah ke kedai makan untuk melakukan sarapan pagi. Langkahnya amat ringan. Wajahnya juga bersinar terang, seterang cahaya mentari di pagi ini.


Kedai itu berada di tengah kota. Cakra Buana langsung duduk lalu segera memesan menu sarapan. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, oleh sebab itulah setelah makanan datang, dirinya segera menyantapnya dengan lahap.


Hanya sekejap saja, pesanan itu sudah habis masuk ke perutnya.


Setelah membayar biaya makan, pemuda itu langsung pergi dari kedai tersebut. Tadi dia merasa sangat semangat sekali. Bahkan Pendekar Tanpa Nama sudah siap melakukan berbagai macam hal.


Tapi begitu dirinya terjun langsung ke lapangan, Cakra Buana mendadak kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya saat ini.


Dia ingin pergi. Tapi bukankah setiap kepergian itu harus mempunyai tujuan?


Pemuda itu mencoba menenangkan pikirannya kembali. Mendadak Cakra Buana ingat akan sesuatu. Rasa rindunya tiba-tiba muncul.


Apa yang sedang dia pikirkan? Siapa yang ingin ditemui olehnya?


Wushh!!!


Tiba-tiba tubuhnya melesat secepat angin. Baru sekejap saja, dia sudah tidak terlihat lagi bayangannya.


Waktu terus merayap tanpa berhenti. Pendekar Tanpa Nama sudah melakukan perjalanan selama beberapa hari lamanya. Sekarang dirinya sedang berada di Desa Kebon Jati.


Desa Kebon Jati ini merupakan sebuah desa yang lumayan besar. Masyarakat di sini hidup makmur dengan hasil tani mereka. Beberapa hektar pohon jati juga mengelilingi desa ini.


Suasana sangat sejuk. Keasrian alamnya masih terjaga.


Beberapa hari lalu, sebenarnya Pendekar Tanpa Nama ingin pergi ke lembah di mana terdapat kera dan harimau yang merupakan sahabatnya. Dia sangat rindu binatang-binatang pintar serta misterius itu.

__ADS_1


Baginya, binatangnya tersebut mempunyai peranan penting dalam hidupnya. Sebab kalau tidak ada mereka, rasanya tidak ada lagi nama Cakra Buana sekarang.


Kera dan beberapa ekor harimau itu dengan tekun dan sabar melatih serta merawat dirinya selama beberapa waktu. Apa yang mereka lakukan terhadapnya, selama hidup rasanya tidak mungkin dia dapat melakukannya.


Di sisi lain, dulu sebelum pergi, Cakra Buana juga berjanji akan berkunjung kembali ke sana setelah tugasnya rampung.


Dan sekarang tugas yang dimaksud sudah selesai, oleh karena itulah dia ingin ke sana. Tapi siapa sangka, di tengah perjalanan tadi ketika dia sedang berjalan santai, tiba-tiba ada seorang Kepala Desa yang menghampirinya dan meminta pertolongan kepadanya.


Menurut pengakuan orang tua itu, desanya sedang dilanda sebuah musibah. Musibah ganjil tapi cukup menyeramkan.


Di mana setiap malam selalu saja ada kejadian hilangnya para pemuda ataupun para gadis di desa tersebut.


Saat ini, Cakra Buana sedang berada di sebuah rumah yang bersangkutan. Si Kepala Desa juga duduk tepat di hadapannya.


"Apakah kejadian ini sudah lama Ki (Kakek)?"


"Belum lama Den, paling baru semingguan," jawab sang Kepala Desa yang biasa dipanggil Ki Marta.


"Tapi pemuda dan gadis yang hilang sudah lumayan banyak?"


"Benar, mungkin sudah ada sekitar tujuh orang. Setiap malam, satu orang pemuda ataupun kemudi pasti akan hilang tanpa sebab,"


Pendekar Tanpa Nama manggut-manggut, menurutnya masalah ini cukup menarik.


"Sebelum terjadi peristiwa ini, apakah ada sesuatu lain yang terjadi?"


"Tidak ada, Den. Hanya saja, dua hari sebelumnya ada tiga orang asing yang datang ke Desa kami ini,"


"Siapa mereka?" tanya Pendekar Tanpa Nama lebih lanjut.


"Tiada yang tahu. Sebab orang-orang itu tidak mau menyebutkan nama. Mereka juga tidak melakukan apapun, hanya saja setelah kedatangan tiga orang itu di siang hari, malam harinya mulai terjadi peristiwa ganjil ini,"


"Hemm, menarik. Bagaimana penampilan mereka?"


"Ketiganya berpenampilan seperti orang-orang dunia persilatan. Semuanya merupakan pria yang sudah cukup tua. Pakaiannya berbeda-beda, yang satu kuning, satu hitam, satu lagi warna bungur (ungu),"

__ADS_1


__ADS_2