Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Partai Pengemis Hitam


__ADS_3

Cakra Buana lantas memberikan sumbangan kepada pengemis muda tersebut. Tetapi karena dia merasa suka melihat pengemis muda itu, akhirnya Cakra Buana memutuskan untuk mengajaknya makan.


"Mari saudara, kita makan bersama saja. Kebetulan sekali aku belum sarapan," kata Cakra Buana sambil memegang pundak pengemis muda itu.


"Tidak berani, tidak berani. Nanti yang ada saya malah membuat malu Tuan Muda. Terimakasih atas kebaikan Tuan Muda, tetapi aku sungguh tidak bisa menerimanya," ucap si pengemis tersebut sambil memberikan isyarat dengan tangan kanannya.


"Ayolah saudara, kau jangan sungkan seperti itu. Biarkan orang-orang mau bicara apa juga. Toh kita mau makan dan punya uang untuk membayar juga. Ayo, ikut aku. Jangan menolak lagi," ujarnya lalu sedikit memaksa si pengemis muda tersebut.


Karena terus-terusan dipaksa oleh Cakra Buana, maka akhirnya si pengemis itu mau juga. Keduanya kemudian berjalan untuk mencari restoran.


Si pengemis muda itu mengajaknya ke sebuah restoran yang berada di pojok pasar. Restoran di sana memang sederhana, namun banyak sekali pengunjungnya.


Mereka segera melangkahkan kaki untuk masuk ke sana. Dua orang pelayan wanita menyambut kedatangan Cakra Buana dan si pengemis muda.


"Selamat datang Tuan-tuan, silahkan masuk," katanya lembut tanpa menghina penampilan si pengemis.


Mereka duduk di bagian pojok depan sebelah kanan restoran. Seorang pelayan langsung menghampiri keduanya untuk menanya menu masakan. Setelah Cakra Buana memesan makanan, pelayan itu segera kembali ke belakang.


"Siapa nama saudara?" tanya Cakra Buana kepada si pengemis muda.


"Nama saya In Sin, Tuan," jawabnya malu-malu.


"In Sin, hemm, nama yang bagus dan unik," ujarnya sambil tertawa.


Dalam hatinya memang dia sering kali tertawa saat mengetahui nama-nama orang Tiongkok ini. Menurut Cakra Buana, nama mereka sungguh lucu dan unik.


"Terimakasih atas pujian Tuan Muda,"


"In Sin, apakah kau punya tempat tinggal?"


"Ada Tuan Muda, tetapi hanya sebuah gubuk bobrok saja,"


"Kau tinggal sendiri?"

__ADS_1


"Tidak, ada beberapa kawan dan kakak-kakakku yang tinggal juga di sana,"


"Apakah mereka sama sepertimu?"


"Sama, Tuan Muda,"


"Hemm, mereka ada di rumah kan sekarang? Kalau ada, aku ingin bertemu dengan mereka," ujarnya sambil menenggak arak yang sudah sejak semula tersedia di meja.


"Ada, tapi Tuan Muda … kau tidak merasa risih denganku? Soalnya keadaan yang lain bisa dibilang lebih buruk daripada keadaanku," kata In Sin dengan suara lemah.


"Aihh, risih kenapa? Kita sama-sama manusia. Kau manusia, aku juga manusia. Apanya yang berbeda? Keadaan? Setiap manusia pasti berbeda keadaannya. Aku tidak pernah memandang keadaan, aku hanya memandang hatinya saja," ujar Cakra Buana sambil tersenyum.


"Tuan Muda sungguh baik sekali. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengan Tuan Muda hari ini," katanya.


"Justru aku bukan orang baik. Panggil Cakra, aku bukan seorang pangeran yang harus kau panggil Tuan Muda," kata Cakra Buana. Tentu saja dia tidak mau mengaku siapa dirinya, apalagi di negeri orang.


"Baiklah Tuan Cakra,"


Setelah beberapa saat bercerita, pesanan pun datang. Bau harum segera menyeruak ke ruangan sekitar. Kedua orang tersebut segera menyantap makanan selagi masih hangat.


Karena sudah beberapa kali berkunjung ke restoran, akhirnya Cakra Buana mulai bisa makan pakai sumpit. Meskipun masih harus sangat pelan-pelan sekali.


Ya … setidaknya sekarang dia tidak akan menjadi bahan tertawaan lagi seperti sebelumnya.


Setelah keduanya selesai menyantap makanan, Cakra Buana berjalan ke kasir untuk membayar biaya makan sekaligus memesan lagi beberapa bungkus nasi untuk rekan-rekan In Sin.


Biaya makan sudah dibayar. Kedua orang itu segera keluar dari restoran sambil menjinjing makanan di kedua tangannya masing-masing. Cakra Buana sengaja membeli agak banyak makanan.


Karena menurut pepatah, lebih baik lebih daripada kurang.


In Sin berjalan lebih dahulu. Keduanya berjalan menyusuri pelosok kota. Setelah beberapa kali melewati jalan dan gang yang berkelok-kelok, akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuannya.


Di depan sana ada hutan yang lumayan luas. Di dekat hutan ada sebuah bandungan tua yang sudah hampir bobrok.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju ke sana. Cakra Buana mulai merasa heran, kata In Sin banyak rekan-rekan dan saudaranya, tetapi setelah sampai di sana, dia tidak melihat siapapun.


Namun dia diam saja. In Sin masuk ke dalam lebih dulu lalu terdengar seperti memanggil. Memang setalah itu ada beberapa orang keluar dari dalam.


"Mari masuk Tuan Cakra," kata In Sin memanggil Cakra Buana.


Tanpa banyak berkata lagi, dia segera masuk ke dalam bangunan bobrok tersebut.


Baru saja kakinya menginjak ke pintu, tiba-tiba dari belakang ada orang yang mendorong tubuh Cakra Buana sehingga hampir tersungkur. Mendadak ruangan tersebut dipenuhi oleh banyak orang berpakaian serba hitam.


Semuanya memakai pakaian yang lusuh. Penampilannya tidak berbeda dengan seorang pengemis. Dan memang mereka adalah anggota dari sebuah partai.


Partai Pengemis Hitam. (Nanti di depan bakal di ceritakan).


Tak kurang dari dua puluh orang hadir di sana dan mengelilingi Cakra Buana. Semua orang tersebut memegang senjata. Ada yang memegang tongkat kayu, tongkat bambu, cangkul, bahkan golok.


Gelak tawa seketika menggema di bangunan bobrok tersebut. Cakra Buana sudah bangkit berdiri. Dia tidak panik, tidak takut. Bahkan terlihat tidak terkejut juga.


"Sebelum kalian bertindak, ada baiknya simpan dulu makanan yang sudah aku bawa ini. Sayang, kalau sampai terbuang percuma. Di luar sana masih banyak orang yang membutuhkannya," kata Cakra Buana sambil tersenyum. Kedua tangannya kemudian menyerahkan makanan tersebut kepada seorang pengemis.


Mereka saling pandang terlebih dahulu. Akhirnya orang yang diduga memimpin memberikan anggukan, satu orang menerima makanan itu lalu kembali ke barisan untuk mengepung Pendekar Tanpa Nama.


"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Cakra Buana sambil tersenyum dan tampak santai.


"Aku hanya ingin kepingan emas yang berada di dalam kantong emas itu," kata seorang pengemis sambil menunjuk ke kantong hitam dekat buntalan pakaian yang dia gembolkan di pundak sebelah kiri.


"Kalau hanya beberapa bagian, aku akan memberikannya dengan senang hati. Tetapi kalau semua, aku tentu tidak akan memberikannya kepada kalian. Sebab masih banyak orang-orang yang membutuhkan kepingan emas ini,"


"Kalau kau tidak mau menyerahkan semuanya, maka terpaksa kami akan memakai cara kasar,"


Cakra Buana hanya tersenyum simpul. Dia memandangi In Sin yang tidak bicara sepatah kata pun.


"In Sin, inikah yang kau maksudkan rekan-rekanmu tadi?" tanya Cakra Buana.

__ADS_1


"Benar, kau tidak terkejut?"


"Untuk apa terkejut? Aku memang sudah menduganya dari awal," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum.


__ADS_2