
Melihat kejadian mengerikan tersebut, beberapa orang yang masih ada di dalam langsung keluar juga. Bahkan ada yang sampai lari terbirit-birit.
Suasana di dalam kedai makan menjadi sepi. Tidak ada lagi para pengunjung kecuali hanya satu orang saja.
Seorang pemuda berpakaian merah. Rambutnya lurus sebahu dibiarkan merumbai. Di punggungnya terdapat sesuatu yang dibungkus dengan kain putih.
Pendekar Tanpa Nama.
Dia masih tetap menikmati seguci arak yang harum dan wangi tanpa merasa terganggu sedikitpun. Dia tetap tenang. Tetap masa bodoh atas apa yang terjadi di sekitarnya.
Sehingga pada akhirnya si orang tua kurus kering menegur Pendekar Tanpa Nama.
"Anak muda, kenapa kau masih tidak keluar juga? Apakah kau mencari mampus" tanyanya sambil membentak keras.
Cakra Buana masih diam. Dia tidak menjawab pertanyaan si orang tua kurus kering. Pemuda itu masih tetap mimun menikmati agaknya.
"Bangsat, apakah kau tuli?" dia bersuara kembali. Tetapi suaranya jauh lebih keras dan menakutkan. Bahkan meja di dekatnya sedikit bergetar karena orang tua tersebut berkata sambil menyerahkan tenaga dalamnya.
"Ah, maaf. Apakah kau sedang bicara denganku?" tanya Cakra Buana pura-pura bodoh.
"Keparat, memangnya selain dirimu, ada orang lain di dalam sini?"
"Tidak ada,"
"Kalau sudah tahu, untuk apa kau bertanya lagi?"
"Mulutku terserahku,"
"Berani sekali kau berkata demikian. Kau pikir kami takut?"
"Dan apakah kalian juga berpikir bahwa aku tidak berani?"
"Bagus. Kau telah membuatku marah, itu artinya kau harus bertanggungjawab,"
"Kalau kalian datang hanya ingin merusak suasana, lebih baik segera angkat kaki sekarang juga. Aku sedang tidak ada selera untuk membunuh orang. Untuk saat ini, biarkan aku sendiri di dalam kedai. Terkait kalian mau melakukan apapun, aku tidak akan ikut campur," kata Cakra Buana dengan nada dingin.
__ADS_1
Niatnya memang baik, yaitu supaya nyawa kedua orang tua tersebut selamat dari kematian. Pendekar Tanpa Nama berani berkata sedemikian tinggi karena dia sudah dapat menakar sampai di mana kemampuan lawan. Menurutnya, walaupun kedua orang itu maju secara serentak, dia yakin masih mampu untuk menghadapinya.
Tapi sayangnya mereka malah menanggapi maksud baik itu sebagai maksud buruk. Bagi dua orang tua tersebut, pemuda itu telah melakukan penghinaan kepadanya.
Amarah mereka segera naik ke permukaan. Suhu tubuhnya mendadak panas karena menahan amarah.
"Semakin lama dibiarkan, semakin tajam juga mulutmu. Sepertinya kau harus kami ajari bagaimana caranya hormat di hadapan kami,"
Si orang tua bertubuh gendut menyerang pertama. Dia menggunakan senjata berupa golok besar, golok itu sangat tajam. Terlihat sinar putih mengkilap saat dia mengayunkan goloknya ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Sambaran angin terasa tajam. Serangannya sangat cepat sekali sehingga hanya dalam sekejap mata, golok itu telah tiba di hadapan sasarannya.
Sayangnya pemuda itu bukanlah pendekar sembarangan. Saat golok hampir tiba, tubuhnya segera melesat keluar lalu berdiri tepat di tengah halaman kedai yang kini sedang banyak orang.
Si orang tua itu merasa terkejut. Dia ingin menarik serangan, tetapi terlambat. Akibatnya golok itu terus meluncur hingga menyambar dan membelah meja menjadi dua bagian.
Dua sisi terbelah tampak sangat rata. Dari sini saja bisa diduga bahwa dia memang mempunyai kekuatan yang sudah terbilang tinggi.
Sebisa mungkin keduanya langsung menuju ke halaman kedai makan.
Kini Pendekar Tanpa Nama telah berhadapan dengan dua orang tua yang sudah berani merusak suasana hatinya. Dia sangat marah. Terlihat dari sorot matanya yang mampu menembus jantung lawan.
"Kau hanya besar mulut saja. Kalau memang bisa, lakukan dengan segera," tantang si orang tua kurus kering.
Suasnaa menjadi lebih tegang. Orang-orang yang menyaksikan kejadian ini melihat dengan perasaan berdebar kencang.
Mereka belum mengetahui siapa pemuda itu sebenarnya. Sebab bagi orang-orang tersebut, pemuda itu terasa sangat asing. Sebelumnya mereka belum pernah melihat si pemuda di daerah sekitar.
Tetapi bagi dua orang tua itu, jelas para warga sudah tahu siapa mereka sebenarnya. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka menghormati dan tunduk kepada setiap perintahnya.
Di daerah Pelabuhan Lemah Jawi ini, dua orang tua tersebut memang sudah mempunyai nama. Mereka sering disebut dengan julukan Dua Setan Pelabuhan Lemah Jawi.
Si kurus kering mendapat julukan Pedang Ombak Mengamuk, sedangkan si gemuk dikenal dengan julukan Golok Penggetar Sukma.
Keduanya merupakan tokoh ternama. Di daerah Pelabuhan Lemah Jawi khususnya, rasanya tidak ada yang berani kepada dua sejoli tersebut.
__ADS_1
"Kau yang meminta aku melakukannya. Sekarang juga, akan aku buktikan bahwa ucapanku bukan cuma omongan," tegas Cakra Buana.
Tubuhnya menjejak tanah lalu kemudian melesat ke arah dua orang tua itu. Dua gulung angin dahsyat keluar dari telapak tangannya menyambar lawan.
Lajunya sangat cepat. Dua sejoli dibuat terkejut untuk sesaat.
"Blarr …"
Dua gulung kekuatan dahsyat yang dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Nama, dibenturkan dengan jurus masing-masing lawannya.
Ketiga pendekar itu terdorong beberapa langkah. Dua orang tua hampir jatuh karena tidak bisa menahan sepenuhnya gelombang kejut akibat benturan barusan. Sedangkan Pendekar Tanpa Nama masih tampak tenang.
'Bocah ini sudah pasti bukan bocah sembarangan. Hemm, kalau tidak aku bereskan sekarang, suatu saat nanti mungkin dia akan mendatangkan bencana,' batin si orang tua kurus atau si Pedang Ombak Mengamuk.
Setelah batinnya berkata demikian, dia segera mencabut pedang yang tersimpan di punggung. Tubuhnya langsung melesat cepat ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Sinar putih berkilat ditempa sinar matahari. Deru angin tajam terasa menyambar serta merobek kulit. Orang-orang yang melihat pertarungan ini menahan nafasnya.
Mereka merasa kasihan kepada si pemuda karena telah berani mencari masalah dengan penguasa di Pelabuhan Lemah Jawi.
Tetapi rasa kasihan itu segera digantikan dengan rasa keterkejutan dari setiap orang. Diluar dugaan mereka, ternyata si pemuda mampu menghindari sabetan pedang hanya dengan gerakan sederhana namun aneh.
Terpaksa Pedang Ombak Mengamuk hanya mengenai tempat kosong saja. Tetapi dia tidak berhenti sampai disitu saja, tebasan pedang lainnya segera dia gelar demi niatan ingin melumpuhkan pemuda itu secepat mungkin.
Di saat gempuran terjadi, mendadak sambaran angin terasa kembali. Kali ini asalnya dari atas kepala.
Begitu Cakra Buana menengok ke atas, terlihat sebatang golok besar sedang di ayunkan dengan kekuatan tinggi mengarah ke batok kepalanya.
"Trangg …"
"Trangg …"
Dua kali benturan nyaring terdengar membuat mendengung telinga. Sebatang senjata lain yang bersinar jauh lebih terang dan mengandung kekuatan lebih tinggi, terlihat sudah digenggam oleh si pemuda.
Gesekan antar senjata pusaka terjadi untuk beberapa saat. Percikan api sesekali terlihat lalu lenyap tertiup angin.
__ADS_1
"Haaa …"
Pendekar Tanpa Nama mementalkan dua lawannya dengan bantuan tenaga dorongan dari pedang. Setelah itu, secara cepat dia melancarkan tendangan beruntun kepada dua lawan sehingga mereka terjungkal beberapa langkah ke belakang.