
Cakra Buana tertegun dengan jawaban tersebut. Tapi mau tidak mau dia harus mengakuinya.
"Walaupun aku buta, tetapi aku bisa melihat segala di sekelilingku dengan caraku sendiri. Dalam hal apapun, setiap orang punya caranya masing-masing,"
"Sekarang aku mengerti,"
Li Guan atau si Buta Yang Tahu Segalanya kembali melanjutkan, "Aku tidak menyayangkan meskipun kedua mataku buta. Aku juga tidak bersedih, apalagi menyesal. Justru sebaliknya, aku bersedih kepada mereka yang kedua matanya normal tetapi tidak melihat segala keadaan di sekitarnya,"
"Maksudmu?" tanya Cakra Buana mulai keheranan.
"Yah, aku bersedih dan menyayangkan jika ada seseorang yang kedua matanya normal, tetapi dia buta. Dia tidak melihat keadaan di sekitarnya, dia tidak memperhatikan di sekelilingnya. Mungkin di sekitar mereka banyak orang yang membutuhkan bantuannya. Mengharapkan uluran tangannya. Tetapi mereka tidak memperdulikan hal itu. Bukankah ini sama saja seperti orang buta?"
Cakra Buana dibuat terkejut kembali. Dia semakin menyukai Li Guan ini, setiap ucapannya begitu mendalam.
"Benar, sekarang aku menyadari. Buta mata luar masih bisa di ampuni, tapi buta mata hati sudah tidak pantas untuk di ampuni,"
"Benar. Karena itulah aku tidak pernah bersedih ataupun murung. Justru dengan kebutaanku ini, aku bersyukur kepada thian (langit), karena kebutaan ini aku jadi lebih menyadari banyak hal,"
"Kau benar lagi," jawab Cakra Buana tidak bisa berkata apa-apa.
Memangnya apa yang harus dia katakan lagi? Justru pemuda itu merasa malu. Diam-diam dia bertanya kepada hatinya sendiri, apakah selama ini dia juga buta seperti apa yang disebutkan oleh Li Guan?
Dia tidak bisa menjawabnya. Karena pertanyaan itu pada dasarnya tidak butuh jawaban. Hanya butuh kesadaran.
Cakra Buana sebenarnya ingin bertanya apakah dia berasal dari keluarga ternama atau keluarga pendekar? Tapi perkataan tersebut tidak dia utarakan. Apalagi baru kenal sekarang. Hal tersebut jelas menandakan bahwa dia sangat tidak sopan.
"Sebenarnya berapa usiamu?" tanya pemuda Tanah Pasundan itu.
"Bulan lalu, aku genap dua puluh lima tahun," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.
Cakra Buana terkejut. Dia sangat-sangat terkejut. Hampir saja cawan arak di tangannya terjatuh saking kelewat terkejutnya.
"Apakah kau sungguh-sungguh?"
"Untuk apa aku berbohong kepadamu? Toh tidak mendatangkan keuntungan sedikitpun. Lagi pula, aku bukan tipe seorang pembohong. Jika bukan karena suatu keadaan, aku tidak mau untuk berbohong,"
"Kalau begitu, kau hanya selisih sedikit denganku," katanya sambil berseru.
"Aku tahu,"
"Bagaimana kau tahu?"
"Terlihat dari ucapanmu yang terkadang berapi-api. Biasanya, seorang yang usianya sepantaran dirimu, dia akan sangat berapi-api jika bicara,"
__ADS_1
Kembali pemuda itu tertegun. Sejauh ini, entah sudah berapa lama dia mengalami hal yang sama karena Li Guan.
"Kalau usiamu seilisih sedikit denganku, kenapa kau bisa sedewasa ini? Bahkan kau terlihat seperti seorang yang sudah tua, apakah kau kembali ke usia muda?" tanyanya sambil tertawa.
Keduanya kembali meneguk cawan arak sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
"Karena aku sudah mengalami berbagai macam penderitaan dalam hidup. Aku mengalami kesulitan yang orang normal tidak akan pernah merasakannya. Biasanya, semakin seseorang sering mengalami kesulitan dalam hidup, semakin pula dia cepat dewasa. Lebih cepat daripada orang-orang seusianya. Begitu juga denganku. Dengan kebutaanku, aku bisa mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup,"
"Apa yang belum kau alami, aku sudah mengalami. Walaupun usia manusia ada yang sama, tapi jalan kehidupannya selalu berbeda," kata Li Guan melanjutkan.
"Lagi-lagi kau benar. Aku tidak pernah menyangka bahwa ada orang buta seperti dirimu,"
"Karena kebutaanku tidak seperti kebutaan orang yang normal. Aku dan mereka sangat berbeda,"
"Jelas berbeda. Kau bukan mereka, mereka bukan kau. Kau adalah Li Guan. Si Buta Yang Tahu Segalanya," ucap Cakra Buana mantap.
Dia benar-benar menaruh hormat kepada Li Guan ini. Baginya, dia benar-benar orang yang luar biasa. Tidak banyak orang asing yang langsung mau memberikan pelajaran hidup kepadanya saat baru pertama kali bertemu.
"Terimakasih. Apakah kau mau bersahabat denganku?" tanya Li Guan secara tiba-tiba.
Bersahabat? Siapa yang tidak mau bersahabat dengan orang sepertinya? Siapapun pasti mau. Hanya orang bodoh yang menolaknya. Seharusnya yang mengatakan seperti itu adalah dirinya, bukan Li Guan.
"Sangat mau. Bersahabat dengan orang sepertimu, adalah sesuatu yang sangat beruntung,"
"Tapi aku buta,"
"Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama, kau memang pantas menyandang gelar itu. Tindak-tandukmu benar-benar mirip pemilik asli gelarnya," kata Li Guan lalu meneguk cawan arak.
Cakra Buana terheran untuk yang kesekian kalinya. Seingat dirinya, dia belum memperkenalkan diri. Bahkan tidak pernah memberitahunya, baik itu nama, gelar, ataupun siapa pemilik gelar tersebut sebenarnya.
"Bagaimana kau bisa tahu tentangku?"
"Karena aku si Buta Yang Tahu Segalanya," jawabnya sambil tersenyum bangga.
"Kau benar. Sepertinya aku harus menghormati dengan lima cawan arak,"
Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Tanpa Nama itu segera meminum lima cawan arak. Kemudian memakan dua potong daging yang ada di sana.
"Kau bisa bersilat?"
"Tidak, tapi aku bisa ilmu meringankan tubuh. Walaupun tidak terhitung sempurna, tapi mungkin tidak kalah darimu juga,"
"Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa ilmu meringankan tubuh tetapi tidak bisa ilmu sinar?"
__ADS_1
"Tentu saja mungkin. Sangat mungkin malah. Dan aku adalah salah satu contohnya,"
Cakra Buana semakin bingung. Berdebat dengannya tentu tidak akan pernah bisa menang. Jangankan dia yang merupakan pria, sekalipun itu wanita, mereka juga jangan pernah berharap bisa menang berdebat dari Li Guan.
"Apakah kau benar si Buta Yang Tahu Segalanya?"
"Benar,"
"Berarti pengetahuanmu sangat luas?"
"Mungkin iya, mungkin tidak. Yang menilai orang lain,"
"Emmm, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
"Sangat boleh,"
"Apakah kau tahu siapa pemilik benda ini?" tanya Cakra Buana sambil memperlihatkan tiga pisau terbang yang tadi sempat dia bawa dari Eng Kiau, si pelayan yang telah meracuninya.
"Itu adalah senjata milik Pendekar Pisau Terbang. Dia selalu membawa puluhan atau bahkan ratusan pisau serupa dalam dirinya. Setiap tubuhnya menyimpan benda tersebut,"
"Apakah dia pendekar hebat?"
"Lebih hebat dari apa yang kau bayangkan. Selama dia mengembara dalam dunia persilatan, belum pernah lemparan pisaunya meleset sedikitpun. Walaupun dia melemparkan pisau sambil memejamkan mata, dia tetap tidak akan salah sasaran,"
"Benar-benar luar biasa,"
"Dia memang luar biasa,"
"Siapa namanya?"
"Sun Poan si Pendekar Pisau Terbang,"
"Apakah dia golongan tengah?"
"Benar. Dia pendekar golongan tengah, kenapa?"
"Dia telah membunuh seorang wanita yang sedang aku interogasi. Dia melemparkan tiga pisau ini tepat mengenai punggungnya hingga mengenai jantung,"
"Tidak mungkin, dia tidak pernah membunuh tanpa alasan,"
"Tapi aku melihatnya sendiri. Dan kau juga bilang sendiri bahwa ini adalah senjata miliknya,"
"Memang benar. Tapi aku tidak percaya jika dia melakukannya tanpa sebuah alasan cukup. Setiap dia membunuh, pasti ada alasan kuat,"
__ADS_1
"Aihh, sepertinya masalah yang menimpaku kali ini sangat penuh misteri dan sulit dipecahkan,"
"Tepat. Memang begitu, tapi kau jangan khawatir. Aku akan membantumu, karena aku sahabatmu," katanya sambil tersenyum lembut.