Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sepuluh Setan


__ADS_3

Namun ternyata darah itu bukan darah Pendekar Tanpa Nama. Melainkan darah si Alis Golok Mata Rajawali itu sendiri.


Mimpi pun dia tidak pernah menyangka bahwa jurus yang selalu dapat dia andalkan selama ini ternyata mengalami kegagalan. Padahal selama ini dia selalu yakin bahwa jurusnya tersebut pasti akan berhasil dalam hal membunuh musuhnya.


Tak disangka, ternyata malam ini dia menemui kegagalan. Kegagalan kecil yang berakhir fatal.


Si Alis Golok Mata Rajawali sebenarnya sudah melupakan satu hal. Di dunia ini, apapun itu, pasti tidak akan selamanya berhasil. Dari sekian banyak keberhasilan, suatu saat nanti pasti akan menemui kegagalan.


Siapapun orangnya, di muka bumi ini, pasti pernah mengalami hal tersebut. Tidak perduli dia siapa, tidak perduli sehebat apa, dia pasti mengalami kegagalan meskipun hanya satu kali.


Hanya satu kali, tapi yang satu kali itu justru amat menentukan. Meskipun sedikit, justru yang sedikit itu bisa berubah menjadi banyak.


Seperti yang dialami oleh tokoh di Perkampungan Raja Harimau itu. Kesalahannya hanya sedikit, tapi akhirnya malah menjadi besar.


Dia terlalu yakin, terlalu percaya bahwa jurusnya pasti selalu berhasil. Dia sangat percaya bahwa jurusnya tidak akan membuat kecewa. Siapa tahu, ternyata sekarang jurus tersebut malah membuatnya kecewa.


Kecewa untuk selamanya.


Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama berhasil menggores dada orang tua itu. Luka yang dihasilkan pun terbilang lebar dan cukup dalam.


Darah menyembur semakin deras. Bau amis darah semakin jelas tercium oleh hidung.


Orang tua itu seperti ingin bicara sesuatu untuk yang terakhir kalinya, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut tersebut. Hanya tampak mulut itu naik turun.


Pendekar Tanpa Nama memperhatikan gerakan mulut tua tersebut agar dapat memahami maksudnya.


Dia hanya menemukan kata "hati-hati" saja dari mulut si Alis Golok Mata Rajawali.


Setelah demikian, orang tua tersebut langsung ambruk ke tanah. Pedangnya jatuh berdentang, tubuhnya ambruk bergedebuk.


Pendekar Tanpa Nama berdiri mematung. Darah si Alis Golok Mata Rajawali masih menetes di ujung Pedang Naga dan Harimau.


Pemuda itu menghela nafas dalam-dalam. Baru sesaat memasuki Perkampungan Raja Harimau saja, dirinya sudah hampir mati beberapa kali. Cakra Buana tidak dapat membayangkan bagaimana jika dirinya sudah lama di tempat sarang naga tersebut.


Sekarang mungkin dia belum terluka. Saat ini mungkin dirinya masih selamat. Masih beruntung.


Tapi apakah nanti dia akan tetap demikian? Jika tidak selamanya akan berhasil, bukankah itu artinya tidak selamanya juga akan bernasib baik?

__ADS_1


Cakra Buana segera pergi dari sana. Dia sengaja tidak membereskan mayat-mayat tersebut, waktunya amat sangat sedikit sehingga dia tidak mau membuang sia-sia waktu tersebut.


Tubuhnya berkelebat seperti sukma di tengah malam. Hanya sekejap mata, pemuda itu telah menghilang ditelan gelapnya malam.


Lima puluhan tombak di depan sana adalah tempat yang dia cari. Tempat tersebut adalah tujuan utamanya. Pemuda itu kemudian mempercepat ilmu meringankan tubuhnya.


Bayangan merah berkelebat semakin cepat. Desiran angin yang ditimbulkan juga semakin kencang. Sesaat kemudian, jarak lima puluhan tombak itu hanya tinggal lima belas tombak lagi.


Tinggal beberapa kali lompatan lagi, Pendekar Tanpa Nama pasti akan tiba di depan tempat tersebut. Bahkan dari jarak sekarang saja, puluhan batu nisan sudah terpampang jelas di depan matanya.


Mendadak suasana berubah jadi sunyi. Hawa dingin amat menusuk tulang. Bulu kuduk Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba berdiri sendiri.


Wushh!!! Wushh!!!


Sepuluh bayangan hitam melesat dengan cepat dari kegelapan malam. Mereka langsung mengurung Cakra Buana. Gerakan mereka sangat lincah. Sangat cekatan, juga sangat terlatih.


Dari pertama melihat gerakannya saja, Pendekar Tanpa Nama sudah dapat menebak bahwa sepuluh orang tersebut pastinya mampu berkerja sama dengan baik sekali.


Terpaksa pemuda itu membatalkan niatnya. Dia langsung berdiri mematung sambil memandang sengit kepada sepuluh sosok tersebut.


Mereka menatap penuh amarah kepada pemuda Tanah Pasundan itu. Tatapan mata mereka sangat tajam. Bahkan terasa lebih tajam dari pisau sekalipun.


Sudah beberapa saat kedua belah pihak berhadapan, tapi belum ada yang bicara di antara mereka.


"Mau ke mana kau?" tanya seorang di antara mereka.


Suaranya angker. Seangker wajahnya saat ini. Suara itu juga mengandung nafsu membunuh yang amat kental. Dengan pakaian hitam pekat dan wajah kelam, sepuluh sosok tersebut tampak seperti iblis yang sedang marah.


"Ke manapun aku pergi, hal itu bukan urusan kalian," jawab Pendekar Tanpa Nama tidak kalah sengit.


"Kau mungkin bisa melewati orang-orang tadi, tapi jangan harap kau bisa melewati kami," ujarnya dengan nada yang sangat sombong.


"Kalau belum dibuktikan, bagaimana mungkin kau bisa begitu percaya?"


"Karena aku sudah dapat mengukur kemampuanmu," kata rekan orang tadi. Wajahnya tidak kalah seram, bahkan orang yang bicara sekarang lebih seram lagi, sebab postur tubuhnya berbeda dengan yang lain.


"Apa yang terlihat, belum tentu itu yang terlihat,"

__ADS_1


Cakra Buana mengatakan sesuatu yang sebenarnya. Terkadang apa yang kita lihat bukanlah apa yang terlihat sebenarnya. Ada kalanya penampilan luar berbeda dengan penampilan dalam.


"Baik, akan aku buktikan sekarang. Kita Iihat, apakah kau bisa bertahan dari Sepuluh Setan atau tidak," katanya setengah berteriak.


Sepuluh bayangan hitam itu segera mengambil posisinya masing-masing.


Nama Sepuluh Setan sudah tidak asing lagi. Setiap orang yang sudah lama berkelana di dunia persilatan, orang itu pasti pernah mendengar bagaimana sepak terjang julukan menyeramkan tersebut.


Nama Sepuluh Setan terkenal dengan kekejamannya yang tiada banding. Mereka juga terkenal karena semua anggotanya merupakan tokoh kelas satu.


Selamanya mereka tidak mau tunduk kepada seseorang. Tak disangka, sekarang mereka malah tunduk kepada Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding.


Dari sini saja bisa dinilai seberapa kuat dan hebatnya kekuasaan datuk dari Utara itu.


Ternyata setelah sekian lama tidak memunculkan diri, Sepuluh Setan malah berada di bawah kendali si Harimau Sakti Tiada Tanding.


Kalau tidak bertemu langsung, siapa yang akan percaya akan hal ini?


Sepuluh senjata tajam telah meluncur deras ke arah Pendekar Tanpa Nama. Semua serangan datang seperti rintik air hujan yang jatuh ke bumi.


Semuanya serangan mematikan. Setiap serangan membawa maut.


Sepuluh batang senjata mengincar semua titik penting di tubuh Cakra Buana.


Pemuda itu sudah siap sepenuhnya. Dia telah menyiapkan diri untuk menghadapi segala macam kemungkinan. Sekarang saatnya untuk beraksi kembali, dia langsung mencabut Pedang Naga dan Harimau.


Tubuhnya melejit ke atas lalu menukik ke bawah seperti seekor burung elang. Gerakannya amat cepat dan lincah.


Trangg!!! Trangg!!!


Dentingan nyaring sudah terdengar. Itu artinya pertarungan dahsyat telah dimulai kembali.


Meskipun tubuhnya sudah cukup lelah, walaupun tenaga dalamnya sudah lumayan terkuras, tapi Pendekar Tanpa Nama tetap semangat.


Dia tahu, semakin besar keinginan, maka semakin besar juga halang rintangan yang akan dihadapi.


Oleh sebab itulah, sedikitpun Cakra Buana tidak merasa gentar.

__ADS_1


__ADS_2