Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sembilan Iblis Berbaju Biru


__ADS_3

Orang yang dipanggil si Walet Putih tidak menjawab. Dia hanya menggertak gigi semakin kencang menahan rasa sakit yang menggerogotinya.


Wajahnya bertambah pucat. Persis seperti mayat.


Cakra Buana tentu tidak tega melihatnya. Dia memberikan serbuk kepada Walet Putih.


"Minum serbuk ini. Setelah itu kau harus menyalurkan hawa murni. Masalah orang-orang ini, serahkan saja kepadaku," kata Cakra Buana.


"Tapi …"


"Tidak ada tapi-tapian. Turuti ucapanku jika memang kau masih ingin hidup,"


Si Walet Putih langsung membungkam mulutnya. Dia tahu bahwa pemuda yang ada di hadapannya barusan berbicara serius. Karena itulah, tanpa banyak bertanya lagi, si Walet Putih langsung menelan serbuk pemberian Cakra Buana dengan sedikit dorongan air putih.


Setelah itu, dirinya langsung duduk dan mulai mengatur nafas serta menyalurkan hawa murni.


Sembilan orang tersebut langsung naik pitam. Mereka tidak menyangka bahwa seorang pemuda tak dikenal berani mencampuri urusannya.


"Apa maksudmu memberikan obat penawar kepada orang itu?"


"Aku hanya ingin menolongnya," jawab Cakra Buana.


"Tapi kau tidak tahu masalah apa-apa,"


"Memang tidak. Tapi aku sudah bisa menebak bahwa dia orang yang sealiran denganku. Apapun yang terjadi, setidaknya aku harus menolong lebih dulu,"


"Ternyata masih ada orang yang berani ikut campur masalahku,"


"Penyakitku memang suka ikut campur urusan orang lain,"


"Kau yakin ingin ikut campur?"


"Aku sangat yakin terhadap apa yang akan aku lakukan,"


Orang yang memakai ikat sutera berwarna biru itu mendengus dingin.


"Kau tahu siapa kami?"


"Tidak tahu. Mungkin nama kalian tidak terkenal," kata Cakra Buana sengaja memancing emosi lawannya.


"Hemm, pemuda yang sombong. Kami biasa disebut Sembilan Iblis Berbaju Biru,"


"Oh," jawab Cakra Buana singkat.


Tidak ada perubahan dalam dirinya. Wajahnya masih biasa saja. Bicaranya masih datar. Bahkan sekarang malah berdiri dengan santai. Kedua tangannya digendong di belakang.


"Sekarang kau tahu bukan siapa kami?" bentaknya.


"Tahu,"


"Bagus. Apakah kau masih mau ikut campur?"

__ADS_1


"Tentu saja. Memangnya kenapa? Toh aku tidak tahu apa kebisaan kalian. Siapa tahu kalian justru tidak bisa apa-apa," tukas Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum.


Orang yang tadi bicara biasa disebut Iblis Biru Pertama. Dia merasakan amarahnya sudah naik hingga ke ubun-ubun. Seumur hidupnya, belum pernah dia berhadapan dengan manusia sombong. Apalagi manusia itu merupakan seorang pemuda.


Mengingat nama besarnya, dia tentu sangat marah. Siapa yang tidak mengenal julukan Sembilan Iblis Berbaju Biru?


Rasanya, siapapun pasti akan mengenalnya. Mereka sangat terkenal sebagai pembunuh bayaran kelas atas. Jaringannya luas. Kemampuannya juga sudah tidak diragukan lagi.


Setiap tugas yang mereka jalankan, belum pernah satu kali pun mengalami kegagalan. Semua tugas mereka berhasil dijalankan dengan sangat-sangat baik.


Tokoh kelas satu pun akan takut jika berhadapan dengan mereka.


Tapi sekarang, di hadapan seorang pemuda asing yang tak bernama, harga diri Sembilan Iblis Berbaju Biru seakan tiada artinya sama sekali.


"Bangsat. Mulutmu ternyata sangat tajam. Bair aku buktikan apa yang aku bisa,"


Wushh!!!


Selesai berkata demikian, Iblis Biru Pertama langsung melesat turun dari kudanya. Sebuah pukulan dilayangkan dengan kecepatan tinggi.


Datangnya seperti sambaran kilat.


Plakk!!!


Dengan santainya, Pendekar Tanpa Nama menahan pukulan tersebut. Tangan kanannya diangkat. Pukulan yang dilayangkan dengan tiga bagian tenaga dalam tersebut, dapat ditahan dengan mudah.


Iblis Biru Pertama merasa geram. Dia menyerang kembali. Kali ini sembilan tenaga dalam dia keluarkan. Jika sudah begini, maka hampir segenap kemampuannya telah dihimpun.


Cakra Buana tidak bisa tinggal diam lagi. Dia menggeser kaki kananya lalu melancarkan berbagai macam serangan balasan. Kedua tangannya bergerak seperti dua ekor ular yang mengincar buruan.


Pukulan dan serangan tapak segera keluar. Enam bagian tenaga dalam dilayangkan.


Plakk!!!


Iblis Biru Pertama terpental empat langkah ke belakang. Dia merasakan tangan kanannya ngilu.


Melihat ini, delapan iblis lainnya merasa sangat geram. Secara bersamaan, mereka melompat turun dari kudanya masing-masing.


Delapan serangan datang serempak menggempur tubuh pemuda bernama Cakra Buana.


Bergulung-gulung gelombang serangan datang tiada hentinya.


Pendekar Tanpa Nama masih bertahan dalam posisinya. Diam-diam dirinya menyalurkan hawa murni untuk melindungi diri.


"Tapak Dewa Naga …"


Wushh!!!


Dua tangannya terbuka. Serangan tapak mulai melayang ke tubuh masing-masing sembilan lawannya. Ketika Pendekar Tanpa Nama memutuskan untuk bergerak, maka siapapun tidak ada yang bisa menahannya.


Suara benturan tulang terdengar silih berganti. Pendekar Tanpa Nama menyerang semakin ganas lagi. Kakinya tidak tinggal diam, tendangan maut dia layangkan ke berbagai titik tubuh.

__ADS_1


Wushh!!!


Tiba-tiba sebuah tendangan menerjang tubuhnya dari arah belakang. Tapi Pendekar Tanpa Nama mampu menduga serangan tersebut.


Dia hanya menggeser kakinya sedikit ke kiri. Serangan tersebut luput.


Plakk!!!


Sebagai gantinya, iblis itu terkena hantaman telak di bagian dada sebelah kanannya.


Dia terpental tiga langkah ke belakang. Mulutnya langsung memuntahkan darah segar.


"Naga Terbang di Angkasa …"


Wushh!!!


Cakra Buana semakin naik darah. Dia melayangkan jurus lainnya. Tubuhnya bergerak dengan lincah dan sangat cepat.


Angin berhembus mengibarkan pakaian semua orang yang ada di sana. Sembilan Iblis Berbaju Biru merasakan tubuhnya seperti disayat oleh angin yang tajam.


Pukulan dan serangan tapak dilancarkan silih berganti. Hanya dalam dua puluh jurus, sembilan iblis itu telah terpental masing-masing empat langkah ke belakang.


Semuanya muntah darah. Mereka mengalami luka dalam yang lumayan parah.


"Kalian masih bukan lawanku. Lebih baik sekarang pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran," katanya dengan dingin.


Sembilan Iblis Berbaju Biru saar bahwa ucapan pemuda itu memang benar. Namun sebagai pembunuh bayaran yang sudah malang melintang di dunia persilatan, tentu saja mereka tidak bisa menerima ucapan itu.


"Mulutmu memang harus aku robek …" bentak Iblis Biru ketiga.


Wushh!!!


Dia langsung bangun dan memberikan serangan dahsyat. Dua pukulan beruntun melayang seperti meteor yang turun melesat ke bumi.


Belum tiba serangan sebelumnya, dia sudah melancarkan kembali serangan lainnya.


Wushh!!!


Angin dahsyat berhembus. Tahu-tahu Iblis Biru Ketiga terlempar sepuluh langkah. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, nyawanya sudah melayang keluar dari raga.


Delapan saudaranya tertegun. Bahkan si Walet Putih yang saat itu sudah menyelesaikan semedinya juga tertegun.


Semua orang yang hadir di sana tidak dapat melihat bagaimana pemuda itu bergerak. Yang mereka lihat hanyalah sesosok tubuh terlempar dan jatuh tanpa nyawa.


"Sepertinya kalian memang ingin mampus. Kalau memang itu keinginan kalian, baiklah. Silahkan coba serang aku dengan jurus pamungkas," tantang Pendekar Tanpa Nama dengan amarah yang mulai meluap.


Delapan iblis sisanya tentu tidak bisa diam saja saat melihat saudara mereka tewas secara mengenaskan. Serempak mereka bangkit lalu melancarkan berbagai macam serangan berbahaya.


###


Maaf ya baru sempet up. Kemarin lagi di perjalanan hihi ……

__ADS_1


Next bakal kembali normal.


__ADS_2