Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sentilan si Buta Yang Tahu Segalanya


__ADS_3

"Hehehe, tak kusangka kau sudah mendapatkan kemajuan pesat dalam waktu yang sangat singkat. Sepertinya malam ini pasti akan jatuh korban. Sebab kalau tida begitu, sampai besok pun pertarungan ini tidak akan selesai," kata si Tosu Angin Badai sambil tertawa misterius.


Dia memang yang terkuat di antara dua rekannya. Bahkan dia sendiri yang dianggap sebagai pemimpin. Alasannya karena kakek tua yang satu ini mempunyai kemampuan yang berbeda dari dua rekannya.


Tosu Angin Badai mempunyai sebuah jurus yang istimewa. Jurus Tersebut dia namakan Rembulan Bersinaar Daun Berterbangan.


Jurus ini dia ciptakan sendiri saat di pertapaannya dulu. Dan karena jurus tersebut lah Tosu Angin Badai mempunyai nama cemerlang dalam dunia persilatan.


"Bagus, bukankah memang sudah seharusnya jatuh korban? Ingin aku lihat sampai di mana kemampuan kalian tosu botak," ejek Pendekar Tanpa Nama dengan santai.


Semua orang yang ada di sana menahan tawa. Tingkah Pendekar Tanpa Nama yang masih saja bercanda di saat situasi seperti ini, mendatangkan anggapan lain-lain dari mereka semua. Ada yang menganggapnya terlalu sombong, ada juga yang menganggapnya pantas karena dia sudah bisa mengukur kekuatan lawannya.


Tapi terlepas tanggapan apapun itu, selama bukan ditujukan kepada sahabatnya, dia pasti akan tetap berusaha mengendalikan emosinya sebisa mungkin.


Namun jika orang memberikan anggapan buruk kepada sahabatnya, jangan harap orang itu akan mendapat ampunan darinya.


"Hehehe, semakin hari mulutmu semakin tajam saja. Kita lihat, apakah kau bisa menahan Pukulan Geledek Menyambar ini," kata si Tosu Tangan Geledek.


"Silahkan. Justru aku ingin melihat jurus terkuat yang kalian miliki," ejek Pendekar Tanpa Nama dengan senyuman sinis.


Melihat dirinya direndahkan oleh seorang pemuda ingusan di depan banyak orang, tentu saja amarah Tosu Tangan Geledek bangkit.


"Lihat serangan …" teriaknya penuh amarah.


Lima pukulan ganas datang ke arah Pendekar Tanpa Nama. Semua pukulan mengincar titik berbeda. Datangnya lebih cepat daripada kilat menyambar.


Pendekar Tanpa Nama melompat ke belakang untuk mengambil posisi. Tetapi belum sempat dia mengeluarkan jurus lainnya, si Tosu Angin Badai sudah melancarkan serangannya pula.


"Rembulan Bersinsar Daun Berterbangan …"


Jurus pamungkasnya sudah keluar. Kedua tangannya mengibas-ngibas tak tentu arah sehingga mendatangkan bergulung-gulung angin dahsyat seperti ombak di pantai.


Angin tersebut terasa sangat tajam. Dia sendiri turut melesat sambil tetap melancarkan serangan lainnya.


"Tendangan Guntur Menghancurkan Bukit …"


Wushh!!!


Si Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur mengikuti tiga rekannya. Mengeluarkan jurus pamungkas yang dia miliki. Konon katanya, tembok beton sekalipun bisa dia jebol jika sudah mengeluarkan jurus ini. Begitu juga dengan jurus dua rekannya.


Tetapi, apakah semua jurus itu sudah sanggup untuk menjebol tubuh Pendekar Tanpa Nama?

__ADS_1


Hawa pembunuhan segera terasa pekat di sekitar arena pertarungan mereka. Pendekar Tanpa Nama tidak memiliki lagi kesempatan untuk menghindar. Sebab semua serangan tersebut dilancarkan terus menerus tanpa henti.


Tak ada jalan keluar. Semuanya buntu. Semuanya tertutup.


Saat itulah sebuah kekuatan dahsyat merembes keluar dari tubuhnya.


Aura di sana terasa lebih mencekam. Semua orang sulit untuk bernafas. Hanya mereka yang merupakan tokoh kelas atas saja yang masih merasa bernafas lancar. Namun tak urung mereka juga merasakan betapa dahsyatnya tekanan ini.


Debu berterbangan menggulung empat orang yang sedang bertarung tersebut.


Wushh!!!


Hembusan angin tajam terdengar. Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi dalam kepulan debu tersebut. Yang jelas, semua orang sedang menantikan hasilnya.


Werrr!!!


Tiba-tiba satu bayangan mencelat keluar. Bayangan tersebut terpental hingga sepuluh langkah.


Di susul kemudian bayangan kedua. Dia terpental lima belas langkah.


Selang beberapa saat, bayangan ketiga juga sama seperti yang dua sebelumnya.


Tiga Tosu Sesat.


Wajah mereka sangat pucat. Lebih pucat daripada mayat. Lebih pucat daripada seseorang yang tidak diterima cintanya di depan mata.


Tidak ada luka luar yang terlihat. Namun jelas, mereka semua terluka sangat parah di bagian dalamnya.


Nafasnya tersengal-sengal.


"Ju-jurus apa i-itu?" tanya si Tosu Tangan Geledek terbata-bata.


Suaranya pelan. Namun karena situasi sangat hening —kecuali hanya suara pertarungan si Buta Yang Tahu Segalanya—, semua orang bisa mendengar dengan jelas.


"Jurus Tanpa Bentuk," jawab Pendekar Tanpa Nama tanpa ekspresi.


Ketiganya seperti ingin bicara lagi. Sayang, nyawa mereka telah melayang setelah mendengar nama jurus tersebut.


Perbincangan di antara kerumunan orang-orang langsung terjadi. Semua orang bertanya-tanya dalam benaknya masing-masing.


Apa Jurus Tanpa Bentuk itu? Bagaimana caranya dia membunuh? Pula, seperti apakah hebatnya jurus tersebut? Apakah itu jurus asing? Atau apa?

__ADS_1


Pertanyaan demi pertanyaan mulai terdengar. Alasannya karena siapapun belum pernah melihat jurus yang seperti ini. Tidak ada yang tahu bagaimana mengerikannya Jurus Tanpa Bentuk. Pula, tidak ada yang tahu bagaimana rasanya.


Sebab semua korbannya tidak ada yang selamat. Semuanya mati.


Mati membawa rasa penasaran.


Sementara itu, berbarengan dengan jalannya pertarungan Pendekar Tanpa Nama, si Buta Yang Tahu Segalanya juga sudah memulai pertarungan.


Tapi dia seperti meremehkan lawannya. Kedua tangannya masih di belakang. Tak terlihat apakah dia memasang kuda-kuda atau tidak. Tidak ada yang tahu juga apakah dia berniat untuk bertarung atau tidak.


Hanya saja anehnya, semua serangan yang dilancarkan oleh ketua cabang Kay Pang Hek tidak ada yang berhasil mengenai tubuhnya. Semua serangannya hanya mengenai tempat kosong saja.


Dia seperti angin. Kadang-kadang ada di sebelah kanan. Begitu serangan dilancarkan, mendadak ada di sebelah kiri. Semua orang telah menduga bahwa serangan tersebut tepat mengenai tubuhnya, siapa sangka, lagi-lagi hanya mengenai tempat kosong.


Kejadian ini sungguh membuat siapapun terkejut bukan kepalang. Suasana menjadi gempar.


Seorang ketua cabang perkumpulan besar seperti Kay Pang Hek, ternyata tidak mampu menyentuh tubuh seorang yang buta. Bukankah ini sangat memalukan?


Empat pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam sampai dibuat terbengong. Mereka lupa bahwa dirinya juga masuk dalam daftar pertarungan tersebut. Sejak dari awal, keempatnya hanya melongo memandangi kejadian ini.


"Bantu aku bodoh. Apakah kalian takut?" bentak si ketua cabang Kay Pang Hek kepada empat pemimpin itu.


Tentu saja dia sangat marah. Dia sendiri sudah basah oleh keringat, sedangkan orang-orang itu masih belum bergerak juga.


Siapa yang tidak akan marah?


"Aii, aku lupa … hahaha," Oh Kay Tin tertawa.


"Minggir …" bentak Yang Seng langsung menyerang ke depan. Dia tidak peduli lagi keadaan sekitar. Tidak peduli lagi meskipun melawan orang buta.


Segenap kemampuannya langsung keluar. Tangannya sudah siap melancarkan pukulan berantai.


Sayangnya sebelum niat itu tercapai, tiba-tiba ada sesuatu yang lembut menerpa dadanya.


Yang Seng langsung terjengkang ke belakang. Dadanya seketika memar dan terasa sangat sakit.


Terlihat di sana si Buta Yang Tahu Segalanya sedang tersenyum lembut. Tangan kiri masih di belakang. Tangan kanan hanya membentuk sentilan.


Apakah dia menyentil Yang Seng hingga terpental?


Siapapun tidak percaya. Tapi apa yang mereka lihat memang begitu kenyataannya.

__ADS_1


__ADS_2