
Lima tokoh itu terlempar jauh ke belakang. Mereka jatuh tersungkur. Sebagian lagi bahkan ada yang sampai bergulingan beberapa kali. Pakaian yang semula bersih, sekarang telah kotor karena tanah di hutan yang memang agak basah.
Hanya dalam waktu singkat, lima pendekar angkatan tua dunia persilatan telah berhasil dipukul mundur.
Hal ini menjadi pengalaman memalukan dalam sejarah hidup mereka. Selama malang melintang di sungai telaga, baru sekarang saja mereka dipermalukan hingga seperti ini.
"Keparat jahanam. Mampus kau …" teriak seorang di antara mereka.
Wushh!!!
Lima macam jurus yang jauh lebih hebat telah dilayangkan oleh mereka. Semuanya jurus maut. Semuanya membawa kabar kematian.
Arah sasaran mereka mengincar ke titik penting di tubuh si Buta Yang Tahu Segalanya.
Hawa sakti dari berbagai macam aliran bertumpuk menjadi satu kekuatan hebat. Daun kering berterbangan. Debu mengepul di tengah malam. Api yang tadi berkobar pun, sekarang tampak lebih berkobar lagi.
Suasana di sana menjadi tidak karuan. Semakin lama, hawa panas semakin terasa dengan jelas.
Wuttt!!!
Tubuh si Buta Yang Tahu Segalanya melenting tinggi ke atas. Begitu turun, sebuah serangan maha dahsyat langsung dia lancarkan dengan brutal.
Sepasang tangan itu mendadak lenyap dari pandangan mata. Pemiliknya pun menghilang. Dia telah menyatu bersama lima jurus hebat semua lawannya.
Sekarang, pertarungan mereka berjalan lebih sengit dan menegangkan lagi. Saat ini tiada yang tahu pasti apa yang sedang terjadi di sana.
Namun beberapa saat kemudian, jeritan mengerikan mulai berkumandang memenuhi seisi hutan yang gelap dan menyeramkan itu.
Suara lainnya mulai terdengar lagi. Di suusl kemudian lima sosok terlempar ke belakang lebih jauh dari pada sebelumnya.
Semua lawan si Buta Yang Tahu Segalanya ternyata telah tewas. Mereka mampus setelah melangsungkan pertarungan yang baru berjalan beberapa belas jurus itu.
Kelimanya tewas mengenaskan.
Ada yang kepalanya pecah hingga isi kepalanya berceceran. Ada juga yang dadanya hancur sehingga seluruh tulang di bagian tubuh itu remuk. Tiga lainnya mengalami hal yang tidak kalah mengerikan.
Tangan dan kaki mereka patah. Empat tulang iga remuk. Sementara mulutnya sendiri pecah. Darah menyembur deras meskipun nyawa mereka sudah melayang.
Li Guan sudah berdiri dengan santai di tempatnya semula. Mulutnya mengulum senyum, sepasang tangannya di taruh di belakang.
__ADS_1
Meskipun pemuda itu baru saja melangsungkan pertarungan dahsyat, tapi ternyata pakaiannya masih tampak bersih. Sedikitpun tidak ada noda darah.
Sementara itu, selama pertarungan dirinya berlangsung, pertarungan Cakra Buana juga sama.
Pendekar Tanpa Nama digempur oleh enam orang tokoh dunia persilatan itu. Mereka menyerang dari segala penjuru. Berbagai macam senjata menghujani dirinya. Kilatan pertanda tajamnya senjata membuat bulu kuduk berdiri.
Pemuda itu bertarung dengan serius. Pedang Naga dan Harimau sudah dikeluarkan sejak awal dia melangsungkan pertarungan.
Pedang itu masih tajam. Bahkan bertambah tajam. Cahaya merah mulai mewarnai malam yang gelap. Hawa kematian kental mulai muncul di seluruh bagian pedang pusaka itu.
Jurus terdahsyat yang dia miliki sudah dikeluarkan.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk.
Sekarang setelah melewati pertarungan hebat, menurutnya, hanya jurus itu saja yang dapat dia andalkan. Oleh sebab itulah Pendekar Tanpa Nama jarang mengeluarkan jurus lain kecuali dalam waktu tertentu.
Wuttt!!!
Pedang itu menusuk secepat angin. Arah sasarannya ulu hati lawan.
Selama dia menggunakan jurus tersebut, setiap serangannya tidak pernah melesat sedikitpun. Begitu juga dengan sekarang.
Satu orang tokoh mampus tertusuk ulur hatinya. Mulutnya langsung memuntahkan darah segar kehitaman.
Ribuan titik merah memenuhi angkasa. Nafsu membunuh terasa pekat keluar dari sekujur tubuh Cakra Buana.
Crashh!!!
Satu buah kepala manusia terlempar jauh hingga ke semak belukar. Satu tubuh kemudian ambruk ke tanah. Darah kental membasahi rumput yang mulai dibasahi oleh embun.
Pertempuran itu terus berlangsung. Pendekar Tanpa Nama tampak seperti seekor harimau jantan yang mengamuk. Sepak terjangnya membuat siapapun bergidik ngeri.
Di sisi arena pertempuran, Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya memperhatikan dengan mimik wajah serius. Pemuda itu seperti terkesima melihat dahsyatnya jurus milik Pendekar Tanpa Nama.
Beberapa bulan ini, dia jarang menghabiskan waktu bersama Cakra Buana. Sehingga begitu sekarang melihat sepak terjang pemuda itu, mau tak mau Li Guan dibuat kagum juga.
Menurutnya, pemuda itu memang sudah mencapai tahap kesempurnaan. Tenaga dalamnya sudah sempurna, berikut juga dengan semua jurus-jurusnya sendiri. Meskipun sahabatnya itu belum bercerita apa-apa, namun sedikit banyak dia sudah mengetahui jurus apa saja yang sudah dikuasai olehnya.
Si Buta Yang Tahu Segalanya tidak berhenti mengulung senyuman saat menyaksikan pertempuran yang berjalan semakin hebat itu.
__ADS_1
Empat orang tokoh tua mengeluarkan lagi jurus simpanannya. Berbagai macam senjata itu seperti berubah menjadi satu titik sinar yang menggidikkan hati.
Bentuk senjatanya sudah lenyap. Yang ada tinggal hawa kekuatan dan hawa kematian yang terus menyelimuti medan pertempuran tersebut.
Dua senjata pusaka dilayangkan secepat kedipan mata. Dua sinar berbeda warna menusuk cepat ke jantung dan tenggorokan Pendekar Tanpa Nama. Dua senjata lainnya menyerang dari sisi kanan dan sisi kiri.
Yang satu berputar yang satu lagi menebas.
Semuanya jurus kelas atas. Kalau lawannya bukan Cakra Buana, niscaya sudah sejak tadi nyawanya melayang. Untung bahwa orang yang terpilih menjadi targetnya adalah Pendekar Tanpa Nama, seorang pemuda yang sudah menjadi pendekar tanpa tanding.
Sehingga sekuat apapun jurusnya, sehebat apapun serangannya, semuanya hanya sia-sia.
Pendekar Tanpa Nama melompat tinggi lalu meluncur ke depan. Pedangnya menusuk ke arah jantung.
Slebb!!!
Pedang kembali menelan korban.
Tangan kirinya tidak berhenti, tangan itu turut melayangkan satu hantaman hebat sehingga membuat seorang lawan lainnya terpental hingga sepuluh tombak jauhnya.
Sekali bergerak, dua nyawa langsung melayang.
Keduanya terluka parah. Semuanya tewas mengenaskan.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk masih bergerak bebas. Hanya beberapa gerakan, dua orang lawan Pendekar Tanpa Nama telah menemui ajalnya.
Dua pertarungan hebat akhirnya selesai. Sebelas orang manusia telah terkapar di atas rumput basah tanpa nyawa. Darah mereka masih terus keluar.
Hawa kematian masih terasa kental. Nafsu pembunuh juga masih menyelimuti hutan tersebut.
Cakra Buana menghampiri Li Guan. Seulas senyuman hangat dia berikan untuk sahabatnya tersebut.
"Kemampuanmu ternyata bertambah hebat," puji pemuda Tanah Pasundan itu.
"Dan kemampuanmu lebih hebat lagi,"
"Mana ada. Buktinya kau lebih dulu menyelesaikan pertarungan tadi,"
"Seharusnya kau juga bisa melakukannya. Bahkan mungkin bisa lebih cepat dari aku sendiri. Sayang, kau masih malu-malu untuk memperlihatkan seluruh kemampuanmu di depanku," kata si Buta Yang Tahu Segalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Cakra Buana tidak dapat menampik perkataan Li Guan. Apa yang dia katakan memang benar adanya. Selama ini, pemuda itu jarang atau bahkan belum pernah mengeluarkan kemampuannya hingga ke titik tertinggi.
Terkait apa alasannya, mungkin hanya dia sendiri yang dapat mengetahuinya.