
Hoekk!!!
Belum tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi, suara orang yang batuk menahan sakit telah terdengar ke segala penjuru. Debu masih mengepul tinggi, saat debu itu telah lenyap, semua orang dibuat terkejut setengah mati.
Naga Terbang Kedua telah tersungkur ke tanah. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Ternyata suara batuk tadi adalah batuk darah.
Sepasang mata anggota Organisasi Naga Terbang itu terbelalak kaget. Dia tidak mengenal jurus yang digunakan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya. Selain itu, dia juga tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana gerakannya.
Dia hanya merasakan adanya hawa sakti yang mendorong tubuhnya dengan sangat kuat. Hebatnya lagi, hawa sakti itu terasa bukan berasal dari luar. Justru malah terasa dari dalam tubuhnya sendiri.
Apa yang sudah terjadi? Kenapa pula bisa terjadi hal seaneh itu?
Di hadapannya dalam jarak tiga empat langkah, si Buta Yang Tahu Segalanya sedang berdiri dengan satu tangan ke belakang. Wajahnya tersenyum, senyuman hangat sekaligus penuh misteri.
Naga Terbang Kedua bangun berdiri setelah merasakan tubuhnya telah mendingan. Dua bilah pisau belati yang merupakan senjata pusakanya masih digenggam dengan erat dan penuh keyakinan.
Dua pusaka itu sudah menemani dirinya selama puluhan tahun. Di negeri asalnya, dua bilah pisau itu entah sudah berapa banyak menelan korban jiwa.
Ratusan pertarungan yang telah dia lalui, baik itu pertarungan kecil ataupun besar, pertarungan ringan ataupun pertarungan yang menentukan hidup dan mati, Naga Terbang Kedua tidak pernah melepaskan dua pisau belatinya. Sebentar pun tidak.
Pisua belati adalah dirinya. Dan dirinya adalah pisau belati itu sendiri.
Sekarang pada saat dirinya terluka, pisau itu bukannya dilepaskan, justru malah digenggam semakin erat. Saking marahnya Naga Terbang Kedua, gagang pisau belati itu sampai-sampai mengeluarkan asap putih.
"Jurus apa yang kau gunakan?" tanyanya penasaran.
Bagu orang lain, ingin mengetahui jurus lawan mungkin hanya hal sepele. Tapi tidak bagi Naga Terbang Kedua. Baginya, mengetahui jurus lawan adalah sesuatu yang sangat harus. Bahkan wajib.
Karena hanya dengan mengetahui jurus, dia bisa mengukur sampai di mana kemampuannya saat ini. Selain itu, dia pun dapat mengobati rasa penasarannya.
Sifat dasar manusia adalah selalu merasa penasaran. Dalam hal apapun pasti berlaku.
"Jurus Tidak Berwujud," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.
Naga Terbang Kedua tersentak setengah mati.
Dia baru mendengar nama jurus itu. Dirinya sudah malang melintang di dunia persilatan selama puluhan tahun. Puluhan tempat di Tionggoan pun sudah dia datangi. Dan di setiap tempat, Naga Terbang Kedua pasti melakukan sebuah pertarungan.
Tapi belum pernah dia mendengar adanya jurus yang bernama Jurus Tidak Berwjud. Nama jurus itu benar-benar asing bagi dirinya.
"Jurus Tidak Berwujud?" tanya Naga Terbang Kedua mengulangi perkataan si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Benar," jawab Li Guan sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa dinamakan tidak berwujud?" tanya si Naga Terbang Kedua lebih lanjut.
Orang itu semakin merasa penasaran. Sifat ingin tahunya tentang jurus tersebut semakin besar.
"Karena sejatinya jurus itu tidak mempunyai wujud. Tidak akan ada yang tahu bagaimana jurus itu dilancarkan, tidak akan ada yang dapat melihat bagaimana gerakannya, sebab sejatinya jurus itu memang tidak memiliki wujud,"
"Aku baru mendengar dan merasakan jurus seperti ini,"
"Bagus, karena memang kau adalah orang pertama yang merasakan jurusku ini,"
Naga Terbang Kedua terkejut. Sekarang dia baru menyadari bahwa pemuda yang tidak bisa melihat itu ternyata telah berlalu serius. Hal ini terlihat dari wajahnya yang mulai menampilkan mimik aneh.
Bahkan dari tubuhnya saja mengeluarkan semacam hawa sakti yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Apakah kau mulai serius?"
"Kurang lebih seperti itu,"
"Inikah puncak kemampuanmu?"
"Aku tidak bisa menjawab,"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mempunyai jawaban," kata si Buta Yang Tahu Segalanya. Singkat, padat, jelas.
Cukup mendapat jawaban, walaupun tidak dijelaskan, baginya hal itu sudah lebih dari cukup.
Kedua tokoh kelas pilih tanding itu saling diam. Sepasang mata Naga Terbang Kedua menatap si Buta Yang Tahu segalanya dengan tatapan penuh selidik.
Sosok pemuda yang ada di hadapannya saat ini benar-benar misterius. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya misterius.
"Apakah kau bisa mengabulkan permintaanku?" tanya si Naga Terbang Kedua.
"Sebutkan dulu permintaanmu,"
"Aku ingin mati di bawah Jurus Tidak Berwujud milikmu,"
Li Guan termenung sesaat. Kemudian tanyanya, "Kau yakin?"
"Sangat yakin,"
"Kenapa kau ingin mati di bawah jurusku?"
__ADS_1
"Seorang pendekar yang sudah kenyang menjalani pahit getirnya kehidupan, seorang pendekar yang jarang menemukan tandingan, saat bertemu dengan lawan setimpal, pasti dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mati di tangan seorang tokoh besar dan mampus di bawah jurus dahsyat adalah kematian yang paling indah. Apakah kau mengerti?"
Tentu saja si Buta Yang Tahu Segalanya mengerti. Meskipun usianya masih muda, walaupun pengalaman hidupnya belum sebanyak Naga Terbang Kedua, tapi sebagai seorang pendekar, dia dapat memahami bagaimana perasaan pendekar lainnya.
"Aku mengerti," jawabnya sambil mengangguk.
Naga Terbang Kedua tersenyum hangat. Ekspresi kesal dan marah yang tadi terpampang jelas di wajahnya, sekarang sudah lenyap dan digantikan dengan ekspresi senang serta bahagia.
"Kau bisa mengabulkan permintaannku?"
"Baik. Akan aku kabulkan," jawab cepat Li Guan.
Dia tidak mau melihat orang lain kecewa. Pun, Li Guan juga tidak pernah membuat orang lain putus harapan. Selamanya, selama dia mampu melakukan sesuatu bagi kebahagiaan orang lain, maka dia akan melakukannya.
Senyuman hangat dan ekspresi bahagia di wajah si Naga Terbang Kedua semakin kentara.
"Terimakasih. Kalau begitu kita mulai sekarang,"
"Baik,"
Wushh!!!
Naga Terbang Kedua langsung melesat saat itu juga. Jurus pamungkas yang dia miliki langsung dikeluarkan saat itu juga.
Serangan ini adalah serangan terakhir. Serangan yang menentukan mati hidupnya.
Seluruh kekuatan, konsentrasi, keyakinan dan kepercayaan, dia tuangkan semuanya dalam jurus tersebut.
Dua pisau belati itu tampak mengeluarkan cahaya yang sangat tajam. Satu tusukan dan satu tebasan yang dia layangkan juga tidak kalah tajamnya.
Wutt!!! Wutt!!!
Empat kali sinar dari pisau belati itu tampak. Debu langsung mengepul tinggi bersama dedaunan kering. Segulung angin menutupi bagaimana jalannya pertarungan mereka.
Wushh!!!
Sosok tubuh kembali terlempar hingga ambruk ke tanah.
Beberapa kejap kemudian, semuanya selesai. Tidak ada lagi tusukan cepat. Tidak ada lagi tebasan hebat.
Si Buta Yang Tahu Segalanya berdiri sambil tetap tersenyum. Tubuh si Naga Terbang sudah kaku. Ternyata orang itu telah sekarat. Mulutnya dipenuhi oleh cairan merah berupa darah.
Li Guan berjalan menghampirinya dengan santai.
__ADS_1
"Terimakasih. Aku bisa mati dengan tenang," kata si Naga Terbang Kedua dengan suara yang kecil serta tersendat-sendat.
Persis setelah ucapannya selesai, orang itu langsung menghembuskan nafas terakhirnya.