
"Apakah mereka juga menggunakan senjata?"
Ki Marta termenung sesaat. Sepertinya dia sedang mengingat orang-orang itu. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya orang tua itu ingat juga.
"Benar, ketiganya memakai pedang. Sarung dan gagang pedang yang digunakan, sama persis dengan pakaiannya masing-masing,"
Cakra Buana kembali mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Informasi yang diberikan oleh Ki Marta cukup membantunya untuk mempermudah penyelidikan nanti.
"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu," kata Pendekar Tanpa Nama.
Selesai berkata, pemuda itu langsung bangkit berdiri dari posisinya. Sebelum Ki Marta menjawab, pemuda serba merah tersebut telah menghilang dari pandangan matanya.
Ki Marta masih memandangi kepergian Pendekar Tanpa Nama. Semilir angin berhembus menggoyangkan pakaiannya yang lumayan besar. Mulutnya tersenyum sinis. Tatapan mata yang sudah tua itu mendadak berubah jadi setajam silet.
Tiada yang tahu apa maksud dari perubahan itu. Namun yang jelas, sepertinya sesuatu bakal terjadi.
Setelah merasa puas memandangi kepergian orang, dia langsung masuk ke dalam. Gerakan yang tadinya sangat lambat, sekarang tiba-tiba berubah pula menjadi sangat cepat.
Sebenarnya apa yang bakal terjadi nanti?
###
Pendekar Tanpa Nama berjalan seorang diri. Langkahnya masih tenang. Seolah tiada sesuatu apapun di alam mayapada ini yang mampu membuatnya terburu-buru.
Di depan sana ada sebuah bangunan yang sudah sangat tua. Cakra Buana berniat untuk pergi ke sana. Entah kenapa, hatinya merasa tertarik untuk menyelidiki bangunan itu.
Tapi begitu dirinya mau melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, tiba-tiba ada dua batang anak panah yang meluncur dengan deras ke arahnya.
Wuttt!!! Wutt!!!
Crapp!!!
Dengan mudah pemuda itu menangkap dua batang anak panah tersebut. Ternyata di tengah-tengah batangnya terdapat sepucuk surat yang dibuat dari kulit menjangan.
Cakra Buana membuka surat tersebut, kemudian dia segera membacanya.
"Silahkan masuk. Seorang sahabat sudah menunggumu di dalam sini,"
Tulisan itu cukup rapi. Bisa dipastikan orang yang menulisnya merupakan seorang terpelajar.
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir lagi, Pendekar Tanpa Nama langsung masuk ke dalam sana. Perduli apapun yang bakal terjadi, asal menyangkut nama seorang sahabat, dia pasti akan melakukan apapun tanpa berpikir panjang.
Hal inilah yang menjadi kelemahannya. Cakra Buana memang cukup pintar dan cerdas. Tapi sayangnya, dia sangat mudah percaya kalau ada orang yang bicara tentang sahabatnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam, pemuda itu dikejutkan oleh pemandangan yang membuatnya langsung naik pitam.
Di ruangan yang lumayan besar itu, kira-kira ada tujuh orang pemuda dan pemudi yang sedang diikat seluruh tubuhnya. Selain itu, ada pula seorang pria tua yang diperlukan sama pada sebuah kursi kayu.
Ki Marta.
Orang tua yang dimaksud memang benar adalah dirinya. Entah sejak kapan dan entah bagaimana caranya, tapi tiba-tiba saja Ki Marta sudah ada di sini. Badannya terlihat sangat lemas.
Pikiran Pendekar Tanpa Nama langsung bekerja. Dalam hatinya, dia sangat yakin kalau tujuh orang pemuda dan pemudi itu, pastinya bukan lain adalah korban penculikan yang dimaksud oleh Ki Marta tadi.
Cakra Buana baru menyadari kalau ternyata di setiap pojok ruangan itu ada pula tiga orang lainnya. Setelah diperhatikan dengan baik, tiga orang tersebut bukan lain adalah orang-orang yang sedang dia cari saat ini.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya dengan suara mendalam.
"Apapun yang kami lakukan tiada sangkut pautnya denganmu," jawab seorang pria tua berpakaian hitam.
"Siapa kalian sebenarnya?"
"Kami Tiga Pedang Pelangi …"
"Nyawamu,"
"Kenapa kalian ingin nyawaku?"
"Karena kau sudah berani ikut campur,"
"Ikut campur dalam masalah apa?"
"Aku rasa sebenarnya kau sudah tahu sendiri,"
Carka Buana langsung terdiam. Kepalanya tertunduk memandangi lantai yang dia pijak. Sepertinya pemuda itu sedang memikirkan maksud dari orang tersebut.
Tetapi tepat pada saat itu, tiba-tiba saja sesuatu telah terjadi. Tujuh orang pemuda dan pemudi yang tadi terlihat lemas lunglai karena tubuhnya diikat itu, secara mendadak menyerangnya dengan serempak.
Gerakan mereka amat cepat dan cekatan. Setiap serangannya telah melalui perhitungan yang matang. Pendekar Tanpa Nama tidak menduga bahwa hal seperti ini bakal terjadi.
__ADS_1
Andai saja dirinya lengah, niscaya nyawanya bakal melayang. Alasannya karena semua serangan tersebut mengandung perbawa mengerikan tersendiri. Tujuh orang itu berpencar ke seluruh penjuru. Kemudian masing-masing dari mereka melayangkan beberapa macam serangan berbahaya yang tetap dilakukan secara bersamaan.
Untung bahwa Pendekar Tanpa Nama tidak pernah lengah. Dalam kondisi apapun, dia selalu waspada. Bahkan pada saat tidur sekalipun, Cakra Buana selalu siap siaga.
Begitu menyadari kalau nyawanya diujung tanduk, dengan gerakan secepat angin dia berpindah dari tempatnya semula.
Semua orang yang ada di dalam sana tiada yang pernah menyangka kalau pemuda tersebut dapat bergerak secepat itu.
Tujuh serangan yang dilakukan serempak oleh muda-mudi itu tidak membuahkan hasil. Mereka ingin menyerang kembali, tapi sayangnya Pendekar Tanpa Nama telah bergerak lebih dulu.
Hanya sekejap mata, tubuhnya kembali menghilang. Yang terasa oleh mereka hanyalah hembusan angin kencang menerjang masing-masing tubuhnya.
Detik berikutnya, tujuh orang pemuda dan pemudi tersebut telah tersungkur di lantai. Kondisinya benar-benar patut dikasihani. Mereka tak ubahnya seperti kawanan serigala yang kehabisan tenaga karena telah memburu mangsanya selama seharian penuh tanpa berhenti.
Keadaan kembali dilanda keheningan yang mencekam. Tiga orang yang tadi di pojokan ruangan, kini sudah berdiri sejajar di hadapan Ki Marta. Mereka sudah siap siaga. Masing-masing senjatanya yang berupa pedang sudah tergenggam dengan erat di tangannya.
Pada saat itu, secara tiba-tiba Ki Marta juga mendadak berdiri dari tempatnya semula. Keadaannya berubah total. Persis seperti yang telah terjadi kepada tujuh orang sebelumnya.
"Bagus, kepandaian yang patut dipuji," katanya sambil bertepuk tangan pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Pendekar Tanpa Nama masih belum mengerti sepenuhnya.
"Kau pura-pura tidak mengerti, atau memang belum mengerti?"
Pemuda itu tidak menjawab. Dia diam kembali untuk menganalisa semua kejadian yang sedang menimpa dirinya saat ini.
Sayangnya setelah berpikir beberapa waktu lamanya, Cakra Buana tetap tidak mendapatkan jawaban seperti apa yang dia inginkan.
"Untuk saat ini aku benar-benar belum mengerti. Katakan saja apa yang kau inginkan sekarang!"
"Aku ingin membunuhmu,"
"Silahkan …"
Pendekar Tanpa Nama tidak mau berlama-lama lagi. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertele-tele, sebab beban yang sedang dia tanggung saat ini sangatlah besar.
Di sisi lain, mendengar jawaban tersebut, Ki Marta dan Tiga Pedang Pelangi sudah siap untuk memulai aksinya. Mereka saling pandang sekejap sebelum melancarkan serangannya.
Wushh!!! Wushh!!!
__ADS_1
Empat bayangan manusia tiba-tiba meluncur dengan sangat deras. Tiga batang pedang yang mempunyai warna berbeda telah menebarkan ancaman mau kepada Pendekar Tanpa Nama.
Semuanya merupakan serangan dahsyat dan keji. Siapapun tidak bakal menduga kalau mereka ternyata merupakan pendekar pilih tanding.