Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tercekat


__ADS_3

Suasana kembali hening. Semua orang merasakan kengerian yang sama. Mereka semua, bahkan termasuk si orang tua sendiri, merasakan ada satu kekuatan yang menekannya.


Mereka merasa bahwa pundaknya ditindih oleh sebuah batu besar sehingga untuk berdiri pun terasa sangat susah.


Seumur hidup, orang-orang itu baru melihat kejadian seperti apa yang terjadi barusan. Mereka belum pernah melihat ada seorang pendekar yang mampu membunuh dengan kecepatan demikian tinggi. Apalagi pembunuhan itu dilakukan hanya dalam satu kali gerakan.


Jangankan si orang tua, seorang datuk sendiri belum tentu dapat melakukannya. Lantas, apakah kemampuan Pendekar Tanpa Nama melebihi kemampuan seorang datuk dunia persilatan?


Darah masih menetes di ujung Pedang Naga dan Harimau. Pendekar Tanpa Nama berdiri sambil melemparkan senyuman yang amat dingin. Senyuman itu seperti iblis.


Iblis yang haus akan pembunuhan.


Wushh!!!


Cahaya perak terlihat bergerak kembali. Kali ini tidak tanggung lagi, lima belasan murid Perguruan Bawah Tanah langsung bergerak menerjang Pendekar Tanpa Nama.


Pedang mereka ditebaskan dengan segenap tenaga. Jurus hebat dari perguruan dikeluarkan secara bersamaan. Semua serangan itu terbilang cepat dan berbahaya.


Dentingan senjata tajam terdengar meramaikan suasana. Suara teriakan yang bertujuan untuk menakuti lawan juga menggema. Semua murid yang maju itu berlaku nekad. Mereka sudah tidak memikirkan lagi mati atau hidupnya.


Tujuannya mereka sekarang hanya satu. Bagaimanapun caranya, Pendekar Tanpa Nama harus mampus.


Pemuda yang menjadi sasaran mereka sendiri belum bereaksi apa-apa. Dia masih tetap berada pada posisinya. Tetap berdiri dengan tenang dan santai.


Cakra Buana tidak langsung memberikan serangan. Dia memilih untuk menghindar semua serangan para murid itu. Tubuhnya berkelebat ke segala sisi dengan gerakan cepat. Satu kali bergerak, semua serangan para murid berhasil dia hindari.


Wushh!!! Wushh!!!


Cahaya perak semakin banyak. Hujan pedang turun dengan deras menghujani tubuh Pendekar Tanpa Nama.


Pertarungan sudah berlangsung selama lima bekas jurus. Tapi sampai saat ini, perjuangan para murid perguruan belum juga membuahkan hasil. Semua serangan mereka tidak ada yang mengenai tubuh Pendekar Tanpa Nama.


Entah bagaimana pemuda itu bisa menghindari semua serangan itu. Yang jelas, tidak ada seorang pun yang tahu.


Wushh!!!


Cahaya merah terlihat lagi. Semua murid Perguruan Bawah Tanah yang sedang menyerang tercekat. Mereka merasa tenggorokannya disumbat oleh sesuatu. Nyalinya ciut saat itu juga.


Mereka berusaha mundur sejauh mungkin dengan cepat. Siapapun sudah tahu, jika cahaya merah telah berkelebat, maka bisa dipastikan bakal ada nyawa yang melayang. Oleh sebab itulah para murid berusaha untuk menghindar.

__ADS_1


Tetapi, apakah benar mereka mampu menghindari kematian yang sudah dibawa oleh Pendekar Tanpa Nama bersama Pedang Naga dan Harimau miliknya?


Wushh!!! Crashh!!!


Tiga kepala terlempar. Darah segar menyembur cukup jauh.


Dua belas murid semakin ketakutan. Sayangnya mereka tidak bisa lari dari ketakutan sendiri. Belum sempat melakukan gerakan apapun, cahaya merah itu kembali terlihat.


Crashh!!! Crashh!!!


Sekarang, enam kepala menggelinding jatuh ke bawah. Pemilik kepala langsung ambruk ke tanah dengan darah yang mulai mengucur.


Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti. Dia terus melanjutkan serangannya. Tusukan dahsyat segera dikeluarkan. Hawa kematian terasa menempel di ujung pedang.


Slebb!!!


Hanya dalam waktu yang sangat-sangat singkat, enam nyawa sisanya telah berhasil dicabut oleh pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama.


Tenggorokan mereka berlubang hingga tembus ke belakang. Semuanya tewas. Semua murid yang mencoba menyerang Cakra Buana, sekarang mereka telah menghadap kepada Raja Akhirat.


Hawa pembunuhan di sana terasa semakin pekat.


Orang-orang yang tersisa menggertak gigi. Tubuh semua murid mengigil, kalau bisa lari, mereka pasti memilih untuk lari sejauh mungkin.


"Aku beritahukan padamu, sudahi hal sia-sia ini. Jika memang punya nyali, lebih baik kau sendiri yang langsung berduel denganku. Aku tahu kau juga pendekar pedang," kata Cakra Buana kepada si orang tua.


Suaranya tenang. Bahkan bicaranya juga tidak buru-buru. Setiap kata yang keluar itu diucapkan dengan perlahan-lahan.


"Aku tidak butuh nasihatmu," bentak orang tua tersebut.


"Aku tidak sedang menasihatimu. Aku hanya memberitahumu, aku tidak suka membunuh orang yang tidak bersalah. Lagi pula, murid-muridmu belum pantas untuk mati di ujung pedangku,"


"Sombong," kata si orang tua dengan tegas.


"Menghadapi manusia sepertimu, aku selalu sombong,"


"Bedebah!!!"


Wushh!!!

__ADS_1


Si orang tua sudah tidak bisa menahan diri lagi. Pendekar Tanpa Nama berhasil memancing emosi musuh hingga ke titik tertinggi. Sehingga tanpa diduga oleh semua orang sebelumnya, orang tua itu mendadak melompat lalu menerjang Cakra Buana.


Sebatang pedang sudah tergenggam erat di tangan kanannya. Meskipun tidak ada yang memberitahu, tapi Pendekar Tanpa Nama sudah mengerti bahwa pedang yang digenggam oleh orang tua itu, adalah sebatang pedang pusaka.


Pedang pusaka yang sangat tajam dan antik. Bernilai tinggi, dan tentunya sangat biss diandalkan.


Cahaya biru terlihat berkelebat dengan sangat cepat. Datangnya dari arah depan, hawa kematian terasa menyelimuti tubuh Pendekar Tanpa Nama.


Wushh!!!


Trangg!!!


Dua batang pedang pusaka kelas atas beradu. Yang satu melancarkan cahaya merah. Sedangkan satu lagi melancarkan cahaya biru.


Kedua senjata itu bergetar hebat karena dialiri tenaga dalam terlalu besar.


Wushh!!!


Angin kencang berhembus. Kedua pendekar pedang itu terpundur beberapa langkah ke belakang.


Begitu kaki keduanya mendapatkan posisi, mereka segera menerjang lagi. Gerakan selanjutnya dilakukan lebih cepat lagi. Lebih matang, lebih penuh perhitungan.


Kelebatan cahaya merah dan biru bersatu. Suara mendengung seperti ribuan lebah terdengar. Kedua pendekar pedang terbungkus dalam sinar yang tercipta akibat senjatanya masing-masing.


Si orang tua menyerang dengan ganas. Dia tidak bermain-main lagi. Jurus pedang tingkat tinggi miliknya telah dikeluarkan.


Jurus itu dia beri nama Cahaya Biru Dari Segala Penjuru.


Jurus Cahaya Biru Dari Segala Penjuru merupakan jurus pedang kelas atas yang mengandalkan kecepatan. Seperti juga namanya, jika si orang tua sudah mengeluarkan jurus tersebut, maka cahaya biru akan terlihat datang dari seluruh penjuru mata angin.


Serangan yang datang lebih hebat lagi. Tebasan dan tusukan pedang datang dengan cepat mengincar semua titik berbahaya di tubuh Pendekar Tanpa Nama.


Cakra Buana sendiri bertarung dengan santai. Dia tidak perlu harus mengeluarkan jurus pedang tertinggi miliknya. Hanya dengan jurus Kilat Mengejar Mangsa, dia yakin mampu meladeni jurus musuhnya.


Tebakannya benar. Begitu jurus Kilat Mengejar Mangsa keluar, gerakan si orang tua mendadak mengendur.


Cahaya biru yang tadi memancar terang, kini menjadi redup. Cahaya itu tertutup oleh kelebatan sinar merah yang membawa hawa kematian pekat.


Sepuluh jurus berikutnya, cahaya merah yang nampak menjadi lebih terang. Lebih cepat dan lebih dahsyat.

__ADS_1


Slebb!!!


Suara tertahan terdengar. Cahaya merah itu langsung lenyap. Cahaya biru juga langsung hilang. Semuanya kembali seperti sedia kala, tapi dengan keadaan yang berbeda.


__ADS_2