
Sepuluh anggota pilihan Tujuh Perampok Berhati Kejam mulai kewalahan. Mereka sudah bertarung sekuat tenaga dan sebisa mungkin, sayangnya semua usaha mereka sia-sia belaka.
Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Golok yang berkilat tajam itu, kini seakan telah redup. Bahkan hampir padam seperti juga nyali mereka.
Formasi Barisan Golok Perenggut Nyawa mulai dibuat berantakan oleh Pendekar Tanpa Nama.
Pertarungan mereka sudah berjalan dua puluhan jurus. Dan selama itu, Cakra Buana belum melancarkan serangan mematikan. Dia hanya menghindar atau menangkis puluhan golok yang menginginkan tubuhnya saja.
Setiap sentilannya selalu menimbulkan bunyi yang mampu membuat telinga mendengung.
Dia sama sekali tidak mengeluarkan Pedang Naga dan Harimau. Karena baginya, sepuluh anggota pilihan itu masih sangat belum pantas untuk tewas di ujung pedangnya.
Jangan berharap bisa tewas di bawah pedang andalannya jika kekuatan yang dimiliki masih serendah ini.
Kondisi sepuluh anggota pilihan mulai berada di posisi sangat tidak diuntungkan. Pergelangan tangan yang menggenggam golok sudah terasa sangat sakit dan ngilu. Kadang-kadang terasa perih.
Sebelum mereka benar-benar tumbang, si ketua cabang Kay Pang Hek sudah berteriak memberikan perintah kepada lima orang anggota pilihannya.
Lima pengemis berbaju hitam yang lusuh dan penuh tambalan langsung menerjang ke arah Pendekar Tanpa Nama. Tongkat kayu dari Kayu Hitam sudah memberikan sabetan dan hantaman.
Semua gerakan dilakukan secara serempak bersama dengan tenaga keras.
"Prakk …"
Suara nyaring terdengar. Satu batang tongkat kayu, patah menjadi empat bagian. Seorang anggota pilihan Kay Pang Hek terpental dan memuntahkan darah segar.
Entah bagaimana pemuda itu melakukannya. Tidak ada yang mampu melihatnya secara jelas, sebab gerakannya sangat cepat dan tepat sasaran.
Melihat rekannya terpental dan terluka, empat anggota yang tersisa mulai marah. Mereka menggertakan gigi lalu melancarkan serangan kembali.
Kali ini, bukan hanya mereka saja yang menyerang. Tetapi sepuluh anggota pilihan Tujuh Perampok Berhati Kejam juga turut menyertainya.
Desingan angin tajam mulai membakar udara hampa. Kilatan tongkat dan golok membelah udara malam yang dingin.
Cakra Buana terkurung oleh puluhan batang senjata. Debu bertaburan akibat angin yang tercipta.
Di saat seperti itulah Pendekar Tanpa Nama bergerak.
Kedua tangannya segera melancarkan serangan tapak. Sebuah tapak yang sangat berbahaya. Lebih mengerikan daripada apapun.
"Tapak Dewa Naga …"
__ADS_1
Jurus pertama langsung dia keluarkan dengan tenaga dalamnya yang sudah tinggi. Angin berhembus kencang. Kerikil berterbangan ke segala arah.
Cakra Buana mulai menghantam semua lawannya. Satu orang, dua orang, tiga orang, hanya dalam waktu yang relatif singkat, lima belas orang itu terpental jauh ke belakang.
Semuanya mengalami luka dalam yang cukup parah. Hal ini menyebabkan bahwa mereka tidak mungkin dapat meneruskan pertarungan lagi.
Golok mereka patah terkena hantaman tangan yang mengerikan itu. Tongkat Kayu Hitam yang dikenal kebih keras daripada besi, dibuat remuk oleh sepasang tangan yang menyeramkan.
Cakra Buana masih berdiri di posisi semula dengan senyuman, senyuman yang membawa hawa pembunuhan.
Sepanjang jalan pertarungan, si Buta Yang Tahu Segalanya tersenyum tiada hentinya. Dia bangga melihat Cakra Buana sudah menguasai jurus-jurus warisan Pendekar Tanpa Nama secara sempurna.
Suasana menjadi hening. Lebih hening daripada suasana kuburan di tengah malam. Tak ada suara apapun. Bahkan suara jangkrik sekalipun, tidak terdengar sama sekali.
"Kalau kalian masih selemah ini, lebih baik menyerah saja. Aku pantang membunuh orang-orang yang memang belum pantas mati di tanganku," ejek Cakra Buana sambil memandang ke sekeliling.
Lima belas pendekar yang tadi sempat mengeroyok dirinya, memperlihatkan tatapan kebencian. Amarah dalam dadanya berkobar hebat. Kapan saja bisa membakarnya.
Mereka ingin bertindak, sayangnya hal itu tidak bisa mereka lakukan. Sebab luka yang dideritanya terbilang parah.
Mungkin membutuhkan waktu satu mingguan supaya mereka bisa pulih seperti sedia kala.
Kedua tangannya melancarkan lima pukulan berantai sekaligus. Pukulan yang dia lancarkan mengandung tenaga dalam besar.
Tetapi Pendekar Tanpa Nama masih tampak tenang. Dia menyunggingkan senyuman sebelum memutuskan untuk mengadu tenaga dalam.
"Plakk …"
Tubuh Lam Qiu terdorong lima langkah ke belakang. Tangannya terasa sangat sakit. Bahkan dia merasa bahwa tulangnya remuk.
Di saat seperti itu, Jim Si dan si ketua cabang Kay Pang Hek menubruk maju ke arahnya. Sebuah tongkat mengeluarkan bunyi mendengung dari atas kepalanya. Tendangan dahsyat memberikan ancaman kematian mengarah ke ulu hatinya.
Kedua pemimpin itu ternyata tidak mau basa-basi lagi. Mereka benar-benar menurunkan tangan kejam.
"Bagus. Lebih cepat lebih baik. Kalau kalian bertarung secara bersamaan, setidaknya aku akan sedikit terhibur," ujar Cakra Buana.
Tubuhnya langsung berjumpalitan di udara sebab pada saat itu pukulan Lam Qiu sudah tiba mengancam ulut hatinya. Tongkat juga sudah menyapu kakinya.
Tiga pemimpin itu mengeluarkan jurus-jurus dahsyat yang mereka miliki. Tongkat milik si ketua cabang, kini berputar dan menari seperti seekor ular kobra.
Pukulan keras dari Lam Qiu terlihat seperti palu godam. Jim Si melancarkan tendangan berhawa panas.
__ADS_1
Semua serangan dilakukan secara bersamaan.
Cakra Buana tidak bisa untuk bersantai lagi. Dia tahu bahwa tiga pemimpin itu telah bernekad untuk mengadu jiwa dengannya. Karena alasan tersebut lah, Pendekar Tanpa Nama tidak bisa bersantai lagi.
Enam bagian tenaga dalamnya langsung merembes keluar dari tubuhnya.
"Naga Terbang di Angkasa …"
'Wushh …"
Dia berlari mengitari tiga pemimpin. Kemudian dia memberikan serangan berpura totokan dan serangan tapak.
Begitu sudah berhenti mengelilingi musuh, Cakra Buana segera membalas semua serangan mereka lebih ganas lagi.
Kedua tangannya terbentang seperti sayap rajawali. Dia melesat, melesat sangat cepat seperti setan yang sedang mengejar mangsannya.
Hantaman pukulan dan serangan tapak sudah mengincar seluruh titik penting di tubuh mereka. Kalau bukan pemimpin dari sebuah organisasi besar, sudah pasti mereka mati sejak tadi di bawah jurusnya yang mematikan.
"Prakk …"
"Trangg …"
Tongkat dan pedang dibenturkan oleh Cakra Buana.
Dia sengaja melakukannya untuk mencari kesempatan agar bisa bergerak menyerangnya.
Dan kesempatan itu akhirnya muncul juga. Dengan gerakan yang sangat-sangat cepat, dia berhasil memberikan hantaman tapak di dada Lam Si.
"Bukk …"
Dia terpental sehingga menabrak dinding.
"Hoekk …" darah segera segera membuat merah pakaiannya.
Selama kejadian tersebut, pertarungan masih terus berlangsung. Lam Qiu semakin gencar melancarkan pukulannya. Hawa panas dan aura pembunuh semakin pekat keluar dari tubuhnya.
Begitu juga dengan si ketua cabang. Dia menggerakan tongkat andalannya sehingga menimbulkan suara angin yang mendesing menyayat kulit.
Jurus andalan miliknya telah dikeluarkan, walhasil kekuatan yang terkandung dalam setiap serangan juga bertambah beberapa kali lipat.
Cakra Buana dikeroyok oleh dua orang pemimpin. Pertarungan sudah mencapai empat puluh jurus, walaupun dalam keadaan digempur lawan, nyatanya Pendekar Tanpa Nama masih bisa mempertahankan posisinya. Bahkan sesekali dia melancarkan serangan balasan yang membuat nyali menciut.
__ADS_1