Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pedang Lain daripada Yang Lain


__ADS_3

Tapi tarikan tersebut tidak sampai dilakukan hingga akhir. Karena secara mendadak, dengan gerakan yang teramat cepat, Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama telah berganti sasaran.


Si ceking yang mirip bambu lah sasarannya. Pedang itu menusuk dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Lawan pun tidak pernah menyangka bahwa pemuda asing itu mampu melakukan refleks secara cepat.


Siapapun tidak akan pernah menyangka bahwa Pendekar Tanpa Nama bukanlah nama kosong belaka.


Bahu kiri si ceking robek. Darah segera mengucur. Cepat dia melompat ke belakang untuk menutup luka. Rasa perih segera menjalar. Semakin lama semakin perih.


Sembilan tokoh sungai telaga masih bertarung melawan seorang pendekar muda. Gerak serangan yang dilancarkan mereka jangan ditanya lagi.


Sekalipun lawannya jago pedang, pasti dia akan merasa kerepotan.


Tetapi sayangnya hal tersebut tidak berlaku bagi seorang pemuda bergelar Pendekar Tanpa Nama. Sebab walau bagaimanapun lawan mengurungnya dengan sangat ketat, tetap saja dia bisa lolos dari kejaran sembilan senjata tajam itu.


Semakin lama mereka bertarung, semakin kaget juga semua lawan Cakra Buana.


Apakah pemuda itu pendekar pilih tanding? Ataukah pendekar yang hampir mencapai tahap tanpa tanding?


Tidak ada yang tahu akan jawaban tersebut. Pun tidak akan ada yang bisa memastikannya secara pasti.


Cakra Buana menambah daya kecepatan dalam melancarkan serangan. Sekali dia bergerak, tujuh delapan tusukan sudah dia lancarkan sekaligus. Si pria kekar berubah wajahnya saat melihat pemuda itu mengincar dirinya.


Sebisa mungkin dia menghindari serangan, sayangnya gerakan pemuda itu terlampau cepat. Lebih cepat daripada kilat menyambar bumi saat hujan turun.


Alhasil dia mendapatkan jatah juga. Pundaknya robek.


Walaupun luka yang dihasilkan tidak terlalu parah, tapi rasa sakitnya yang parah.


Kalau tidak malu, mungkin dia akan menangis karena tak tahan akan rasa sakitnya. Seumur hidupnya selama malang melintang dalam dunia persilatan, dia baru merasakan sakit yang tiada gara.


Ternyata selain pemiliknya, pedangnya juga sama. Pedang itu amat sangat lain daripada yang lain.


Tentu saja, sebab pedang itu bukanlah pedang sembarangan. Bukan juga pusaka sembarangan.


Itu adalah Pedang Naga dan Harimau. Pedang pusaka milik Pendekar Tanpa Nama yang sempat menggetarkan dunia persilatan pada zaman kejayaannya puluhan tahun silam.


Cakra Buana tidak mengenal kata ampun. Dia menyerang lebih hebat lagi. Gempuran yang diberikan mulai memperlihatkan keindahan gerakan bermain pedang.


Wujud pedangnya tidak terlihat lagi. Yang ada hanyalah sinar merah dan putih berkelebat tanpa berhenti. Setiap inci dari tubuh mereka menjadi sasaran dari dua cahaya tersebut.


Tekanan dan hawa pembunuhan terasa amat kental. Semua lawannya mengeluarkan hawa pembunuhan yang sama, sepertinya mereka sudah banyak sekali membunuh orang. Sehingga hawa pembunuhan yang keluar juga pekat.


Sayangnya, hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh bagi Cakra Buana.


Semakin dia ditekan, semakin mengerikan juga sepak terjangnya.

__ADS_1


"Blarr …"


Sembilan pendekar terpental empat langkah. Cakra Buana terdorong tiga langkah ke belakang.


'Kekuatan bocah ini benar-benar mengerikan,' batin seseorang.


'Masih muda begini, tapi tenaga dalamnya sudah sedemikian sempurna,'


'Kalau dia tidak dibunuh sekarang, suatu hari pasti akan menjadi bibit penyakit, '


Semua orang berkata dalam batinnya sendiri-sendiri. Hanya saja semua perkataan itu tidak berani mereka utarakan.


"Apakah kalian masih sanggup melawanku?" tanya Cakra Buana meremehkan, dia sengaja memancing emosi lawannya.


Sebab semakin mereka emosi, semakin besar juga peluang yang terbuka. Karena jika seseorang sudah dikuasai oleh emosinya sendiri, apapun sudah tidak mereka pikirkan.


Yang terpenting, orang yang sudah membuatnya emosi harus mati.


"Bangsat kecil. Jaga mulutmu, barusan kami hanya main-main. Sekarang jangan harap bisa seperti sebelumnya," kata si wanita tua yang memegang kipas besi.


Kini jumlah mereka sudah lengkap kembali menjadi sepuluh orang. Sekejap mata saja, pada tokoh itu telah mengurung Cakra Buana lagi lalu segera melancarkan jurus yang lebih ampuh.


Permainan senjata mereka berubah. Lebih cepat, lebih ganas, lebih tajam.


Namun Cakra Buana berusaha untuk tetap tenang.


Dia membentak nyaring. Tubuhnya sudah melesat mengincar dua lawan.


Delapan bagian tenaga dalam sudah dia kerahkan. Jurus pedangnya bertambah dahsyat dan lebih mengerikan daripada sebelumnya. Sepak terjang pemuda membuat siapapun tercengang.


Pedangnya berputar, selapis cahaya merah membara tercipta lalu menggempur mereka.


Hanya lima belas jurus, satu orang dibuat roboh. Dia tidak berhenti, kembali Cakra Buana menciptakan lapisan pedang yang menerjang tanpa henti.


Bagaikan sebuah ombak yang sedang mengamuk. Datang menggempur tanpa kenal ampun.


Seperti gemuruh angin yang membentuk pusaran lalu mementalkan apapun yang ada di sekitarnya.


Tubuh Cakra Buana lenyap. Kilatan pedang hanya menyisa titik-titik kecil yang menyebar ke segala penjuru.


"Srett …"


"Ahhh …".


Entah bagaimana dia bisa melakukannya, seorang musuhnya tewas dengan kondisi leher hampir buntung.

__ADS_1


Hal ini menambah kemarahan lawan semakin memuncak. Melihat dua rekannya sudah tewas, mereka langsung kalap.


Serangan yang dilancarkan berubah kembali. Kini menjadi sangat ganas seperti serigala yang menerkam mangsa.


Sayangnya mereka hanya memikirkan serangan belaka, tetapi tidak memikirkan posisi pertahanan. Akibatnya, banyak celah kosong yang mereka ciptakan tanpa sadar.


Ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Cakra Buana.


Dia membiarkan tubuhnya dihujani oleh delapan serangan dahsyat. Tapi saat melihat ada waktu yang tepat, dia bergerak ke depan.


Tubuhnya di condongkan ke depan lalu menusuk tepat di tenggorokan lawan.


Dia kembali bergerak. Tubuhnya berputar di udara lalu turun sambil melancarkan tebasan hebat.


Dua nyawa melayang lagi dalam waktu yang tidak selisih jauh.


Hanya dalam waktu singkat, tiga nyawa meninggalkan raga.


Lima pendekar yang tersisa memburu setiap bagian tubuhnya. Tak peduli apakah serangannya itu tepat atau tidak, yang penting si pemuda keparat itu musti mampus.


Sayangnya lagi-lagi mereka salah perhitungan.


Cakra Buana memang sengaja menciptakan celah kosong untuk lawan masuk. Namun begitu mereka masuk, pemuda itu segera menyerang lebih ganas dan beringas lagi.


Pedangnya mengeluarkan hawa pembunuhan yanh lebih pekat. Mata pemuda itu memancarkan sinar kekejaman.


"Wushh …"


Tubuhnya melesat seperti sukma penasaran. Berkelebat mengelilingi lawannya. Tahu-tahu jeritan mulai terdengar menggema.


Gerakan lawan mulai melambat. Tenaga serangan mereka berkurang.


Ternyata masing-masing di bagian punggungnya sudah terdapat luka sabetan pedang yang cukup parah


Darah mengucur ke tanah. Bau amis langsung tercium.


Keringat dingin membasahi tubuh orang-orang tersebut.


Mereka sadar bahwa kematian tidak akan lama lagi.


Tebakannya benar, sebab tiba-tiba seorang rekan mereka menjerit keras lalu rubuh ke tanah.


Mati.


Tanpa banyak jeda, Pendekar Tanpa Nama mencabut kembali nyawa orang-orang itu dengan kejam.

__ADS_1


Gerakannya terlampau cepat sehingga musuhnya tidak sanggup melihat dengan jelas. Apalagi sekarang berada dalam kondisi terluka.


Semua tewas. Dia hanya menyisahkan satu orang di antara mereka.


__ADS_2