
Sosok itu masih muda. Pakaiannya putih bersih seperti salju yang turun dengan anggun ke bumi. Sepasang matanya diikat oleh kain sutera berwarna putih juga.
Dia tidak membawa senjata apapun. Karena pada dasarnya sosok tersebut bukan ahli memakai senjata. Tapi sekalipun tidak mahir dalam memainkan senjata tajam, sosok tersebut sangat ahli dalam memainkan kedua tangannya.
Sekilas tangan tersebut memang tampak biasa saja. Tangan itu masih terlihat sama dengan tangan-tangan manusia lainnya.
Namun bagi mereka yang tahu siapa sosok tersebut, sudah pasti mereka pun mengetahui bagaimana dahsyatnya sepasang tangan orang itu.
Pemiliknya seorang manusia. Tapi tangannya seperti tangan seorang Dewa. Tangan itu bisa menghancurkan apa saja. Andai kata pemiliknya ingin menghancurkan sebuah gunung, mungkin sepasang tangan tersebut bisa melakukannya.
tangan dan orang yang dimaksud Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Sosok yang dimaksud memang dirinya. Dan sepasang tangan luar biasa yang baru saja dibahas juga tangan dirinya.
Pemuda itu berjalan dengan santai ke arah Pendekar Tanpa Nama. Kedua tangannya di simpan di belakang. Dia berjalan dengan tenang seolah sedang berada di sebuah tempat sunyi yang tiada siapapun di sana.
Padahal dirinya tahu bahwa di tempat tersebut, sekarang sudah ada tujuh tokoh pilih tanding dan satu orang datuk dunia persilatan.
Tapi yang terjadi sekarang jauh diluar dugaan siapapun. Tujuh tokoh pilih tanding itu tidak bergerak sama sekali. Selangkah pun tidak. Mereka tetap berdiam di tempatnya masing-masing.
Begitu juga dengan Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.
Sekalipun dia merupakan datuk dunia persilatan, namun sekarang dia merasa seperti orang biasa. Tokoh tua itu berdiri tegak sambil memperhatikan si Buta Yang Tahu Segalanya dengan tatapan penuh arti.
Kedatangan pemuda itu diluar dugaan. Mereka adalah kedelapan tokoh yang terkenal, terutama sekali si Iblis Tua Langit Bumi, tapi anehnya, tidak seorangpun dari mereka yang dapat merasakan kehadirannya.
Padahal biasanya mereka dapat merasakan kalau ada orang lain yang hadir di sekitarnya.
Tapi anehnya hal tersebut tidak berlaku bagi pemuda yang tak bisa melihat itu.
Sebagai tokoh kelas atas di sungai telaga, Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi tahu bahwa hal tersebut hanya tidak berlaku bagi orang yang kemampuannya sudah tinggi. Mungkin hampir setara dengan dirinya sendiri.
Yang menjadi pertanyaannya sekarang, berapa kuat si Buta Yang Tahu Segalanya sehingga kehadirannya tidak dapat dirasakan?
Pemuda itu masih berjalan. Dia sama sekali tidak melirik ke keadaan sekitarnya.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa datang kemari?" tanya Pendekar Tanpa Nama saat dia sudah berada di hadapannya.
"Sejal awal aku sudah ada di sini," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya sambil tersenyum.
"Jadi kau mengikutiku?"
"Tidak juga. Hanya kebetulan saja aku ingin menguntit,"
"Susah bicara dengan manusia sepertimu," kata Pendekar Tanpa Nama yang dibuat kesal kembali oleh sahabatnya.
Li Guan hanya tertawa. Dia sama sekali tidak menjawab ucapan Cakra Buana.
Pemuda itu membalikkan badan. Dia langsung memasang mimik wajah serius saat memandangi ketujuh tokoh pilih tanding yang ada di sana.
"Berapa orang yang sanggup kau hadapi?" tanya pemuda itu kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Mungkin tiga,"
"Baiklah. Sisanya serahkan saja kepadaku,"
Pendekar Tanpa Nama mengangguk. Dia tidak meragukan perkataan si Buta Yang Tahu Segalanya. Sebagai seorang sahabat, apalagi sahabat sejati, tentunya dia harus percaya kepada dirinya.
Meskipun Cakra Buana belum mengetahui sampai di mana kemampuan si Buta Yang Tahu Segalanya yang sebenarnya, namun pemuda tampan itu tetap akan percaya. Karena pada dasarnya, sahabatnya yang satu ini tidak pernah membuat siapapun kecewa.
"Kalian tokoh terkenal, nama kalian juga sudah didengar oleh setiap kalangan umat persilatan, tapi kenapa kalian malah melakukan pengeroyokan? Apakah kalian tidak akan malu kalau berita ini sampai tersebar ke dunia luar?" tanya Li Guan kepada mereka yang ada di sana.
Tujuh orang tokoh pilih tanding itu melompat ke tengah-tengah arena sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Setelah jaraknya hanya terpaut beberapa langkah, seorang di antaranya langsung memberikan jawaban.
"Berita ini tidak akan tersebar luas kalau semua orang yang ada di sini mampus,"
"Siapa yang harus mampus?"
"Tentu saja kalian berdua,"
"Hemm, kalian tidak akan sanggup membuktikannya," kata si Buta Yang Tahu Segalanya sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kau tidak tahu siapa kami sebenarnya, bagaimana bisa kau berkata demikian?"
"Hahaha … siapa bilang? Aku justru tahu kalian. Bukankah kau si Pedang Angin, kau si Manusia Kerbau, si Tua Bangka Langkah Petir, kau si Cakar Beracun, dirimu adalah si Pedang Putih Bangau Merah, Totokan Tanpa Tanding, dan kau si Rantai Besi Kumala. Apakah tebakanku benar?" tanyanya sambil tersenyum sinis.
Orang yang bergelar si Pedang Angin tersentak kaget. Tidak disangkanya ternyata pemuda itu kenal siapa saja tokoh-tokoh tersebut. Padahal sejatinya, mereka sudah jarang muncul ke dunia luar.
Tak disangka, seorang pemuda masih dapat mengetahui siapa dirinya.
Dulunya ketujuh tokoh itu sangat terkenal dalam dunia persilatan. Jangankan orangnya, namanya saja mampu menggetarkan sukma setiap orang yang mendengar.
Kehadiran mereka disamakan dengan kehadiran Malaikat Maut. Setiap orang yang bertemu dengan salah satu di antara mereka, pasti akan mati. Selama ini belum ada yang berani bicara sombong di hadapannya.
Namun sekarang hal itu tidak berlaku. Dua orang pendekar muda ternyata berani pongah di hadapannya.
"Bagus. Pengetahuanmu sangat luas. Dan aku membenci pemuda sepertimu. Itu artinya, kau harus mampus,"
Wushh!!!
Ucapannya belum selesai, tapi pedang di tangannya telah tiba di ujung tenggorokan.
Trangg!!!
Pedang milik Pendekar Tanpa Nama lebih dulu menangkis. Percikan api membumbung tinggi ke udara. Dua pedang pusaka bertemu, getaran hawa pembunuhan segera menyeruak ke seluruh arena pertarungan.
"Kau pendekar pedang, aku juga sama. Kita lihat jurus pedang siapa yang lebih unggul," kata Cakra Buana sambil tersenyum dingin.
Wushh!!!
Satu pedang lainnya telah datang menerjang. Disusul kemudian oleh sebuah rantai besi yang melesat dengan sangat cepat.
Tiga pendekar telah menerjang Pendekar Tanpa Nama. Mereka adalah si Pedang Angin, si Pedang Putih Bangau Merah dan terakhir si Rantai Besi Kumala.
Tiga tokoh yang ahli dalam memainkan senjata tersebut sudah melancarkan serangan dahsyat dan luar biasa kepada Cakra Buana. Keempat orang itu bertarung sengit dengan jurus-jurus tingkat tinggi yang dimilikinya masing-masing.
Si Pedang Angin melangkah dua langkah ke depan. Tusukan pedang yang amat cepat datang mengincar ulu hati Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Dari arah kanan, si Pedang Putih Bangau Merah melancarkan tebasan yang sangat dahsyat yang tidak kalah dari si Pedang Angin.
Dari arah belakang, datang pula suara lesatan yang amat cepat. Sebuah rantai besi cukup besar menerjang pemuda itu. Saking cepatnya sampai-sampai mengeluarkan suara angin yang menderu.