
"Barang apa yang ada di tanganmu ini?" tanya Jaya Taruma masih dengan nada sedikit kebingungan.
"Aku sendiri tidak tahu karena belum membukanya,"
Jaya Taruma manggut-manggut, pemuda itu mewajarkan akan hal tersebut.
"Siapa yang menitipkan barang untukku ini?"
"Seorang gadis. Katanya dia sahabatmu,"
"Sahabatku?"
Sekarang giliran Cakra Buana yang menganggukkan kepalanya. "Benar,"
Jaya Taruma terdiam. Sepertinya dia sedang mengingat-ingat sesuatu. "Tapi seingatku, aku tidak pernah mempunyai sahabat seorang gadis,"
"Benarkah?"
"Benar, memangnya namanya siapa?"
"Gadis Sumber Informasi,"
Jaka Taruma makin kebingungan. Dia tidak kenal dengan Gadis Sumber Informasi yang baru saja disebut itu. Dia pun merasa tidak mempunyai seorang sahabat yang mempunyai julukan demikian.
Jadi, siapa dia?
"Tapi aku sungguh tidak mempunyai sahabat bernama Gadis Sumber Informasi. Malah kenal pun tidak,"
Cakra Buana bungkam. Dia jadi kebingungan sendiri. Bukankah seseorang yang menitipkan barang untuk orang lain, biasanya mereka adalah sahabat? Atau setidaknya saling kenal, bukan?
Si Gadis Sumber Informasi sudah jelas menyuruh Cakra Buana untuk menyerahkan barang di tangannya kepada Jaya Taruma. Tapi, kenapa pemuda itu malah mengaku tidak mengenalnya sama sekali?
Semakin dipikir semakin bingung. Pendekar Tanpa Nama hanya bisa berdiri tanpa berucap kata.
"Daripada barang itu Tuan bawa pulang lagi, lebih baik serahkan saja kepadaku. Mungkin aku yang lupa," kata Jaya Taruma sambil tersenyum hangat. Kedua tangannya disodorkan untuk mengambil barang tersebut.
"Baiklah kalau begitu,"
Kedua tangan Cakra Buana disodorkan juga.
Sekarang barang titipan itu sudah berpindah tangan. Karena penasaran, maka Jaya Taruma memutuskan untuk membukanya.
Pemuda itu membuka barang tersebut dengan sangat perlahan. Seolah dia takut akan merusak barangnya.
Blarr!!!
Tiba-tiba sebuah ledakan terjadi. Suaranya menggelegar bagaikan amukan guntur di tengah malam gelap mencekam. Bumi bergetar. Air di sungai tersebut berhamburan.
__ADS_1
Untuk beberapa saat lamanya debu mengepul tinggi menutupi pandangan mata.
Untunglah pada saat yang tepat, baik Jaya Taruma maupun Cakra Buana sudah melompat cukup jauh ke belakang sehingga keduanya tidak mengalami luka apapun.
Kiranya, ternyata barang itu sudah diisi dan dibuat dengan bahan peledak sedimikian rupa. Sehingga begitu kotak dibuka, maka bahan peledak tersebut akan langsung bereaksi.
Di sisi sebelah sini, Cakra Buana terkejut setengah mati. Dia sungguh tidak menduga kalau barang yang dimaksud ternyata sesuatu yang dapat mencabut nyawanya dan nyawa pemuda di hadapannya.
Sungguh, kejadian ini tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa bisa seperti ini?
Jaya Taruma memasang wajah yang serius. Sepasang mata yang cemerlang itu mendadak berubah menakutkan. Bagaikan sepasang mata iblis yang ingin menelan bulat-bulat para manusia.
Hawa kematian tiba-tiba keluar dari pori-pori di tubuhnya. ***** ingin membunuh segera menyelimuti seluruh tempat tersebut.
Wushh!!!
Jaya Taruma melayang kembali. Hanya sekejap mata, dia sudah berada di hadapan Cakra Buana dalam jarak dua tombak.
"Kau tahu kalau kita baru bertemu sekarang ini?" tanyanya sangat serius.
"Aku tahu,"
"Apakah kau juga tahu kalau kita tidak pernah mempunyai masalah?"
"Aku tahu,"
"Kalau begitu, kenapa kau malah ingin membunuhku? Katakan, siapa kau sebenarnya? Apa maksud semua ini?"
Suara Jaya Taruma semakin besar. Semakin dalam. Juga semakin menyeramkan.
Pendekar Tanpa Nama benar-benar mati kutu. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sejatinya, hal-hal ini memang jauh diluar dugaannya.
"Aku sudah mengatakan kalau diriku hanya disuruh untuk menyerahkan barang itu kepadamu. Masalah kalau isinya berupa bahan peledak, aku sendiri baru tahu sekarang. Kalau sudah tahu sejak awal, sudah tentu aku tidak akan sudi membawanya kemari lalu menyerahkannya kepadamu," kata Cakra Buana mencoba untuk tetap tenang.
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Bukankah sebelum memberikan sesuatu, orang yang dipercaya itu selalu membuka dan melihat apa isinya?"
"Aku malah tidak membuka, juga tidak melihatnya. Dalam masalah seperti ini, aku hanya tahu membawa dan menyerahkannya kepada orang yang harus menerima. Masalah lainnya tidak pernah aku cari tahu,"
"Dusta. Semua ucapanmu hanya bentuk pembelaan akan dirimu sendiri. Sudah jelas kau ingin membunuhku. Hemm, apakah kau tahu siapa Jaya Taruma?"
Nada suara Jaya Taruma semakin meninggi. Sepasang matanya juga semakin menyeramkan. Sepertinya pemuda itu sudah marah besar.
Kalau kau berada di posisi Jaya Taruma, apakah kau akan melakukan hal yang sama?
"Kalau menurutmu seperti itu, maka aku tidak bisa berkata apa-apa lagi,"
__ADS_1
Cakra Buana hanya bisa tersenyum getir. Dia tidak mau terlalu banyak bicara. Juga tidak ingin membuang-buang waktu dan tenaga.
Kalau seseorang sudah tidak percaya kepadamu, maka apa yang kau katakan, sekalipun itu kebenaran, niscaya orang itu tetap tidak akan percaya. Semua ucapanmu bakal disangka dusta dan sebagainya.
Kalau kenyataan sudah seperti itu, bukankah diam jauh lebih baik daripada banyak bicara?
"Hahaha, bagus, bagus. Akhirnya secara tidak langsung kau telah mengaku atas segala perbuatan busukmu ini," kata Jaya Taruma sambil tertawa nyaring.
Suara tawanya seperti tawa iblis yang mengerikan. Bulu kuduk Cakra Buana berdiri sendiri. Tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk selalu tenang. Tenang setenang-tenangnya.
Matahari senja semakin condong ke barat. Semilir angin pegunungan berhembus menambah hawa dingin. Suara kicau burung penghuni hutan mulai terdengar saling bersahutan.
Wushh!!!
Tiba-tiba bayangan hitam meluncur deras ke arahnya dalam kecepatan tinggi.
Jaya Taruma menyerang Pendekar Tanpa Nama.
Tangan kanannya melancarkan pukulan tangan kosong yang amat dahsyat. Pukulan itu berhawa panas. Bertenaga keras, dan membawa maut. Arah serangannya adalah dada.
Wutt!!!
Pendekar Tanpa Nama memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri dalam tepat waktu. Pukulan Jaya Taruma hanya lewat setengah jengkal di depan tubuhnya.
Serangan pertama gagal. Namun begitu menyadari pukulannya tidak mengenai sasaran, mendadak Jaya Taruma memutar tubuhnya sendiri.
Terjadinya perubahan itu hanya sekejap. Malah Cakra Buana sendiri cukup tersentak kaget. Untunglah dia masih biss menguasai dirinya sendiri.
Dua buah pukulan yang sama keras kembali dilayangkan. Jaya Taruma benar-benar marah, sehingga serangan yang dia berikan pun berupa serangan ganas yang sanggup mencabut nyawa.
Blarr!!!
Ledakan terjadi lagi. Dua bayangan manusia tergetar mundur satu sampai dua langkah ke belakang.
Baik Pendekar Tanpa Nama maupun Jaya Taruma sama-sama merasakan darah dalam tubuhnya bergolak hebat. Untuk sesaat lamanya dua orang pemuda itu saling pandang.
"Baik, bagus sekali. Pantas kau berani kemari, ternyata bekal yang kau bawa sudah lebih dari cukup,"
Wutt!!!
Jaya Taruma menyerang lagi. Tiga serangan jarak jauh diberikan dengan segenap kemampuan. Pendekar Tanpa Nama menyadari kalau sekarang sekarang tidak berada di bawah serangan sebelumnya, oleh sebab itulah dia tidak mau ambil resiko.
Tubuhnya berjumpalitan dua kali di udara untuk menghindari serangan tersebut.
Blarr!!! Blarr!!! Blarr!!!
Tiga ledakan terdengar. Tiga pohon besar roboh karenanya.
__ADS_1