Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sosok Pendekar Sejati


__ADS_3

Untuk sekarang dan nanti, Raja Tombak Emas tidak akan bisa lagi memberantas segala macam kejahatan. Untuk ke depannya, dia hanya bisa dikenang oleh semua orang persilatan.


Namanya akan selalu berkibar di hati setiap pendekar. Terutama sekali mereka yang hadir di sekitaran pusara Pendekar Pedang Kesetanan itu.


Raja Tombak Emas dari Utara telah tiada. Nyawanya memang melayang. Tapi apa yang sudah dia lakukan demi dunia persilatan Tanah Jawa tidak akan melayang.


Selamanya, dia akan tetap hidup di setiap jiwa para pendekar pembela kebenaran.


Angin berhembus membuat gugur beberapa batang daun pohon. Daun-daun itu melayang lalu sirna terbawa hembusannya.


Apakah nyawa manusia sama seperti daun itu juga?


Tanah di sana kering. Tapi tanah di mana tempat Raja Tombak Emas ambruk masih basah. Basah oleh darah seorang pendekar sejati.


Selamanya, dia tidak takkan terganti. Di dunia ini, hanya ada satu orang Raja Tombak Emas dari Utara saja. Nama itu tidak akan ada untuk yang kedua kalinya.


Darah di ujung Pedang Naga dan Harimau masih menetes. Satu persatu darah itu jatuh membasahi tanah pula.


Pendekar Tanpa Nama memandangi jatuhnya tetesan darah tersebut. Sedikitpun dia tidak bergerak dari tempatnya. Tubuhnya tetap berdiri di sana, tapi jiwanya seperti melayang jauh ke sana.


Apakah dia menyesal karena membunuh Raja Tombak Emas dari Utara? Apakah Pendekar Tanpa Nama menyayangkan duel yang baru saja dia langsung kan?


Dua kekasihnya dan Tuan Santeno Tanuwijaya memandangi ujung pedang itu juga. Di antara mereka bertiga, yang paling terkejut adalah Bidadari Tak Bersayap dan si Tangan Tanpa Belas Kasihan.


Kedua tokoh pendekar itu benar-benar dibuat terpukau oleh apa yang baru saja dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama.


Guru besar itu tidak bisa membayangkan bagaimana pemuda di hadapannya tersebut mampu membunuh salah satu sahabatnya.


Dia tahu persis seberapa hebatnya Raja Tombak Emas dari Utara. Tapi dia heran, kenapa Pendekar Tanpa Nama sanggup membunuhnya?


Lalu benarkah kalau pemuda itu jauh lebih hebat dari sahabatnya sendiri?

__ADS_1


Bidadari Tak Bersayap tidak mengedipkan matanya. Gadis cantik itu merasa bahwa kejadian barusan seperti mimpi. Selain karena diluar nalar, dia juga merasa kalau jurus itu teramat cepat.


Bukankah mimpi juga diluar logika dan terasa begitu cepat?


Sementara itu, lain lagi dengan Sian-li Bwee Hua. Dia sendiri juga terkejut, tapi bukan karena melihat jurus Pendekar Tanpa Nama yang barusan. Dia kaget karena menyadari betapa jurusnya itu bertambah cepat. Bahkan beberapa kali lebih cepat dari apa yang sudah dia lihat sebelumnya pada saat melawan Organisasi Naga Terbang.


Apakah kekasihnya sudah mengalami peningkatan lagi dalam hal ilmu pedang? Benarkah dia sudah mencapai sebuah tahap di atas tahap kesempurnaan?


"Jurus pedang yang sangat luar biasa sekali. Seumur hidup, baru sekarang aku melihat jurus pedang sedahsyat ini," kata Tuan Santeno sambil menghela nafas dalam-dalam.


Memang tidak setiap pendekar dapat menyaksikan jurusnya. Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk hanya dapat dilihat dan disaksikan oleh mereka yang sudah berada di puncak saja. Selain daripada orang-orang tersebut, jangan harap ada yang mampu melihatnya.


Tuan Santeno adalah orang yang suka mengagumi jurus-jurus kelas atas. Tapi selamanya, dia belum pernah merasa kagum seperti pada saat ini.


Kekaguman kepada jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk milik Pendekar Tanpa Nama datang dari lubuk hati. Kekaguman itu diucapkan setulus hatinya. Seperti tulusnya Raja Tombak Emas melangsungkan duel untuk terakhir kalinya.


"Aii, Paman terlalu memuji. Jurus barusan hanya jurus biasa saja. Rasanya belum pantas untuk Paman puji," ucapnya seperti baru tersadar dari lamunan panjang.


Pendekar Tanpa Nama hanya menjawab dengan tawa saja. Dia tidak sanggup berkata lagi. Sebenarnya jawaban tadi hanya keluar begitu saja dari mulutnya.


Ucapan Tuan Santeno membuatnya mati kutu. Dia sendiri bingung, kalau jurusnya belum pantas dipuji, lantas jurus seperti apalagi yang pantas?


Untungnya dia bukan orang yang haus akan pujian. Sebab Cakra Buana sadar bahwa pujian hanya untuk Dia, Sang Pencipta Alam Mayapada.


Tuan Santeno berhenti bicara. Dia melangkah perlahan ke arah jasad Raja Tombak Emas dari Utara lalu segera membungkukkan badannya. Orang tua itu kemudian mengangkat mayat tersebut, dia berjalan mendekati peti mati yang sudah disiapkan lalu langsung memasukannya.


"Kita tidak mengganti bajunya dulu?" tanya Bidadari Tak Bersayap sedikit keheranan melihat tingkah laku Tuan Santeno.


"Tidak perlu," jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Supaya semua orang di bumi tahu, dan supaya para Dewata di langit juga menyaksikan bahwa inilah salah satu sosok pendekar sejati di alam mayapa," kata Pendekar Tanpa Nama menjawab pertanyaan Bidadari Tak Bersayap.


Tuan Santeno sudah meletakkan mayat Raja Tombak Emas dari Utara ke peti mati itu. Kemudian dirinya langsung melirik kepada kedua muda-mudi tersebut lalu menengadahkan kepalanya ke atas.


"Sebuah jawaban yang sangat pintar. Jawaban paling tepat dan paling benar. Memang maksud tujuanku juga demikian. Agar setiap makhluk yang hidup tahu bahwa Raja Tombak Emas adalah pendekar sejati yang tidak akan terganti,"


Suaranya mengandung rasa hormat terdalam. Dalam nadanya juga terkandung sebuah kebanggan tersendiri. Selamanya, dia takkan pernah melupakan salah satu sahabatnya ini.


Dia kembali berjalan. Tombak emas yang tergeletak di atas tanah tadi, sekarang sudah berada dalam genggaman kedua tangannya. Caranya membawa senjata pusaka itu sangat menunjukkan sedalam apa rasa hormatnya.


Tombak emas tersebut kemudian dia letakkan di atas mayatnya.


Peti mati sudah ditutup. Selanjutnya beberapa orang murid segera datang ke sana. Mereka langsung membuat sebuah kuburan persis di pinggir pusara Pendekar Pedang Kesetanan.


Setelah beberapa saat menggali, akhirnya selesai juga pekerjaan mereka itu.


Pendekar Tanpa Nama, Tuan Santeno, Bidadari Tak Bersayap dan Sian-li Bwee Hua memberikan penghormatan terakhir untuk Raja Tombak Emas dari Utara.


Langit yang cerah tiba-tiba mendung. Hujan rintik-rintik turun secara perahan membasahi bumi.


Rerumputan di sana juga basah. Tanahnya pun sama. Darah merah yang kental dan masih segar mulai mengalir terbawa genangan air hujan tersebut.


Apakah hujan ini sengaja diturunkan langit untuk mencuci bersih bumi dari noda darah? Ataukah langit sedang bersedih karena kematian seorang pendekar sejati?


Mereka mulai melangkah kembali ke perguruan. Tiada seorangpun yang bicara di antara para tokoh itu. Semuanya sedang bergelut dengan perasaannya sendiri.


Meskipun langkah mereka perlahan, walaupun terlihat tenang, namun di dalamnya berbeda. Jiwa mereka justru sedang memikirkan berbagai macam hal yang tidak diketahui oleh orang lain.


Terkadang luar dan dalam memang tidaklah sama. Yang sebenarnya adalah yang berada di dalam. Tapi kenapa manusia justru memperhatikan yang diluarnya saja?


###

__ADS_1


Satu lagi nyusul yaa hehe


__ADS_2