Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pertarungan Terakhir (Duel Maha Dahsyat)


__ADS_3

"Baiklah, Paman. Aku akan mengabulkan permintaanmu ini," ucap Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa sambil menghela nafas berat.


Jawaban ini sangat mengagetkan Sinta dan Ling Ling. Kedua Ratu tersebut sampai dibuat tercengang karena mendengarnya.


Sedangkan di sisi lain, Tuan Santeno justru merasa sangat girang sekali. Wajah tua yang tadi terlihat sayu dan penuh kesedihan itu, sekarang telah berubah menjadi wajah yang penuh kegembiraan. Gembiranya tak dapat dibayangkan lagi.


Tiba-tiba dia bangkit dari tempat duduknya. Lalu secara mendadak berlari ke arah Cakra Buana kemudian memeluknya dengan erat sekali.


"Terimakasih Cakra, terimakasih. Kau memang keponakanku yang paling baik. Aii, tak kusangka cita-citaku ini dapat benar-benar terwujud. Sekali lagi aku haturkan terimakasih. Semoga Sang Hyang Widhi selalu melindungi dan memberkati dirimu," ujarnya sambil menepuk pundak Cakra Buana dengan penuh kasih sayang.


"Demi Paman, apapun akan aku lakukan," ujarnya perlahan.


Bibirnya berkata demikian. Seolah tiada beban, tiada persoalan lain. Cakra Buana berucap seakan dirinya tidak memiliki persoalan apapun.


Padahal dalam hatinya lain lagi. Hatinya terasa sangat amat sakit. Lebih sakit daripada ditusuk seribu jarum sekali pun. Beban yang dia tanggung sekarang ini, rasanya jauh lebih besar daripada sebuah gunung.


Membunuh orang lain saja bagi dirinya merupakan sebuah beban yang sangat berat sekali. Dulu, kalau saja bukan karena keadaan, Cakra Buana tentu tidak akan membunuh musuh-musuhnya.


Jika membunuh orang lain saja sudah sedemikian berat, lantas bagaimana beratnya kalau dia terpaksa harus membunuh orang yang dianggap sebagai keluarganya sendiri?


Tiada yang tahu akan hal tersebut. Prabu Maharaja sendiri tidak mau memikirkannya lebih lanjut. Dia sedang berusaha pasrah terhadap segala macam yang sudah ditakdirkan oleh Sang Hyang Widhi.


###


Waktu yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Sebentar lagi, Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa akan berduel melawan Tuan Santeno Tanuwijaya. Keduanya sudah mengadakan persetujuan.


Duel ini akan diadakan di puncak Gunung Tilu Dewa. Selain itu, duel maha dahsyat ini sendiri akan dihadiri oleh orang-orang tertentu saja. Tidak setiap orang persilatan dapat menyaksikannya.


Bahkan duel ini pun tidak sampai tersebar ke dunia luar. Yang mengetahuinya hanyalah mereka yang dikehendaki oleh Prabu Maharaja saja.


Saat ini tengah malam. Di puncak Gunung Tilu Dewa biasanya sangat sepi sunyi. Jarang ada manusia yang terlihat. Yang ada hanyalah binatang liar penunggu hutan sekitar saja.


Tetapi sekarang, situasinya berbeda. Di padang rumput yang biasanya lenggang itu, sekarang sudah berdiri beberapa tokoh penting dunia persilatan.

__ADS_1


Mereka akan menghadiri duel maha dahsyat yang sebentar lagi akan digelar. Orang-orang yang hadir itu di antaranya adalah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Jalak Putih dan Gagak Bodas, Pendekar Belati Kembar, empat datuk dunia persilatan, Ratu Sekar Pitaloka Sukmawati (Ling Ling), Ratu Sinta Wulansari, Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa dan tentunya Tuan Santeno Tanuwijaya.


Semua tokoh penting dunia persilatan Tanah Pasundan sudah berkumpul di sana. Perasaan mereka saat ini campur aduk. Ada rasa gembira karena akan melihat kembali Cakra Buana beraksi, dan tentunya ada rasa sedih mendalam karena nanti akan ada korban dari duel maha dahsyat ini.


Prabu Maharaja dan Tuan Santeno sudah berdiri berhadapan. Jarak mereka hanya terpaut lima langkah saja. Di tangan keduanya sudah tergenggam sebatang pedang pusakanya masing-masing.


Pedang yang mengeluarkan cahaya merah menyala. Membawa hawa kematian sangat pekat dan mampu menggetarkan alam semesta.


Kalau bukan Pedang Naga dan Harimau, memang di dunia ini masih ada pedang yang seperti itu lagi?


Tuan Santeno memegang pusaka yang bernama Pedang Rembulan Terang. Dinamakan demikian karena ketika bergerak, pedang itu akan mengeluarkan cahaya terang layaknya Sang Dewi Malam di saat purnama.


Kedua belah pihak sudah bersiap. Mereka sedang mengumpulkan kekuatannya masing-masing. Tiada yang bicara di antara dua orang itu. Masing-masing sedang menekan perasaannya tersendiri.


Jika menghadapi sebuah duel seperti saat ini, maka sebisa mungkin perassna harus tenang. Konsentrasi harus terjaga. Dan tubuh harus rileks. Sedikit saja kehilangan dari tiga hal di atas, maka semuanya gagal total.


Wushh!!! Wushh!!!


Dunia seakan berhenti. Waktu seolah tidak bergerak lagi. Semua orang yang menyaksikan duel ini menahan nafas. Mata mereka tidak berkedip. Seolah orang-orang itu tidak mau kehilangan momen paling menegangkan sepanjang sejarah ini.


Tuan Santeno sudah menggelar jurus pamungkas yang dia andalan. Jurus Seribu Rembulan.


Sebuah jurus pedang yang mengandalkan kecepatan tingkat tinggi. Jurus ini hanya dapat dikuasai oleh mereka yang sudah sangat ahli. Entah dari mana Tuan Santeno bisa mendapatkan pedang sekaligus jurus pusaka tersebut.


Sedangkan Prabu Maharaja sendiri sudah mengeluarkan jurus andalannya.


Pedang Kilat Tak Berbentuk yang dipadukan dengan Jurus Tanpa Bentuk.


Dua jurus mata dahsyat itu akhirnya terlihat dan digabungkan kembali.


Semua orang menahan nafasnya masing-masing. Mereka merasakan ada sebuah tekanan maha besar di sekitar padang rumput tersebut.


Kedua tokoh terkait saling serang dan bertahan. Gerakan mereka teramat cepat. Tiada yang dapat menyaksikannya dengan jelas. Semua tokoh yang hadir hanya dapat melihat kelebatan sinar di tengah malam gelap ini.

__ADS_1


Waktu mulai berlaku. Pertempuran juga tampak semakin sengit lagi. Kelebatan dua buah sinar itu semakin banyak. Semakin menggulung dan menyatu.


Wutt!!! Slebb!!!


Suara tubuh tertusuk oleh benda tajam akhirnya terdengar juga.


Duel maha dahsyat lngsung berhenti saat itu juga.


Korban sudah tercipta.


Tuan Santeni Tanuwijaya.


Ya, dia. Guru besar dari Perguruan Tunggal Sadewo itu tertusuk dengan telak di bagian jantung.


Nafasnya langsung terengah-engah. Wajahnya pucat pias. Sepasang matanya sudah menatap kabur.


Tetapi mulutnya tersenyum. Senyuman bangga. Senyuman kepuasan.


"Ka-kau berhasil. Akhirnya aku bisa meninggal dengan tenang dan damai …" katanya sambil mengusap wajah Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa untuk yang terakhir kalinya.


Setelah berkata demikian, Tuan Santeno langsung roboh. Dia tewas. Tewas membawa sebuah senyuman dan kebangaan.


Prabu Maharaja segera memeluk jasad pamannya. Dia menitikan air matanya. Kesedihan jelas terukir dalam sanubari Raja itu. Namun sebisa mungkin dia harus kuat.


Semua yang terjadi diluar kehendak kita, sebenarnya sudah menjadi ketentuan Dia.


Tamat …


###


Terimakasih untuk kalian semua. Ini adalah ekstra part khusus buat para pembaca yang budiman.


Jangan lupa, baca novel saya yang lainnya di ******** dengan judul Pendekar Pedang Pencabut Nyawa. Ada juga novel lain di Novellife dengan judul Pendekar Tanpa Perasaan.

__ADS_1


__ADS_2