Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Huang Mei Lan


__ADS_3

Cakra Buana kebingungan antara harus menerima atau menolaknya. Kalau menerima, dia berpikir bahwa urusannya masih banyak. Kalau menolak, tentunya sangat tidak enak sekali.


Apalagi jelas bahwa Huang Yang Qing sudah percaya kepadanya.


Setelah dipikir berulang kali, pada akhirnya dia menerima juga usul kakek tua itu.


"Memangnya pertemuan itu kapan akan terjadinya Pangcu?"


"Sekitar tiga empat bulanan lagi,"


"Hemm, baiklah aku bersedia. Tetapi terus terang saja, aku mengembara sampai kemari hanya karena ingin menunaikan tugas terkahir dari mendiang guruku. Ada sesuatu yang harus aku berikan kepada Perguruan Rajawali Putih. Apakah Pangcu akan mengizinkan jika aku membawa cucu Pangcu untuk mengembara bersamaku?" tanya Pendekar Tanpa Nama.


"Tentu saja boleh. Kebetulan sekali cucuku masih hijau di dunia persilatan, walaupun mungkin kau masih hijau juga jika di sini, tapi aku yakin pengalamanmu sebelumnya sudah tidak diragukan lagi,"


"Terimakasih atas pujian Pangcu,"


"Sekarang cucuku sedang berlatih, bagaimana kalau kita melihatnya ke sana?"


"Kalau bersama Pangcu, aku tidak bisa menolak lagi,"


"Hahaha … sungguh pemuda yang mengaggumkan. Mari kita pergi ke tempat latihan cucuku," ajaknya kepada Cakra Buana.


Huang Yang Qing kemudian membawa Cakra Buana ke sebuah hutan. Di sana terdapat sebuah halaman yang lumayan luas.


Di tengah halaman tersebut, ada seorang gadis cantik berumur sekitar sembilan belas tahunan sedang berlatih pedang kembar. Tubuhnya menggiurkan siapapun yang melihatnya. Kulitnya putih mulus seperti salju.


Rambutnya sebagian disanggul sebagian lagi dibiarkan tergerai. Dia memakai pakaian biru muda yang ringkas dan ketat sehingga lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas.


Cakra Buana menahan nafasnya. Apakah ini yang dimaksud cucu Huang Yang Qing?


Kalau iya, maka urusannya bisa gawat. Bisa-bisa kejadian yang sempat dibilang Bidadari Tak Bersayap akan benar-benar terjadi.


Di saat dia sedang fokus melihat gadis itu berlatih, tiba-tiba saja Huang Yang Qing si Kakek Tua Tongkat Hijau menjejakkan kakinya ke tanah lalu meluncur deras ke depan. Tepat ke arah cucunya tersebut.


Si gadis tidak terlihat kaget. Begitu membalik badan, dia langsung menyerang Huang Yang Qing dengan segenap kemampuannya.


Kakek tua itu juga sepertinya sudah tahu. Sehingga dia sudah siap jika ada serangan semacam ini.


Kakek dan cucunya mulai bertarung bersama dengan jurus-jurus hebat.


Cakra Buana hanya diam di balik semak-semak sambil terus memperhatikan pertarungan dua orang tersebut. Sesekali dia juga memandang tubuh indah itu.

__ADS_1


Terlihat si gadis cantik bermain dengan sangat lincah. Permainan pedangnya sungguh membuat mata terpukau. Belum lagi bentuk tubuhnya yang padat.


Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.


Gadis itu menggetarkan dua batang pedang yang ada di tangannya. Pedangya sesekali berputar lalu bergerak menciptakan bianglala yang indah.


Irama kakinya sangat serasi dengan gerak tubuh. Serangannya terlihat sederhana, namun sebenarnya amat mematikan.


Sedangkan si kakek tua Pangcu Kay Pang Pek itu sendiri, sama sekali tidak mengalami kesulitan. Dengan santainya dia mampu menghindarkan diri dari ancaman pedang kembar milik cucunya.


Tongkat hijaunya hanya sesekali dia gerakan saja. Itupun hanya untuk menangkis.


Dia tidak menyerang, apalagi ini hanya latih tanding belaka. Sebab kalau memang kakek tua itu berniat menyerangnya, sehebat apapun si gadis, tentu tidak akan mampu menghadapinya.


Apalagi sebenarnya Huang Yang Qing ini merupakan salah satu dari lima datuk dunia persilatan Tanah Tiongkok. Kalau dibandingkan, mungkin dia berada dalam urutan kedua.


Itu hanya sebuah perkiraan, entah kalau aslinya.


Gadis itu membentak nyaring. Pedangnya terjulur ke depan. Pedang satu lagi melintang di depan dada siap disabetkan kapan saja.


"Trakk …"


Benturan pertama yang keras terjadi. Tubuh gadis tersebut tergetar hingga terdorong mundur dua langkah ke belakang.


Pedang kembar yang digenggam berubah menjadi dua ekor naga yang mengamuk. Pedang itu mengeluarkan cahaya perak menyilaukan mata. Suara bergemuruh mengiringi setiap dua pedangnya bergerak.


Gerakan dua orang tersebut semakin cepat. Pertarungan terlihat semakin bertambah sengit.


Diam-diam, Cakra Buana semakin terpana melihat pertarungan tersebut. Walaupun usia si gadis masih terbilang muda, ternyata kemampuan yang dia miliki sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata.


Dua pedang itu terus mengamuk menebarkan ancaman ke segala titik tubuh. Belum lagi tendangan kakinya yang cukup keras.


Kakek Tua Tongkat Hijau mulai bereaksi. Sekarang dia tidak lagi bertahan. Serangan pertama mulai dilancarkan dengan ganas.


Walaupun dirinya hanya mengeluarkan tiga bagian tenaga dalam, namun itu saja sudah lebih daripada cukup. Tongkat hijau berputar seperti gasing. Desingan angin tajam terasa.


Mendadak tongkat itu menusuk ke bagian pinggang kiri. Tubuh si gadis berputar cepat lalu menendang tongkatnya.


Sekarang gantian, giliran si kakek tua yang berputar tubuhnya. Begitu berhadapan kembali, mereka beradu tenaga dalam yang disalurkan ke senjatanya masing-masing.


Sinar putih dan hijau terlihat berbenturan.

__ADS_1


"Blarr …"


Ledakan terdengar. Tubuh si gadis terdorong tiga langkah. Untungnya dia tidak terluka sama sekali.


"Kemajuanmu sangat pesat. Kakek bangga kepadamu," katanya sambil mengelus kepada si gadis.


###


Malam harinya, Cakra Buana duduk di ruangan tamu. Di sana sudah ada Huang Yang Qing. Hanya mereka berdua, sedangkan cucu kakek tua itu belum terlihat nampak kembali.


"Kemampuan cucu Huang Pangcu sungguh tinggi, aku sangat kagum atas pertunjukkan tadi," kata Cakra Buana memuji dengan tulus.


"Kau terlalu memuji Cakra, sayangnya dia masih harus mendapatkan bimbingan,"


Saat keduanya sedang bercakap-cakap, mendadak masuk seorang wanita muda yang sangat cantik. Masih dengan bentuk tubuh yang sama. Pakaian yang sama. Dan wajah yang sama.


Bau harum tubuhnya tertiup angin malam menusuk hidung Cakra Buana. Tanpa terasa dadanya bergetar menahan gejolak.


Itulah cucu dari Pangcu Kay Pang Pek.


"Ada apa Kakek memanggilku?" tanya gadis cantik itu.


"Duduklah,"


Gadis itu langsung duduk tanpa banyak bicara lagi.


"Perkenalkan Cakra, ini cucuku satu-satunya, namanya Huang Mei Lan. Nah, Mei Lan, ini anak muda yang tadi Kakek maksudkan. namanya Cakra Buana,"


Kedua muda-mudi itu saling pandang. Wajah Mei Lan langsung memerah saat matanya bertatapan dengan pemuda gagah itu.


"Memangnya kenapa Kek?" tanyanya.


"Kakek sengaja mempertemukan kalian supaya kenal lebih dulu sebelum melalukan perjalanan bersama,"


"Maksud Kakek?"


"Maksud Kakek, kau akan mengembara dengannya untuk mencari pengalaman di dunia persilatan,"


"Tidak mau Kek. Aku belum siap mengembara sekarang, mungkin beberapa bulan lagi setelah ilmu yang Kakek ajarkan telah aku kuasai secara sempurna, baru aku mau,"


"Mei Lan, sekarang atau nanti sama saja. Kan bisa belajar di perjalanan nanti. Kau penerus Kakek satu-satunya setelah Kakakmu, Ayah Ibumu pasti bangga kalau mengetahui anaknya menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh,"

__ADS_1


"Ih Kakek ini. Pokoknya aku tidak mau mengembara sekarang, titik!!!" tegasnya lalu dia pergi sambil membandingkan kakinya.


__ADS_2