
Cakra Buana tersenyum hangat kepada sahabatnya itu. Kalau benar si Buta Yang Tahu Segalanya bakal berada di sisinya lagi, maka pemuda itu yakin segala macam persoalan pasti bakal mudah diselesaikan.
"Sekarang sudah larut malam, tubuhku terasa lelah. Aku ingin tidur sebentar," kata Li Guan sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Kerjamu hanya tidur, tapi kau bilang lelah. Cihh, pemalas," ejek Cakra Buana sambil berjalan keluar.
Si Buta Yang Tahu Segalanya tidak menggubris ejekan sahabatnya tersebut, dia malah langsung merebahkan tubuhnya di atas batu hitam itu. Hanya sesaat saja, pemuda itu sudah terdengar mendengkur.
Cakra Buana berada di depan mulut goa. Dia sedang duduk beralaskan rumput sambil memandangi rembulan di atas sana. Suasana hening. Yang terdengar hanyalah suara lolongan serigala di kedalaman hutan.
Pendekar Tanpa Nama masih terheran-heran kenapa malam ini begitu sepi. Padahal dia sendiri mengetahui bahwa sekarang dirinya sudah berada di kawasan Gunung Hua Sun.
Tapi kenapa sampai sekarang suasana masih sepi sunyi? Pertanyaan seperti itu sudah beberapa kali muncul dalam benaknya. Tapi hingga detik ini, dia tidak mampu menjawabnya sama sekali.
Karena merasa bosan, akhirnya Cakra Buana turut merebahkan tubuhnya juga di atas rumput itu. Kedua tangannya digunakan sebagai bantal, dia pun ingin tidur karena beberapa hari belakangan ini, pemuda tersebut selalu kurang tidur.
Sayangnya, Thian seolah tidak membiarkan dirinya bisa tertidur dengan pulas. Baru saja dirinya hampir menyatu bersama mimpi sunyi, sepasang telinganya yang tajam mendadak mendengar suara keributan.
Puluhan desingan senjata tajam melesat ke arahnya. Belum lagi terdengar lemparan-lemparan lainnya.
Wushh!!! Siuttt!!! Siuttt!!!
Suasana yang sebelumnya sangat hening, sekarang tiba-tiba menjadi ramai. Ratusan senjata rahasia menghujani tubuh Pendekar Tanpa Nama dengan ganas.
Suara mendengung seperti ribuan lebah mulai terdengar. Kobaran api mendadak muncul di sekitar goa tempatnya berdiam.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Siapa yang mengirimkan semua senjata rahasia ini? Siapa pula yang sudah membakar daerah sekitar?
Cakra Buana tidak tahu. Bahkan dia tidak ada waktu untuk menjawab berbagai macam pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya tersebut.
Wushh!! Blarr!!!
Ledakan terdengar hebat. Debu seketika mengepul tinggi ke atas. Suasana bertambah ramai.
Si Buta Yang Tahu Segalanya sudah bangun dari tidurnya. Sekarang pendekar muda tanpa tanding itu telah berdiri tepat di sisi sebelah kanan Pendekar Tanpa Nama.
Semua senjata rahasia yang sangat berbahaya, mulai dari yang tidak beracun hingga beracun, rontok tanpa sisa. Dari mulai yang pendek hingga yang panjang, yang kecil sampai yang besar, semuanya lenyap sirna tanpa bekas.
__ADS_1
Yang membuat seperti itu adalah Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Terkait bagaimana dia melakukannya, tiada seorangpun yang tahu. Bahkan Cakra Buana sendiri tidak mampu melihat apa yang telah dia lakukan barusan.
"Sepertinya pertempuran yang panjang bakal dimulai," kata Li Guan dengan santai kepada Cakra Buana.
"Baguslah. Lebih cepat lebih baik," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan santai pula.
"Kenapa begitu?" tanya pemuda itu pura-pura tidak tahu.
"Aku ingin segera kembali ke Tanah Pasundan,"
"Sudah kuduga,"
"Bukan sudah diduga, kau memang sudah tahu. Hanya saja kau pura-pura tidak tahu," kata Cakra Buana sambil melirik tajam.
Selama keduanya bicara, sepasang tangan mereka sebenarnya tidak diam. Tangan-tangan yang masih cekatan itu sejak tadi selalu bergerak agar biaa menangkis semua serangan gelap yang sudah muncul kembali.
Tapi meskipun begitu, mereka masih tetap tenang dan santai.
Wushh!!! Wutt!!!
Tangan kanan Pendekar Tanpa Nama mengibas dengan keras. Serangkum jarum hitam yang berhasil dia tangkap langsung dilemparkan kembali ke arah datangnya tadi.
"Ahh …"
"Heuggh …"
Suara teriakan yang menahan rasa sakit mulai terdengar silih berganti. Hanya sekali menyerang, terdengar beberapa orang meregang nyawa di semak belukar sana.
Hujan serangan senjata rahasia sirna kembali. Seolah para pelemparnya takut mengalami hal yang sama dengan orang-orang yang berteriak barusan.
"Kalian sudah jauh-jauh datang kemari, kenapa tidak langsung saja menampakkan diri?" tanya si Buta Yang Tahu Segalanya entah kepada siapa.
"Hahaha, pemuda yang bermata tajam," sebuah suara tawa lalu bicara terdengar menjawab perkataan Li Guan.
Sesaat berikutnya, sudah ada sebelas orang berpakaian beragam telah berdiri dengan wajah sangar di depan keduanya.
__ADS_1
Terkait siapa mereka, baik si Buta Yang Tahu Segalanya maupun Pendekar Tanpa Nama tidak ada yang mau bertanya. Perduli siapapun mereka, selama berani mengusik, maka mereka harus mampus.
"Kalian kemari pasti mencari mati bukan?" tanya Pendekar Tanpa Nama kepada sebelas orang tersebut.
"Hehehe, mulutmu sangat tajam," ejek seorang tua sambil menyeringai dingin.
Umumnya mereka yang datang itu merupakan tokoh-tokoh angkatan tua dunia persilatan. Meskipun kedua pemuda tersebut tidak tahu siapa saja mereka, namun yang jelas Cakra Buana dan Li Guan tahu bahwa orang-orang itu pastinya mempunyai ilmu yang tidak rendah.
"Jangan banyak celoteh, kalau memang niat kalian datang untuk mencari gara-gara, silahkan mulai sekarang juga," tantang Pendekar Tanpa Nama kepada setiap orang yang ada di sana.
"Baik, sekarang juga kami akan segera memulainya," bentak orang tua tadi.
Wushh!!!
Dia langsung bergerak ke muka diikuti sepuluh orang lainnya. Gerakan mereka sangat lincah dan cekatan. Di lihat seklias saja, siapapun dapat menilai bahwa setiap serangan itu merupakan jurus-jurus ganas.
Pendekar Tanpa Nama dan si Buta Yang Tahu Segalanya tidak mau kalah. Setelah keduanya saling tatap lalu mengangguk bersamaan, serentak mereka pun langsung meluncur ke depan menyambut semua serangan tersebut.
Dua bayangan merah dan putih tampak seperti kilat yang menyambar. Gerakan mereka teramat cepat sehingga yang tampak hanya warna tanpa wujud.
Wushh!!! Wushh!!!
Si Buta Yang Tahu Segalanya menyambut lima ornag tokoh yang entah dari mana asalnya tersebut. Sepasang tangannya yang sakti langsing bergerak menangkis semua serangan ganas lawan.
Tangan itu mengeluarkan hawa sakti yang menekan. Cahaya putih berpijar indah di tengah hujan serangan tersebut.
Trangg!!! Trangg!!!
Pertarungan sengit sudah berlangsung beberapa saat. Lima lawan Li Guan dibuat terkejut setengah mampus. Seumur hidupnya, mereka baru mengalami kejadian seperti sekarang ini.
Di tengah menjalankan pertarungan itu, kelimanya merasakan berbagai macam perasaan dalam baginya. Rasa kagum, rasa malu dan rasa kesal, semuanya bercampur menjadi satu.
Mereka kagum karena kecepatan pemuda berpakaian putih sungguh luar biasa. Tapi di sisi lain, mereka pun malu karena baru beberapa gebrak saja, semua serangannya telah berhasil dimusnahkan. Terlebih lagi, mereka merasa kesal karena senjata pusakanya, patah hanya dengan jepitan dua jari tangan saja.
"Haaa …"
Li Guan membentak nyaring. Suaranya menggelegar bagaikan guntur di tengah hujan badai. Segulung hawa sakti menerjang keluar dari balik telapak tangannya.
__ADS_1