
Wushh!!!
Tiba-tiba segulung angin kembali menerpa. Menerbangkan lagi debu-debu dan batu kerikil yang ada di sekitar tempat tersebut.
Nenek Tanpa Hati tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih diam dengan berbagai macam tanda tanya. Sebenarnya kepulan debu dan batu kerikil itu hanya terjadi sesaat saja.
Tapi dalam hidup ini, yang sesaat tersebut justru terkadang bisa mengubah segalanya.
Segalanya bisa berubah hanya dalam waktu singkat yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.
Seperti sekarang ini. Nenek Tanpa Hati sungguh dibuat terkejut. Malam ini, entah berapa kali dirinya terkejut. Apakah nanti juga akan ada kejutan lainnya lagi?
Ternyata Dewi Bercadar Merah menghilang begitu saja. Siapapun tidak ada yang menduga bahwa hal ini bisa terjadi. Bahkan bisa dibilang tidak masuk akal. Hanya sesaat, bagaimana mungkin gadis cantik bercadar itu bisa lenyap?
Meskipun terkesan tidak masuk akal, tapi memang begitulah yang terjadi. Dewi Bercadar Merah tidak kelihatan batang hidungnya. Bahkan tapak kakinya saja tidak ada.
Ke mana dia pergi?
"Kau mencari gadis bercadar merah?" tanya orang tersebut.
Nenek Tanpa Hati mengangguk. Tak bisa dipungkiri lagi kalau dia memang sedang celingukan mencarinya.
"Dia sudah pergi. Kau tidak akan bisa menemukannya,"
"Ke mana perginya gadis itu?"
"Ke mana pun perginya, yang jelas bukan urusanmu,"
Seketika itu juga mulut wanita tua tersebut langsung terdiam. Ke mana pun perginya gadis tadi memang bukan urusannya. Tai bukankah bertanya itu diperbolehkan?
"Siapa kau sebenarnya?" tak tahan lagi Nenek Tanpa Hati akhirnya menanyakan siapakah seseorang itu.
"Aku pemuda tampan," jawabnya kalem.
Nenek Tanpa Hati geram. Siapapun bakal tahu kalau orang di hadapannya memang seorang pemuda. Pemuda tampan dengan rambut panjang hitam tergerai. Sepasang mata yang cemerlang. Alis yang tebal dan tatapan yang tajam. Hidungnya agak mancung, mulutnya selalu tersenyum.
Jangankan orang normal, sekalipun orang buta, dia pasti tahu kalau pemuda itu merupakan pemuda gagah perkasa.
__ADS_1
"Sudah tentu aku tahu kau pemuda tampan. Tapi maksudku bukan itu. Aku bertanya siapa nammu," katanya sambil mencoba menahan emosi yang mulai berkobar.
"Kalau kau tidak punya hati, maka aku tidak punya nama," jawabnya sambil tetap tersenyum.
"Jadi kau …"
"Ya, aku bukan lain adalah Pendekar Tanpa Nama,"
Suaranya dalam. Pemilik julukannya mengucapkan setiap patah kata itu dengan perlahan dan penuh penekanan.
Bagi yang tidak tahu, mungkin dia akan biasa saja pada saat mendengar nama tersebut. Tapi bagi mereka yang tahu, perduli apakah dia orang persilatan atau bukan, dapat dipastikan kalau hatinya bergetar jika mendengar nama tadi disebutkan.
Meskipun kemunculannya belum lama, tapi berita tentang Pendekar Tanpa Nama sudah cukup terkenal. Terlebih lagi beberapa waktu lalu dia pernah berduel dengan salah satu datuk dunia persilatan Tanah Jawa, yaitu Raja Tombak Emas dari Utara bahkan sampai mengalahkannya.
Semenjak itulah berita tentangnya beredar luas. Baik itu di dunia persilatan Tanah Jawa, maupun Tanah Pasundan.
"Hahaha … bagus, bagus. Kebetulan, aku memang sedang mencarimu," ucap Nenek Tanpa Hati sambil tertawa. Dia sengaja melakukannya sekedar untuk menghilangkan perasaan gugup di hatinya.
"Aku tahu. Bahkan kau berniat untuk membunuhku pula bukan?"
"Ternyata kau cukup pintar,"
Cara bicaranya tenang. Semakin lama semakin tenang. Seolah di dunia ini tiada sesuatu apapun yang bisa membuatnya risau.
Tapi sebaliknya, Nenek Tanpa Hati malah terlihat sangat risau. Kerisauan itu bisa dilihat oleh siapa saja.
Memang benar, dia sendiri tidak punya keyakinan untuk membunuh Pendekar Tanpa Nama. Sebagai tokoh yang sudah lama berkecimpung dalam dunia persilatan, nenek tua itu paham betul kalau ada orang yang semakin tenang dalam menghadapi masalah besar, bisa dipastikan jika orang itu mempunyai kemampuan yang sukar untuk dijajaki.
Tapi bagaimanapun juga, ini adalah tugasnya. Mampu atau tidak mampu, dia harus tetap berusaha membunuh pemuda tampan yang berdiri di hadapannya saat ini.
Wushh!!!
Nenek Tanpa Hati tidak memberikan jawaban dengan mulut, melainkan dengan sebuah serangan.
Serangan tongkat yang teramat cepat dan dahsyat. Kesiur angin yang tercipta menerbangkan segala macam benda di sekitarnya. Tongkat jelek yang tidak terlihat keistimewaannya itu menusuk lurus ke depan mengincar ulu hati Pendekar Tanpa Nama.
Tiada yang dapat membayangkan bagaimana cepatnya serangan itu. Yang terang hanya dalam waktu sekejap mata, serangannya sudah tiba di depan mata.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama tersenyum simpul, dia menggeser tubuhnya sedikit ke kiri lalu dengan punggung tangan kanannya, pemuda itu memapak tusukan lawan.
Tongkat terbanting sedikit, serangan susulan dilancarkan kembali. Kali ini tongkat itu mulai mengurung tubuh lawan. Sinar hitam muncul bagaikan kabut yang menyelimuti alam semesta.
Pertarungan hebat mulai berlangsung. Nenek Tanpa Hati sudah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia miliki. Semua jurus-jurus dahsyat yang jarang terlihat di dunia persilatan telah dilancarkan kembali.
Tapi sayang sekali, lawannya masih tetap tenang. Dia bisa menghindar ataupun menangkis tanpa terlihat kesusahan.
Pertarungan baru berjalan lima belas jurus, tapi akibatnya sudah sulit untuk dilukiskan. Sekarang Nenek Tanpa Hati baru percaya kalau Pendekar Tanpa Nama memang merupakan orang yang berilmu tinggi.
Trakk!!!
Di tengah hujan serangan dahsyat itu, tiba-tiba Cakra Buana mampu mementalkan senjata lawan dengan mudah. Nenek Tanpa Hati dibuat mundur beberapa tombak ke belakang.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, Pendekar Tanpa Nama langsung bersuara lantang. "Keluarkan pedangmu …"
Pedang? Benarkah nenek tua itu membawa pedang?
"Pandangan mata yang tajam …" jawabnya sambil melompat di udara.
Sringg!!!
Cahaya putih langsung menyeruak ke seluruh tempat sekitar.
Ternyata benar. Nenek Tanpa Hati memang membawa pedang. Pedang pusaka berwarna hitam tersebut disimpan di dalam tongkat jelek tadi.
Kiranya tongkat tadi hanyalah tongkat kosong yang diisi oleh sebatang pedang. Pedang putih menyilaukan dengan gagang yang hitam.
Dalam hatinya, wanita renta itu salut terhadap ketajaman mata Pendekar Tanpa Nama. Baru saja bergebrak sebentar, pemuda itu sudah mengetahui seluk beluk dirinya.
Trangg!!!
Berbarengan dengan cahaya putih tadi, cahaya merah turut menyebar pula. Bagaikan kabut merah yang turun di malam hari. Keadaan tiba-tiba berubah total. Hawa kematian menyelimuti tempat itu. Pedang milik Pendekar Tanpa Nama telah diloloskan guna menangkis tebasan lawan.
Bahkan hawa pedangnya mengalahkan tekanan yang diberikan oleh pusaka lawan.
Pedang Naga dan Harimau mengeluarkan taringnya. Sedetik berikutnya, pertarungan antar pendekar pedang telah terjadi.
__ADS_1
Nenek Tanpa Hati mengeluarkan jurus pedang yang sakti dan tiada duanya. Gerakannya sungguh lincah. Gesit, juga mematikan.
Satu kali bergerak, dia dapat melancarkan empat jurus yang berbeda.