
Kedua belah pihak yang menjadi wakil pihaknya masing-masing masih berdiri di tempatnya semula. Di antara mereka tidak ada yang terlihat bahagia. Semua tokoh itu masih diam tanpa mengatakan apapun.
Saat ini kedudukan sementara dimenangkan oleh pihak pendekar Tionggoan. Pihak mereka mendapatkan empat orang tokoh yang berhasil memenangkan pertarungan. Sedangkan pihak Organisasi Naga Terbang hanya tiga orang.
Namun meskipun begitu, masing-masing pihak merasakan hal yang sama. Mereka merasa bahwa pertarungan di babak kedua ini tidak sesederhana yang mereka bayangkan.
Kalau begitu, apakah artinya pertarungan nanti akan menjadi ajang pembunuhan? Mungkinkah sepak terjang setiap wakil akan lebih ganas dari pada sebelumnya?
Tiada yang tahu akan hal tersebut. Yang jelas untuk saat ini, semua orang terutama para pendekar Tionggoan sedang bersiap siaga untuk segala macam kemungkinan yang bakal terjadi.
"Apakah babak kedua bisa segera dilanjutkan?" tanya si Naga Terbang Kedua.
Orang itu sepertinya sudah tidak sabar lagi. Mungkin dia ingin sekali menghajar para pendekar Tionggoan.
"Berikan waktu untuk beristirahat sejenak. Setelah itu, baru kita akan melanjutkan pertarungan nanti," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.
Seperti biasanya, saat bicara, dirinya selalu tenang dan santai. Sedikitpun tidak memperlihatkan ekspresi rasa takut ataupun rasa segan kepada setiap lawannya.
"Hemm, terlalu lama berisitirahat tidak baik. Biasanya kita akan merasa malas untuk melanjutkan suatu kegiatan,"
"Bisa iya bisa tidak. Yang jelas, pihak kami tidak meminta waktu untuk beristirahat terlalu lama,"
"Tapi …" sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Dewi Cantik Tujuh Nyawa kemudian ikut bersuara.
"Biarkan mereka istirahat. Sudah terlalu banyak kau bicara, sekarang lebih baik tutup mulutmu rapat-rapat," kata wanita maha cantik itu sambil memandang tajam ke Naga Terbang Kedua.
Naga Terbang Kedua langsung membungkam mulutnya saat itu juga. Dia mundur ke belakang dengan kepala tertunduk. Seganas apapun dirinya, Semarah apapun dia, tapi kalau Dewi Cantik Tujuh Nyawa sudah angkat bicara, maka dia akan diam saat itu juga.
Semua orang kembali terdiam. Ternyata wibawa wanita berjuluk Dewi Cantik Tujuh Nyawa itu benar-benar luar biasa. Terbukti sekarang, mereka yang hadir segera menundukkan kepalanya.
Wakil pendekar Tionggoan yang lolos ke babak berikutnya langsung bersemedi. Mereka menghimpun tenaga dalam dan mengumpulkan hawa murni demi menjaga segala kemungkinan.
Bahkan bukan hanya mereka saja, para tokoh pilih tanding lainnya pun turut melakukan hal yang sama pula.
"Persiapkan diri kalian masing-masing, sesuatu yang tidak kita inginkan bisa saja terjadi. Oleh sebab itulah jangan pernah lengah walau hanya sekejap," kata si Buta Yang Tahu Segalanya kepada orang-orang yang berada di pihaknya.
__ADS_1
Dia bicara melalui pikiran. Sehingga mustahil kalau pihak musuh bakal mendengarnya.
Semua tokoh persilatan Tionggoan menganggukkan kepalanya perlahan.
Satu jam telah berlalu. Rembulan purnama sudah semakin bergeser ke Barat. Sepertinya tidak berapa lama lagi fajar akan tiba. Terlihat sekarang bahwa kelelawar mulai menghilang dari pandangan.
Pertarungan babak kedua akan segera dilanjut kembali.
"Wakil dari pendekar Tionggoan yang lolos ke babak kedua adalah Tiang Bengcu si Naga Kebenaran Dari Nirwana, Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma, Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya, dan Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama. Harap kalian semua segera maju ke arena," teriak Ming Tian Bao dengan suaranya yang lantang.
Empat tokoh yang baru saja disebut di atas langsung berjalan ke depan sesuai perintah dari Raja Racun Tiada Obat tersebut.
Langkah mereka amat tenang. Juga amat yakin dan percaya diri.
"Pihak Organisasi Naga Terbang yang berhak maju ke babak berikutnya adalah Naga Terbang Kedua, Naga Terbang Ketiga dan Dewi Cantik Tujuh Nyawa. Dimohon kalian pun segera maju ke arena pertarungan," kata Ming Tian Bao memanggil para tokoh yang lolos ke babak kedua.
Tiga tokoh Organisasi Naga Terbang yang merasa namanya terpanggil pun langsung maju ke depan. Ketiganya berjalan secara bersamaan. Dewi Cantik Tujuh Nyawa berada di posisi paling depan. Di kanan dan kirinya ada Naga Terbang Kedua dan Naga Terbang Ketiga.
Wanita cantik itu persis seperti seorang Ratu yang dikawal oleh pengawal pribadinya.
Si Buta Yang Tahu Segalanya akan menghadapi Naga Terbang Kedua. Cio Hong dan Tiang Bengcu akan melawan Dewi Cantik Tujuh Nyawa. Sedangkan Pendekar Tanpa Nama sendiri akan menghadapi Naga Terbang Ketiga.
"Mulai!!!" teriak Ming Tian Bao si Raja Racun Tiada Obat.
Suaranya kembali menggelegar. Bahkan suara itu disertai dengan satu kali ledakan halilintar yang cukup keras.
Wushh!!! Wushh!!!
Tujuh bayangan manusia langsung melesat ke depan. Tiga pertarungan yang lebih dahsyat bakal segera dilangsungkan.
Semua orang yang melihat di pinggir pertarungan langsung menahan nafas mereka dengan segera. Puluhan pasang mata tampak tidak berkedip.
Kalau awal pertarungan saja sudah demikian menegangkan, bagaimana nantinya?
Trakk!!!
__ADS_1
Benturan pertama terjadi. Benturan itu berasal dari pertarungan si Buta Yang Tahu Segalanya melawan Naga Terbang Kedua. Entah bagaimana caranya, saat anggota Organisasi Naga Terbang itu melancarkan dua buah tusukan cepat dan tajam ke arah lawan, ternyata secara tiba-tiba dua buah pisau belatinya telah beradu.
Jangankan orang lain, bahkan dia sendiri tidak mengetahui bagaimana hal itu dapat terjadi.
Kalau Naga Terbang Kedua kebingungan, si Buta Yang Tahu Segalanya justru malah tersenyum simpul. Sikapnya masih tenang. Senyuman hangat masih terlihat mengembang di bibirnya.
Naga Terbang Kedua mulai semakin marah, pertarungan mereka belum lama berjalan, tapi dirinya malah sudah bisa dipermalukan seperti itu.
Tokoh mana yang akan terima jika diperlakukan seperti itu?
Wutt!!!
Puluhan tusukan dan tebasan maut dilancarkan dengan segenap kemampuan. Siapapun dapat melihat bahwa serangan itu dikeluarkan dengan segenap kemampuan.
Hawa panas dan hawa dingin bercampur menjadi satu. Serangan si Naga Terbang Kedua telah tiba di hadapan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Dua buah jalur akibat luncuran tenaga yang amat besar tampak dengan jelas.
Kalau calon korbannya bukan pemuda itu, sudah pasti dia akan mampu sebelum serangannya benar-benar tiba.
Sayang sekali bahwa lawannya sekarang adalah si Buta Yang Tahu Segalanya. Pemuda berpakaian putih yang mempunyai kemampuan setinggi langit. Orang misterius yang tidak diketahui diketahui dari mana asal seluruh ilmu bela dirinya.
Dengan tenang dan santainya dia bergerak menghindari setiap serangan yang dilayangkan oleh Naga Terbang Kedua.
Sepasang tangan yang dijuluki Tangan Dewa itu mulai bergerak. Tangan Dewa memperlihatkan kemampuannya, semua serangan si Naga Terbang Kedua dapat ditangkis dengan mudahnya.
Wutt!!! Wutt!!!
Tebasan dan tusukan datang tiada henti tanpa jeda sedikitpun. Dua bilah pisau belati yang sangat tajam itu menggempur Li Guan.
Semua jalan geraknya tertutup. Sedikitpun tidak ada cara untuk membebaskan diri.
Wushh!!! Bukk!!!
Angin berhembus. Berbarengan dengan itu, satu sosok tampak terlempar cukup jauh ke belakang.
__ADS_1