Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Menjemput Huang Mei Lan


__ADS_3

Huang Mei Lan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lembut penuh kehangatan dan kasih sayang. Sekalipun mulutnya tidak bicara, tapi tatapan sepasang matanya sudah bicara semuanya.


Kasih sayang Mei Lan kepada Huang Pangcu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Begitu juga dengan kasih sayang Huang Pangcu kepada cucu kesayangannya tersebut.


Terkadang, sebuah kasih sayang memang tidak perlu harus diucapkan. Hanya dengan tatapan, hanya dengan tindakan, seseorang biasanya dapat menebak sedalam dan sejauh mana kasih sayang orang itu kepadanya.


"Kapan kau mau mengajak cucuku pergi?" tanya Huang Pangcu kepada Cakra Buana.


"Aku mengikuti arahanmu saja," jawab pemuda itu dengan santai.


Huang Pangcu mengangguk sambil tersenyum. Salah satu kelebihan Pendekar Tanpa Nama adalah dia tidak pernah merasa tinggi. Di mana pun, kepada siapa pun, pemuda itu selalu merendah sebisa mungkin.


Dan karena hal itulah alasan kenapa Huang Pangcu menyukai kepribadiannya.


"Baiklah. Kalau begitu besok pagi-pagi kalian baru boleh pergi mengembara. Kebetulan pertemuan semua tokoh dunia persilatan tinggal satu bulan lagi. Satu bulan sudah cukup untuk menambah pengalaman," ujar si kakek tua sambil meminum arak dalam cawan yang dituangkan oleh Mei Lan.


Cakra Buana setuju. Pemuda itu juga ingin istirahat dan berbincang dengan Huang Pangcu. Sudah cukup lama dirinya tidak berbincang-bincang.


"Baiklah, pagi-pagi aku akan berangkat. Sekarang, apa yang akan kita lakukan?"


"Apa lagi? Tentu saja minum arak sampai mampus,"


Keduanya tertawa lantang. Sedangkan Mei Lan hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan kakeknya tersebut. Dia tidak habis pikir, meskipun usianya sudah sangat tua, namun jiwa mudanya tetap ada dalam dirinya.


"Yaya, kau jangan minum banyak-banyak. Kau harus ingat selalu kondisimu," ucap Mei Lan mengingatkan.


"Kau tenang saja, Yaya-mu ini mengerti,"


Mei Lan langsung terdiam. Untuk masalah minum arak, kakeknya memang sangat ngeyel.


Huang Pangcu kembali minum beberapa cawan. Pada saat yang bersamaan, Huang Mei Lan dan Cakra Buana beradu pandang secara tidak disengaja.


Perasaan yang sama seperti beberapa waktu lalu muncul lagi. Perasaan itu masih sama. Rasanya juga masih sama.


Sebenarnya, apa yang mereka rasakan?


###


Malam hari telah datang. Kegelapan telah menyelimuti bumi. Pendekar Tanpa Nama dan Huang Pangcu masih duduk berdua di tempat yang sama. Berguci-guci arak sudah dihabiskan oleh keduanya.

__ADS_1


Mereka terus minum arak sebanyak mungkin. Sebagai setan arak, sudah pasti mereka tidak mudah mabuk meskipun sudah menghabiskan beberapa guci.


"Kapan kau akan berangkat ke tempat pertemuan para tokoh dalam memperebutkan pusaka itu?" tanya Cakra Buana.


"Entahlah. Tapi yang pasti, aku akan datang,"


"Baiklah. Ngomong-ngomong, apakah kau yakin akan membiarkan cucumu mengembara bersamaku?"


"Kenapa tidak?"


"Bukannya apa, bahkan kau sendiri sudah tahu betul bahwa sekarang aku adalah buronan. Setiap orang mengincarku. Setiap orang menginginkan kematianku, aku hanya takut Mei Lan menjadi terbawa ke dalam lingkaran bahaya," ucap Cakra Buana mengungkapkan kekhawatirannya.


"Kau jangan khawatir, setiap apa yang aku putuskan, aku sudah memikirkannya dengan matang. Lagi pula, kemampuan Mei Lan juga sudah lebih dari cukup. Justru aku sengaja agar dia mengetahui sendiri betapa dahsyat ilmu yang aku turunkan kepadanya,"


Mei Lan adalah cucu kesayangan Huang Pangcu. Hampir semua ilmunya diturunkan kepada gadis tersebut. Sedangkan kakek tua itu sendiri merupakan salah satu datuk dunia persilatan. Sudah pasti, ilmu yang diturunkan tidak bisa dianggap remeh. Ilmu yang dimiliki Huang Pangcu semuanya ilmu kelas atas, oleh sebab itu, kedahsyatannya tidak diragukan lagi.


"Baiklah kalau begitu. Aku percaya kepadamu,"


Keduanya berbincang-bincang kembali membicarakan hal-hal terkait dunia persilatan. Cakra Buana juga menanyakan tokoh-tokoh pilih tanding yang pada saat ini masih sering memunculkan dirinya.


Meskipun dia sudah beberapa bulan di Tionggoan, tapi pengetahuannya masih kalah jauh oleh Huang Pangcu. Apalagi jika dibandingkan dengan Li Guan Si Buta Yang Tahu Segalanya itu.


Huang Pangcu kemudian mengantarkannya ke sebuah kamar yang sudah disiapkan.


Setelah tiba di kamar yang dimaksud, pemuda itu langsung memejamkan matanya.


Malam semakin larut. Bulan sabit menggantung di atas sana sepeti sebuah lampu. Sangat terang. Sinarnya menerani malam yang gelap.


Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Telinga tajamnya mendengar ada sebuah suara di sekitaran kamarnya.


Suara itu berasal dari beberapa orang. Meskipun bicara mereka tidak terdengar jelas, namun siapapun pasti akan menyangka hal yang sama, orang-orang itu berniat tidak baik.


Oleh sebab itu, sebelum mereka bergerak lebih lanjut, Pendekar Tanpa Nama segera mendahuluinya.


Pemuda itu menjebol jendela lalu menjejak kakinya agar dapat naik ke atas atap.


Wushh!!!


Baru saja dia tiba di atas atap, dua bayangan manusia telah melesat lebih dulu. Mereka pergi dari atap kamar Cakra Buana secepat mungkin dengan harapan bahwa si pemuda tidak bisa mengejarnya.

__ADS_1


Sayangnya, mereka telah salah mengira. Mereka keliru besar.


Kalau Pendekar Tanpa Nama sudah bergerak, siapa yang bisa menghalanginya?


Wushh!!!


Bayangan merah berkelbat lebih cepat. Hembusan angin yang dihasilkan bahkan mampu membuat pakaian berkibar kencang.


Hanya sesaat, Cakra Buana telah tiba di hadapan dua orang tadi. Ketiganya kemudian berhenti tepat di atas atap bangunan markas cabang Kay Pang Pek.


"Kalau sudah datang bertamu, kenapa harus buru-buru pulang?" sindir Pendekar Tanpa Nama kepada kedua orang tersebut.


Mereka saling pandang satu sama lain. Dari pandangan matanya sudah terlihat bahwa kedua orang itu sedikit terkejut.


Pendekar Tanpa Nama lebih terkejut saat menyadari bahwa kedua orang di hadapannya itu ternyata memakai pakaian yang mirip dengan ketua dan wakil ketua cabang Kay Pang Pek di tempat tersebut.


Otaknya berputar. Pikirannya melayang-layang memikirkan siapa mereka berdua sebenarnya.


"Siapa kalian?"


Wushh!!!


Bukannya menjawab, dua orang itu mendadak melancarkan satu serangan dahsyat kepada Cakra Buana.


Pedang kedua lawannya telah menusuk dan menebas. Gerakan mereka sangat cepat. Kalau diibaratkan, mungkin keduanya setara dengan tokoh kelas atas.


Cahaya hitam menyeruak. Cahaya putih bergerak membalah malam gelap.


Pendekar Tanpa Nama tidak mau basa-basi. Dia juga turut bergerak lalu menyambut serangan kedua lawannya. Menghadapi mereka, rasanya dia tidak perlu harus mengeluarkan Pedang Naga dan Harimau.


Karena itulah, Pendekar Tanpa Nama mengandalkan sepasang lengannya untuk bertarung.


Sepasang tangan itu melancarkan jurus tangkisan yang tidak kalah dahsyatnya. Jepitan yang sangat kuat telah dikeluarkan. Cakra Buana berniat untuk menangkal senjata dua lawannya.


Crapp!!! Wushh!!!


Satu pedang berhasil dia jepit. Hanya saja satu pedang lainnya terlepas sehingga pemiliknya langsung memberikan serangan tusukan maut.


Kejadiannya sangat singkat dan cepat. Pendekar Tanpa Nama memilih melepaskan jepitannya dari pada harus terluka karena tusukan yang amat cepat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2