
Siapapun tidak akan pernah menduga bahwa kejadian seperti ini bakal terjadi.
Semua kejadian barusan berjalan sangat singkat. Sehingga membuat semua orang benar-benar terkejut.
Sekarang keadaan di sana langsung dicekam oleh keheningan. Semua mulut orang-orang yang hadir di sana seperti di lakban. Tidak ada yang bicara seorang pun.
Pendekar Tanpa Nama sendiri belum melakukan apa-apa. Dia hanya berdiri dengan santai. Mulutnya melemparkan senyuman yang memikat. Bagi orang awam, senyuman itu sangat menawan. Tapi bagi mereka yang merasa bersalah, senyuman tersebut justru sebaliknya.
Semua orang sudah tahu, jika Pendekar Tanpa Nama telah melemparkan senyuman itu, maka kejadian selanjutnya mudah untuk ditebak.
Wushh!!!
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba kain putih berbentuk panjang melesat dari arah kerumunan orang-orang yang hadir.
Cakra Buana tersenyum gembira. Karena kain yang dilemparkan oleh seseorang barusan, bukanlah kain sembarangan.
Di dalam kain putih itu terdapat sebatang pusaka yang menjadi incaran setiap orang. Senjata pusaka yang pernah menggetarkan dunia persilatan puluhan tahun lalu.
Kalau bukan Pedang Naga dan Harimau, apa lagi?
Pedang pusaka itu sudah digenggam di tangan kanan. Sekalipun kain putih yang menjadi pembungkusnya belum dilepas, tapi hawa kematian langsung menyelimuti tempat tersebut.
Semua orang menahan nafasnya masing-masing.
"Sekarang kau percaya bukan dengan apa yang aku ucapkan tadi?" tanya Pendekar Tanpa Nama kepada orang tua yang sempat menemuinya di kamar.
Orang tua itu tidak langsung menjawab. Dia justru menghela nafas beberapa kali. Raut wajahnya mendadak terlihat lebih tua beberapa tahun.
"Ternyata perkataanmu bukan omong kosong," keluhnya.
"Aku memang tidak suka bicara omong kosong,"
"Hemm, siapa yang membebaskanmu? Siapa pula yang memberikanmu obat penawar dari racun yang sudah kau minum dari dalam arak saat di kereta kuda?"
Cakra Buana sedikit kaget. Dia tidak menyangka, ternyata orang tua itu telah mengetahuinya.
"Aku bisa membebaskan sendiri. Racun dalam arak itu hanya racun penghilang tenaga, bukan merupakan racun ganas. Kau pikir racun itu bisa membuatku tak berdaya?"
"Memang bukan, tapi siapapun tidak bisa lepas begitu saja. Jika tidak ada yang memberikan obat penawar, sekalipun kau datuk rimba hijau, rasanya tetap mustahil jika kau bisa membebaskan diri begitu saja,"
Cakra Buana terbengong sesaat. Ternyata gadis pelayan tadi benar-benar memberikan bantuan yang sangat berarti baginya. Kalau tidak ada dia, entah bagaimana nasib pemuda itu sekarang.
Sebelumnya Cakra Buana memang merasakan kesulitan saat ingin membebaskan diri. Biasanya, racun seperti itu belum cukup untuk meracuni dirinya. Oleh sebab itulah dia mau minum arak pemberian Yiu Fang tanpa ragu.
__ADS_1
Tak disangka, racun yang dilarutkan ke dalam arak itu ternyata merupakan racun yang berbeda.
"Seorang malaikat memang telah diutus untuk menolongku. Tapi terkait siapa malaikat itu, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu,"
"Sepertinya dalam perguruanku ada pengkhianat,"
"Masalah ini, aku tidak bisa memberikan komentar,"
"Aku juga tidak butuh komentarmu,"
Orang tua tersebut tersenyum dingin. Sekalipun rencananya telah gagal, tapi dia masih mempunyai kepercayaan.
Walaupun Cakra Buana telah lepas dari racunnya, tapi belum tentu dia bisa lepas dari perguruannya.
Letak perguruan itu sangat tersembunyi. Meskipun anggotanya tidak terlalu banyak, namun semua anggotanya memiliki kemampuan yang lumayan.
"Bedebah dengan pengkhianat itu, sekarang yang paling penting kau harus mampus,"
"Kalau memang sanggup, lakukanlah. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya kepada Yiu Fang,"
"Silahkan,"
"Nona Yiu, apakah orang-orang yang menghadangmu saat di hutan lalu merupakan anak buahmu sendiri?"
Pendekar Tanpa Nama menghela nafas panjang. Ternyata hampir setiap manusia tega mengorbankan orang-orang sendiri demi melancarkan niatnya.
Benarkah manusia sekejam itu? Apakah manusia lebih kejam dari binatang atau bahkan iblis sekalipun?
"Ternyata semuanya sudah kalian rencanakan dengan matang," kata Cakra Buana sambil tersenyum pahit.
"Memang sudah. Semuanya sudah kami perhitungkan. Sayangnya, gara-gara seorang pengkhianat, semuanya menjadi berantakan," kata Yiu Fang dengan gemas.
"Langit selalu menolong orang yang tidak bersalah," jawab Pendekar Tanpa Nama.
Sekarang dia menjadi lebih sadar. Ternyata dirinya benar-benar dalam bahaya. Setiap saat, nyawanya bisa melayang tanpa sebab yang pasti. Setiap saat, Malaikat Maut selalu siap di belakang untuk mencabut nyawa jika memang sudah tiba waktunya.
"Persetan dengan segala ucapanmu. Habisi dia!" kata si orang tua tersebut yang sudah muak dengan segala macam ucapan Cakra Buana.
Suasana yang tadinya sunyi dan menegangkan, kini menjadi riuh hanya dalam waktu sekejap. Murid Perguruan Bawah Tanah yang berjumlah sekitar lima puluhan enam orang itu langsung mengepung Pendekar Tanpa Nama.
Di bawah sudah siap semua. Sebagian lagi melompat ke mimbar dekat Cakra Buana berdiri. Sekarang, pemuda itu sudah dikepung dari segala sisi.
Bulan semakin bergeser ke barat. Awan kelabu menutupi sebagian sinarnya malam ini. Semilir angin berhembus lirih, mengibarkan jubah Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Puluhan kilatan senjata tajam telah mewarnai malam bulan purnama. Semuanya sudah siap untuk memulai pertempuran malam ini.
Jika semua lawannya telah bersiap siaga, maka Pendekar Tanpa Nama masih berdiri dengan tenang dan santai. Pemuda itu masih bisa tersenyum. Senyumannya sangat hangat, bukan senyuman pahit ataupun senyuman ketakutan.
Melihat sikap Pendekar Tanpa Nama yang tenang itu, semua lawannya sedikit terkejut. Termasuk si orang tua dan Yiu Fang sendiri.
Sikap setenang itu hanya bisa dimiliki oleh pendekar yang berkemampuan tinggi.
Apakah itu artinya, Pendekar Tanpa Nama termasuk ke dalam jajaran tersebut?
Kemampuan pemuda itu memang tidak diragukan lagi. Tapi, apakah benar bahwa dia akan sanggup menghadapi serbuan murid Perguruan Bawah Tanah?
Wushh!!! Wushh!!!
Sepuluh murid perguruan menerjang dari berbagai sisi. Serangan mereka tidak perlu diragukan lagi. Semuanya serangan berbahaya. Jika lawannya berkemampuan rendahan, jangan harap bisa lepas dari serbuan itu
Trangg!!!
Kejadian mengejutkan kembali terjadi untuk yang kesekian kalinya.
Pedang Naga dan Harimau yang tadinya terbungkus oleh kain putih, kini sudah terlepas. Entah kapan pemuda itu mengeluarkannya. Pun entah bagaimana dia melakukannya.
Sepuluh pedang tajam yang di ayunkan oleh para murid itu, kini menempel di batang pedang pusaka tersebut.
"Kalian belum mampu untuk mengalahkanku," tegas Pendekar Tanpa Nama.
Selesai dia berkata seperti itu, Cakra Buana langsung mementalkannya. Sepuluh murid terpental.
Cahaya merah berkelebat cepat.
Trangg!!!
Suara dentingan kembali terdengar. Sepuluh batang pedang milik para murid itu, kini telah patah menjadi dua bagian. Kutungan pedang terlempar ke segala arah.
Mereka terbengong kembali. Sepak terjang Pendekar Tanpa Nama benar-benar membuat semua orang kebingungan.
Wushh!!!
Cahaya merah darah kembali terlihat. Hanya sesaat, cahaya itu langsung kembali ke tempatnya.
Kejadian selanjutnya, sepuluh nyawa telah melayang. Sepuluh murid Perguruan Bawah Tanah tewas dengan kondisi mengenaskan. Luka lebar menganga dari sisi kanan hingga ke sisi kiri dada mereka.
Semuanya terjadi dalam sekejap. Siapapun tidak akan pernah menyangkanya.
__ADS_1