Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Lima Tokoh Perkampungan Raja Harimau


__ADS_3

Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Tiga kali dentingan nyaring terdengar. Enam benda hitam melesat ke segala arah. Ada yang menancap di batang pohon. Ada pula yang hampir mengenai lima orang tersebut.


Berbarengan dengan kejadian barusan, percikan api tampak jelas membumbung tinggi. Saking kerasnya benturan barusan, sampai-sampai menimbulkan asap putih yang cukup tebal.


Apa yang sudah sebenarnya terjadi?


Ternyata pada saat tiga am-gi tadi hampir mengenai dirinya, Pendekar Tanpa Nama telah bergerak lebih cepat. Pedang Naga dan Harimau digerakkan dengan pengerahan tenaga hingga delapan bagian.


Akibatnya adalah pedang pusaka itu berhasil menangkis semua serangan tiba-tiba tadi.


Kejadian barusan kembali membuat kelima tokoh itu terkejut. Tanpa sadar mereka merasa ngeri setelah menyaksikan bagaimana kecepatan Pendekar Tanpa Nama dalam bergerak.


Tiga batang bintang segi lima dari baja iti sangat keras. Baja yang dipakai juga baja murni dan baja pilihan.


Tak disangka, ternyata baja itu bisa terbelah menjadi dua bagian. Hebatnya lagi, pedang pusaka yang digunakan oleh Cakra Buana tidak mengalami kerusakan. Sedikitpun pedang itu tidak gompal.


"Gerakan yang sangat cepat," puji tokoh yang paling muda setelah melihat gerakan Cakra Buana.


"Memang cepat," balas pemuda Tanah Pasundan itu.


"Pantas kau berani bertamu malam hari,"


"Aku tidak ada waktu untuk bicara dengan kalian. Lebih baik menyingkir sebelum aku kehabisan kesabatan," ujar Cakra Buana dengan nada yang sangat dingin.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika kesabaranmu sudah habis?"


"Tentu saja membunuh kalian. Seorang pun tidak akan ada yang aku biarkan hidup," ucapan Cakra Buana sangat mantap. Semantap tekadnya saat ini.


"Benarkah?"


"Kalau tidak percaya, kalian boleh mencobanya,"


Lima orang tokoh sungai telaga itu semakin marah. Mata mereka melotot tajam. Nafasnya juga ngos-ngosan karena terlalu mengeluarkan amarah hingga ke titik tertinggi.


Wushh!!!


Lima bayangan manusia telah menerjang ke arah Pendekar Tanpa Nama. Gerakan mereka ternyata sama cepatnya dengan senjata rahasia yang tadi dilemparkan.


Lima serangan dahsyat datang dari beberapa penjuru.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama tersenyum sedingin mungkin. Pedang Naga dan Harimau telah siap mengambil bagian. Seluruh batang pedang tampak mengkilap pada saat terkena sinar rembulan.


Wushh!!!


Cahaya merah berkelebat. Pedang langsung menusuk ke arah depan. Sasarannya lambung. Pendekar Tanpa Nama adalah orang yang tidak suka terlalu banyak basa-basi. Oleh sebab itulah serangan yang datang langsung mengincar titik kematian.


Tusukan pedang itu amat cepat dan dahsyat. Kalau pendekar biasa, jangan harap dapat lolos darinya.


Trangg!!!


Percikan api membumbung tinggi. Sebuah senjata lainnya datang menerjang dari arah kanan lalu mengabaikan serangan Cakra Buana.


Tiga serangan lain mulai berganti arah. Semua serangan tersebut mengincar dirinya. Ke mana pun dia pergi, maka ke sana juga serangan lawan memburu.


Tidak ada celah untu Pendekar Tanpa Nama menghindarkan diri dari sergapan tiga tokoh sungai telaga itu. Semua jalan keluar telah ditutup rapat oleh mereka.


Meskipun sekilas tampak kerjasama mereka biasa saja, tapi padahal sejatinya kerjasama itu sangat kompak. Bahkan dalam hatinya, Cakra Buana sendiri mengakui kehebatan kerjasama tiga orang tersebut.


Pada saat semua serangan hampir menghunjam tubuhnya, Pendekar Tanpa Nama mendadak membuat suatu gerakan sederhana. Tubuhnya berputar sangat cepat, Pedang Naga dan Harimau dibentangkan.


Percikan api membumbung tinggi kembali pada saat senjata mereka berbenturan untuk yang kesekian kalinya. Lima tokoh itu terdorong beberapa langkah ke belakang.


Wushh!!!


Pemuda Tanah Pasundan itu menyerang mendahului lima orang musuhnya. Jurus tingkat tinggi langsung dia keluarkan.


Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk.


Terpaksa pemuda itu harus mengeluarkan jurus pamungkas tersebut. Sebab menurutnya, hanya menggunakan itu aaja cara agar dapat mempercepat pertarungan sengit ini.


Padahal setiap saat setelah menggunakan jurus tersebut, Cakra Buana merasakan tubuhnya sangat lelah. Sebab jurus dahsyat itu memerlukan tenaga dalam dengan jumlah besar.


Namun mau bagaiamana lagi, menurutnya, hanya jurus itu saja satu-satunya jalan agar dia bisa selamat dari kepungan lima tokoh tersebut.


Cahaya merah laksana bara api menghujani lima lawan sekaligus. Alam semesta seperti diliputi oleh sinar merah yang membawa hawa pembunuhan kental.


Tubuh kelima tokoh jelas atas tersebut dikurung oleh sinar tersebut. Sedikitpun mereka tidak bisa membebaskan diri. Untuk memberikan perlawanan, mereka tidak leluasa. Sebab cahaya berwarna merah seperti darah itu terus menerjang tiada hentinya.


Seolah semua serangan yang mereka rasakan ini bukan dilakukan oleh tangan manusia. Melainkan tangan seorang Dewa.


Kalau yang menggerakkan manusia, mungkin serangan yang datang bakal ada jeda meskipun hanya sesaat.

__ADS_1


Sedangkan serangan yang sekarang mereka tidak ada jeda sama sekali.


Lantas, siapakah yang sebenarnya menyerang mereka? Apakah manusia? Atau benar seorang Dewa?


Wushh!!! Crashh!!!


Satu kepala terlempar berbarengan dengan patahnya sebatang senjata pusaka. Darah menyembur ke empat tubuh rekannya. Suara kepala terpenggal terdengar bersamaan dengan suara senjata patah, ternyata begitu mengerikan.


Belum sempat meraka menyadari siapakah di antara mereka yang menjadi korban pertama, korban kedua telah menyusul kembali. Suara robekan kain berbarengan dengan robeknya kulit bahkan hingga hampir mengenai tulang terdengar nyaring.


Suara teriakan tertahan terdengar amat memilukan. Suara menjelang kematian itu seolah mampu membuat setan yang mendengar merasa takut.


Suasana di sana menjadi lebih menegangkan.


Hanya dalam waktu sekejap, dua nyawa tokoh yang mempunyai nama cukup terkenal di dunia persilatan telah melayang. Semua kejadian itu tersmat singkat. Kalau tidak melihat secara langsung, mustahil jika ada orang yang bakal percaya.


Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti begitu saja. Pada saat ketiga musuhnya masih melamun karena rasa kaget bercampur ngeri, pada saat itu pula pemuda itu memutuskan untuk memberikan serangan terakhir.


Pedang Naga dan Harimau menghilang. Tubuhnya sendiri seperti diselimuti oleh kabut tebal sehingga tiada seorangpun lawan yang mampu melihatnya.


Cahaya merah turun laksana hujan deras di tengah malam. Suara menggelegar dan suara bergemuruh seolah menyatu bersama cahaya tersebut.


Slebb!!!


Suara kematian berkumandang lagi. Darah segar mengucur deras dari satu tenggorokan lawannya. Pada saat pedang tercabut, saat itu juga korbannya ambruk ke tanah.


Tinggal dua musuh yang tersisa. Mereka pun saat ini sedang berada dalam rasa takut yang berlebih. Seumur hidupnya, baru sekarang mereka mengalami suatu kejadian yang begitu mengerikan seperti saat ini.


Keduanya ingin segera kabur atau bersembunyi di sebuah tempat yang paling aman agar bisa selamat dari amukan cahaya merah itu.


Namun sayangnya keadaan tidak mendukung mereka. Sebelum kakinya melangkah pergi dari sana, cahaya merah ibarat wakil Malaikat Maut itu telah datang menerjang.


Tubuh kedua tokoh tersebut mendadak terasa dingin. Sangat dingin, lebih dingin dari sikap dia kepadamu.


Darah menetes keluar dari tubuh keduanya. Mereka tidak merasakan sakit karena saking cepatnya cara Pendekar Tanpa Nama membunuh.


Akan tetapi detik selanjutnya mereka mulai merasakan perih yang tiada banding. Sebelum tokoh tersebut mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi, kedua tubuh orang itu mendadak limbung.


Dia jatuh terkapar dan tidak akan pernah bangun lagi.


Mati.

__ADS_1


__ADS_2