Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Jurus Pedang Kembar Menari di Udara


__ADS_3

Huang Mei Lan memasang wajah kesal. Bukannya menjadi sangar, wajah itu justru malah menjadi tampak sangat gemas. Sekelompok orang tersebut bukannya merasa takut, mereka justru malah merasa betah melihatnya.


Satu orang di antaranya langsung maju ke depan lalu menjura kepada Mei Lan. "Maaf nona, apakah ada yang perlu kami bantu?" tanyanya dengan sopan.


Suaranya mendadak lemah lembut. Wajah yang biasanya bengis juga sekarang malah terlihat sedikit ramah.


Padahal pada hari-hari biasa, mereka itu dikenal sebagai para pendekar kelas satu aliran sesat, pekerjaan mereka tentunya selalu membuat onar di berbagai tempat. Siapa sangka, saat bertemu dengan wanita yang sangat cantik, mereka justru malah terlihat seperti orang baik-baik. Sedikitpun tidak terlihat seperti orang jahat.


Apakah kecantikan bisa mengubah pribadi seseorang? Apakah sosok wajah yang cantik bisa melakukan hal apapun di dunia ini? Benarkah demikian?


"Aku hanya ingin bertanya kenapa kalian membicarakan Pendekar Tanpa Nama dan kenapa pula kalian ingin membunuhnya?" tanya Mei Lan dengan tegas tapi polos.


Sekelompok orang itu adalah orang-orang yang sudah berpengalaman. Mereka bisa membaca orang lain hanya dengan sekali pandang. Sekarang setelah mendengar ucapan amat polos tersebut, mereka menjadi tahu bahwa gadis itu ternyata masih hijau dalam dunia persilatan.


"Emm, begitu ya. Tentu saja kami membicarakan Pendekar Tanpa Nama. Sebab dia adalah seorang penjahat yang amat kejam. Dia selalu membunuh setiap orang yang ditemui, semua orang dunia persilatan mengincarnya dan ingin mencabut nyawanya karena alasan tersebut. Begitu juga dengan kami," jawab orang tersebut berniat mengelabui Mei Lan dengan kabar yang sangat berlawanan.


Cakra Buana yang pada saat itu sedang berdiri di pinggir sambil menyaksikan kejadian tersebut merasa geli. Namun dia sengaja belum bergerak karena ingin melihat tindakan apa yang akan dilakukan oleh Mei Lan.


"Omong kosong. Kau pikir aku tidak tahu siapa dia? Kau pikir aku tidak kenal dengannya? Asal kau tahu saja, dia adalah teman baikku …" teriak Huang Mei Lan, seketika amarahnya langsung membeludak.


Saat ucapannya selesai, gadis tersebut langsung melancarkan serangan pertamanya. Satu buah hantaman keras dilancarkan lewat tangan kanannya.


Wushh!!!


Terlambat sedikit saja, dada orang itu sudah pasti akan menjadi sasaran telak. Untungnya dia dapat bergerak lebih cepat sehingga hantaman telapak tangan yang dilancarkan oleh Huang Mei Lan hanya mengenai tempat kosong saja.


"Hehehe, ternyata kau mempunyai kelebihan juga. Kau berani menyerangku karena kekuatanmu sudah tinggi atau karena kau cucu Huang Pangcu?" ejek orang itu sambil tersenyum.


"Jangan sebut-sebut nama Kakekku. Ini urusanku, Kakekku tidak akan turut campur, jadi jangan sungkan. Kalau kau merasa mampu, lawan aku dengan kekuatanmu," tantang Huang Mei Lan.

__ADS_1


Orang itu tertawa. Suara tawanya sangat lantang dan terdengar menggelegar. Dari suara itu tersalur sebuah kekuatan yang disatukan dengan gelombang suara.


Dari suara itu saja sudah dapat ditebak bahwa orang tersebut mempunyai kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh.


"Bagus, ingin aku lihat sampai di mana kelihaianmu dalam memainkan senjata. Cabut pedangmu sekarang juga," tantang orang tersebut.


Dia segera mencabut sebatang golok agak panjang yang ada di pinggangnya. Mei Lan juga langsung mencabut pedang kembar yang disimpan di punggungnya. Pedang itu sangat antik, juga sangat cantik. Secantik pemiliknya.


Lima rekan orang itu mundur tujuh langkah ke belakang.


Sekarang yang ada di tengah tempat tersebut hanya Mei Lan dan seorang pria tadi. Mereka sudah berhadapan. Senjatanya masing-masing sudah digenggam dengan erat.


Keduanya telah bersiap. Mereka siap untuk melangsungkan pertarungan hebat antara pendekar pedang dan pendekar golok.


Wushh!!!


Cahaya golok berkelebat cepat. Orang tadi memberikan bacokan cepat yang mengarah ke pundak Mei Lan.


Benturan untuk yang pertama kalinya terjadi. Tubuh kedua pendekar itu bergetar. Lawan Mei Lan terdorong setengah langkah, orang itu merasakan dari mulai telapak tangan hingga ke pangkal lengannya terasa ngilu.


'Ternyata gadis ini memang bukan gadis sembarangan,' batin orang tersebut sambil menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya.


Baru saja selesai menyalurkan hawa murni, serangan lainnya sudah datang kembali. Dua batang pedang kembar milik Mei Lan meluncur bagaikan dua ekor naga yang menerjang mangsa.


Dua batang pedang itu meliuk-liuk sambil terus melayangkan serangan dahsyat. Jurus Pedang Kembar Menari di Udara keluar.


Pedang itu seperti gadis penari yang handal. Gerakannya semakin lama semakin cepat dan ulet. Orang yang menjadi lawan Mei Lan mulai kewalahan.


Serangannya tertahan karena ganasnya dua pedang kembar tersebut. Beberapa kali dia hampir kehilangan nyawa karena keganasan serangan gadis tersebut, untungnya dia masih dapat selamat.

__ADS_1


Namun seiring berjalannya waktu, dia tampak semakin terdesak hebat. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.


Wushh!!!


Tiba-tiba orang itu mengubah gaya serangan. Golok panjangnya di miringkan sambil melayangkan satu bacokan ke arah kepala. Kepalan tangan kirinya turun menghantam ke depan bersamaan dengan bacokan tersebut.


Crashh!!!


Belum sempat serangannya mengenai sasaran, salah satu pedang kembar milik Mei Lan telah lebih dulu bersarang di bagian iga orang tersebut.


Luka sayatan cukup dalam terlihat. Darah segar seketika merembes keluar cukup banyak. Orang itu menggigit lidahnya untuk menahan rasa perih yang mulai mendera.


Mei Lan merasa belum puas. Dia berniat untuk melancarkan serangan kembali, tapi sebelum itu, lima rekannya segera turun tangan membantu.


Lima batang kilatan cahaya perak tampak menyelimuti. Serangan ganas dari segala sisi datang seperti badai yang menggempur.


Cucu dari Huang Pangcu itu tersentak kaget, dia masih hijau dalam dunia persilatan, pengalaman bertarungnya juga masih sangat cetek, menyadari adanya serangan mendadak itu, dia menjadi bingung untuk beberapa saat.


Hampir saja tubuhnya menjadi korban senjata lawan. Untungnya tepat pada saat itu, dua buah cahaya merah tampak melesat dengan kecepatan diluar nalar.


Trangg!!!


Benturan senjata terjadi. Lima orang tersebut terpental empat langkah ke belakang. Hampir saja mereka jatuh tersungkur kalau tidak segera membetulkan posisinya.


Pendekar Tanpa Nama berikut Pedang Naga dan Harimau telah turun tangan ke medan pertarungan.


Hawa pembunuhan di sekitar tempat tersebut langsung terasa sangat pekat. Sepasang matanya menatap tajam kepada lima orang musuhnya.


Tangan kirinya masih memegangi pergelangan tangan Huang Mei Lan. Ternyata pada saat dia bergerak tadi, selain menahan semua serangan lawan, Cakra Buana juga menarik Mei Lan agar dia selamat dari ancaman kematian.

__ADS_1


Gadis itu masih tampak terkejut. Wajahnya sedikit pucat karena hampir saja kehilangan nyawa.


"Sekali lagi ada yang menyentuh gadis ini, aku jamin nyawa kalian akan melayang," tegas Cakra Buana dengan nada suara yang amat dingin.


__ADS_2