Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Empat Setan Pedang Kembar


__ADS_3

Plakk!!! Plakk!!!


Pergelangan tangan dua orang lawan Pendekar Tanpa Nama terkena hantaman tapaknya. Dua batang golok terlempar. Pemiliknya mundur empat langkah.


Tapi kali ini pemuda itu tidak memberikan kesempatan sedikitpun. Dia langsung melancarkan serangan yang mengarah ke bagian dadanya.


Bukk!!! Bukk!!!


Keduanya terlempar sepuluh langkah ke belakang. Masing-masing mulutnya menyemburkan darah segar. Mereka tewas saat itu juga.


Di sisinya, si Walet Putih juga sudah menyelesaikan pertarungannya. Orang yang menjadi lawannya tewas tanpa kepala. Pedang yang sangat tajam itu menebas kepala lawan seperti menebas batang pohon pisang.


Tujuh orang lawan lainnya termasuk si gendut, si krempeng dan si kekar merasa sangat terkejut. Mereka tidak pernah menyangka bahwa tiga orang rekannya mampu dibunuh dengan mudah oleh musuhnya. Bahkan dalam waktu yang terbilang sangat singkat.


Yang terlihat masih tenang hanyalah si Tubuh Pedang sendiri. Orang itu tidak menunjukkan perubahan sedikitpun. Dia masih sama seperti sebelumnya. Tetap dingin, tetap kaku dan tetap tanpa perasaan.


"Hebat, hebat. Ternyata nama besar si Walet Putih dan Pendekar Tanpa Nama bukanlah nama kosong. Sekarang aku baru percaya, sebuah kehormatan besar jika aku bisa mendapatkan pelajaran dari kalian berdua," kata si krempeng sambil memuji tulus.


Dia merasa sangat salut. Terlebih lagi kepada Cakra Buana. Di usianya yang masih terbilang muda, ternyata dia sudah mempunyai kemampuan setinggi itu.


Rasanya, di dunia persilatan Tionggoan ini, tidak ada pendekar muda yang seperti Pendekar Tanpa Nama. Andai saja pemuda itu sepaham dengannya, sudah pasti dia merasa sangat bangga sekali.


Sayangnya, pemuda itu tidak sepaham. Justru malah bersebrangan. Tetapi walaupun begitu, rasa hormat dan kagumnya tidak berkurang sedikitpun.


"Kau tidak perlu memuji kami seperti itu. Apapun dan bagaimanapun pujuanmu, kami tetap tidak akan terpengaruh," kata Walet Putih ketus.


Baik dirinya maupun Pendekar Tanpa Nama, keduanya sama sekali tidak mengindahkan kata-kata pujian si krempeng itu. Alasannya karena dia orang tersebut tahu tujuan di balik pujian itu sendiri.


Tujuan si krempeng memuji adalah agar si Walet Putih dan Pendekar Tanpa Nama merasa bangga dan terbuai sehingga membuat konsentrasi mereka pecah. Jika sampai tujuan tersebut tercapai, sudah pasti pihak lawan ajan sangat diuntungkan. Sedangkan dirinya akan menjadi pihak yang sangat dirugikan.


"Hehehe, kau selalu saja seperti itu kepadaku," kata si krempeng tanpa menghilangkan senyumannya.


"Kalau tidak seperti ini, harus bagaimana lagi? Menghadapi manusia semacam dirimu memang harus demikian agar tidak masuk ke dalam perangkap,"


Selama keduanya adu mulut, Cakra Buana hanya diam tanpa kata. Pemuda itu sedang mengawasi keadaan sekitar sambil memastikan apakah ada lawan lainnya atau tidak. Kalau tidak, hal itu sangat baik baginya. Tapi kalau masih ada, maka hal itu adalah hal buruk.


Sekuat apapun dirinya, jika harus terus-menerus bertarung, apalagi menghadapi musuh kelas atas, sudah pasti akan keteteran juga.

__ADS_1


Malam semakin kelam. Rembulan tertutup awan kelabu yang berjalan pelan. Angin berhembus lirih mengibarkan pakaian belasan pendekar yang hadir di sana.


Hawa dingin menusuk tulang. Bau harum bunga tercium bercampur bau amis darah para korban keganasan Pendekar Tanpa Nama dan si Walet Putih.


Wushh!!!


Tanpa berkata lebih dahulu, empat orang langsung menerjang ke depan ke arah Cakra Buana dan sahabatnya itu. Keempat pendekar yang menyerang ini mweupakans saudara kembar.


Wajahnya sama. Dandannya pun sama. Bahkan senjata yang dipakai juga sama.


Keempat saudara kembar itu memakai senjata berupa pedang panjang. Dalam dunia persilatan, orang-orang itu dikenal dengan julukan Empat Setan Pedang Kembar. Sepak terjang mereka mampu membuat nyali lawan ciut.


Mereka biasa bertarung secara bersamaan. Kerjasama yang bisa dilakukan olehnya benar-benar patut diacungi jempol. Selama pengembaraannya dalam dunia persilatan, belum pernah sekalipun mereka gagal dalam menjalankan tugas.


Lantas apakah sekarang mereka juga tidak akan gagal?


Wutt!!!


Dua orang si kembar menyerang Pendekar Tanpa Nama. Dua orang lagi juga menyerang si Walet Putih.


Walaupun mereka terpisah, tapi serangannya justru bergerak secara bersamaan. Empat batang golok itu berkelebat memecah kesunyian melancarkan tebasan dan tusukan yang berbahaya.


Hembusan angin melesat menyambar dua golok itu.


Trangg!!!


Benturan pertama terdengar sangat nyaring. Dua golok itu bergetar berikut juga pemiliknya. Si Walet Putih juga sama, tapi dia tidak tinggal diam. Orang tua itu melanjutkan serangannya.


Empat tebasan pedang yang dahsyat menyambar tiba. Gulungan anginnya sangat ganas dan tajam. Si Walet Putih melompat ke atas, pedsngnya berputar melancarkan berbagai macam serangan maut.


Posisi si kembar langsung terdesak. Mereka dipaksa mundur dan hanya mampu bertahan tanpa bisa membalas serangan lawan.


Pendekar Tanpa Nama sendiri tidak mau bermain-main lagi. Kedua tangannya langsung berkembang membentuk cakar seekor harimau.


"Harimau Marah Besar …"


Wushh!!!

__ADS_1


Jurus keenam dari 7 Jurus Naga dan Harimau sudah dikeluarkan. Jurus ini benar-benar dahsyat. Apalagi jika ditambah dengan tenaga dalam miliknya yang saat ini hampir mencapai kesempurnaan.


Kedua tangannya bergerak seperti seekor harimau yang sedang murka. Pemuda itu melancarkan belasan cakaran maut yang mengincar ke berbagai bagian tubuh kedua lawannya.


Meskipun dua batang pedang terus bersinar di bawah gelapnya malam, namun semua itu hanya percuma saja. Seganas apapun mereka melancarkan serangan, tetap saja semua itu hanya sia-sia belaka.


Sepak terjang Pendekar Tanpa Nama membuat mata lawannya terbelalak hebat. Dengan kecepatan tinggi, dengan kekuatan dahsyat, dia mampu menguasai jalannya pertarungan walaupun baru berjalan belasan jurus.


Plakk!!! Plakk!!!


Dua kali punggung telapak tangannya menghantam tubuh lawan. Mereka terpental lima langkah ke belakang. Golok di tangannya bergetar keras. Jika keduanya pendekar kelas menengah, sudah pasti golok itu akan terlempar jau. Untunya mereka bukanlah lawan yang ringan.


Trangg!!!


Tidak berapa lama setelah Cakra Buana mementalkan lawannya, si Walet Putih juga melakukan hal yang sama. Pedang yang sangat tajam itu berhasil menangkis dua serangan golok sekaligus.


Dua pertarungan kelas atas berhenti untuk beberapa saat. Pihak lawan merasa terkejut setengah mati ketika mereka sudah menyadari bahwa kemenangannya sangat tipis.


Si Walet Putih sepertinya sudah tidak sabar lagi. Secara tiba-tiba dia menerjang kembali dengan kekuatan penuh. Pedangnya bergetar dan menimbulkan suara mendengung.


Serangan yang dilancarkan kali ini jauh lebih hebat dan lebih berbahaya. Hanya dalam sekejap mata, orang tua itu sudah tiba di hadapan lawannya.


Dua tusukan maut mengarah ke leher. Gerakan tersebut dilakukan dengan sangat-sangat cepat.


Si kembar yang menjadi lawannya tersentak. Keduanya segera mengangkat golok secara bersamaan.


Trangg!!!


Bukk!!! Bukk!!!


Si Walet Putih melepaskan dua kali tendangan yang mengarah telak ke wajah lawan. Wajah keduanya menjadi sasaran telak, mereka terpelanting jatuh tersungkur.


###


Btw, di novel ini bakal sesuai deskripsi sebelumnya ya. Yaitu menceritakan kisah Cakra Buana di Tionggoan. Dia sedang menjalankan tugas dari gurunya sambil berpetualang. Jadi wajar kalau lama, isinya sama saja. Hanya beda tempat.


Nanti pasti bakal kembali ke Tanah Pasundan. Semoga saja tidak bosan ya, karena kisahnya akan terus berlanjut mhehe.

__ADS_1


Ini sudah menjadi konsep sejak awal.


See you kakang dan nyai …


__ADS_2