Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

"Sekarang aku paham," kata Pendekar Tanpa Nama sambil menghela nafas berat.


"Paham tentang apa?"


"Paham bahwa ternyata kau adalah musuh di dalam selimut. Kau berpura-pura ingin minum arak denganku agar bisa lebih mudah untuk memancingku masuk ke dalam perangkapmu. Lalu kau pura-pura tahu bahwa aku sedang mencari seseorang, kemudian kau bertanya siapakah orang itu supaya aku tidak curiga terhadapmu. Padahal sejatinya kau sudah tahu sejak awal. Dan lebih tepatnya lagi, semua ini memang telah diatur sedemikian rupa oleh dirimu," ucap Cakra Buana mengemukakan analisanya.


Si Tangan Berbisa manggut-manggut. Tujuan dia sebenarnya memang seperti yang baru saja disebutkan. Orang tua itu sengaja memancing Pendekar Tanpa Nama agar dia mau masuk ke dalam perangkapnya.


"Apa yang kau katakan barusan memang semuanya benar. Tujuan utamaku adalah memancing dirimu agar masuk kemari. Tapi aku sungguh tidak menyangka kalau semuanya bakal berjalan dengan lancar. Sedikitpun tidak ada kendala,"


"Aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa masuk ke dalam perangkapmu. Entah karena aku yang bodoh, atau juga karena memang kau yang terlalu pintar,"


"Kau salah. Justru aku sangat kagum kepadamu karena sebenarnya kau adalah pemuda yang cerdas. Hanya saja karena sedang dalam keadaan kalut, maka kau tidak bisa konsentrasi penuh sehingga dirimu bisa terjebak begitu mudahnya,"


Tak dapat dipungkiri lagi, seseorang yang sedang dalam keadaan kalut jiwanya, apalagi jika sedang memendam amarah besar, pasti dia bakal mudah dipancing.


Sebab dirinya bakal kacau. Konsentrasi buyar. Malah bukan hal mustahil kalau orang itu kehilangan ketelitiannya.


"Mungkin saja. Alasan yang masuk di akal,"


"Sekarang kau sudah terkepung rapat,"


"Aku tahu,"


"Mungkin malam ini adalah malam terakhirmu untuk melihat dunia,"


"Hal itu belum tentu. Mati hidupnya manusia bukan ditentukan oleh dirinya,"


"Sekarang bukan saatnya untuk ceramah,"


"Aku bukan ceramah. Aku hanya bicara ala adanya saja,"


"Sudahlah," kata si Tangan Berbisa sambil mengibaskan tangannya. "Sekarang pilih saja, serahkan pedang yang ada di punggungmu lalu kau mengundurkan diri dari dunia persilatan. Atau milih menyerahkan nyawa."


"Dua-duanya tidak ada yang mau aku pilih,"


"Tapi kau tetap harus memilih,"


"Tapi akus sendiri tetap tidak mau memilih," jawab Pendekar Tanpa Nama tidak mau kalah.

__ADS_1


"Hahaha, bagus, bagus. Aku suka orang yang keras kepala seperti dirimu. Biasanya, orang sepertimu itu adalah orang yang bakal cepat mampus,"


"Benarkah? Tapi aku tidak percaya,"


"Sekarang memang belum. Tapi sebentar lagi mungkin kau baru akan percaya,"


Setelah selesai berkata demikian, si Tangan Berbisa langsung memberikan aba-aba kepada sepuluh orang tokoh persilatan yang sudah ada di ruangan itu.


Hanya dengan gerakan tangan sederhana, lima orang tokoh tersebut segera menyerang dengan jurusnya masing-masing.


Dua batang keris dan tiga batang pedang telah dicabut dari sarungnya masing-masing. Kilatan berbagai macam warna segera menyelimuti ruangan itu.


Lima orang pendekar kelas satu sudah menerjang ke depan. Suara mendesing terasa menyayat telinga. Desiran angin tajam yang dihasilkan karena saking cepatnya semua serangan itu terasa merobek kulit.


Pendekar Tanpa Nama mengeluh dalam hatinya. Baru saja beberapa saat lalu dia telah melewati pertarungan hebat, sekarang malah harus menghadapi pertarungan yang lebih hebat lagi.


Kalau saja dia tidak mendapatkan khasiat dari Ginseng Seribu Tahun, mungkin sudah sejak tadi dirinya mampus.


Tapi sayangnya takdir telah berkata lain. Sepertinya dia diharuskan seperti itu karena memang garis hidupnya harus menghadapi berbagai macam pertempuran dahsyat. Melenyapkan manusia berhati iblis. Dan menumpas keangkaramurkaan yang telah merebak di seluruh negerinya.


Sringg!!!


Dua batang keris menusuk dari arah depan. Dua senjata itu mengarah ke bagian perut dan paha sebelah kanan.


Dari sisi kanan dan kirinya, dua batang pedang tajam yang mampu menembus sebuah batu besar juga sudah tiba. Tebasan maut telah dilayangkan dalam waktu yang bersamaan.


Dari arah belakangnya ada satu pedang yang menusuk pula.


Kecepatan lima serangan itu sukar untuk dijelaskan. Namun yang pasti, semuanya adalah serangan kelas atas. Jurus yang terkandung di dalamnya juga jurus-jurus tingkat tinggi.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Nama bergerak lebih dulu. Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk kembali dikeluarkan untuk yang kedua kalinya.


Sebenarnya dia sendiri kadang suka enggan mengeluarkan jurus itu. Alasannya karena setiap lawan yang dihadapi dengan jurus tersebut, bisa dipastikan kalau dia bakal mampus.


Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang di bawah jurus maha digdaya tersebut. Entah sudah berapa banyak pula orang-orang yang dibuat cacat seumur hidup oleh jurus itu.


Tapi mau bagaimana lagi?

__ADS_1


Dalam keadaaan seperti sekarang ini, yang paling cocok memang hanya Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Tubuh Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba berputar sangat cepat. Semua serangan lawan yang sebentar lagi bakal mengenai tubuhnya, sekarang semuanya telah terpental bersama pemiliknya masing-masing.


Tapi sayang sekali, lawannya yang sekarang memang hebat. Selain itu, pengalaman bertempurnya juga pasti sangat banyak.


Terbukti sekarang, begitu tubuhnya terdorong mundur, mereka langsung melompat lalu berjumpalitan di udara untuk meringankan tenaga dari benturan senjata tersebut.


Wushh!!! Wushh!!!


Setelah mendapatkan posisi, lima orang tokoh itu langsung menerjang kembali.


Hawa kematian bertambah pekat. ***** ingin membunuh terasa amat kental.


Enam orang itu mengeluarkan ***** membunuhnya masing-masing. Udara terasa sesak. Ruangan pun terasa bergetar ringan.


Wutt!!! Trangg!!!


Cahaya merah melesat secepat cahaya. Hanya sekali bergerak, tahu-tahu dua batang keris telah terbabat kutung menjadi dua bagian. Kutungan kerisnya terlempar jauh. Saking dahsyatnya serangan Pendekar Tanpa Nama barusan, sampai-sampai kutungan pusaka itu melesak masuk ke dalam dinding.


Dua orang pemegang keris itu sama terbengong menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Mereka masih tidak percaya kalau pusaka andalannya sanggup dipatahkan oleh lawan hanya dengan satu kali serangan.


Wajah mereka pucat pasi. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.


Sementara itu, secara tiba-tiba tiga orang yang memegang pedang tadi sudah ikut turun ke arena pertempuran.


Tiga cahaya putih keperakan berkilat di depan mata Pendekar Tanpa Nama.


Gempuran susulan telah tiba. Semua serangan yang terlihat kali ini sungguh jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.


Tapi sebahaya apapun serangan itu, tetap saja tidak bisa melebihi bahayanya Pendekar Tanpa Nama dan pedangnya, Pedang Naga dan Harimau.


Wutt!!!


Cakra Buana menyongsong semua serangan tersebut. Pedang pusaka di tangannya dibenturkan dengan senjata milik lawan.


Dentingan nyaring kembali terdengar menggema di ruangan itu. Semua senjata lawan mengalami nasib serupa dengan yang lainnya.

__ADS_1


Bedanya, kalau tadi Pendekar Tanpa Nama langsung diam begitu melihat senjata musuhnya kutung, maka sekarang dia masih tetap melanjutkan serangannya.


__ADS_2