
Semua anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam dan anggota Kay Pang Hek menganggukan kepalanya. Mereka merasa sangat setuju dengan perkataan sang pemimpin.
Para tokoh di pihak Cakra Buana sedikit tercengang. Mereka diam-diam memuji keberanian Oh Kay Tin yang bicara tegas di hadapan Huang Pangcu.
Padahal siapapun tahu bahwa orang tua itu adalah Pangcu Kay Pang Pek. Pula, dia merupakan salah satu datuk dari empat penjuru dunia persilatan. Menurut berita tersiar, Huang Pangcu menduduki posisi kedua terkuat, meskipun memang kekuatan datuk lainnya tidak berbeda jauh darinya.
Huang Pangcu sendiri sama seperti yang lain. Dia sedikit terkejut. Namun dalam hatinya dia merasa kagum atas tanggungjawabnya selaku pemimpin sebuah organisasi besar.
Sayangnya, dia berada di jalan yang salah.
"Bagus. Aku kagum atas keberanianmu. Sekarang katakan apa maumu?"
"Aku ingin bertarung dengan Pendekar Tanpa Nama. Pertarungan yang adil dan disaksikan oleh Huang Pangcu serta tokoh-tokoh besar lainnya yang hadir di sini,"
"Aku juga," tiga pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam maju ke depan.
"Aku pun begitu," kata ketua cabang Kay Pang Hek ikut melangkah.
Keadaan bertambah tegang lagi. Walaupun mereka bukan tokoh ternama, namun siapapun tidak meragukan kemampuannya. Apalagi Oh Kay Tin, dia bisa disejajarkan dengan tokoh kelas satu. Sebab dirinya adalah pemimpin pertama dalam organisasinya.
Suasana hening kembali. Huang Pangcu memandangi lima orang yang kini ada di hadapannya tanpa berkedip. Tatapan mata yang tajam. seakan-akan tatapan tersebut mampu menghancurkan batu besar hanya karena tatapannya.
"Kami juga, beberapa waktu lalu sahabat kami hampir tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama. Malam ini, kami ingin membereskan dendam tersebut," kata si Tosu Angin Badai.
Yang dimaksud sahabatnya tentu si Tosu Tangan Geledek. Dia memang hampir tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama jika tidak mempunyai tenaga dalam tinggi. Beruntung bahwa dirinya sudah masuk dalam jajaran tokoh kelas atas.
"Kau tidak berbohong?" tanya Huang Pangcu dengan tatapan mata yang sangat tajam sambil menyelidik.
"Aku rasa Huang Pangcu tahu bahwa kami tidak pernah berbohong," jawab si Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur.
Huang Pangcu hanya bisa menghela nafas. Dia memang sudah tahu bahwa Tiga Tosu Sesat tidak suka berbohong, meskipun benar bahwa mereka tokoh sesat.
"Baiklah,"
Sementara itu, Cakra Buana sudah menduga bahwa hal seperti ini pasti akan terjadi. Masalah sudah melebar, semua orang yang mempunyai dendam dengannya sudah berkumpul. Sudah pasti pertarungan sengit tidak bisa terhindarkan lagi.
__ADS_1
"Bagaimana Cakra?" tanya Huang Pangcu sambil melirik ke arah Cakra Buana.
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Dia pun turut melangkahkan kakinya sehingga jarak dengan calon musuhnya hanya tersisa sekitar dua tombak.
"Baik, aku terima tantangan mereka," jawab Cakra Buana mantap.
"Kau yakin mampu menghadapi mereka semua?"
"Sangat yakin. Hanya saja, mungkin membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit," jawab Cakra Buana sambil tersenyum getir.
Seumur hidupnya, Cakra Buana tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak dia yakini. Namun saat dia merasa sangat yakin, apapun akan dia lakukan.
"Ehh, tunggu sebentar Pangcu," ucap Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya lalu menghampiri mereka.
"Apakah ada yang ingin dibicarakan oleh saudara?" tanya Huang Pangcu.
Si Buta Yang Tahu Segalanya hanya tersenyum. Senyuman yang lembut. Senyuman yang hangat. Sama seperti senyuman yang selalu dia berikan kepada Cakra Buana sebelum-sebelumnya.
"Aku ingin menantang lima pemimpin itu. Sedangkan sahabatku, biarkan dia melawan Tiga Tosu Sesat," kata Li Guan.
"Ini masalahku. Lebih baik kau melihat saja pertarunganku. Aku akan memberikan pertunjukan menarik untukmu," ujar Cakra Buana sambil menepuk pundaknya.
Li Guan juga tersenyum, kemudian dia menjawab, "Kau masih menganggapku sahabat?"
"Tentu saja. Tidak ada yang bisa memisahkan kita,"
"Karena alasan itulah aku ingin melawan mereka. Karena kau masih menganggapku sahabat, maka aku tidak akan membiarkanmu menghadapi masalah sendirian. Seorang sahabat sejati, siapapun orangnya, pasti tidak ingin melihat sahabaynya memikul masalah sendiri. Masalahku masalahmu, masalahmu masalahku. Kau harus ingat, bahwa kita sahabat," kata si Buta Yang Tahu Segalanya sambil balas menepuk pundak Pendekar Tanpa Nama.
Cakra Buana dibuat tertegun. Entah apa yang harus dia katakan kepada orang yang kini di hadapannya ini. Walaupun mulutnya tidak bicara, tapi tatapan matanya sudah menjelaskan semuanya.
"Tapi kau bilang sendiri tidak mengerti ilmu silat,"
"Seorang sahabat harus percaya kepada sahabatnya sendiri,"
Cakra Buana terbungkam kembali. Untuk beberapa saat dia hanya mampu menatapnya dengan tatapan hangat.
__ADS_1
"Baiklah. Terimakasih, sahabat,"
Li Guan mengangguk. Kemudian dia berpaling ke arah lima pemimpin.
"Aku adalah sahabat dari Pendekar Tanpa Nama. Kalian tadi menantangnya, sayang, dia juga mendapatkan lawan tangguh. Karena itulah, aku akan mewakilinya untuk bertarung melawan kalian," ujar Li Guan penuh percaya diri.
Lima pemimpin tersebut saling pandang satu sama lain. Siapa si buta ini? Sebegitu yakinkah dia kepada dirinya sendiri? Dia pikir, dia siapa?
Hati meraka masing-masing mengejek dan merendahkan si Buta Yang Tahu Segalanya. Tentu saja, memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang yang buta?
"Kau yakin?"
"Aku selalu yakin atas apa yang aku bicarakan,"
"Bagus. Aku rasa semua yang hadir di sini sudah mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya sendiri. Bukan kami yang menantangnya, tetapi dia sendiri. Jadi jangan anggap kami yang tidak tahu malu," kata Oh Kay Tin berseru lantang kepada semua orang.
Dia sengaja melakukannya. Sebab bagaimana juga, Oh Kay Tin enggan kehilangan nama baiknya.
"Semua orang sudah pasti mendengarnya. Kau jangan khawatir. Pertarungan ini akan dilangsungkan dengan adil. Siapapun tidak boleh membantunya," ujar Huang Yang Qing.
Mereka yang bersangkutan menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Tua bangka. Kau jaga pihakmu jangan sampai turun tangan. Sekali ada yang berani berbuat curang, aku pastikan kepalanya lepas," kata Huang Pangcu kepada si Iblis Tua Langit Bumit.
Sebagai salah satu datuk dunia persilatan, orang tua itu tahu sampai di mana kemampuan Huang Pangcu. Karena itulah sedari tadi dia tidak banyak bicara.
"Hahaha, kau tenang saja. Aku jamin semuanya akan berjalan seperti yang diharapkan," jawab Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi sambil tertawa.
"Bagus, aku tahu kau masih menjunjung tinggi peraturan yang ada. Biarlah angkatan muda ini memperlihatkan kemampuannya,"
Kini masing-masing sudah menghadapi lawannya. Pendekar Tanpa Nama akan bertarung melawan Tiga Tosu Sesat.
Sedangkan beberapa jarak di sebelahnya, di Buta Yang Tahu Segalanya akan bertarung bersama empat pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam dan seorang ketua cabang Kay Pang Hek.
Suasana mendadak lebih hening daripada sebelumnya. Para tokoh yang datang bersama Huang Pangcu sudah tidak sabar ingin melihat sampai di mana kemampuan pemuda bernama Cakra Buana atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Tanpa Nama tersebut.
__ADS_1
Terlebih lagi sahabatnya, Li Guan. Apakah orang buta itu mempunyai kemampuan juga?