
"Terimakasih," jawab seorang pria yang berada di pinggir si wanita berpakaian merah muda tersebut. Suaranya sama kereng seperti suara-suara sebelumnya.
Bedanya, suara yang barusan terdengar lebih tegas dan lebih berwibawa.
"Bisakah kalian perkenalkan diri?" tanya Tiang Bengcu dengan penuh sopan santun.
Semua tokoh pilih tanding yang ada di sekitarnya belum ada yang bicara. Mereka mengunci mulutnya masing-masing. Dalam keadaan seperti sekarang ini, sejatinya para tokoh pilih tanding tersebut tidak mau bertindak gegabah.
Lebih tepatnya mereka tidak akan berani bertindak sebelum ada perintah dari Tiang Bengcu.
"Kau tidak perlu tahu siapa nama kami sebenarnya. Yang jelas, setiap dari kami disebut sesuai dengan urutan. Aku Naga Terbang Pertama, ini kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam. Sedangkan yang di tengah ini adalah pemimpin kami. Beliau adalah Dewi Cantik Tujuh Nyawa," kata pria yang ternyata berjuluk Naga Terbang Pertama.
Semua orang dapat mendengar dengan jelas julukan dari orang-orang Organisasi Naga Terbang itu. Mereka mengingatnya baik-baik di dalam hati masing-masing. Sampai kapanpun, orang-orang tersebut tidak akan melupakan julukan mereka.
"Nama yang bagus," ucap Tiang Bengcu.
Nadanya bukan menyindir. Nada suara itu justru mengandung rasa kagum yang teramat mendalam.
"Jangan banyak bicara lagi. Bagaimana kalau kita langsungkan saja pertarungan ini?" si Naga Terbang Keempat sudah tidak sabar lagi.
Di antara tujuh orang tersebut, si Naga Terbang Keempat memang terhitung orang yang paling tidak sabaran dalam segala hal. Selain itu, diapun orang yang paling sombong dan angkuh.
Bahkan suara yang tadi berkumandang pun salah satunya adalah suara dia sendiri.
Perawakan orang ini agak tinggi, tapi sedikit kurus dengan wajah yang garang. Sepasang matanya seperti dua bilah pisau yang siap menembus jantung siapapun.
"Baik, baik. Aku akan segera memilihkan orang-orang yang bakal menjadi wakil dalam pertarungan nanti," kata Tiang Bengcu dengan tenang dan santai.
Setelah berkata demikian, Bengcu dunia persilatan itu segera membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati sahabat-sahabatnya.
Dalam hatinya, Tiang Bengcu sendiri merasa kebingungan memilih siapa saja yang menjadi wakil dalam pertarungan nanti. Perasaan bingung itu datang karena Bengcu tahu bahwa di antara para sahabatnya bisa saja timbul rasa iri hati.
__ADS_1
Hal tersebut bukanlah sebuah sesuatu yang mustahil, siapapun bisa merasa iri. Sifat dasar manusia biasanya memang seperti itu.
Apalagi kalau menyangkut hal seperti sekarang, menyangkut pertarungan hebat melawan musuh-musuh yang tangguh pula.
Semua orang yang hadir pasti ingin menjadi wakil dalam pertarungan nanti, alasannya bukan main adalah karena demi sebuah nama.
Dalam dunia persilatan, manusia mana yang tidak ingin mempunyai nama besar? Pendekar mana yang tidak ingin menjadikan dirinya terkenal serta dikenal banyak orang?
Siapapun pasti ingin mempunyai nama besar dengan cara tersingkat. Dan sekarang, kalau ada pendekar yang berhasil membunuh minimal satu orang saja di antara para anggota Organisasi Naga Terbang, sudah pasti nama pendekar tersebut bakal semakin tinggi lagi. Makin tinggi semakin bagus.
Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah semua pendekar bisa menjadi wakil? Dan yang menjadi wakil, apakah bisa mengalahkannya?
Siapapun mengerti bahwa sekarang adalah saat terbaik untuk mencari nama. Sayangnya, minimal untuk saat ini, semua orang paham akan diri sendiri dan mengerti akan keadaan yang amat genting. Oleh sebab itulah tiada seorangpun di antara mereka yang menawarkan diri untuk menjadi wakil melawan Organisasi Naga Terbang.
Bengcu ibarat Kaisar. Sudah pasti perkataannya tidak bisa dibantah, apalagi kalau sedang menghadapi hal serius seperti saat ini.
"Huang Pangcu, Tuan Poh Kuan Tao, Tuan Tian Hoa, Tuan Cio Hong, si Buta Yang Tahu Segalanya, aku sendiri, dan Pendekar Tanpa Nama," tegas Tiang Bengcu.
Bahkan sampai melebihi wibawa seorang datuk dunia persilatan.
Ming Tian Bao si Raja Racun Tiada Obat yang merupakan datuk dari Timur ternyata tidak terpilih.
Semua tokoh kelas atas bertanya-tanya dalam hati mereka masing-masing, kenapa Tiang Bengcu malah memilih Pendekar Tanpa Nama? Meskipun memang benar pemuda itu hebat, namun apakah betul melebihi hebatnya seorang datuk dunia persilatan? Benarkah kemampuan pemuda itu hampir setara dengan si Buta Yang Tahu Segalanya?
Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan dalam benak mereka masing-masing. Tapi siapapun tidak ada yang berani menanyakannya.
"Tuan Ming, aku harap kau dapat mengerti kenapa aku tidak memilihmu menjadi wakil," kata Tiang Bengcu kepada Ming Tian Bao. Dia berkata setelah jaraknya benar-benar dekat.
"Bengcu tidak perlu khawatir. Aku sadar akan diriku saat ini, bahkan aku berterimakasih karena Bengcu tidak memilihku. Luka yang aku derita memang kambuh kembali, untuk saat ini, kemampuanku jelas berkurang drastis," jawab si Raja Racun Tiada Obat dengan tenang.
Ternyata alasan Bengcu tidak memilih dia dikarenakan orang tua itu menderita sebuah luka dalam.
__ADS_1
Setiap tokoh yang menderita luka dalam, apalagi kalau luka itu sangat parah, pasti kemampuannya akan berkurang hingga lima puluh persen atau bahkan lebih. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan.
Oleh sebab itulah banyak terjadi kasus-kasus pembunuhan atau kasus-kasus terbunuhnya seorang pendekar pilih tanding dengan mudah. Alasan yang paling masuk akal adalah karena dia menderita luka dalam.
"Terimakasih kalau begitu," ucap sang Bengcu.
Ming Tian Bao hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia melirik kepada Pendekar Tanpa Nama kemudian segera berkata lewat ilmu mengirimkan suara lewat pikiran, "bocah keparat, kau ditunjuk menjadi wakilku. Jangan memperlakukan aku, kalau sampai hal itu terjadi, aku bisa menggunakan racun untuk membunuhmu," kata orang tua itu.
Meskipun ucapannya terdengar sadis, tapi sebenarnya nada suara itu justru sangat hangat. Ibarat kata seorang sahabat yang bicara kepada sahabatnya sendiri.
"Hahaha, kau tenang saja. Aku akan memperlihatkan kemampuanku yang sesungguhnya," jawab pemuda bertubuh tinggi kekar itu.
Tujuh orang tokoh yang dipilih menjadi wakil telah maju ke depan. Mereka telah mendapatkan lawannya masing-masing.
"Tuan, kau lawan wanita paling tengah," bisik Bengcu kepada Tian Hoa si Iblis Langit Bumi.
"Baik, aku mengerti," jawab kakek tua itu tanpa banyak bicara.
Kedua belah pihak saat ini sedang saling pandang. Di antara mereka belum ada yang berbicara. Semuanya membungkam mulut. Beberapa pasang mata itu saling tatap dengan tajam.
Tapi di lain sisi, ada dua pasang mata yang saling menatap dengan lembut.
"Bagaimana sistem pertarungan nanti?" tanya si Naga Terbang Kelima kepada Bengcu.
"Satu orang melawan satu. Setiap orang hanya boleh bertarung hingga lima puluh jurus. Kalau masih ada yang bertahan sampai sejauh itu, maka hasilnya akan dinilai seri dan pertarungan pun wajib dimulai kembali. Yang bakal bertarung di babak kedua adalah mereka yang memenangkan pertarungan pertama, " kata Tiang Bengcu menjelaskan.
"Setelah itu?"
"Setelah itu kita lanjutkan hingga ke wakil terakhir," jawab Tiang Bengcu.
"Baik, kami mengerti dan kami setuju,"
__ADS_1