
Gunung Tilu Dewa …
Gunung ini terletak di daerah Ciganjeng. Gunung Tilu Dewa dikenal semua orang sebagai salah satu gunung keramat yang ada di Tanah Pasundan.
Konon menurut cerita, entah sudah berapa banyak para tokoh dunia persilatan yang bertapa di gunung ini untuk berbagai macam maksud dan tujuan.
Sebagian dari mereka biasanya berasal dari berbagai daerah. Bahkan ada juga yang datang dari tempat jauh sengaja datang ke Gunung Tilu Dewa untuk bertapa atau menjalankan laku tirakat.
Mereka yang menjalankan tirakat, biasanya melakukan puasa pati genti, puasa mutih, atau bahkan bertapa selama empat puluh hari empat puluh malam.
Dulu pada zamannya, gunung ini menjadi tempat berkumpulnya puluhan bahkan mungkin ratusan pendekar dari berbagai penjuru hanya karena ingin mendapatkan Pedang Pusaka Dewa.
Entah sudah berapa banyak nyawa pendekar yang menjadi korban hanya demi sebuah benda pusaka yang konon katanya mengandung kekuatan ghaib luar biasa.
Sayang, tidak ada satupun dari orang-orang tersebut yang berhasil mendapatkannya sehingga suatu ketika ada seorang tokoh tua yang berhasil memiliki benda pusaka tersebut setelah melakukan tapa dan tirakat beberapa waktu.
Ialah Eyang Resi Patok Pati, guru dari Pendekar Maung Kulon atau yang saat ini lebih dikenal sebagai Pendekar Tanpa Nama.
Berita tentang didapatkannya benda pusaka Pedang Pusaka Dewa langsung tersebar secara cepat ke seluruh penjuru. Kembali puluhan pendekar berkumpul dan bertarung untuk mendapatkan pusaka itu.
Namun haislnya tetap sama seperti sebelumnya. Pedang pusaka tersebut gagal diperebutkan sehingga tetap menjadi milik Eyang Resi Patok Pati hingga akhirnya diwariskan kepada murid tunggalnya, Cakra Buana.
Tetapi pedang itu pun kini telah berada di tangan seorang tokoh sesat yang kesaktiannya jarang ada tandikan. Dia menjuluki dirinya sebagai Penguasa Kegelapan.
Setelah melakukan perjalanan beberapa saat, akhirnya Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap tiba juga di Gunung Tilu Dewa. Keduanya tiba di sana saat malam hari.
Suasana sepi sunyi. Yang ada hanyalah desiran angin malam, udara yang sejuk serta suara binatang di kedalaman hutan.
Bintang gemerlap dengan indah. Cahaya rembulan bersinar menerangi jagat raya.
Kedua pasangan muda-mudi itu berjalan ringan sehingga sampai di satu goa.
Goa tersebut tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Paling-paling hanya berukuran 3×2 meter saja. Keadaan di dalam goa sudah sangat kotor. Jelas, sudah lama sekali tidak ada orang yang datang ke goa tersebut.
Di ujung goa sebelah kanan terdapat satu kolam kecil. Tidak terlalu dalam, paling hanya sebatas dada. Airnya jernih berwarna biru menebarkan aroma harum.
Di pinggir kolam tersebut ada sebuah batu sebesar meja. Mungkin batu tempat orang yang biasa bertapa. Setidaknya itulah dugaan Cakra Buana.
Di dekatnya ada juga batu hitam agak panjang dan halus.
Keduanya segera masuk ke sana. Membereskan semua yang berserakan. Setelah pekerjaan selesai, Cakra Buana dan kekasihnya duduk di batu hitam yang panjang.
"Sinta, bagaimana kau bisa tahu bahwa di sini ada goa senyaman ini?" tanya Cakra Buana penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu, sebab guruku pernah bertapa di sini untuk menyempurnakan ilmunya. Sebelum dia meninggal, guru menyuruhku juga untuk menyempurnakan ilmu di goa ini," jawab Bidadari Tak Bersayap.
"Pantas saja kau seperti sangat hapal. Berapa lama kau akan di sini?"
"Selama kau belum menjemputku, selama itu pula alu akan berada di sini," jawabnya manja.
Kepalanya langsung bersandar di dada bidang Pendekar Tanpa Nama. Keduanya berada dalam posisi berbaring.
"Kalau aku tidak menjemputmu selamanya?"
"Maka aku akan berdiam di sini selamanha sampai Sang Hyang Widhi memanggilku,"
"Kau tenang saja Sinta, aku hanya bercanda. Sepulang dari sana, aku akan langsung menjemputmu kemari,"
"Kau janji?"
"Tentu,"
"Berapa lama kau di sana?"
"Paling lama mungkin satu tahun di sana. Namun aku harus belajar juga bahasa mereka di Kotaraja Tanah Jawa selama beberapa bulan,"
"Baiklah. Aku akan sabar menunggu. Tapi Kakang, aku merasa bahwa di sana kau akan menemukan wanita lain lagi,"
"Sungguh, hatiku berkata demikian. Dan kalau firasatku benar, aku tidak akan mempermasalahkannya, selama kau dapat berlaku adil. Karena menurut cerita guru, kadang pria itu tidak cukup hanya satu wanita,"
Cakra Buana terdiam sesaat. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Kalau aku mempunyai istri lagi, kau benar tidak akan marah?"
"Tentu saja. Asalkan kau dapat memperlakukan aku sebaik mungkin," jawabnya sambil tersenyum. Tak ada raut wajah kekesalan, tak ada tanda dia berpura-pura.
Semuanya diucapkan dengan tulus dari hati terdalam.
"Sudahlah, jangan membicarakan hal belum pasti akan terjadi. Sebisa mungkin aku tidak mau mencari wanita lain,"
"Benarkah? Kalau wanita itu selalu mengejarmu dan ditakdirkan hidup denganmu, bagaimana?"
"Mau bagaimana lagi? Sikat!!"
"Ishh kau ini," kata Bidadari Tak Bersayap sambil mencubit hidung Cakra Buana.
"Ehh, kau sudah berani ya," kata Pendekar Tanpa Nama lalu memukul bokong kekasihnya.
__ADS_1
Keduanya terus bercanda gembira. Mereka menghabiskan waktu terakhir sebelum berpisah jauh untuk sementara.
Hari semakin malam. Udara semakin dingin. Mereka masih bercanda hingga akhirnya terbuai dalam kehangatan cinta.
Cakra Buana memeluk kekasihnya penuh kasih sayang. Dia membelai rambutnya. Mersba setiap lekuk tubuhnya yang indah dan menggiurkan itu. Bidadari Tak Bersayap hanya bisa pasrah sambil melayani kelihaian sang kekasih.
Sesekali Bidadari Tak Bersayap mendesah karena perlakuan Cakra Buana. Semakin lama, nafasnya semakin memburu dan tidak teratur.
"Kakang, kau nakal sekali,"
"Ssttt, sebelum kita berpisah, ada baiknya untuk melakukan kewajiban pokok," jawabnya menggoda.
Permainan mereka semakin ganas. Keringat telah membasahi gadis maha cantik itu, padahal keduanya belum melakukan apa-apa.
Hanya sekedar pemanasan untuk beberapa saat.
"Kakang, ayo," rengek Bidadari Tak Bersayap.
Mereka segera lari ke permainan inti. Malam yang dingin, rembulan yang terang.
Sepasang kekasih sedang menikmati permainan cinta mereka dengan perasaan bahagia. Keluhan kenikmatan sering kali keluar dari mulut si wanita yang begitu menggoda.
Cakra Buana memperlakukannya selembut dan senyaman mungkin. Mereka terus menyelami samudera cinta hingga keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Pendekar Tanpa Nama telah membawa dua ekor kelinci yang sudah dibakar. Bidadari TakBersayap baru bangun dari tidurnya.
Sepertinya dia sangat menikmati adegan semalam sehingga tidurnya nyenyak sekali.
"Kau sudah bangun?"
"Sudah,"
"Kemarilah. Aku membawa dua kelinci bakar," kata Cakra Buana.
Mereka makan bersama. Terkadang saling menyuapi satu sama lainnya.
Terkadang hal-hal kecil saja sudah bisa mendatangkan perasaan bahagia. Sayangnya masih ada manusia yang tidak menyadari hal tersebut.
Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak bersayap terus melewati waktu dengan canda tawa. Dengan riang gembira.
Mereka amat menikmati detik-detik sebelum datangnya perpisahan itu.
Sehingga pada akhirnya, waktu untuk berpisah telah tiba.
__ADS_1