
Cakra Buana telah tiba di hadapan restoran di mana Liu Bing tadi sedang makan. Dia langsung masuk ke dalam dan melihat gadis itu sedang duduk bersandar kepada kursinya.
Tangan kanannya mengusap-usap perut. Sepertinya dia sedang kekenyangan.
Dan memang benar, saat itu Liu Bing merasa kenyang sekali. Delapan jenis makanan dalam porsi besar, habis dilahap sendirian olehnya.
Cakra Buana sampai terbengong dibuatnya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali.
"Kau benar-benar menghabiskan semua makanan ini?" tanya Cakra Buana secara tiba-tiba.
Liu Bing terkejut, dia langsung menengok ke arah suara. Di lihatnya pemuda itu sedang berdiri di samping kirinya sambil geleng-geleng kepala.
"Hehehe, semua makanan ini sangat enak sekali," jawabnya polos biadab.
"Kau masih mau makan lagi?" tanya Cakra Buana sambil tertawa.
"Tidak. Aku bukan gentong nasi," jawabnya.
Cakra Buana hanya tertegun saat mendengar jawaban gadis itu. 'Bukan gentong nasi? Menghabiskan delapan porsi besar bukan disebut gentong nasi?' batin Cakra Buana mengulang-ulang pertanyaan tersebut sambil menahan rasa ingin tertawanya
"Baiklah. Kau sudah kenyang bukan?" tanya Cakra Buana sambil menukar guci arak karena yang sebelumnya sudah habis.
Namun Liu Bing sama sekali tidak menjawabnya. Beberapa kali Cakra Buana bicara, masih tidak ada jawaban. Begitu menengok, terlihat gadis itu sudah tidur karena terlalu kenyang.
"Benar-benar gadis yang lain dari pada gadis lain," gumam Cakra Buana sambil tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.
Cakra Buana sengaja tidak membangunkan Liu Bing. Dia langsung ke kasir untuk membayar biaya makannya.
"Berapa biaya makanku?" tanyanya.
"Satu keping emas delapan puluh perak Tuan muda,"
"Baiklah, ini ambil semua," kata Cakra Buana sambil memberikan dua keping perak.
Dia sendiri cukup kaget saat mendengar biaya makannya. Tapi uang dia banyak, maka harga segitu bukan masalah baginya.
Cakra Buana kemudian menghampiri Liu Bing. Dia menggendong gadis itu lalu pergi dari sana. Tujuan selanjutnya adalah mencarikan guru untuk Liu Bing.
Pemuda itu tahu bahwa di sini ada cabang markas Kay Pang Pek. Dan sekarang, dia sedang menuju ke sana.
Pemuda itu melesat ke tengah pasar sambil mencari markas cabang. Walaupun di punggungnya ada seorang gadis, tapi hal itu sama sekali tidak mengganggu pergerakannya. Tangan kanannya selalu memegang guci arak. Kadang sesekali meneguknya.
Di markas cabang Kay Pang Pek yang akan dituju oleh Cakra Buana, ada Huang Pangcu yang sedang bicara empat mata dengan Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Sebelumnya orang tua itu memang ingin mengajak Li Guan untuk bicara empat mata. Setalah kemarin ada kesempatan bersama, tentu saja sekarang dia tidak akan menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Keduanya berada di ruangan khusus. Di depannya ada seguci arak dan dua cawan. Arak yang tersedia di dalam guci adalah arak terbaik yang sangat harum. Itulah Arak Hijau Muda. Waktu kemarin terperangkap dalam kobaran api, sudah disebutkan bahwa mereka sempat mencari arak lebih dulu. Kebetulan sampai sekarang masih tersisa beberapa guci.
"Jadi, siapakah kau sebenarnya? Kenapa aku melihat semua jurus yang kau gunakan itu sangat mirip dengan sahabatku?" tanya Huang Pangcu masih merasa penasaran kepada Li Guan.
"Maksudmu Li Sun Tiong si Pendekar Tanpa Nama?"
"Tentu saja. Kalau bukan dia, siapa lagi sahabatku yang mempunyai jurus seperti itu?"
"Ternyata Pangcu mempunyai mata yang sangat tajam," puji Li Guan.
"Walaupun usiaku sudah tua, tapi mataku belum lamur benar,"
Li Guan tidak menjawab. Dia hanya tertawa terbahak-bahak lalu meneguk guci arak.
"Kau ingin tahu siapa aku?"
"Benar,"
"Kalau aku tidak mau memberitahumu, bagaimana?"
"Tidak mungkin. Aku rasa kau bukan orang yang suka membuat sahabatnya penasaran,"
"Baiklah. Aku mengaku kalah. Tapi kau jangan terkejut jika aku memberitahu siapa aku sebenarnya,"
"Tentu,"
"Apa?" mata Huang Pangcu terbelalak.
Dia sama sekali tidak pernah menyangka akan hal ini.
"Kau tidak percaya? Kau tahu bahwa Kakek buyut Li pernah menikah dan mempunyai satu orang putera?"
"Lanjutkan,"
"Dari satu orang putera itu, dia menikah dan mempunyai anak. Yaitu ayahku, setelah itu lahirlah aku. Singkatnya, berarti aku generasi ketiga bukan?"
"Tapi kenapa aku sama sekali tidak pernah mendengar namamu sebelumnya?"
"Tentu saja, karena aku hanya berdiam di Perkampungan Tanpa Nama. Perkampungan keluarga besarku yang sudah diwariskan secara turun temurun,"
"Pantas saja. Tapi kenapa kau mempunyai semua jurus rahasia milik sahabatku?"
"Karena setiap anak laki-laki sudah pasti akan mendapatkannya untuk menjaga harga diri Keluarga Li,"
"Kalau begitu, kenapa kau bisa mengembara dan justru malah menjadi sahabat Cakra Buana?"
__ADS_1
"Karena tugasku untuk menjaga dan melindunginya,"
"Kenapa?"
"Karena dia pewaris langsung dari Pendekar Tanpa Nama. Semua jurusnya yang masih tersisa hingga hari ini, adalah warisan dari Kakek buyutku,"
"Maksudmu dia juga menguasai Tujuh Jurus Naga dan Harimau dan Tiga Jurus Pedang Kilat?"
"Benar. Apakah kau tidak menyadarinya selama ini?" tanya Li Guan.
"Aku menyadarinya. Hanya saja belum terpikirkan bahwa dia pewaris langsung,"
"Kau tahu pedang yang selalu dia bawa?"
"Itukah wujud Pedang Naga dan Harimau yang dulu menggetarkan dunia persilatan Tionggoan? Pedang yang katanya wujud dari Dewa Harimau?"
"Tepat. Itulah pedangnya,"
Huang Pangcu semakin tertegun dibuatnya. Sudah pasti dia percaya akan cerita Li Guan, hanya saja dia tidak pernah menyangka bahwa Cakra Buana adalah pewaris langsung dari tokoh nomor satu pada zamannya itu.
"Jadi, siapa yang sebenarnya menyuruhmu untuk menjaganya?"
"Kakek buyutku datang langsung dalam mimpiku. Dia memberikan perintah kepadaku untuk selalu menjaganya selama menjalankan tugas yang dia berikan,"
"Maksudmu tugas mengantarkan kitab itu diberikan oleh sahabatku?"
"Tepat sekali,"
Untuk kesekian kalinya Huang Yang Qing dibuat tertegun. Ternyata dua muda mudi yang membuatnya terkagum-kagum itu, mempunyai latar belakang yang tidak biasa.
"Aihh, setelah usiaku tua, ternyata banyak hal terjadi di depan mata yang tidak dapat aku sadari semuanya. Padahal aku sebenarnya tahu," ujar Huang Yang Qing sedikit menyesal.
"Itu sudah lumrah Pangcu,"
Kakek tua itu hanya hisa mengangguk sambil menghela nafas. Sekarang dia paham dan tahu kenapa dua anak muda itu bisa mempunyai kekuatan yang mengerikan.
"Dia datang," kata Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Belum sempat Huang Pangcu menjawab, tiba-tiba saja seseorang masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Sudah kuduga bahwa kau akan kemari," kata Huang Pangcu.
"Tentu saja," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.
Dia duduk di bangku yang kosong. Tapi sebelum itu, dirinya membaringkan Liu Bing di bangku panjang yang tersedia di sana.
__ADS_1
"Anak gadis siapa yang kau curi?" tanya Li Guan.
"Anak gadis yang kekenyangan karena banyak makan," jawab Cakra Buana sambil tertawa.