
Restoran yang dipilih oleh Cakra Buana tidak besar. Tapi tidak bisa dibilang kecil juga. Dia membawa gadis itu ke tempat makan terdekat. Dan itulah tempat makan yanh pertama kali ditemukan.
Tempatnya di pojok sebuah pasar. Keadaan di sana lumayan ramai. Banyak para pengunjung yang sedang makan atau hanya sekedar minum bersama rekannya.
Sepertinya restoran ini mempunyai harga terjangkau. Terlihat bahwa para pengunjung ada juga dari kalangan orang-orang biasa. Seperti petani dan pedagang kecil.
Keduanya duduk di tengah-tengah.
"Kau boleh memesan makanan sesukamu," kata Caka Buana sambil tersenyum.
"Sungguh Tuan?"
"Emm …" pemuda itu menganggukkan kepalanya sekali.
Si gadis tampak gembira. Dia langsung memesan makanan yang enak. Bahkan makanan termahal di sana, dia pesan juga. Porsi makannya ternyata tidak sedikit. Cakra Buana sendiri merasa sedikit terkejut.
Tapi dia sama sekali tidak membuka mulutnya. Pemuda iti enggan mengganggu kebahagiaan orang lain. Seperti gadis di hadapannya kali ini.
Pelayan sendiri sampai menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetapi setelah melihat bahwa pemuda tampan itu melotot kepadanya, si pelayan langsung terdiam dan paham.
Dia segera mencatat semua makanan yang dipesan si gadis. Semuanya hampir berjumlah delapan menu makanan. Semua itu makanan terenak sekaligus termahal di restoran tersebut.
"Apakah Tuan juga mau arak? Kalau mau, biar aku pesan arak terenak sekalian," katanya kepada Cakra Buana. Seolah sia merasa bahwa dirinya yang akan membayar biaya makanan tersebut.
"Ehmm, boleh. Kalau bisa pesan arak yang termahal," jawab Cakra Buana sambil mengangguk.
"Wahh, ternyata Tuan pesannya juga ingin yang mahal. Baiklah," jawabnya polos biadab.
Si pelayan akhirnya kembali ke ruang kerja. Dia segera memberikan catatan kepada koki restoran.
__ADS_1
Sambil menunggu makanan tiba, Cakra Buana berbincang-bincang dengannya supaya lebih akrab lagi.
"Liu Bing, dari mana sebenarnya asalmu?"
"Aku dari desa kecil tak bernama,"
"Ke mana orang tuamu?"
Ditanya demikian, wajah Liu Bing tampak murung. Dia langsung cemberut dan menundukkan kepalanya. Cakra Buana tahu, di balik sikapnya tersebut, Liu Bing mempunyai sebuah beban yang sulit untuk diceritakan.
"Kalau tidak mau jawab, tidak papa,"
"Tidak mengapa Tuan,"
"Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja Cakra," potong Cakra Buana.
Saat dia menceritakan kisah singkatnya itu, suaranya sedikit serak dan kadang tersendat-sendat. Butiran air mata seperti ingin melompat keluar. Tetapi Liu Bing berusaha keras untuk menahannya. Dia tidak ingin terlihat lemah. Dia ingin dipandang sebagai seorang gadis yang kuat. Gadis yang tegar dalam menghadapi berbagai macam cobaan hidup.
Sekarang Cakra Buana paham. Paham keseluruhannya. Mengapa gadis itu memesan makanan banyak dan paling enak, mengapa dia terlihat sangat gembira sekali.
"Hahh …" Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam.
"Kau bersabarlah, kehidupan manusia memang tidak sama. Setiap orang pasti menjalani dan mempunyai kehidupan yang berbeda. Semua ini memang sudah ketetapan Tuhan. Selaku manusia, kita hanya bisa bersabar san menjalankan semuanya dengan lapang dada. Selalu berusaha, selalu berharap. Aku juga memiliki kisah sepertimu, tapi terdapat perbedaan pula,"
Walaupun Cakra Buana lahir dari keluarga kerajaan. Lahir berdarah biru, tetapi kisah hidupnya tidak kalah pilu dengan Liu Bing. Bahkan, pemuda itu tidak pernah melihat wajah ayah dan ibunya. Kemarin bertemu dengan ayahnya, tapi itu pun hanya di alam lain, itu juga setelah belasan tahun kemudian.
Cakra Buana sangat paham terhadap perasaan Liu Bing, karena dia juga pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup. Berbagai macam kesedihan dan kepedihan sudah dia lewati. Sehingga sedikit banyak, dirinya menjadi mengerti tentang perasaan orang lain. Terutama dengan mereka yang mempunyai cerita hidup hampir mirip dengannya.
"Baik Cakra, terimakasih. Aku paham, mungkin memang seperti ini jalan hidupku. Aku tidak menyalahkan thian (langit), aku hanya kesal terhadap diriku sendiri yang sama sekali tidak bisa apapun," keluh Liu Bing.
__ADS_1
"Kau mau belajar silat?"
"Tentu saja," jawabnya antusias. "Tapi, siapa yang mau menerimaku sebagai murid? Aku sudah mencoba beberapa kali, namun karena kurang biaya, tidak ada yang mau menerimaku,"
"Kau tenang saja. Setelah ini, kita akan mencari calon gurumu. Ngomong-ngomong, sebenarnya kau ada masalah apa? Kenapa orang-orang itu memaksamu untuk pergi bersamanya?" tanya Cakra Buana masih keheranan.
"Dua bulan lalu aku bekerja di Keluarga Ong sebagai pembantu rumah tangga. Awalnya memang baik-baik saja. Semua keluarga Tuan Ong juga sangat baik padaku, tapi semingguan yang lalu, anak semata wayangnya berniat kurang ajar kepadaku. Bahkan dia memaksaku untuk melayani nafsu bejatnya. Aku menolak, kemudian melaporkan hal tersebut kepada Tuan Ong. Siapa sangka, justru dia malah memarahi aku. Bukan anaknya. Dia juga memaksaku menuruti kemauan anak kesayangannya itu. Karena alasan tersebut, aku memilih untuk melarikan diri hingga sampai ke tempat tadi," jelas Liu Bing menceritakan masalah yang sedang dialaminya.
Cakra Buana masih diam. Dia sedang mengingat-ingat siapa sebenarnya Tuan Zhu itu. Sayangnya setelah beberapa saat berpikir, pemuda itu tetap tidak mengetahui siapa keluarga Zhu tersebut.
"Ternyata begitu ceritanya. Kau tenang saja,"
"Bagaimana aku bisa tenang? Tadi saja anak buahnya datang delapan orang, dan kau mengjahar mereka. Sudah pasti tidak lama lagi, dia akan mengirimkan orang-orang yang lebih kejam daripada tadi. Perlu kau tahu, kekuasaan Tuan Ong itu sangat luas dan besar. Menurut orang-orang, dia mempunyai sifat angkuh dan sombong, semua keinginannya harus terpenuhi. Apa yang dia inginkan harus didapatkan bagaimanapun caranya,"
"Hemm, kalau kau tahu sifat sia seperti itu, kenapa kau mau bekerja di sana?"
"Karena awal-awal dia memang sangat baik. Setelah kejadian itulah pada akhirnya aku tahu bagaimana sikap dia yang sebenarnya,"
"Baiklah, kau jangan khawatir. Selama masih ada aku di dekatmu, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu," ujar Cakra Buana sungguh-sungguh.
Mata Liu Bing berbinar-binar. Dia sangat senang mendengar perkataan tersebut. Ada perasaan lain di hatinya saat pemuda itu berkata demikian.
Entah perasaan apa. Karena dia sendiri tidak dapat mengetahuinya secara pasti.
Belum lagi mereka berbincang lebih lanjut, tiba-tiba empat orang pelayan datang ke tempat duduk mereka. Masing-masing pelayan membawa dua menu makanan dalam porsi besar.
Akibatnya, meja yang ada di depan keduanya langsung terisi penuh oleh makanan tersebut. Dua guci arak tersedia di sana.
Bau harum segera menyebar ke seluruh ruangan.
__ADS_1