Ada Karma Di Dunia

Ada Karma Di Dunia
Bab 143 Didi mencari pertolongan.


__ADS_3

Didi terbangun ketika mendengan rintihan Kim. Yang terbaring disebelah bosnya.


" Kim kau sadar " kata Didi yang bergegas bangun


" Haus di " kata Kim yang merasakan tangannya sakit tak bisa digerakkan.


" Iya sebentar " kata Didi yang bergegas mencari minum didapur. Setelah mendapat teko air putih dan gelas ia pun kembali ke bilik dan memberikan Kim minum.


" Dimana tuan " kata Kim


" Dia di samping mu belum siuman " kata Didi yang melihat tuan mudanya itu dengan khawatir. Begitu juga dengan Kim.


" Kau sudah menghubungi Alex di "tanya Kim.


" Belum ponsel retak dan pecah . Begitu juga milik tuan muda" kata Didi


" Punya ku dimobil tak selamat " kata Kim lirih. Merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


" Lalu kita harus bagaimana?" kata Kim menatap Didi.


" Tunggu pagi " kata Didi yang melihat jam weker bapa tua itu ke arah jam 4 subuh.


" Kalian sudah bangun " kata Bapa tua itu.Yang berdiri di depan pintu.


" Pa apa bapa punya telp atau ponsel " tanya Didi. Yang ingin menghubungi Alex.


" Maaf nak bapa ngak punya., tapi kalo kau merasa sehat bapa antar ke puskemas disana bisa pinjam telpon " kata Bapa tua itu.


" Baik pa , bisa saya menumpang mandi.dan pinjam pakaian bapa " kata Didi yang memang belum berganti pakaian.


" Baik nak, di belakang ada sumur, ayo bapa antar. " Kata bapa tua itu.


Didi pun lalu menatap Kim. Dan Kim mengangguk. Lalu keluar mengikuti bapa tua itu. Menuju belakang rumah .Benar saja disana ada bilik kecil. Buat mandi dan ada sumur kecil juga . Didi pun bisa memaklumi karna ia berasal dari desa. Lalu bergegas membersihkan diri. Walau sedikit perih karna ada luka di bagian tangan dan pinggangnya.


Sedang bapa tua itu memasak air untuk membuat kopi dan merebus singkong . makanan yang biasa ia makan sehari hari.


Setelah selesai Didi pun masuk. Lalu bapa tua itu pun ikut masuk kekamar dan membawa 3 cangkir kopi dan sepiring singkong rebus.


" Maaf nak , hanya ini yang saya punya " kata Bapa tua itu.Menyodorkan nampan


Kim memandang Didi yang sudah mandi, dan berpakaian yang terlihat agak aneh karna Memakai pakaian sederhana. Pakaian jadul yang terkesan seperti orang desa Namun bagaimana lagi hanya itu yang ada. Dan Didi terpaksa memakainya.


" Terimakasih pa ini sudah cukup " Kata Didi.


" Oh ya apa disini ada pasar dan warung terdekat " tanya Didi menatap sang bapa tua.


" Ada nak, sekitar dua kilometer ini pas buka seminggu dua kali. Jadi kalo mau kesana biar bapa antar kesana " kata bapa itu.


" Naik.apa pa " kata Didi.

__ADS_1


" Saya hanya punya sepeda butut " kata Pa tua itu jujur. Tampa ada yang ia sembunyikan .


" Baik pa kita kesana sekarang " kata Didi.


" Kim kita butuh pakaian makanan dan obat, jadi aku pergi dulu " kata Didi.


" Iya di hati hati " kata Kim yang lalu meraih secangkir kopi.


" Minum dulu nak " kata bapa tua itu.


" Bapa juga pa, teman saya belum sadar ,Yang ini buat bapa saja " kata Didi yang menyodorkan kopi kedepan bapa tua itu.


Lalu ketikanya pun menikmati dengan ala kadarnya. Kim yang berusaha duduk dibantu Didi .Agar bisa bersandar pada bantal yang sedikit usang.


" Kim jaga tuan muda " kata Didi yang ingin keluar bilik.


" Ya di " kata Kim seraya mengangguk. Sambil mencomot singkong karna perutnya lapar.


Bapa tua itu pun mengeluarkan sepedanya. Sepeda tua yang lumayan kuat .untuk ia pergunakan seharu hari.


" Ayo naik nak" Kata bapa tua itu.


" Apa bapa kuat mengayuhnya " kata Didi ragu. Karna bapa itu terlihat kurus.


" Insyaallah kuat nak " jawab bapa tua itu .


Lalu perlahan tapi pasti , sepeda pun dikayuh kencang menuju jalan setapak. Didi merasa iba dengan bapa tua itu. Walau miskin ia terlihat baik Karna mau menolong mereka.


" Panggil saja pa Rusli nak " kata bapa tua itu yang bernama pa Rusli.


" Kok bapa tinggal jauh dari permukiman, mana dekat sawah lagi " kata Didi bertanya.


" Dulu saja tinggal di permukiman nak, tapi rumah kami di gusur . Untungnya bapa masih punya warisan tanah jadi bapa tinggal sendiri. " kata Pa Rusli.


" Apa bapa ngak punya keluargga " tanya Didi lagi.


" Tidak nak, bapa hidup sendiri dari muda. umur bapa sudah 50 tahun. Mana ada wanita yang mau dengan bapa dan tinggal di gubuk reot " kata Pa Rusli bercerita.


" Apa bapa ngak kesepian pa " Kata Didi lagi.


" Mau gimana lagi nak, bapa memang miskin. Tapi bapa bersyukur masih punya tanah buat berkebun dan makan Walau sedikit dari pada jadi pengemis " kata Pa Rusli lirih.


" Iya juga ya pa " kata Didi.


" Lalu kalian kenapa, kenapa bisa sampai terluka dan jatuh dari jalan atas sana " tanya Pa Rusli pada Didi.


" Kami mengalami kecelakaan pa, mobil kami hancur . Kami sedang mencari pertolongan. untungnya selamat " kata Didi yang tak ingin pa Rusli tahu kejadian sebenarnya.


" Astagfirullah , syukurlah kalian selamat " Kata pa Rusli. yang memang tak menyangka ketiganya masih hidup.

__ADS_1


Tak terasa mereka pun sampai di pasar yang mulai ramai dikunjungi warga sekitar.


" Pa Rusli ngak bawa singkong dan sayur " tegur seorang pria pada pa Rusli.


" Ngak pa ale, ini mau antar tamu belanja " jawab Pa Rusli.


" Oh begitu silahkan " kata bapa itu ramah menatap Didi.Dan Didi pun membalasnya dengan senyum.


Lalu Didi pun menuju sebuah toko ponsel


Yang menjual ponsel ponsel murah dan setengah harga. Didi lalu membelinya satu. Untuk bisa berkomunikasi .Sedang pa Rusli menunggu sambil ngobrol dengan seorang pria penjual sayur. yang Didi kira itu teman.


Setelah memasukan kartunya Didi langsung menelpon Alex.


Drt......drt.......drt......


" Bang tuh hpnya bunyi " kata Alan yang menyetir. sedang Alex hampir ketiduran ketika mereka dalam perjalanan menuju tempat kejadian kecelakaan.


" No tak dikenal siapa ya " tanya Alex bingung.


" Angkat aja bang siapa tahu penting " kata Alan yang menyetir mobil. Sedang pa Ali tertidur di belakang.


" Hello ....." jawab Alex.


" Alex ....ini aku Didi. Kami mengalami kecelakaan tapi selamat, tolong kami " kata Didi langsung tampa basa basi.


" Kalian dimana kami dalam.perjalanan" Kata Alex tegang.


" Sebentar , aku tanya dulu " kata Didi yang lalu menanyakan wilayah tempat mereka berada.


" Ini Desa makmur mas , kel xxx dan rt xx" kata penjual ponsel.


" Ok Trimakasih mas " kata Didi yang lalu memberi tahu Alex.


" Baik kau tunggu disana .Kami akan segera kesana " kata Alex di sebrang sana.


" Baik Lex aku tunggu " kata Didi yang lalu memutuskan pembicaraan di ponselnya.


Setelah selesai menelpon. Didi pun lalu belanja membeli beberapa potong pakaian dan juga makanan untuk mereka.


" Pa Rusli apa mobil bisa masuk kearah rumah bapak " tanya Didi.


" Bisa nak tapi pelan karna biasanya hanya mobil pengangkut sayur yang lewat " kata pa Rusli yang menemani Didi belanja.


" Pa ini buat bapa " kata Didi menyerah kan uang lima lembar ratusan.


" Tidak usah nak " kata Rusli menolak.


" Saya iklas ini buat bapa simpan.,bantu saya belanja makanan ya " kata Didi yang mengingat pa Rusli hanya makan singkong.

__ADS_1


" Terimakasih nak Didi, harus nya pake saja buat berobat kalian. Kalian lebih butuh " kata pa Rusli. Merasa tak enak hati .Karna orang yang ditolongnya kena musibah.


__ADS_2