
Maya semakin merasakan perutnya mulas setelah Isya. Dokter Lastri dan bidan Lina bersama satu perawat . Yang tinggal di daerah desa itu pun datang dijemput Kim dan Ima.
" Bu, Maya haus " kata Maya yang merasa tak nyaman. Sedang Ryan duduk mengengam tangan Maya sambil menghapus keringat istrinya dengan sapu tangan.
" Sabar ya sayang dokternya datang sebentar lagi " kata Ryan.
" Ini nak minum dulu, nak Ryan makan dulu bergantian. Biar ibu yang nungguin May agar nanti pas dokter datang sudah siap melahirkan " kata bu Risma.
" Ya bu" kata yang baru sadar bahwa ia kini berjalan tak memakai tongkat.
" Astaga " kata Ryan terkejut.
" Kenapa bang?" tanya Maya heran.
" Tadi pas May kesakitan abang baru sadar abang ngak pake tongkat lagi " kata Ryan senang.
" Ya bang May juga baru sadar " kata Maya. Yang melihat suaminya berdiri disisi ranjang Maya.
" Alhamdulilah abang sudah sembuh bang " Kata Maya terharu dan senang.
" Iya sayang abang sembuh alhamdulilah ya allah trimakasih" kata Ryan yang mengangkat kedua tangannya bersyukur .Lalu mengecup kening istrinya dan mencium pucuk kepala Maya.
" Sekarang abang makan dulu biar nanti bisa temani Maya ya " kata Maya sumringah.
" Ya sayang , ibu titip Maya ya " kata Ryan pada mertuanya.
" Iya nak sekarang makanlah , biar ibu yang menunggunya
Ryan pun merasa senang bersamaan dengan kelahiran anak anaknya. Sedang bu Risma menatap terharu pada menantunya itu.Yang sangat menyayangi putrinya dengan tulus.
" Kak May ......dokter dan bidan nya sudah kami jemput " kata Ima yang langsung melihat keadaan Maya.
" Malam.bu gimana, mba May kita cek dulu ya " kata dokter Lastri .
" Iya dok " kata Maya yang lalu dibantu bidan Lina .
" Sepertinya sudah bukaan 6 mungkin sebentar lagi .Apa ingin lahiran normal "tanya dokter Lastri.
" Iya dok apa memungkinkan " kata ima yang tahu kakak sepupunya itu ingin melahirkan normal.
" Kita coba ya sekarang tolong kamarnya ditutup saja " kata dokter Lastri sedangkan bidan Lina sudah menyiapkan alat alat yang akan di pakai.
" Bayinya kembar ya dok?" tanya bidan Lina yang sedang memeriksa perut Maya dan mengangkat dasternya dalam melepaskan dalaman Maya.
" Iya kembar dua dok " kata Maya lirih.
" Kembar tiga mba kayanya " kata bidan Lina.
" Hah......benaran bu bidan mba saya hamil kembar tiga " kata Ima kaget.
__ADS_1
" Iya mungkin karna tak terlihat tapi ini dapat dirasakan " kata bidan Lina.
" Ya sudah , mba May makan dulu mumpung belum lahir " kata dokter Lastri
" Ya ampun dok sempat aja nawari makan, sudah nggak kuat gini " kata Maya meringis.
" Hahaha....... biar bertenaga mendorongnya kalo ngak minum saja " kata dokter Lastri.
" Iya kak biar Ima ambilkan ya " kata Ima.
" Ambil susu aja ma, beri madu dan biar buat tenaga " kata bu Risma.
" Iya bi biar Ima siapin " kata Ima.
"Tapi cepat ya Ma , jangan pake lama " kata bidan Lina.
" Iya bu bidan" kata Ima yang lalu bergegas keluar menuju dapur.Untuk.menyiapkan susu untuk Maya.
" Ima apa sudah mulai " kata Ryan yang baru selesai makan bersama Kim.
" Belum.bang sebentar lagi . ini kak Maya mau minum susu dulu " kata Ima. Yang gesit membuat susu madu.
Sedang Kim menatap wanita yang dicintainya itu sekilas..Setelah Ima pergi Lalu Kim kembali menyuap makanannya.
" Kim besok pagi setelah melahirkan kita cari kambing dan sapi untuk aqiqah ya.Bersama Jhon yang lain berjaga jaga " kata Ryan.
" Baik tuan muda., apa kita mengudang warga." tanya Kim .
" Tapi siapa yang akan memasaknya tuan. " tanya Kim lagi.
" Nanti kita tanyakan emak Sanah dan Ima atau koh Alung " kata Ryan.
.............................
" Auw........huh......huh....bu abang mana " kata Maya yang mencari Ryan.
" Ima panggilkan abang mu " kata bu Risma
" Iya bi " kata Ima. Yang lalu bergegas kedapur memanggil Ryan.
" Bang Ryan, Kak Maya memanggil abang.
" Oh ya sebentar " kata Ryan yang lalu minum segelas air putih.
" Papah apa mamah mau lahiran " kata Aska yang datang sambil berlari.
" Iya sayang Aska sama tante Ima dulu ya dan mba Nia. Papah mau menemani mamah dulu.
di kamar " kata Ryan.
__ADS_1
" Apa Aska boleh lihat ?" tanya Aska.
" Eh anak.kecil ngak boleh lihat kita main saja ya tuan muda .tuh main bola dibelakang " kata Kim mengalihkan perhatian Aska.
" Ye......asyik ayo om " kata Aska.
" Ya sana Kim ajak dia bermain." kata Ryan yang beranjak dari kursi .Lalu bergegas menuju kamar .
" Hah........kok bisa , apa tadi tuan muda sudah bisa berjalan normal " kata Kim yang tercengang melihat tuannya itu pergi begitu saja.
" Jadi tuan sudah berjalan normal tuan Kim " kata Nia yang ikut melongo .
" Heh.....kok malah melongo udah sana main sama om dan tante " kata Ima.
" Iya ayo mba Nia " kata Aska yang lalu berjalan lebih dulu menuju taman samping.
Sedang bu Risma dan mak Sanah menyiapkan pakaian bayi dan pelengkapan selimut dan ember air panas untuk membersihkan darah. Dan Ryan duduk menemani istrinya.
" Ayo dorong mba Maya pintunya sudah terbuka " kata bidan Lina.
" Heh..........hu.....hu.....ah.......Maya pun berusaha mengejan sekuatnya. Sedang Ryan mengengam tangan istrinya itu . Maya terus mengejan
" Sedikit lagi mba ayo dorong " kata dokter Lastri.
" Bang .......ah.........ah.......hu....hu.....
" Oek.....Oek......tangis bayi pun terdengar bersama seorang bayi keluar yang langsung disambut dokter Lastri.
" Sebentar bidan Lina saya taruh dulu bayinya " kata dokter Lastri.
" Ayo mba Maya dorong lagi " kata bidan Lina yang menunggu Maya mengejan.
Maya pun mengejan kembali ..Setelah dokter Lastri memberikan bayi mungil pada bu Risma dan mak Sanah yang langsung membersihkan bayi Maya
"Oek ....oek.....oek.....
Terdengar lagi tangis bayi. bersama bayi yang ketiga yang sangat mungil.
" Masyaallah , dia ikut keluar juga " kata bidan Lina yang melihat bayi mungil terakhir paling kecil dan mungil karna bayi perempuan.
" Alhamdulilah dia sehat dok" kata bidan yang lalu memberikan bayi terakhir pada dokter Lastri setelah memotong tali pusar keduanya.
Ryan menatap nanar melihat dokter Lastri yang membawa bayinya yang ketiga.
" Sayang anak kita kembar tiga, Trimakasih sudah berjuang " kata Ryan yang menghapus keringat Maya. Sedangkan bidan Lina menjahit pintu yang sobek sedikit. Sementara Maya sedikit meringis menahan sakit
" Iya bang " kata Maya. Yang masih menggenggam tangan suaminya sebagai penyemangat.
Sedang dokter Lastri membantu bu Risma dan mak Sanah membersihkan darah ditubuh bayi bayi mungil.itu bersama perawatnya.
__ADS_1
Setelah selesai Ryan pun disuruh bu Risma. Mengadzani ketiga bayi mungil itu satu persatu diluar Kamar. lalu di taruh di box bayi sedang yang paling bungsu di gendong sang nenek sementara bidan dan dokter yang juga di bantu satu orang perawat membersihkan Maya. Setelah selesai dan bersih mereka pun.
Merapikan kamar Maya.