
Dengan tewasnya Mata Setan dan bawahannya, nampaknya tidak akan ada yang mencoba menyerang di bagian timur Reruntuhan Lembah Ular. Lagipula kobaran api sekarang hampir membakar habis bangunan di wilayah itu.
Guru Jelatang Biru hanya terkapar memandangi langit malam yang bercahaya kemerahan karena api, sekekali dia melirik pada reruntuhan bangunan. Bagaimanapun dia masih merasa sedih, tempat itu adalah kampung halamannya.
Tidak berbeda jauh dengan Jelatang Biru, Tiraka beserta Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu merasakan hal yang sama. Semuanya menatap reruntuhan bangunan yang dilalap sijago merah.
“Kita sudah siap akan hal ini.” Ucap Jelatang Biru, “Bagaimanapun lebih baik seperti ini daripada dikuasai oleh Kelelawar Iblis.”
***
Sungsang Geni menebas lebih lambat dari biasanya, itu karena dia menemukan sarang dari pendekar pilih tanding yang jumlahnya mungkin 200 orang. Semuanya manusia, menghadapi mahluk berakal rupanya cukup menyulitkan.
Ini adalah kelompok manusia terakhir yang berada di sana. Sungsang Geni yakin, beberapa yang lainnya pasti telah tewas ditangan teman-temannya. Guru Lembah Ular setidaknya bisa membunuh 20 atau lebih dari mereka.
Sungsang Geni menarik kembali pedang watu kencana, sebab sekarang kelompok kelelawar iblis yang dia temui di sisi barat lebih kuat dari yang sebelumnya. Mereka bisa menghindari serangan jarak jauh dari Sungsang Geni.
“Sudah kuduga, mereka memang menjauhi ledakan dari bubuk setan.” Ucap Sungsang Geni, menoleh pada Cempaka Ayu dibelakangnya, “200 orang pendekar pilih tanding, sama dengan 10 orang atau 15 orang pendekar tanpa tanding. Ini akan sedikit merepotkan, tapi kau tidak perlu khawatir aku bisa melawan mereka semua.”
Dari 200 orang itu terdapat sekitar 50 pendekar pada puncak pilih tanding, atau mungkin ada sekitar 10 orang yang bahkan telah berada pada level tanpa tanding dengan 1 cakra yang terbuka.
“Kau sangat cerdas, bisa menemukan kami disini tapi tentu saja. Kau juga bodoh, karena berniat melawan kami hanya berdua.”
“Siapa bilang berdua? Aku sendiri yang akan melenyapkan kalian?” Sungsang Geni menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.
Setelah mengatakan hal demikian pemuda itu segera melesat cepat dan berhasil menanggalkan satu kepala dari tubuhnya. Gerakan cepat itu, membuat senyum percaya diri di wajah lawan-lawannya mendadak sirna.
“Pemuda ini, serang dia bersamaan!” teriak salah satu dari mereka.
Sungsang Geni kembali bergerak cepat, hampir sulit diikuti dengan mata mereka. Apalagi pemuda itu sekekali hilang dibalik bayangan bangunan, dan tiba-tiba muncul dengan tebasan mematikan.
__ADS_1
Melompat dari satu bangunan ke atap bangunan yang lain, mirip seperti kera. Setelah itu menukik tajam dan mengirim tiga nyawa ke alam baka. Serangan itu, jelas jelas membuat mereka menjadi panik. Sekarang terlihat siapa yang bodoh?
50 orang berada di puncak pendekar pilih tanding, ber-segera melakukan tindakan. Mereka mulai mengeluarkan taktik dan teknik bertarung tingkat tinggi. Dan pada saat ini, akhirnya mereka berhasil mengepung pemuda matahari dari segala sisi.
Sungsang Geni terdiam sejenak, mereka nampaknya akan melepaskan serangan tenaga dalam pada pemuda matahari itu. Dan ternyata benar, kilatan energi warna warni menyerang Sungsang Geni bersamaan.
Hampir 1 menit lamanya, mereka menyerang satu titik yang sekarang tidak terlihat lagi bentuk manusianya karena dipenuhi dengan debu. Ledakan terjadi berlarut-larut, memekakkan telinga dan berhasil membuat Cempaka Ayu khawatir.
“Apa dia sudah mati?” ucap salah satu dari mereka.
“Tentu saja, bahkan pendekar tanpa tanding yang telah membuka 7 cakra sekalipun tidak akan sanggup menahan serangan seperti tadi.”
“Yah, mau bagaimana lagi, jika sudah mati. Kita tinggal....”
Udara seketika menjadi panas, debu yang berhamburan dimana Sungsang Geni tadi berada segera menepis dengan cepat. Sekarang terlihat seluruh baju pemuda itu penuh dengan koyakan.
Cempaka Ayu menjadi sedikit lega, meski seluruh bajunya terkoyak tapi tidak ada tanda-tanda Sungsang Geni terluka. Wanita itu sedikit kesal, tenaga dalamnya tidak tersisa banyak, mungkin hanya 20% saja, jika digunakan sekarang maka setelah ini akan menjadi beban bagi Sungsang Geni.
“Bagaimana bisa, apa dia menguasai teknik perubahan tenaga dalam?”
“Tidak, aku rasa bukan teknik perubahan bentuk energi... Apa kalian tidak merasakannya, energi itu, begitu murni?”
Ada banyak pertanyaan yang timbul di benak setiap pendekar di sana, tapi tidak ada yang bisa menjawabnya. Setelah beberapa menit mereka terpaku, Sungsang Geni tiba-tiba hilang dari pandangan.
“Kemana dia? Kemana?” mereka Berteriak.
“SIAL!”
Sungsang Geni bergerak cepat pada kumpulan pendekar yang paling banyak kemudian melepas jurus 'murka dewa angin.' Dan seketika 11 orang pendekar meregang nyawa.
__ADS_1
Mereka semakin menjadi panik, tebasan Sungsang Geni selalu di susul dengan ledakan besar. Menghancurkan seluruh mayat mereka menjadi abu. Dan sekarang mereka baru sadar, pendekar yang mereka ejek barusan mungkin saja berada padat level Pendekar Iblis.
Tapi tentu saja belum, Sungsang Geni bahkan belum membuka seluruh cakra di dalam tubuhnya. Hanya saja mereka tidak mengetahui bahwa teknik pedang awan berarak yang dia gunakan bahkan mampu menandingi pendekar level iblis.
“Cari jalan keluarnya, atau dia akan menghabisi kita tanpa ampun?”
“Menurutmu apa yang harus kita lakukan....AKH!”
Satu persatu mereka mulai kehilangan teman-temannya. Sekarang jumlah mereka mungkin hanya 100 orang lagi, dan sekarang telah menjadi 90 orang, selalu berkurang setiap menitnya. Sungsang Geni hampir tidak memiliki jeda dalam menyerang.
Tempo gerakannya sangat sulit untuk diikuti, bahkan mustahil untuk diikuti. Hanya dalam beberapa menit saja telah terbunuh 150 orang ditangan pemuda itu. Ini lebih menakutkan daripada ketika seorang pendekar aliran hitam membunuh lawannya.
Sungsang Geni tidak memiliki satu alasanpun untuk mengampuni para kelompok ini, tidak satupun. Jika bisa mengurangi kekuatan Kelelawar Iblis secara signifikan, maka inilah waktunya.
30 orang lagi, Sungsang Geni menghentikan serangannya. 30 orang itu terlihat yang paling kuat diantara 170 pendekar yang dia bunuh, yang kini telah menjadi abu seluruhnya.
“Jangan bergerak, lepaskan pedangmu!” Seseorang berteriak dari sisi belakang Sungsang Geni, “Aku bilang lepaskan pedangmu! Apa kau tuli, kau tidak mendengar perintahku?”
Sungsang Geni menoleh pada sumber suara yang mengganggu telinganya. Sekarang terlihat 3 orang, melingkarkan pedang mereka di batang leher Cempaka Ayu.
“Jika kau mencoba melawan, kami tidak akan segan membunuh gadis ini!”
“Baiklah, apa yang kalian inginkan?” tanya Sungsang Geni, pemuda itu belum menuruti perintah mereka, tepatnya tidak akan menuruti.
“Biarkan kami pergi dari sini, keluar dari tempat ini dengan aman?” pria itu menoleh kearah teman-temannya, sangat jelas terlihat mereka merasa diatas angin dengan memanfaatkan Cempaka Ayu sebagai sandera, “Dan juga, pedang di tanganmu itu, kami akan mengambilnya.”
“Baiklah...tidak masalah!” Sungsang Geni tersenyum, kemudian tertawa kecil, “Tapi jika aku boleh memberi kalian saran, sebaiknya kalian lebih takut dengan gadis itu dari pada denganku. Kalian tidak tahu seperti apa kekuatannya, Dewi Bulan?”
Kok sepi yang like, likenya dong sebelum melanjutkan capters berikutnya. Oh ya, terima kasih bagi teman-teman yang udah memberi kritik dan saran, karena jujur Author dalam penulisannya masih banyak kekurangan.
__ADS_1
Jika dipikir lagi, tulisan ini tidak begitu istimewa, hanya saja karena kalian membacanya, tulisan ini menjadi sedikit istimewa. Dukung terus dengan like dan vote, untuk menaikan rating tulisan ini. Terima kasih.