PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pertarungan Di Hutan 1


__ADS_3

Puntura keluar dari air dengan cahaya kebiruan menyelimutinya membuat Sungsang Geni tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Dia perlahan melayang semakin tinggi, dengan air yang mengikutinya membentuk ****** beliung, meliuk-liuk seperti cacing.


Hawa dingin menerpa Sungsang Geni dan Darma Guru, sekarang hawa itu lebih dingin dari sebelumnya.


Setelah cukup lama, Sungsang Geni dan Mahapatih di hadapkan pada sebuah penampakan, yang Sungsang Geni tidak mengerti harus menanggapinya seperti apa. Energi kebiruan yang menyelimuti Puntura perlahan-lahan mulai menghilang.


Menampakan wujud Puntura yang sedikit berbeda dengan sebelumnya. Melihat perubahan wujud itu, Darma Guru sangat terkejut, matanya terjelit dengan mulut terbuka. Dia tidak bisa mengatakan apapun saat ini.


Puntura masih terpejam di atas sana, tapi beberapa bagiab kulitnya dipenuhi dengan sisik berwarna putih dan hijau zambrud. Tidak ada lagi keris panca dewa di tangannya, membuat Sungsang Geni merasa khawatir saat ini.


“Jangan-jangan itu adalah...”


“Mereka mengambil alih tubuh Puntura.” Darma Guru berkata tergagap-gagap, seolah membenarkan apa yang dipikirkan Sungsang Geni.


Benar dugaan Sungsang Geni, tubuh Puntura telah diambil alih.


Kesalahan terbesar Puntura adalah mengerahkan semua tenaga dalamnya pada keris panca dewa, sehingga tenaga dalam ditubuhnya hanya tersisah sedikit, dan ini membuat tubuhnya menjadi lemah.


Selain lemahnya tubuh yang kehilangan tenaga dalam, keris panca dewa yang telah dialiri seluruh tenaga dalam sang pengguna, memiliki peluang lebih untuk menguasai tubuh tuannya. Setidaknya itulah yang dipikirkan Sungsang Geni sekarang. Jika dibawa kedalam ilmu perdukunan, istilahnya ‘Kesurupan’.


Puntura membuka matanya, terlihat bola matanya berbentuk seperti bola mata ular dengan garis biru dan kuning pada pupilnya.


“Akhirnya, setelah sekian lama terkurung di dalam sebilah besi tua, kami bisa keluar.” Puntura berkata, tapi suaranya terdengar sangat banyak, seperti beberapa orang yang serentak berbicara. Nadanya terdengar berat, tapi suaranya dapat didengar sampai ratusan meter jauhnya.


“Kami akan menguasai dunia ini!” Puntura kembali berkata kemudian tertawa, tekanan dari suara tawanya membuat telinga semua orang terasa sakit, Sungsang Geni dan Darma Guru terpaksa melindungi telinga mereka dengan tenaga dalam.

__ADS_1


“Jika dugaanku tidak salah, ada lima roh naga saat ini berada di dalam tubuh Raja Puntura.” Darma Guru menjelaskan.


Sekitar 5000 tahun yang lalu, kelima naga itu berusaha mengganggu khyangan, membuat onar dan membunuh para pelayan dewa di sana. Para dewa di sana akhirnya dapat mengalahkan kelima naga itu dengan bantuan Dewa Garuda.


Setelah kekalahannya, Batara Guru menghukum kelima naga itu kedalam sebuah keris yang sekarang dinamakan panca dewa, selamanya. Batara Guru akan membebaskan mereka, setelah cukup yakin mereka telah menjadi baik.


Semenjak itu, keris panca dewa digunakan sebagai senjata untuk merebut perdamaian, kemenangan dan simbol persatuan oleh nenek moyang Darma Guru.


Tapi rupanya, keris panca dewa tidak benar-benar ber aura baik, keris itu tidak bisa dipenggang lebih lama oleh siapapun, atau dia akan menyedot tenaga dalam penggunanya. Setidaknya itulah cerita mitos yang telah dipaparkan oleh Darma Guru.


Entah benar atau tidak mitos itu, Sungsang Geni menyimpulkan kelima naga itu datang menuntut balas. Dan situasi seperti ini memang berbahaya.


“Tapi kekuatan mereka tidak benar-benar bangkit seutuhnya.” Ucap Darma Guru lagi, “Dengan tubuh manusia, mereka tidak akan sekuat saat berwujud naga. Tubuh itu tidak akan mampu menampung kekuatan mereka berlima.”


“Jadi kita masih memiliki sedikit harapan, benarkan Aki?” tanya Sungsan Geni, “Aku akan melawannya.”


Setelah berkata demikan, Sungsang Geni segera terbang menuju Puntura dengan sangat cepat. Darma guru bahkan tidak sempat menjawab pertanyaannya barusan.


“Beraninya kau menantangku, MANUSIA!” Puntura menghembuskan nafasnya, menimbulkan hembusan angin topan yang sangat kuat. Tapi Sungsang Geni masih bisa bertahan.


Sungsang Geni mengalirkan sejumlah besar tenaga dalam pada pedangnya, kemudian mulai melancarkan serangan. Tapi bahkan rambut Puntura sekalipun tidak bisa dipotong olehnya, apa lagi kulitnya yang bersisik.


Puntura berhasil menangkap pedang Sungsang Geni, kemudian dengan jari-jemarinya yang berkuku tajam, dia mematahkan pedang itu dengan sangat mudah. Sungsang Geni terkejut melihatnya.


Puntura kemudian mengibaskan tangannya, Sungsang Geni terlambat menghindari serangan itu, memaksa tubuhnya terlempar puluhan meter di reruntuhan rumah warga.


Pemuda matahari itu, merasakan dadanya terasa panas, serta punggung yang terasa sangat sakit. Dia memuntahkan darah dalam jumlah banyak. ‘kekuatannya berada diluar nalar.’ Gumam Sungsan Geni.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, dia merasakan hawa dingin bergerak cepat menujunya, Sungsang Geni secepat mungkin menghindari serangan energi dari Puntura yang bertubi-tubi mengarah kepadnya.


Belasan lobang seukuran roda kereta kuda memenuhi medan pertarungan, beberapa diantaranya menghantam tanah, membentuk sumur yang dalam.


“Percumah saja, manusia. Kau tidak akan sanggup melawan kekuatan dewa.” Puntura berkata lebih keras lagi, suara yang keluar dari mulutnya membuat beberapa prajurit Surasena yang berada jauh, tak sadarkan diri. “Kekuatan kami, tiada batas, tapi bagaimana dengan kalian manusia? Kalian mahluk fana tidak memiliki kekuatan seperti kami.”


Sungsang Geni memperhatikan sesaat, sekarang ada banyak puluhan lobang disekitar pelabuhan. “Aku harus membawanya jauh dari sini, serangan mahluk ini, aku rasa bisa sampai ke permukiman penduduk di balik tembok Surasena.”


Sungsang Geni kembali melesat sanga cepat, dia menuju kearah Darma Guru. “Ma’afkan aku Aki, aku pinjam pedangmu sebentar.”


Belum sempat Darma Guru menjawab, Sungsang Geni telah terbang kembali menuju hutan Surasena diikuti Puntura di belakannya.


“Apa kau mau melarikan diri, Manusia?” Puntura berteriak keras.


Sungsang Geni tidak menghiraukannya, dia terbang diantara pohon-pohon di hutan Surasena. Tindakannya, membuat Puntura kehilangan jejak pemuda itu, tapi mahluk itu punya cara yang lebih cepat untuk menemukan Sungsang Geni. Dengan membabat semua hutannya.


Dari telapak tangan Puntura, muncul sebilah pedang berwarna biru dengan ukiran naga. Tidak ada motip sebagus itu di Surasena, bahkan di belahan dunia tengah sekalipun.


Puntura menebaskan pedang itu, seketika puluhan pohon yang terbentang di hadapanya tumbang. Dia menebaskan lebih banyak lagi, sebab pemuda yang dia cari belum kelihatan batang hidungnya.


“Aku menemukan dirimu, Manusia!” ucap Puntura, merasa bangga dengan cara yang dilakukannya. “Mau pergi kemana? Meski keujung dunia aku akan menemukanmu.”


“Siapa yang mau pergi kemana?” Sungsang Geni balik bertanya, dia mengacungkan pedangnya ke arah Puntura yang posisinya sekitar dua puluh lima depa darinya.


“Huhahahaha... mau bertarung, ah? Dengan pedang itu!” Puntura tertawa terbahak-bahak melihat tindakan Sungsang Geni, “Bahkan para dewa sekalipun akan kesulitan melawanku. Aku adalah dewa dari segala ular, aku adalah Naga, apa kau tidak paham, Manusia?” Ucapnya sombong.


“Dewa ular apanya?Naga apanya? Bagiku, kau hanyalah siluman ular yang sombong,” ucap Sungsang Geni.

__ADS_1


Pemuda itu segera mengalirkan energi mataharinya, membuat pedang yang dipinjamnya dari Darma Guru berwarna merah bara. Segera suasana dingin yang selalu ditunjukan Puntura meredup, berganti aura panas yang bergelora.


Mahluk yang merasuki Puntura sangat terkejut, dia menjauh beberapa depa, “Kekuatan Dewa Surya, kenapa ada pada dirimu, manusia?”


__ADS_2