
Menuruni pegunungan, melewati lembah dan menyebrang sungai dengan kondisi perut nyaris kosong. Sungsang Geni mungkin sudah terbiasa menahan rasa lapar, tapi tidak dengan Cempaka Ayu dan Panglima Ireng.
Ini sudah 5 hari mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang di bicarakan Pramudhita. Selama itu hanya buah-buahan masam yang digunakan untuk mengganjal perut kerontang, bahkan sekekali Cempaka Ayu harus rela menyantap umbut rotan.
Panglima Ireng? Jangan di tanya lagi bagaimana kondisinya. Lidah terjulur dan berjalan terhuyung-huyung. Beruntung saja kemarin siang, Sungsang Geni berhasil mendapatkan seekor kancil untuk menjadi makanan Cempaka Ayu dan Srigala itu.
Hampir petang hari, ketika matahari sudah benar-benar condong di ufuk barat. Nyanyian burung kutilang bersiul-siul di dahan kayu, bersahutan dengan jangkrik dan katak rawa yang terdengar -kung kang kung- di telinga mereka.
Tidak lama setelah itu sayup-sayup Sungsang Geni mendengar suara derap langkah kaki, dan gurauan beberapa orang yang saling bertukar cerita, terdengar seperti dua orang atau mungkin tiga orang.
“Cempaka, sebentar lagi kita akan tiba di wilayah Swarnadwipa.” Sungsang Geni memberi semangat. “Aku melihat perkebunan pala di seberang pematang bukit ini.”
Sebenarnya tempat yang ditunjuk Sungsang Geni masih cukup jauh, Cempaka Ayu belum bisa melihat perkebunan pala, atau juga suara manusia yang sedang bertukar cerita.
“Aku akan menggendongmu jika kau tidak keberatan?” Sungsang Geni membungkukkan badan, berniat menyambut tubuh gadis itu.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku tidak ingin menyusahkan dirimu.” Cempaka Ayu menolak.
“Gerr...” Panglima Ireng menggeram pelan.
“Tidak, aku tidak akan menggendongmu!” Sungsang Geni menepiskan tangannya. “Tubuhmu lebih besar dariku.”
Setelah hampir memakan waktu 3 jam lamanya, ketika senja hari sudah mulai pula meninggalkan dunia berganti dengan gelap gulita malam, akhirnya mereka memijakkan kaki di permukaan tanah yang datar.
Benar, ini adalah perkebunan pala yang di ucapkan Sungsang Geni dari atas bukit tinggi tadi. Aroma pala masih tercium khas sebab buah matang hampir memenuhi setiap tangkai tanaman itu.
Di tengah kebun, mereka melihat pendar cahaya pelita yang keluar dari celah papan berlubang pada sebuah rumah panggung.
__ADS_1
“Permisi..., Adakah orang di dalam rumah ini?” Sungsang Geni mengetuk daun pintu beberapa kali. “Permisi...”
Selang beberapa menit terdengar sahutan dari dalam rumah, kemudian langkah kaki yang menapak buru-buru mendekati pintu. Sebelum pintu terbuka, suara ctrak kunci beberapa kali terdengar lalu muncullah seorang pria sekitar 40 tahun dengan anaknya.
“Kisanak, bolehkah kami menumpang istirahat di tempat ini, kami sangat kelelahan.”
Pria itu menyipitkan matanya, menatap Sungsang Geni dari atas hingga ke bawah kemudian menatap Cempaka Ayu yang terlihat tidak berdaya.
“Tunggu sebentar,” ucap Pria itu dia menutup pintu, kemudian terdengar berbisik dengan sang istri. Sungsang Geni memaklumi tindakan orang tersebut, sebab waktu memang sudah gelap gulita.
Setelah beberapa menit, pintu rumah terbuka kembali. “Silahkan masuk, anak muda. Kalian terlihat seperti pengembara...”
“Terima kasih kisanak!” Sungsang Geni mengkuti pula orang itu masuk ke dalam, diiringi Cempaka Ayu dan dipersilahkan duduk diatas tikar yang di anyam dari daun pandan hutan.
Setelah beberapa menit kemudian, sekendi air minum disodorkan istrinya kemudian di ikuti anak gadisnya yang masih kecil membawa beberapa potong ubi rebus.
Sungsang Geni tersenyum kecil, meski memang memiliki raut wajah dan penampilan yang sama tapi logat berbicara mereka tidak sama dengan penduduk di dataran Java.
“Namaku adalah Kerang Lebak. Jikalah kami boleh tahu, darimana gerangan kalian berdua?” Pria itu bertanya heran, sambil sekekali menghisap rokok yang terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya.
“Kami adalah pengembara yang berasal dari dataran Java, perjalanan kami ini bertujuan pergi menemui Raja Swarnadwipa untuk meminta bantuan.” Sungsang Geni kemudian menceritakan gambaran umum mengenai pertikaian yang terjadi di tanah Java dan niatnya hingga pergi ke dataran Swarnadwipa.
Mendengar cerita pemuda itu, raut wajah pria itu berubah-ubah seiring waktu. Tidak ada satu kalimatpun yang tidak membuat dia terkejut, apalagi ketika Sungsang Geni menyinggung Siluman Kera di puncak Kerakatau.
“Rupanya kalian berdua adalah pendekar sakti mandraguna.” Pria itu mengelus dagunya.
“Tidak kisanak, sebenarnya kami ber tiga.”
__ADS_1
“Lalu dimana gerangan yang satunya, kenapa kalian tidak membawanya ke sini?”
Sungsang Geni tersenyum kecil, “Yang satunya bukan seorang manusia, tapi seekor srigala.”
“OH...” Kali ini wajah pria itu mendongak, dia menatap anaknya seakan tidak percaya lalu balik menatap Sungsang Geni. “Tenang saja, temanmu itu dapat juga bagian makanan.”
“Terima kasih banyak, Kisanak sangat bermurah hati.”
“Kami sebenarnya tidak memiliki pengetahuan lebih mengenai dataran Java, kecuali beberapa cerita yang turun-temurun dari mulut-kemulut. Tapi mengenai Siluman Kera di atas Pegunungan Kerakatau, itu seperti momok menakutkan bagi kami. Sebab itulah, tidak ada yang pernah menginjakkan kaki di kawasan pegunungan Kerakatau.”
“Dari tempat ini, berapa lama lagi waktu yang harus kami tempuh agar tiba di pusat kerajaan Swarnadwipa?” tanya Sungsang Geni.
“Kalian butuh waktu 7 hari jika menunggang kuda dengan menyusuri jalan pantai.” Kerang Lebak kemudian memberikan gambaran umum mengenai jalan yang akan mereka lalui.
Menurutnya melewati jalan tengah memang dapat memotong waktu lebih cepat dari jalan pesisir pantai. Namun karena mereka membawa seekor srigala, maka jalan yang lebih sepi adalah solusi terbaik agar terhindar dari masalah.
Penjagaan jalan di pesisir pantai tidak begitu ketat, itu karena masyarakat umumnya yang tinggal di sana hanya petani dan nelayan biasa. Lain hal jika melewati jalan tengah, yang umumnya di huni oleh rakyat kelas menengah atas yang memiliki penjagaan yang sangat ketat.
Setelah berhasil mencapai wilayah Kerajaan, mereka akan bertemu dengan Hulubalang, sebutan bagi penjaga gerbang Istana Kerajaan dan juga pemimpin pasukan. Melewati Hulubalang memang sangat sulit, bukan manusia sembarangan yang bisa melewati mereka.
“Tapi, kalian memiliki kesempatan. 8 hari dari sekarang, raja Saylendra akan mengadakan pesta besar-besaran atas lahirnya cucu tercinta. Pada hari itu semua rakyat diperkenankan memasuki gerbang kerajaan, mencicipi makanan yang mereka mau, dan mengikuti ajang sayembara.” Sambung Kerang Lebak.
Saylendra hanya memiliki seorang putri, sehingga kelahiran cucu laki-lakinya merupakan harapan baru bagi dataran Swarnadwipa. Cucu itu kelak akan menjadi penerus kerajaannya, sebab itulah pesta rakyat di adakan sebagai bentuk suka cita.
“Masakannya sudah matang, sebaiknya hentikanlah dahulu percakapan kalian, sebab perut sudah memanggil untuk diisi.” Istri Kerang Lebak, membawa nasi dan lauk pauk yang menggugah selera. “Gadis manis, makanlah dengan lahap, wanita bukan hanya harus cantik tapi juga harus sehat.”
Cempaka Ayu tersenyum manis, “Kalian semua begitu baik, terima kasih atas makanan ini.”
__ADS_1