PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana9


__ADS_3

Telah mati dua ratus orang lebih ditangan Sungsang Geni dengan pedang bercahaya emasnya. Musuh kini menyadari sesuatu, jika mereka tetap berada di antara rumput ilalang yang subur lagi tinggi, maka tidak akan bisa melihat dari mana datangnya ranjau. Ranjau seperti panah besar itu.


Jadi mereka mulai berlari ke arah dataran yang rumput-rumputnya tidak tinggi, hanya semata kaki. Ketika pedang bercahaya terang datang ke arah mereka, beberapa prajurit bisa menghindarinya meski ada pula yang mati mengenaskan.


Merasa tidak efektif lagi menggunakan teknik tersebut, Sungsang Geni terbang dengan cepat sambil menghunuskan pedang ke arah musuhnya.


Berhenti pemuda itu tepat di antara puluhan orang. Dia tersenyum kecil, memandangi musuhnya dengan sinis. Tanpa banyak bicara, segera melayangkan tebasan demi tebasan. Banyak kepala lepas dari lehernya, beberapa yang lain terkena tusukan di bagian jantung hingga tewas.


“Sudah dimulai rupanya!” Siruyu tidak tinggal diam, dia terbang diatas ujung bunga ilalang dengan cepat dan menerjang puluhan orang dengan pedang panjang miliknya. Pak tua itu cukup brutal dengan tubuhnya yang sudah renta.


“Patih Siruyu Citro!” terkejut para prajurit mendapatkan pak tua itu telah kembali dengan tubuh sehat bugar.


“Ah...aku menemukan banyak prajurit khianat. Majulah! Aku akan membunuh kalian semua!”


“Dia hanya seorang diri, serang bersamaan!”


Patih Tumenang memainkan pedangnya, melompat dari kepala satu menuju kepala yang lain sambil menarik pedang panjang miliknya. Setiap ayunan pedang sulit dihindari, bukan hanya itu, jangkauan pedang pak tua itu lebih jauh dari golok para prajurit.


Dua tiga kepala terpenggal dan jatuh menggelinding di permukaan tanah, beberapa yang lain mengalami luka serius. Pak tua itu tidak menunjukkan sifat kasihan lagi, dia bak singa buas yang mengerikan.


Menukik ke bawah, ketika dua orang hendak menombak tubuhnya. Patih Siruyu Citro menyapukan tendangan, berhasil menjatuhkan lima orang prajurit yang mengelilinginya. Pada saat yang sama, dia menekankan mata pedang, membuat tubuhnya terangkat lagi ke atas dan berhasil mendaratkan tendangan pada tiga kepala prajurit.


Tendangan itu mengandung tenaga dalam yang cukup besar, tiga orang itu terpental sangat jauh dan menabrak hampir 5 orang prajurit lain.


Untuk beberapa saat, semua orang belum menyerang dirinya, begitupula sebaliknya Patih Tumenang itu, juga tidak bergerak. Dia memperhatikan sekitar 30 prajurit mati di sekelilingnya, senyum pahitnya terseungging. “Mari lanjutkan!”


Dengan sangat agresif, dia menebas semua orang yang ada dihadapan tanpa terkecuali. Pedangnya telah berubah menjadi merah, bahkan zirah perang miliknya dipenuhi dengan darah.


Tanah menjadi anyir, rumput-rumput ilalang seperti layu setelah banyak darah berjatuhan mengenainya.


Di lain sisi, Sungsang Geni melepaskan dua tiga mata pisau di sela-sela serangan jarak dekatnya. Jumlah yang mati tidak perlu lagi dihitung, mungkin sudah mencapai seratus orang bahkan lebih.


Dia tidak membiarkan satu orangpun melarikan diri, jadi pisau kecil terbang akan mengejar kemanapun lawannya pergi.


“Dia ini bukan manusia, dia ini iblis yang haus darah...” Lirih salah satu prajurit dengan wajah pucat pasi, dia sudah terkena tebasan di bagian lengan, nasip baik dia bisa menghindar sehingga kepalanya tidak lepas. Tapi saat ini, dia tidak bisa lagi berdiri, kecuali mundur dengan terseok di rerumputan.


Sungsang Geni tersenyum sinis, menunjukkan ujung mata pedangnya membuat pria itu jatuh pingsan.


“Dasar penakut!” Sungsang Geni tidak menghiraukannya, malah menyerang barisan kedua pasukan itu.


Ya, incaran pemuda itu adalah para prajurit yang menunggangi kuda. Dari tampilannya, sepertinya mereka adalah prajurit-prajurit dari Negri Sembilan, bercampur dengan Kelelawar Iblis.

__ADS_1


Jadi barisan depan hanya pasukan Tumenang yang berkhianat. Semuanya sudah mati, kecuali ada beberapa bagian yang dibiarkan hidup karena telah menjatuhkan senjata.


Sungsang Geni melayang tepat di hadapan penunggang kuda, mungkin sebagai pemimpin pasukan itu. Wajah prajurit itu terkejut bukan kepalang, terlihat dari balik topeng bajanya. Ketika dia baru saja hendak menggunakan tombak panjang, Sungsang Geni segera menebas gagang tombaknya.


“Se...setan alas...” Dia hendak berteriak, tapi Sungsang Geni mendaratkan satu pukulan tepat ke wajahnya, meretakan topeng baja dan menunjukkan wajah aslinya.


“AU...au...au...” rintih pria itu, dia menangis kesakitan ketika menyadari bukan hanya topeng bajanya yang retak, tapi seluruh gigi depannya protol. Dia menadahkan tangan, memperhatikan gigi-gigi kuning yang dipenuhi dengan darah. “Au...au...au...”


“Kisanak, aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” Sungsang Geni tersenyum kecil, mengangkat tubuh pria itu.


“AU...au...au...” sambil menggelengkan kepala, mungkin maksudnya memohon agar Sungsang Geni tidak melemparnya, tapi tetap saja dia terlempar puluhan depa tingginya dan jatuh diantara tumpukan mayat prajurit yang lain.


Cukup lama, pria itu terjaga meraba seluruh tubuhnya dan juga, Gigi. Ah rupanya bukan mimpi, semua giginya benar-benar telah habis. Tapi nasip baik, Sungsang Geni tidak melemparnya di atas ranjau.


Pemuda matahari itu melirik sesaat, memberikan sebuah isyarat dengan jari telunjuknya.


“Au...au...au...” seolah mengerti dengan isyarat Sungsang Geni, pria itu bersegera terlentang diantara mayat, berpura-pura mati menyedihkan.


Dari atas kuda hitam itu, Sungsang Geni melompat ke kuda lain dengan pedang yang menikam lawan-lawannya. Bahkan zirah baja yang mereka kenakan terlihat seperti roti kering di depan pedang energinya.


Namun sebelum pemuda itu benar-benar menghabisi semua prajurit penunggang kuda, satu lemparan kapak besar melaju ke arahnya. Sungsang Geni berjungkir balik di atas udara, membuat kapak itu hanya berhasil menebas angin.


“Mari kita coba, sejauh mana ilmu beladirimu.” Sungsang Geni melepaskan beberapa pisau energi, tapi rupanya pria itu dengan tubuh besarnya cukup lentur untuk menghindar.


Pria itu tersenyum kecil, kali ini menepuk dadanya sendiri dengan sombong. Sementara itu, beberapa prajurit membuka celah bagi pertarungan mereka berdua.


“Huh...Huh...HUH!” Pria itu merentak-rentakan kakinya, mengangkat kapak besar dan disahut oleh ratusan prajurit berkuda yang membentuk lingkaran besar.


“Huh...huh...huh...!”


“Ah...kalian pikir ini adalah pertandingan?” gumam Sungsang Geni, tersenyum sinis.


“Pemuda kerdil ini akan menjadi bagianku, jangan ada yang mengganggu pertarungan, apa kalian paham?”


“Kami paham, kaulah sang algojo, ditanganmu semua nyawa.” Tertawa terbahak-bahak para prajurit di sana. Begitu memandang rendah Sungsang Geni.


Sungsang Geni melepaskan dua kali pisau kecil dengan cepat, dia tahu pria itu bisa menghindarinya dengan cukup mudah. Dan dugaannya benar, pria itu melompat beberapa kali ke samping, lalu menangkis dengan kapak besarnya. Namun serangan yang sesungguhnya baru saja tiba.


Sungsang Geni sudah berada tepat di hadapannya, mengangkat pedang bercahaya kuning dan bergerak cepat. Sang Algojo menjadi terkejut, tidak sempat untuk menghindar, terpaksa mengangkat kapaknya untuk dijadikan tameng.


Alhasil, tubuhnya terpukul mundur beberapa depa, bekas kaki yang dilewatinya membentuk sebuah siring dangkal, membelah padang rumput ilalang.

__ADS_1


Di tepuknya dada dua kali, membuktikan bahwa masih bisa bertahan dari serangan Sungsang Geni. Namun dua detik kemudian, wajahnya menjadi buruk setelah melihat kapak besarnya kini telah terbagi menjadi dua.


Kapak itu tentu sebuah pusaka level sedang, tapi harusnya dia membawa kapak dengan level pusaka tinggi, atau lima pusaka paling tinggi untuk menghadapi pedang panas Sungsang Geni.


“Aku pernah melihat kapak besar yang lebih kuat dari kapakmu itu.” Sungsang Geni tersenyum kecil, yang dimaksud pemuda itu adalah kapak milik Gentar Bumi yang bahkan dapat membelah tanah. “Kau terlalu sombong.”


Beberapa saat setelah mengatakan hal itu, tatapan Sungsang Geni menjadi dingin. Aura membunuh keluar dari dalam tubuhnya, mengintimidasi semua orang yang mengelilingnya.


Algojo kekar menjadi sedikit khawatir dengan sesuatu yang akan terjadi ke depannya, apa lagi terlihat saat ini Sungsang Geni sedang melakukan kuda-kuda, berniat menyerang dengan teknik yang tidak dimengerti mereka.


“Aku tidak akan kalah, majulah kau pemuda kerdil!” Berteriak pria algojo dengan menepuk dadanya.


Namun Sungsang Geni tiba-tiba lenyap dari tempatnya, kecuali meninggalkan beberapa helai rumput dibekas telapak kaki.


Dua detik kemudian, pemuda itu sudah berada dibelakang musuhnya. Pria kekar merasakan batang lehernya baru saja dilewati sebuah benda tipis yang sangat cepat, terasa dingin untuk sesaat.


Ketika hendak menoleh ke belakang, dia baru menyadari bahwa dunia menjadi gelap dalam seketika. Dia tewas dengan kepala terpenggal.


“HAA...!!” Bereteriak histeris semua orang di tempat itu.


“Di...di...dia membunuh sang algojo dengan...dengan cepat!”


“Di...dia...ini...bukan tandingan...kita.”


Sungsang Geni menepiskan pedang energinya, kemudian bergerak cepat dengan teknik pedang awan berarak. Jurus ke dua puluh satu dari teknik Pedang awan Berarak, murka dewa angin.


Sungsang Geni berputar cepat diantara para musuhnya, setiap putaran mampu mengeluarkan satu tebasan mematikan. Dia seperti angin puyuh, berputar cepat dan meninggalkan kematian pada semua musuh yang dilewatinya.


Serangan ini berlangsung selama 10 detik, tapi musuh mati mencapai 200 orang. Banyak kuda yang ikut menjadi korban. Jurus yang baru saja dilakukan pemuda itu, adalah jurus paling efektif untuk melawan musuh yang banyak.


Di lain sisi, Patih Siruyu Citro kembali terkejut melihat teknik yang baru saja dilihatnya. “Ini adalah jurus Murka Dewa angin, milik Ki Alam Sakti. Pemuda itu juga memilikinya, aku pikir dia berasal dari perguruan Bukit Emas, tapi kenapa dia memiliki teknik awan berarak?”


Kepala Patih Tumenang itu menjadi sedikit sakit memikirkannya. Dia tentu saja kenal Ki Alam Sakti, usia mereka berdua mungkin tidak berjauhan. Ditambah pula kedua orang tua itu sama-sama mengabdi di kerajaannya masing-masing.


Banyak kesempatan mereka berdua saling uji keahlian, dan jelas saja Patih Siruyu Citro tidak mampu melawan teknik awan berarak yang dimiliki Ki Alam Sakti.


“Pemuda ini, memiliki dua teknik yang berbeda di dalam tubuhnya?” Siruyu Citro bergumam kecil. “Apa dia ini pencuri jurus perguruan lain?”


Masih larut dalam pikirannya, sebuah pedang bergerak cepat. Hampir saja memotong batang lehernya, jika dia telat satu detik saja untuk menghindar.


Pada waktu bersamaan, pak tua itu mengarahkan ujung pedang ke depan, tepat pada jantung prajurit yang menyerangnya.

__ADS_1


__ADS_2