PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana


__ADS_3

Sungsang Geni dibawa menyelusuri sebuah lorong sempit yang berkecah karena becek. Oksigen tidak banyak di lorong ini, berjalanpun harus sedikit membungkukkan tubuh. Gadis yang bernama Langgis merupakan adik dari Adipati Lingga, memimpin jalan itu.


Tepat diatas lorong itu, Istana Tumenang berdiri. Nampaknya ini adalah jalan rahasia yang sudah lama di bangun sebelum Istana ini berdiri, mungkin saja.


Butuh banyak waktu untuk menyelusuri lorong itu, hanya dengan bermodal obor bersinar kecil akhirnya mereka tiba di tangga tanah yang mendaki.


“Mulai dari sini kita akan memasuki Istana Tumenang,” ucap Langgis memberi peringatan kepada telik sandi di belakangnya.


“Kami paham...”


Langgis membuka pintu dengan sangat perlahan, beton bangunan bergetar kecil hingga celah pintu terbuka seukuran tubuh. Mereka keluar dari lorong rahasia.


Sungsang Geni bisa melihat rupanya pintu rahasia ini berada disalah satu tiang Istana.


“Siapa kalian?!” tiba-tiba terdengar teriakan salah satu prajurit.


“Penjaga Istana?” berkata Langgis. “Cepat bersem....”


Perkataan gadis itu terhenti, setelah kelebatan cahaya kuning melewati wajahnya. Tidak lama setelah itu, lima prajurit di ujung matanya tergeletak tewas tanpa suara. Sungsang Geni telah menusuk jantung mereka semua, sehingga darah tidak terlalu membanjiri lantai.


“Kalian semua, bawa jasad mereka ke dalam!” perintah Sungsang Geni.


Mata Langgis dan telik sandi masih terbuka lebar, berjalan dengan buru-buru mendekati pemuda asing itu yang terlihat sedang membersihkan darah di telapak tangan kanannya.


Langgis menelan ludah beberapa kali, jelas saja dia tidak melihat pergerakan Sungsang Geni. Jika saja pemuda itu tidak ada, -mendapati 5 prajurit, Langgis lebih memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi.


Tentu saja dia bisa membunuh 5 orang itu, tapi tidak akan secepat Sungsang Geni. Lebih dari itu, mungkin pertarungan akan terjadi, dan itu bisa menarik perhatian prajurit yang lain.

__ADS_1


“Kenakan pakaian mereka!” ucap Sungsang Geni. “Untuk menipu musuh.”


“Kenapa kau tidak mengenakannya pula?”


“Aku bisa menangani musuh dengan lebih cepat sebelum mereka bertindak,” Sungsang Geni tersenyum kecil dan berjalan lebih dahulu mengikuti ruangan besar di dalam Istana.


Setiap menitnya, pemuda itu menikam prajurit Tumenang tanpa pandang bulu. Sejauh ini semua prajurit hanya berada di level satu, paling kuat level kelas tanding. Jadi rencana untuk menguasai istana ini berjalan lancar.


Pemuda itu melompat tinggi, kemudian mendarat pada 30 orang prajurit yang sedang berpesta hura. Mereka menegak arak, memakan daging-daging panggang sambil ditemani para gadis yang nyaris telanjang.


“Siapa kau?!” teriak salah satu dari mereka.


“Cari mati!”


Sungsang Geni tidak menjawab melainkan dengan seringai sinis yang merendahkan, dia mengisyaratkan para wanita mengenakan pakaiannya. Kemudian aura membunuh dari tubuh pemuda itu berhasil membuat puluhan prajurit itu kecut, kecuali bagi mereka yang sudah terlanjur -teler- karena arak.


Mengeluarkan teknik pedang awan berarak tingkat tinggi bukan cara bertarung Sungsang Geni hanya untuk melawan prajurit lemah, tapi saking muak dirinya melihat tingkah prajurit disana, terpaksalah teknik itu keluar.


Jika lawan memiliki lebih dari 2 jule tenaga dalam, barang kali hanya akan terkoyak tapi prajurit di sini hanya cecunguk biasa, mana mungkin bertahan menghadapi pedang yang padat karena energi panas.


“Ampuni...ampuni kami...” berkata terbata-bata para gadis penghibur, seluruh tubuh mereka merinding melihat 30 orang prajurit menjadi abu dalam seketika. Aroma di ruangan itu menjadi sangit, sementara masih pula ada api dan asap yang mengepul dari jasad-jasad mereka.


“Kenapa aku harus mengampuni kalian?” tanya Sungsang Geni. “Kalian menyukai pekerjaan ini bukan?”


Sekitar 10 gadis tidak menjawab, tidak pula berniat melihat tatapan Sungsang Geni yang begitu kejam. Mereka tertunduk malu, takut bercampur ngeri. Mungkinkah ini adalah dewa kematian yang dikirim dewa, pikir mereka semua.


Tidak lama setelah itu, Langgis dan teman-temannya datang dengan nafas terpenggal-penggal. Mengikuti pergerakan Sungsang Geni membutuhkan energi yang tidak sedikit, mereka sudah berlari sekuat tenaga tapi ilmu meringankan tubuh pemuda itu bukan untuk ditandingi.

__ADS_1


“Aku serahkan mereka padamu!” ucap Sungsang Geni, menunjuk 10 gadis penghibur.


“Huh...huh...huh...” Suara nafas Langgis masih terdengar untuk sesaat, baru setelah dia melihat wajah-wajah para gadis yang bersujud di lantai, raut wajahnya menjadi sedikit menakutkan. “Ah...jadi mereka semua....sialan....harus ku apakan kalian ini? Masukan saja kedalam penjara, jangan beri mereka makan sampai mati sekalian.”


“Apa kau yakin Langgis?” bertanya salah satu temannya.


Langgis memejamkan matanya, tentu tidak cukup kejam untuk membiarkan para gadis seusianya mati kelaparan di dalam penjara, tapi meninggalkan mereka juga bukan hal yang baik. “Masukan mereka ke dalam ruangan itu!” Dia menunjuk pada satu ruangan yang pintunya hampir sebesar rumah. “Nasip mereka akan di tentukan setelah urusan kita selesai, bukan begitu Geni?”


“Langgis, pemuda itu sudah lama pergi...” ucap temanya, menunjuk pada sisi lain ruangan itu yang sekekali berkelebat cahaya kuning, kemudian terdengar suara baku hantam, suara pedang dan teriakan tertahan.


Langgis mengeraskan rahangnya, kemudian buru-buru menyusul Sungsang Geni. “Sekab mereka di dalam ruangan, Cepat!”


Gadis itu menjadi saksi atas kepiawaian Sungsang Geni menghabisi prajurit Tumenang. Mungkin sudah 200 orang tewas, mungkin juga 250 orang, Langgis tidak sanggup lagi menghitung korban jiwa di tangan pemuda itu.


Dan sialnya, dia bahkan belum membunuh satu orangpun saat ini. Padahal di dalam lorong bawah tanah tadi, dia tampak seperti pemimpin dalam rencana ini. Sekarang Langgis menjadi merah, bukan karena marah tapi karena dia ingat pernah meletakkan pisau di leher Sungsang Geni. Bodohnya, pikir Langgis.


Setelah berhasil membunuh prajurit di lantai bawah Istana ini, Sungsang Geni melompat ke lantai atas. Tidak terlalu ramai penghuni lantai ini, tapi sekarang level prajurit sudah berbeda dari sebelumnya.


Sungsang Geni sudah acap kali menemukan prajurit yang levelnya berada dipuncak Kelas tanding, dan beberapa berada pada level pilih tanding. Jikalah posisi Sungsang Geni masih sama pada saat ketika dia mengawal Pangeran Dewangga, mengalahkan beberapa pendekar pilih tanding akan cukup menyita energi dan waktu.


Satu pintu di tendang hingga hancur, mengejutkan hampir dua lusin prajurit di dalamnya yang sedang tertidur pulas. Rupanya kamar para prajurit elit, terlihat lebih rapi dan lebih berkelas dibanding kamar yang ada di lantai bawah.


Kepandaian bertarung mereka lebih hebat, tapi pemuda matahari itu tidak terbendung. Dia melaju seperti air yang mengalir menuju muara, diterjangnya cadas dan batu, di robohkan pohon dan kayu. Teriakan prajurit di dalam ruangan itu menciptakan kengerian tersendiri di malam gelap gulita ini.


Ketika berhasil membantai satu ruangan, dia mencari ruangan lain dan menghabisi semua lawan dengan mudah.


Hanya dalam setengah malam, lantai pertama dan lantai kedua sudah kosong. Langgis sudah bersusah payah menyembunyikan jejak pertarungan, tapi tenaga 7 Telik sandi sudah berada di ujung batas.

__ADS_1


“Biarkan saja mayat-mayat ini! aku tidak kuat lagi mengangkut tubuh mereka...”


__ADS_2