
Benggala Cokro melompat tiga depa di udara, sementara itu dia menyerang dari segala arah. Tiga pedang kecilnya berdengung seperti suara sekawanan lebah ketika melewati angin, kemudian menyambar-nyambar ke tubuh lawannya.
Brangasan menggigit bibir bawah, kekuatan Benggala Cokro bukan lagi tandingan. Jadi sebelum hal buruk terjadi, dia harus mencari cara agar bisa lolos dari serangan. Melirik beberapa kali ke penjuru dunia, mencari celah untuk menghilang.
Namun Benggala Cokro tampak tahu dengan jalan pikiran Brangasan. Pemuda itu tidak akan tinggal diam saja, di tutupnya semua rute melarikan diri.
Di kejauhan pedang Benggala Cokro terlihat seperti hilang, karena pergerakannya yang begitu cepat.
Kali ini satu pedang menderu satu jengkal dari bumi, menciptakan siring kecil di permukaan tanah. Kecepatannya sulit untuk ditandingi oleh mata. Brangasan melompat ke atas, serangan itu hampir saja menanggalkan dua kakinya.
Namun belum berakhir, pedang ikut melesat ke atas mengikuti kemanapun dia pergi.
“Kurang ajar, pemuda ini berhasil menekanku...” gusar sekali wajah Brangasan saat ini.
Pada saat yang tepat, dia melemparkan ranting bambunya ke arah Benggala Coko. Pemuda itu memutar tubuhnya ke samping, bambunya menikam angin dan lewat begitu saja, tertancap pada pohon besar berdaun layu lalu meletup.
Ketika dia melihat lawannya, Brangasan sudah berjarak 20 depa jauhnya. Pria itu ternyata berhasil mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri. Itu terjadi ketika Benggala Cokro memutar tubuhnya untuk menghindari serangan.
“Aku tidak akan melepaskan dirimu!” Bengal Cordless menekan tenaga dalam pada telapak kakinya, kemudian menendang angin dan melaju seperti anak panah. Tiga pedang berada di depannya, sementara itu pedang naga emas milik sang ayah, bergerak mengiringi di belakang.
Brangasan tidak tinggal diam, melihat lawan mulai mengejar dia fokuskan seluruh energi pada ilmu meringankan tubuh yang dia miliki. Tidak peduli lagi baginya, prajurit dan Kelelawar Iblis, yang penting saat ini adalah melarikan diri sejauh mungkin.
Ya, sekarang adalah aksi kejar-kejaran antara Benggala Cokro dan Brangasan. Mereka terbang cepat melintasi pertempuran, melaju ke arah barat, berlawanan dengan Sungsang Geni.
Selagi mengejar, Benggala Cokro masih melepaskan serangan. Tiga pedangnya bergerak dari segala arah, tapi sejauh ini belum berhasil menghentikan pergerakan Brangasan yang gesit.
__ADS_1
“Sial,sial,sial...kenapa dia tidak berhenti mengejarku?”
Brangasan menoleh ke belakang, terlihat tubuh Benggala Cokro semakin kecil dan hilang di balik daun-daun lebat. Wajah pria itu terlihat berseri, tampaknya kecepatannya masih jauh lebih hebat dari pemuda itu.
“Akhirnya kau menyerah...”
Belum juga kering air liurnya, ketika menoleh ke depan, entah dari mana dan sejak kapan Benggala Cokro sudah berad tepat di hadapannya. Menancapkan pedang naga emas. pedang itu cukup besar lagi panjang, di gunakan sebagai penghenti laju Brangasan.
Ya, berhasil, Brangasan tidak kuasa menghentikan laju terbangnya yang teramat cepat, jadi mau tidak mau dia menabrak permukaan pedang. Dentingan mirip dua pedang berbenturan terdengar.
Brangasan terpukul mundur setelah menabrak pedang besar itu. Energi pedang membuat percikan dan gelombang kejut bertekanan sedang, menghempaskan Brangasan ke tanah gersang.
Mulutnya mengeluarkan darah hitam dan kental, Brangasan tidak percaya akan kalah dengan tipuan kecil seperti itu. Kenapa tidak menyadarinya, dia mulai memaki-maki dirinya sendiri.
Tidak jauh dari pinggir hutan itu, tanah sedikit gersang retak seribu karena tubuh Brangasan menghempas di sana. Ada cekungan kecil, mirip telaga kering sedangkan Brangasan tepat berada di tengah telaga kering itu.
Wajahnya menjadi pucat pasi, meski seluruh kulitnya memang pucat karena darah hitam yang mengalir di dalam tubuh. Benggala Cokro menggerakkan tiga jari tangannya, tiga pedang melayang dan mengambang tepat di pinggir telaga kering.
Brangasan melirik ke atas, kali ini tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Bahkan untuk bergerak saja mungkin tidak sempat, karena tiga pedang sudah berada tepat di atas kepalanya. Hanya menunggu perintah tiga pedang itu akan menikam.
“Kau tidak bisa lari lagi...” Benggala Cokro berkata datar, semenjak kematian ayahnya, pemuda itu terlihat lebih dingin dari sebelumnya, mirip seperti pembunuh berdarah dingin.
“A...aku tidak akan lari...” Brangasan berusaha berdiri, tapi ketika niat itu baru saja terlintas, satu pedang cepat memasak pangkal pahanya. “AHKKKK!” pekikan panjang melolong di pinggir hutan rimba.
“Aku tidak akan membunuhmu dengan cepat...” Benggala Cokro berkata datar dan tatapan sedingin es. Dia benar-benar menjadi pembunuh berdarah dingin saat ini. “Aku ingin dengan suara jeritanmu sekali lagi...”
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, satu pedangnya menancap lagi di paha bagian kiri, pekikan keras kembali bergema menggegerkan tepi rimba raya.
“Lagi...” ucap pemuda itu. “ Lagi, dan lagi...”
Setiap kali dia mengatakan hal itu, pedangnya menikam dengan cepat pada bagian kaki hingga sekarang hanya tinggal lima inci lagi sebelum dua kakinya benar-benar putus.
“Wajahmu benar-benar membuatku bahagia...ini membuatku sedikit melupakan rasa sedihku atas perbuatanmu.” Benggala Cokro tersenyum kecil, Brangasan tidak akan pergi dari telaga kering itu, karena dua kakinya sudah hancur tercabik-cabik. “AH, kenapa kau tidak berteriak sekali lagi?”
Pada saat itu, Brangasan hanya meringis menahan sakit, suaranya mulai hilang karena teriakan demi teriakan yang telah dikeluarkannya. Barangkali pita suaranya sudah rusak, sebab sekarang suaranya sudah serak.
Dari matanya keluar air, sedang menangis menahan sakit, tapi Benggala Cokro tidak peduli. Dengan wajah datar pemuda itu mengangkat pedangnya, dan kali ini menikam tepat di lengan kanannya.
Kemudian lengan kiri, lengan kanan lagi dan lagi. Nasib dua tangan pria itu tidak kalah buruk dengan dua kakinya. Hanya dalam beberapa menit saja, Brangasan tidak memiliki dua tangan dan dua kaki.
“Hikhikik...” Benggala Cokro tertawa kecil. “Kau terlihat sangat menyedihkan sekali, benar-benar pria malang.”
“Kau lebih buruk dari kami, caramu membunuh lebih kejam dari...”
“Hussttt...jangan bicara hal bodoh seperti itu saat ini. jelas saja aku berbeda dengan kalian, dan aku memang lebih buruk dari kalian semua, tapi aku tidak peduli. Hussttt...jangan meringis, wajahmu membuat aku semakin muak saja, darah hitammu itu...! sudah berapa banyak kau bunuh bangsa kami dengan darah menjijikkan itu, dan kau bilang aku lebih buruk dari kalian, jangan bodoh?”
Brangasan menelan ludah pahit, pemuda di depannya benar-benar kejam. Sekarang harapan terbesar dirinya adalah, pemuda itu segera membunuhnya dengan cepat. Akhiri rasa sakit ini dengan segera, bukankah Darma Cokro dengan sangat cepat, kenapa pemuda itu tidak melakukan hal yang sama?
“Tidak, dengan darah hitam itu, kau memiliki kekuatan lebih dari manusia biasa...” Benggala Cokro tersenyum kecil dan melayang di udara... kemudian menancapkan tiga pedang pada tiga titik syaraf yang dapat melumpuhkan seluruh tubuh Brangasan kecuali mata dan telinga.
“Aku tidak akan membunumu, tapi kau tidak bisa bergerak sedikitpun saat ini. berharaplah ada binatang buas yang mau membunuhmu, karena jika tidak aku yakin kau bisa bertahan 3 sampai 4 hari kedepan.” Setelah mengatakan hal itu, Benggala Cokro terbang cepat kearah pertempuran, meninggalkan lawannya sendiri dalam keadaan yang mengenaskan.
__ADS_1