PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Garis Putih


__ADS_3

Pramudhita mulai merasa ragu dengan keputusannya saat ini, dia menatap Sungsang Geni dengan tajam, berusaha melihat kebohongan di mata pemuda itu, tapi tidak ada. Tidak ada kebohongan di mata Sungsang Geni.


"Aku tidak tahu harus melakukan hal apa? aku tidak bisa mempercayai dirimu begitu saja, tapi..." Pramudhita menarik napas berat. 'Dia tidak ragu sedikitpun ketika meletakkan pedang di dadanya, apakah orang ini sudah gila?'


"Terdapat sebuah susuk yang mengendalikan tubuhnya untuk melakukan hal jahat." ucap Sungsang Geni, "Dia mencoba melawannya, tapi entah dia membunuhku atau melarikan diri waktu itu, dia mengatakan bahwa jiwanya telah mati."


Mendengar perkataan itu, ada beberapa tetes air mata keluar dari mata pria kekar itu. Dia sangat ingin membunuh Sungsang Geni saat ini, sangat ingin. Dadanya terasa terbakar setiap mendengar setiap patah kata yang keluar dari mulut orang asing di depannya.


Tapi dia tidak bisa menyalahkan pemuda itu. Jika perkataan Sungsang Geni benar, dan menurut hatinya memang benar, Pramudhita tidak mungkin membunuh Sungsang Geni.


"Jadi kenapa kau datang ke tempat ini? Apa tujuanmu? Tidak mungkin kau datang ke tempat ini, jika ternyata tugasmu masih banyak di luar sana." tanya Pramudhita.


“Untuk menjadi lebih kuat,” jawab Sungsang Geni, “menyempurnakan teknik pedangku.”


Pramudhita tertawa kecil, dia melangkah keluar dari dapur dan berjalan mendekati bibir tembok sambil menatap hutan mati di kejauhan, “Kau ingin berlatih teknik pedang bayangan?”


“Bukan. Lebih dari pada berlatih. Aku akan mengambil kitab pedang bayangan di kawah gunung semeru.”


Pramudhita nyaris saja muntah darah karena mendengar perkataan Sungsang Geni. Ini adalah perkataan gila yang pernah dia dengar, dan juga tidak pernah ada yang berniat mati ditelan kawah merapi yang bergejolak merah.


“Bodoh, bocah bodoh dan gila! Jangan karena aku mengampuni nyawamu saat ini, lantas kau bisa berkata sekehendak mulutmu.” ucap Pramudhita, kerutan di keningnya menjadi lebih banyak dari yang terlihat sebelumnya. "Jadi...katakan apa maumu?"


“Aku penasaran kenapa kalian menggaris kening dengan warna putih?”Sungsang Geni menunjuk garis yang berada di kening Pramudhita.


“Jangan mengganti topik pembahasan, dasar kurang ajar! Aku adalah penjaga gerbang Pramudhita yang perkasa, sikapmu telah mencoreng namaku!” Dan garis ini adalah simbol dari tenaga dalam yang kami miliki.,” ucapnya kesal. Suaranya terdengar serak karena beberapa kali berteriak, "Kenapa aku berteriak?"


“Simbol! Bagaimana mungkin tenaga dalam disimbolkan dengan garis?” ucap Sungsang Geni sedikit heran, “Kalian di tempat ini benar-benar terlihat aneh.”

__ADS_1


“Anak muda, sebenarnya ditempat ini kaulah satu-satunya yang terlihat aneh...” ucap Pramudhita menyerah dengan kekesalannya, “baiklah aku akan menjelaskan sedikit mengenai simbol ini dan juga kitab pedang bayangan yang kau sebutkan tadi.”


Pramudhita mulai berkata tenang, garis putih di kening disebut sebagai garis jule, adalah simbol satuan yang digunakan bagi pendekar pedang bayangan untuk mengukur energi tenaga dalamnya. Semakin banyak garis putih, menunjukkan bahwa energi mereka semakin besar pula.


Tapi bukan hanya itu saja, garis juga disimbolkan sebagai jalan yang lurus di tempat ini. Garis ini sebenarnya dibuat oleh Resi Irpanusa dengan getah dari pohon kapur dan duri pohon salak baja yang hidup hanya di wilayah ini, pada dasarnya ini adalah tato.


Tujuannya adalah agar orang yang telah diberi garis dikening, menjadi orang yang lebih mengabdikan diri pada jalan kebenaran bersama dengan tenaga dalamnya yang semakin besar.


Artinya garis dikening mereka bukan hanya menunjukkan kekuatan mereka itu sendiri, tapi juga sebagai bentuk pengendalian terhadap pribadi mereka. Ada kalimat di tempat ini yang mengatakan, 'Malulah dengan garis lurus di keningmu ketika kau berbuat buruk.'


Bisa dibilang, Pramudhita adalah orang yang memiliki pribadi yang baik terlihat dari garis di keningnya. Itulah mengapa dia tidak bisa membunuh Sungsang Geni menuruti nafsunya.


Resi Irpanusa memiliki alat pengukur energi, sebuah cermin besar yang sangat ajaib, bernama koco paisan. Kaca ini digunakan untuk melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, bisa untuk melihat orang yang hilang juga benda yang jauh.


Ketika seseorang menghadap di depan cermin, maka satuan energi akan terlihat dari jumlah bayangan yang di pantulkan cermin.


Seingat Sungsang Geni, Yunirda bisa menciptakan 3 bayangan ketika berhadapan denganya, jika bisa diukur, mungkin energi kegelapan Yunirda berjumlah 3 jule.


Bayangan di depan cermin juga menunjukkan seberapa banyak bayangan yang bisa diciptakan ketika menggunakan teknik pedang bayangan.


1 jule setara dengan tenaga dimiliki pendekar tanpa tanding dengan 2 cakra yang terbuka. Dua jule setara dengan tenaga dalam tanpa tanding yang membuka 4 cakra, dan 4 jule setara dengan pendekar yang berhasil membuka seluruh cakranya.


Sungsang Geni yakin, jika dia harus menghadap koco paisan maka tenaga dalamnya mungkin hanya 2 jule, sebab dia memang baru bisa membuka 2 cakra saja saat ini.


“Bagaimana kalian mendapatkan energi itu dalam jumlah besar. aku melihat 4 garis di keningmu, berarti kau telah membuka seluruh cakramu?” ucap Sungsang Geni merasa heran.


Sekarang dia tahu kenapa Pramudhita tidak membunuhnya, itu pasti karena pria itu telah memasuki alam pikirannya dengan cakra ajna yang telah terbuka.

__ADS_1


Dengan Terbukanya cakra ajna seseorang akan memiliki kemampuan yang lebih, seperti membaca pikiran, atau melihat sesuatu yang tak kasat mata seperti yang dilakukan Cempaka Ayu. Gadis itu bisa melihat sayap tak kasat mata yang diciptakan Sungsang Geni.


Pramudhita menyipitkan mata, perkataan Sungsang Geni jelas berusaha memancing dirinya untuk memberi tahu informasi yang paling berharga, yaitu cara mereka mendapatkan tenaga dalam.


“Hah...” Sungsang Geni melepas nafas panjang, “Kalian tidak akan memberi tahuku bukan? Karena itu sangat berharga, bukan hanya kitab pedang bayangan tapi juga sumber dari tenaga dalam kalian sangat penting bagiku saat ini.”


“Kenapa kau sangat ingin menjadi kuat anak muda?” tanya Pramudhita.


“Bukankah telah aku katakan untuk mengalahkan Kelelawar Iblis?”


“Setelah kau mengalahkan mereka? lalu apa lagi yang akan kau lakukan?”


Sungsang Geni menarik napas pelan, dia mengerti maksud dari perkataan Pramudhita. Ini berkaitan dengan nafsu Sungsang Geni untuk menguasi dunia atau tidak.


Pramudhita nampaknya berniat menguji Sungsang Gen. Sejauh mana pemuda itu bisa bersifat rendah hati, meski jika dia berhasil memiliki kemampuan yang besar suatu saat nanti.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya...karena aku bukan pemegang takdir. Tapi jika aku harus berkata, maka hari ini aku akan berusaha lebih keras, agar esok pagi ketika aku bangun dari tidur tidak menyisakan penyesalan.”


Pramudhita tersenyum kecil mendengarnya, tidak ada kebohongan dari mulut Sungsang Geni.


“Tenaga dalam kami berasal dari energi kehidupan tanaman di tempat ini.”


“Apa?”


“Kau tadi bertanya dari mana asal tenaga dalam kami. Kami memiliki teknik tertentu yang memungkinkan merubah energi kehidupan dari tumbuhan, hewan dan apapun yang hidup menjadi tenaga dalam.” Ucapan Pramudhita sangat serius, "Itulah kenapa teknik pedang bayangan sangat mengerikan."


Jika dilihat di rank vote, selain LPN kayaknya gak ada novel fantasi yang masuk 20 besar. Ini sedikit menyedihkan bagi penulis fantasi. Jika kak ron adalah penulis baru, nampaknya fantasi akan hilang di daftar rank. Beruntung LPN selalu berada di posisi pertama, dengan begitu ada harapan para pembaca menaruh hati pada genre fantasi. Curhat unek unek. Wkwwk.

__ADS_1


__ADS_2